
Dimas masih belum percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Yanto. DIa menggelengkan kepalanya.
“Gue enggak percaya bapak akan melakukan hal itu,” gumam Dimas di dalam hati.
Dia pun menyadari Yanto tak lagi berada di sana, akhirnya Dimas pun melangkah kembali ke warung Susi. Dia tak lagi menemukan Yanto di sana, sahabat Dimas itu memang jarang nongkrong di warung Susi, karena menurut istrinya pergaulan di warung Susi itu tidak baik.
Teman-teman Yanto dan Dimas yang biasa nongkrong di sana kebanyakan teman-teman yang tidak tahu dengan agama dan sering meninggalkan shalat.
“Dari mana aja, Dim?” tanya Susi saat Dimas sudah kembali duduk di warung Susi.
“Ada urusan sama Yanto,” jawab Dimas.
“Urusan apa?” tanya Susi penasaran.
Kebetulan warung Susi mulai sepi karena malam semakin larut. Hanya tinggal 3 orang pemuda yang asyik memainkan ponselnya.
“Mhm,” gumam Dimas.
Dia enggan untuk menceritakan masalah yang baru saja dibahasnya dengan Yanto.
“Oh, kalau kamu enggak mau cerita juga enggak apa-apa, kok,” ujar Susi.
Susi kini telah duduk di samping Dimas.
“Lalu sekarang bagaimana hubunganmu dengan Fitri?” tanya Susi penasaran dengan hubungan rumah tangga Dimas.
Retaknya rumah tangga Dimas bukan lagi menjadi rahasia bagi mereka, tapi semua warga sudah mengetahui perihal itu.
“Entahlah, aku sendiri tidak tahu,” jawab Dimas putus asa.
“Kalau menurut aku, lebih baik kamu tinggalin wanita yang tidak bisa jaga diri itu,” ujar Susi mulai memanas-manasi Dimas.
“Seorang istri yang sudah berani selingkuh tidak pantas untuk dipertahankan,” ujar Susi lagi.
Dimas masih diam mendengarkan kata-kata dari Susi, dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi dan dia juga tidak tahu harus bertindak apa untuk ke depannya.
Rasa benci pada istrinya semakin besar, sehingga untuk melihat wanita yang masih sah menjadi istrinya, dia merasa sangat jijik.
“Aku tahu, kamu pasti sangat terluka dnegan apa yang dilakukan oleh istrimu, tapi kamu tidak boleh berputus asa. Jalan kamu masih panjang, kamu masih bisa melanjutkan hidupmu tanpa keberadaan dia di sisimu,” ujar Susi terus saja menghasut Dimas.
__ADS_1
Hati Dimas semakin tertutup untuk mempertimbangkan apa yang baru saja dikatakan oleh Yanto, ditambah saat ini Dimas sudah mulai jauh dari Tuhannya. Dia tak lagi melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba, dia sudah lalai dalam beribadah pada satu-satunya tempat bergantung.
“Menurut kamu, apakah aku harus menceraikannya?” tanya Dimas pada Susi.
“Mhm, bagaimana, ya. Cerai atau tidak akan tetap sama saja, kan? Menurutku kamu tidak perlu menceraikan dia, supaya dia tidak bisa menikah dnegan selingkuhannya itu,” ujar Susi menyampaikan pendapatnya.
“Kamu pasti mau balas dendam atas pengkhianatan yang telah dilakukannya, kan? Dengan dia masih menjadi istrimu, kamu bisa menyakiti dia sesuka hatimu,” ujar Susi.
Susi terus saja menghasut Dimas sehingga Dimas benar-benar sudah di luar kendali, dia menyetujui pendapat Susi begitu saja. Dia juuga berniat akan menyiksa hati Fitri secara perlahan.
Dimas tak pernah lagi menafkahi kebutuuhan Fitri dan Rasya, dia mebiarkan Fitri berjuang hidup di desanya seorang diri.
Hari-hari terus dijalani Fitri, kini dia mulai mendekatkan diri pada Allah, dia lebih sering datang ke perwiridan untuk menimba ilmu agama.
Dengan semakin dalamnya ilmu agama yang didapatnya, dia semakin kuat untuk terus menjalani kehidupan yang kejam ini.
Fitri juga masih melanjutkan pekerjaannya sebagai penulis, dia terus membuat karya-karya terbaru sehingga kini dia sudah memiliki penghasilan tetap dari menulis.
“Bunda,” panggil Rasya saat Fitri baru saja menutup ponselnya setelah menulis satu episode di novelnya dan bersiap untuk tidur.
Fitri menoleh kea rah Rasya yang sejak tadi dicuekkinnya karena dia sedang bekerja.
“Bunda masih bertengkar ya sama Ayah?” tanya Rasya polos.
Fitri menghela napas panjang, dia merasa sangat terluka mendapat pertanyaan yang menyayat hati keluar dari bibir mungil putrinya.
Fitri memeluk erat gadis kecilnya.
“Sayang, Bunda sama ayah hanya sedang berpikir yang terbaik buat Rasya,” jawab Fitri.
Dia bingung menjelaskan apa yang saat ini terjadi pada gadis kecilnya.
“Sayang, Bunda capek. Kita tidur, yuk,” ajak Fitri pada putrinya agar Rasya tidak lagi mempertanyakan maslaah dirinya dan sang suami.
Mau tidak mau gadis kecil itupun mulai memejamkan matanya, tak berselang lama Rasya pun tertidur. Begitu juga dengan Fitri, dia juga terlelap di samping putrinya.
Malam-malam sepi mereka lalui berdua tanpa keberadaan Dimas lagi bersama mereka. Perlahan Fitri mulai terbiasa dengan kehidupannya saat ini.
Di samping menulis, Fitri masih melakukan bisnis jualan onlinenya, dengan penghasilan itu dia dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan gadis kecilnya.
__ADS_1
Pada pukul 04.00, Fitri terbangun dari tidurnya.
Dia langsung berwudhu lalu melaksanakan shalat sunat tahajud dan shalat hajat. Dia berserah diri pada Allah atas kehidupan yang kini dijalaninya. Dia juga memohon pada Allah untuk diberi kekuatan dalam menjalaninya serta diberikan kehidupan yang lebih baik setelah ini.
Fitri beribadah dan berdo’a hingga waktu subuh masuk, usai shalat subuh Fitri melaksanakan rutinitas biasanya, dia memasak untuk dirinya dan Rasya. DIa tidak lagi peduli dengan makan Dimas.
Baru saja Fitri selesai memasak, terdengar pintu rumah diketuk seseorang. Fitri terdiam, dia teringat kejadian yang dilakukan ayah Dimas, sejak itu dia selalu berhati-hati di rumah.
“Fitri!” bentak Dimas dari luar rumah karena Fitri tak kunjung membukakan pintu untuknya.
Fitri bergegas melangkah membukakan pintu untuk sang suami saat tahu bahwa tamunya di pagi hari itu adalah Dimas.
“Abang? Kamu pulang?” tanya Fitri dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Fitri merasa bahwa sang suami sudah sadar dan kini kembali pulang untuk hidup bersamanya lagi.
“Aku mau makan!” bentak Dimas pada istrinya.
Tak ada angin tak ada hujan, Dimas datang dan meminta makan pada istrinya. Fitri mengernyitkan dahinya heran.
“Apakah kamu ke sini hanya untuk makan?” tanya Fitri kesal pada sang suami.
“Iya! Kamu itu masih istriku, kamu wajib melayani diriku!” bentak Dimas.
Dimas mendorong tubuh istrinya hingga Fitri terhuyung dan jatuh ke lantai. Dimas melangkah ke arah dapur. Dia melihat semangkuk sayur bening dan sambal terasi.
“ Kamu masak apa ini?” bentak Dimas.
Dimas menghempaskan semangkuk sayur bnening itu hingga jatuh dan berserakan di lantai.
Hal itu membuat Rasya terbangun dari tidurnya, dia berdiri dan mengintip apa yang terjadi di antar Ayah dan Ibunya.
“Hanya itu yang bisa aku masak, karena aku tidak memiliki uang,” jawab Fitri.
“Kalau kamu butuh uang kamu bisa ju*l di*i, memang itu yang kamu lakukan selama ini, kan?” bentak Dimas menuduh Fitri yang bukan-bukan.
“Astaghfirullah, Bang. Kamu boleh benci padaku, tapi tolong jangan tuduh aku sehina itu!” balas Fitri sudah tidak tahan dengan perlakuan Dimas.
Bersambung…
__ADS_1