
Sejak perusahaan di pimpin oleh Fahri. Yusra lebih leluasa menghabiskan waktu dengan sang istri. Kadang ke kantor hanya setengah hari saja, karena meskipun sekarang Fahri yang memimpin tetap saja Yusra harus tetap hadir karena ia harus memantau karyawan dan jika ada yang perlu di tandatangani. Maka itu masih jadi tanggung jawab Yusra . Kadang ia dan Fahri saling berdiskusi sebelum memutuskan kerja sama dengan klien yang ingin ikut bergabung dengan perusahaan, karena mereka tidak ingin ada kesalahan dan bertindak gegabah.
Mereka harus menyelidiki dulu dengan pasti dari klien mereka apakah benar orang itu serius atau hanya ingin mengambil keuntungan saja. Karena Fahri merupakan pemimpin baru jadi celah untuk menipu bisa saja terjadi. Yusra kini sudah legowo karena beberapa hari ini ia melihat Fahri yang begitu bekerja keras dan selalu mudah di arahkan. Mungkinkah ia benar benar akan merelakan kepemimpinan nya kepada Fahri? Yusra termenung di ruangan nya.
Cek lek.
Ali masuk kedalam ruangan Yusra dan seperti biasa ia selalu tidak pernah mengetuk pintu dahulu dan itu membuat Yusra melempar tatapan dingin pada Ali.
"Ampun Mas, baik Ali akan keluar lagi dan mengetuk pintu. " ujarnya ketika melihat Yusra menatapnya bak ingin membunuh. Ali keluar lagi dan mengetuk pintu. Yusra hanya menggeleng dengan kelakuan keponakannya itu.
Tok... Tok... Tok...
"Ali masuk ya! " teriaknya lalu cengengesan.
"Ck! Sepertinya memang kamu itu tidak cocok jadi pemimpin, attitude dan kedisiplinan saja kamu abaikan, masuk tanpa mengetuk pintu, dan satu lagi! Kerapihan nomor satu Ali! " Yusra menatap Ali dan memperhatikannya dari atas sampai bawah. Lalu menggeleng lagi.
"Hehee, maaf Mas, tadi di jalan ada kendala soalnya, si Silvi ngadat lagi, aku lupa belum men servis nya, terus ada wanita sinting yang gak tau dari mana arahnya, tiba tiba saja ia menghadangku lalu menyerang rambutku makanya jadi seperti ini, hehehe. " Ali menjelaskan kronologi kesialannya pagi tadi.
Saat di perjalanan motor kesayangannya mogok dan entah dari mana ada wanita yang menyerang dan menghadang Ali. Wanita itu tiba tiba saja menghampiri Ali yang sedang memeriksa motonya. Wanita itu menjambak rambut Ali sambil berteriak menuduh Ali sebagai pembinor . Ali tentu saja kaget dapat tubduhan seperti itu, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Akhirnya sangat Kaka dari Wanita itu datang dan menjelaskan jika Ali bukan orang yang menjadi pembinor di rumah tangganya. Karena wajah Ali sedikit mirip dengan pembinor itu. Alhasil si Wanita itu sangat malu karena sudah menduduh dan menjambak rambut Ali serta bajunya menjadi compang camping karena di tarik oleh Wanita itu. Wanita itu pergi tanpa minta maaf kepada Ali karena saking kesalnya meski dalam hati ia sangat malu.
"Sial betul pagi ini, sudah si Silvi ngambek, ketambah ada cewe gila, terus sampe kantor kena jenggot sama Mas Yusra, nasib nasib. " gerutunya.
"Aku sudah memutuskan!. " ujar Yusra membuat Ali menoleh kepada Yusra.
"Memutuskan untuk menyerahkan kepemimpinan kepada Fahri? " sela Ali dengan menatap Yusra serius.
__ADS_1
"Bukan, aku dan Raya akan tinggal di rumah Papa. " katanya membuat Ali menghela nafas. Ia pikir apa taunya hanya memberikan kabar akan pindah.
"Huuh! Ku pikir apa, terus aku harus pindah gitu?" ujarnya.
"Kalau mau, kita tinggal bersama saja, agar nanti Bibi bisa selalu datang ke rumah dan menemani Raya di saat kita bekerja, dia pasti merasa kesepian. Aku akan meminta Bibi untuk tinggal saja selama beberapa hari, Yena dan Yeni biar bersama Om Rusdi saja sementara, lagi pula sebentar lagi mereka akan libur sekolah kan? "
"Baiklah, aku setuju Mas, aku juga kesepian di sana, sekalian saja ajak Bi Isah agar Bi Marni ada teman nya. "
"Hmm, baiklah. "
........
Sore ini Yusra sudah berada di rumah. Ia berencana mengajak Raya untuk makan malam di luar. Karena selama ini ia belum sama sekali mengajak Raya jalan jalan.
"Sayang." panggil Yusra. Kala Raya baru saja selesai mandi.
"Apa Mas? " Raya sedang mengeringkan rambutnya karena ia habis keramas. Biasanya Raya keramas hanya di pagi hari saja, namun semenjak Yusra selalu pulang siang ia sering keramas di sore hari tentu saja. Kalian pasti tau kan itu semua ulah suaminya yang selalu mengajak berkeringat di sore hari .
"Mas ngajakin aku dinner? " ujarnya dengan senyum mengembang.
"Iya, kita akan makan malam di luar dan jalan jalan, kalau mau kita akan menginap di hotel. " Yusra menghampiri sang istri dan meraih Hedlayer dari tangan Raya lalu membantunya mengeringkan rambut Raya.
"Yeaayy kita akan kencan. " Raya bersorak gembira dan itu membuat Yusra senang melihat Raya seperti itu.
"Maaf ya, baru bisa ajak kamu jalan jalan malam. " sesalnya.
"Tidak apa apa, aku tahu kamu kan orang super sibuk, jadi aku sebagai istri harus mengerti posisi kamu. Mas, kita mau berangkat sekarang atau menunggu magrib dulu? " tanya Raya.
__ADS_1
"Kita sholat dulu saja, setelah itu kita berangkat." usulnya dan Raya setuju.
Setelah melaksanakan sholat magrib Raya dan Yusra gegas pergi untuk makan malam di luar. Mereka pergi ke restoran yang sudah Yusra booking dan itu ia khususkan untuk Raya . Karena sikit macet alhasil mereka telat lalu Yusra membawa Raya ke ruangan VVIP.
"Mas, ini mewah banget. " ujar Raya saat ia masuk kedalam dan di sana sudah tersedia makanan kesukaan Raya.
"Kamu suka tidak? " tanya Yusra yang melihat reaksi Raya terkagum kagum.
"Suka bangeeet, tapi, apa ini tidak berlebihan. Mas, ini pasti mahal banget deh!. " jiwa miskinnya seketika meronta. Yusra hanya terkekeh ketika Raya mempersalahkan biayanya yang sudah ia keluarkan.
"Tidak apa apa sayang, ini tidak seberapa kok, bahkan kalau kamu minta untuk membeli restoran ini. Aku akan sanggup membelinya untuk kamu. " manis banget singa ganteng ini ucapannya.
"Anda terlalu shombong!" ketus Raya dan Yusra tergelak.
Yusra dan Raya sudah duduk di meja yang sudah terhidang begitu banyak makanan. Raya sampai bingung mau makan yang mana. Karena di mejanya terdapat hidangan steak daging , ada nugget, soto bandung, dan masih banyak lainnya seperti cemilan dan minuman yang berwarna lainnya. Yusra benar benar niat menyiapkan semua ini untuk Raya sampai meminta chef resto ini membuat menu makanan yang di sukai istrinya.
"Mas, ini kalo enggak habis mubazir banget, kenapa gak makan di pinggir jalan aja si? Kan sayang uangnya, udah makanannya seuprit pasti nih harganya mahal mahal semua. " Raya ini bukan tipe orang yang perhitungan hanya saja, bagi Raya ini sangat di sayangkan jika untuk mereka berdua. Namun ia tetap memakannya juga dengan ekpresi yang sulit di artikan.
Eum, pantes saja ini mahal, rasanya sangat lezat sekali di lidahku, bahkan nugget ini sama seperti yang aku makan setiap hari, tapi rasanya gak ada lawan dari pada nugget yang ada di rumah, terus ini. Sotonya juga bukan kaleng kaleng rasanya, suamiku memang patut di acungi jempol. Batin Raya.
Yusra hanya terkekeh melihat ekpresi istrinya. Ia yakin, jika Raya akan menarik kata katanya lagi setelah mengetahui rasa makanan yang di sajikan oleh chef di sini.
"Enak? " tanya Yusra tersenyum.
"Ehem, biasa saja. " elak nya.
Yusra ingin sekali tertawa karena ekpresi dan kata yang keluar dari mulut Raya sangat berbeda. Seperti kata pepatah. Lain di mulut lain di hati.
__ADS_1
Raya Raya, batin Yusra dan terkekeh.
Maaf ya jika ada typo