Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 50


__ADS_3

Fitri tak lagi memperdulikan Leo, dia pun melangkah masuk ke dalam kamar tepat Rasya kini yang sedang tertidur dengan nyenyak.


Fitri merasa ada yang aneh pada kakak iparnya itu, Fitri harus waspada dengan tindak tanduk sang kakak ipar karena Fitri tidak mau hubungannya dengan Dina rusak gara-gara sikap sang kakak ipar yang terlihat ingin mendekati dirinya.


Setelah shalat maghrib, Fitri mendengar suara Dina dan anak-anaknya mulai heboh, itu menandakan bahwa Dina sudah berada di rumah.


Fitri pun keluar dengan Rasya karena mereka sudah merasa lapar dan ingin makan malam bersama Dina dan keluarganya.


"Sudah pulang, Kak?" tanya Fitri pada kakaknya.


"Maaf ya, Dek. Tadi ada acara sama anak kantor," ujar Dina merasa bersalah.


"Enggak apa-apa, Kak. Lagian semuanya sudah beres, kok," ujar Fitri.


"Ya udah, yuk kita makan malam dulu! ujar Dina mengajak sang adik untuk makan malam bersama seperti biasanya.


"Yuk, Kak. Fitri menggandeng Rasya melangkah menuju ruang makan.


Di sana Leo dan dua anaknya sudah duduk di meja makan yang sudah terhidang makanan yang dimasak Fitri tadi sore.


Fitri merasa canggung saat berhadapan dengan Leo, dia merasa ada yang salah pada diri kakak iparnya itu, tapi demi menjaga perasaan sang kakak.


Tak menunggu lama mereka pun mulai menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Semakin hari masakan kamu semakin enak aja," puji Dina yang menyantap lahap makanan yang ada di piringnya.


"Ah, kakak bisa saja," lirih Fitri.


Sepanjang makan malam, Fitri merasa tidak nyaman karena mendapat tatapan yang sulit diartikan dari sang kakak ipar.


Setelah selesai makan, Leo dan dua anaknya membawa Rasya menuju ruang keluarga untuk bersantai, sedangkan Dina dan Fitri membersihkan meja makan serta piring kotor bekas makan malam mereka.


"Kak," lirih Fitri mengajak Dina berbicara sambil mereka menyelesaikan pekerjaan mereka.


"Mhm," gumam Dina menanggapi ucapan sang adik.


"Sepertinya, lebih baik aku tinggal di rumah Ayah dan Ibu saja, supaya rumah itu tidak kosong dan ada yang merawatnya," ujar Fitri menyampaikan sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak tadi sore.


Fitri memang berniat untuk meninggalkan rumah Dina karena dia tidak mungkin berhari-hari tinggal di rumah kakaknya itu, meskipun Riyan memberikan uang kepada Dina untuk biaya tambahan kehadiran Fitri dan Rasya di rumahnya.


"Lho? Kenapa, Dek? Apa yang terjadi?" tanya Dina heran.


"Enggak apa-apa, Kak. Aku cuma mau mencoba hidup mandiri, tidak mungkin aku terus-terusan hidup menumpang bersama kakak di sini," ujar Fitri jujur.

__ADS_1


"Ya ampun, Dek. Aku ini kakakmu, bukan orang lain, jangan sungkan seperti itu," ujar Dina.


"Bukan sungkan, Kak. Jika aku hidup terus bergantung pada kalian, lalu kapan aku bisa hidup di atas kakiku sendiri. Aku harus berjuang demi masa depan Rasya, Kak," ujar Diska.


Fitri berharap agar Dina dapat mempertimbangkan apa yang diinginkannya saat ini.


"Ya udah kalau begitu, kakak akan merundingkan masalah ini dengan Riyan. Kami takut membiarkanmu tinggal seorang diri di rumah bapak, kalau nanti Dimas datang bagaimana?" ujar Dina.


"Aku rasa, Bang Dimas tidak akan berani datang, Kak." Fitri terus berusaha meyakinkan Fitri.


"Ya udah, kalau begitu. Nanti kakak akan mencoba menghubungi Riyan, kita tunggu keputusan dari Riyan, ya," ujar Dina.


Dina mengerti apa yang dirasakan oleh adiknya, tapi dia tidak mau mengizinkan Fitri pergi dari rumahnya tanpa persetujuan Riyan, karena saat ini Riyan adalah pelindung bagi mereka dalam hal apa pun.


Saat ini, hanya Riyan tempat mereka bertumpu, karena Riyan merupakan satu-satunya saudara laki-laki mereka.


Apa pun yang terjadi pada mereka, Riyan yang akan bertanggung jawab menyelesaikannya.


"Baiklah, Kak," lirih Fitri.


Dina dapat melihat bahwa adiknya mulai tidak nyaman berada di rumahnya, Dina tidak bisa memaksa Fitri untuk tetap berada di rumahnya.


Setelah mereka membereskan meja makan dan dapur, mereka berpindah ke ruang keluarga.


Di ruang keluarga, Leo dan anak-anak sedang menonton.


"Iya, Bunda," lirih Rasya.


Rasya yang duduk di samping Rania langsung berdiri lalu menghampiri bundanya.


Dina hanya diam melihat adiknya yang tidak seperti biasanya.


Dina pun berdiri setelah memastikan Fitri masuk ke dalam kamarnya.


Dina mengambil ponselnya lalu menghubungi Riyan, dia ingin menyampaikan apa yang baru saja dibicarakan oleh Fitri padanya.


"Halo, Kak," ujar Riyan dari seberang sana saat panggilan sudah tersambung.


"Halo, Dek. Kamu lagi apa?" tanya Dina.


"Ini baru selesai makan malam, Kak. Ada apa kakak menelpon?" tanya Riyan heran.


"Mhm, begini,--" Dina menyampaikan keinginan Fitri pada saudara laki-lakinya.

__ADS_1


"Ya udah, Kak. Mumpung besok hari libur aku akan datang ke rumah kakak, mungkin Fitri merasa bosan karena tidak ada kegiatan, nanti aku juga akan pikirkan cari pekerjaan untuk Fitri," ujar Riyan menanggapi laporan dari sang kakak.


Riyan memang sosok pribadi yang sangat menyayangi saudaranya. Semenjak kecil, Riyan selalu menjadi pelindung bagi dua wanita yang sangat disayanginya sehingga kedua saudaranya itu sangat bergantung pada dirinya.


****


Pagi-pagi sekali, Riyan sudah berada di rumah Dina.


Dia turun dari mobilnya dengan membawa satu kantong cemilan untuk keponakannya. Hal ini selalu dilakukannya saat berkunjung ke rumah Dina.


"Assalamu'alaikum," ucap Riyan saat dia sudah berada di depan pintu.


"Wa'alaikummussalam," ucap Rania.


Rania menyambut kedatangan Om yang paling royal baginya.


"Ini, bagikan sama adik-adik, ya," ujar Riyan pada Rania sambil memberikan sekantong cemilan yang dibawanya tadi.


"Hore, Om Riyan bawa makanan," seru Rania.


Rania sudah duduk di kelas 2 SMP sedangkan adiknya Fatih masih duduk kelas 3 SD.


Rania membawa masuk makanan yang diberikan oleh Riyan, lalu dia membuka kantong tersebut.


Dia memilih makanan yang disukainya begitu juga Fatih, sedangkan Rasya hanya diam. Gadis kecil itu juga ingin memilih makanan yang disukainya tapi dia tidak berani melakukan hal itu.


Fitri melihat apa yang dilakukan oleh anak-anak itu, seketika terselip rasa sedih di hati Fitri saat melihat putrinya yang tidak diacuhkan oleh anak-anak sang kakak.


"Rasya, kamu mau apa?" tanya Riyan saat melihat raut wajah adiknya yang sedih.


Rasya masih diam, dia takut Rania dan Fatih akan marah padanya dan tidak mau mengajaknya bermain lagi.


"Rania, kamu ingat apa yang om bilang tadi?" tanya Riyan.


"Mhm, iya, Om." Rania mengangguk.


"Lalu kenapa adek Rasya tidak dikasih?" ujar Riyan s ambil membelai lembut kepala Rania.


"Kamu mau yang mana, Dek?" tanya Rania terpaksa.


"Aku mau es krim itu," jawab Rasya sambil menunjuk ke es krim yang ada di tangan Rania.


"Ya udah, kamu kasih sama Rasya, ya," pinta Riyan pada Rania.

__ADS_1


Riyan berharap Rania bisa mengerti dan sadar diri bahwa Rania adalah kakak yang paling besar, dan harus mengalah.


Bersambung...


__ADS_2