Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 48


__ADS_3

"Iya, Dim. Emangnya kenapa?" tanya Susi cuek.


Susi sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Ya ampun, Susi. Tadi aku minta bantuin masak mie buat aku katanya kamu capek mau tidur, eh ternyata kamu malah asyik dengan ponselmu," ujar Dimas sedikit kesal.


"Terus?" Susi menentang Dimas.


Susi sengaja melakukan hal itu, dia ingin melihat Dimas akan berbuat apa pada dirinya.


"Mhm," gumam Dimas.


Dimas merasa bingung dengan sikap Susi.


"Ya sudahlah kalau gitu, aku juga mau tidur," ujar Dimas pada Susi.


Dimas tidak ingin berdebat dengan istrinya, akhirnya dia memilih untuk tidak berdebat dengan Susi.


Dimas melangkah menuju tempat tidur, malam ini Susi yang merasa kesal dengan Dimas, dia tak bersemangat untuk melakukan hal yang biasa mereka lakukan setiap hari, begitu juga Dimas,.


Dimas memilih berbaring di samping Susi lalu memejamkan matanya, agar bisa terlelap lebih cepat.


Susi membiarkan Dimas tidur di sampingnya.


Saat malam semakin larut, Susi pun menutup ponselnya lalu dia mulai memejamkan matanya, mereka pun tertidur dalam satu ranjang meskipun saat ini hati mereka saling kesal satu sama lainnya.


Keesokan harinya, matahari mulai bersinar menyingkap gelapnya malam menerangi bumi, cahaya sang Surya pun mulai mengintip Dimas yang masih terlelap di atas tempat tidur seorang diri.


Silaunya cahaya matahari membuat Dimas merasa terusik, dia mulai membuka perlahan matanya. Dia mengerjapkan matanya sambil meraba-raba kasur bagian sampingnya.


Dimas kaget saat tak lagi mendapati Susi berbaring di sampingnya.


"Susi ke mana, sih?" gumam Dimas heran.


"Memangnya jam berapa, sih?" Dimas bermonolog seorang diri


Dimas pun mengarahkan tatapannya ke arah jam dinding yang ada di kamar tersebut.


Jam dinding menunjukkan pukul 09.15 pagi.


"Ya ampun, udah siang ternyata," lirih Dimas.


Akhirnya Dimas pun keluar dari kamar, dia mencari sosok istri di sekeliling rumah, tapi dia tidak dapat menemukan Susi di dalam rumah.

__ADS_1


Dengan wajah bantalnya, dia membuka pintu rumah lalu mencari istri sirinya di luar rumah, tepatnya di warung yang terdapat di depan rumahnya.


Dimas melihat sosok Susi dengan pakaian minim bahan dan wajah yang sudah berhias dengan make up seperti biasa.


Dimas melangkah menghampiri sang istri yang sudah tampil sangat menggoda.


"Sayang," panggil Dimas saat dia sudah berada di samping istrinya.


"Ya, ampun. Bangun tidur bukannya mandi malah ke sini," omel Susi kesal melihat suaminya yang berpenampilan acak-acakan.


"Aku tuh cariin kamu, taunya malah di sini," ujar Dimas memberi alasan dia datang menghampiri sang istri.


"Aku di sini aja kok, enggak ke mana-mana. Bentar lagi warung mulai rame. Jadi, aku siap-siap, dong," ujar Susi.


"Gih, sana mandi dulu, sana!" perintah Susi kesal melihat wajah Dimas yang kusut.


"Sayang, kamu masak apa pagi ini? Aku lapar, nih," ujar Dimas merasa kelaparan karena semalam dia hanya makan mie instan tanpa nasi.


"Aku tadi cuma makan roti, tadi beli di warung," jawab Susi santai.


Dia sama sekali tidak peduli dengan perut Dimas yang sudah lapar.


"Terus aku makan apa, dong?" tanya Dimas pada Susi.


"Ya pikir sendirilah, kan perut kamu," jawab Susi.


"Lho, kamu kok ngomong seperti itu sama aku? Ingat ya, Susi. Aku ini suamimu," ujar Dimas kesal.


"Kalau kamu sadar sebagai seorang suami, makanya kamu kasih nafkah aku," ujar Susi protes.


Dia mengingatkan bahwa status suami itu memilik tanggung jawab memberi nafkah pada istrinya, baik nafkah lahir maupun nafkah bathin.


Dimas terdiam mendengar ucapan Susi. Dia menyadari apa yang dikatakan Susi memang benar, tapi dia masih saja mengelak akan tanggung jawabnya.


"Kamu memang jauh beda sama Fitri, kalau Fitri selalu menyediakan makanan buat aku meskipun aku tidak sanggup memberi dia uang yang cukup," lirih Dimas.


Ucapan Dimas masih terdengar jelas di telinga Susi, emosinya langsung naik.


"Hei, Dim. Kamu jangan samakan aku sama wanita bodoh itu!" bentak Susi marah.


Susi yang kesal meninggalkan Dimas yang duduk termenung sendiri di warung milik istri sirinya itu.


"Ya ampun, kenapa Susi jadi berubah seperti ini sama aku? Apakah kesalahanku yang sebenarnya?" Dimas bermonolog seorang dihri.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan, Susi marah gara-gara satu Minggu ini aku jarang nongkrong di sini?" Dimas masih saja tidak sadar diri bahwa yang dibutuhkan seorang istri adalah nafkah lahir.


"Woi, Dim! Pagi-pagi udah melamun," ujar Rahmat saat dia baru saja masuk ke dalam warung Susi.


Rahmat memang sengaja mencari Dimas untuk mengajak temannya itu bekerja.


"Eh, kamu. Kenapa, Mat?" tanya Dimas pada Rahmat.


"Tadi aku ke rumahmu, kata ibumu kamu enggak ada, ya udah, aku coba liat ke sini," ujar Rahmat.


"Ada apa kamu cariin aku?" tanya Dimas.


"Ada yang panen jagung di kebun, kamu bisa kan bantuin aku melangsir jagung ke jalan raya?" tanya Rahmat pada Dimas.


"Oh, ya udah. Aku ikut, kebetulan aku lagi enggak ada kerjaan," ujar Dimas menerima ajakan Rahmat.


"Ya udah, nanti aku tunggu di tempat biasa, ya," ujar Rahmat.


"Siip," sahut Dimas.


"Eh, Susi mana? Aku mau minum kopi, nih." Rahmat memanjangkan lehernya mencari sosok si mantan janda yang seksi dan indah di pandang mata lelaki hidung belang.


"Kamu mau kopi, biar aku aja yang bikinkan, Susi masih sibuk di dalam," jawab Dimas.


Ada rasa cemburu yang terbesit di hati Dimas, melihat temannya itu seperti mengagumi sosok istri sirinya.


"Ya udah, bikinkan aku secangkir kopi susu seperti biasa," ujar Rahmat.


Akhirnya Dimas pun berdiri lalu dia membuatkan secangkir kopi pesanan Rahmat dengan penampilan yang masih jelas bahwa dia baru bangun tidur.


"Kamu mau bikin apa?" tanya Susi tiba-tiba datang.


"Ini mau bikinkan kopi susu pesanan Rahmat," jawab Dimas.


"Ya udah, aku saja yang bikinnya, kamu sana mandi," usir Susi.


Mau tak mau akhirnya Dimas pun melangkah masuk ke dalam rumah Susi, dia pun langsung menuju kamar mandi masih dalam keadaan perut kosong.


Usai mandi Dimas pun melangkah menuju warung sang istri siri.


"Kamu mau ke mana, Dim?" tanya Susi melihat sang suami sudah siap untuk berangkat kerja.


"Ada kerjaan melangsir jagung. Mana tahu ada rejekinya buat beli makanan mengisi perutku yang kosong ini," ujar Dimas menyindir Susi yang mulai hitung-hitungan dengannya.

__ADS_1


"Ya syukurlah kalau gitu, kamu udah sadar bahwa aku ini butuh kamu nafkahi," ujar Susi menimpali.


Bersambung...


__ADS_2