
Fitri menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan ibu mertuanya, dia pun melangkah ke samping sehingga dia dapat melihat dengan jelas bibir sang suami yang belepotan dengan warna merah.
Deg.
Jantung Fitri berdegup dengan kencang, dia merasa suaminya sudah melakukakn sesuatu yang tidak diketahuinya.
Firasat seorang istri membuat Fitri mulai mencurigai tingkah sang suami. Dia merasa suaminya telah melakukan sesuatu yang tidak pantas di luar sana.
“Merah apanya, Bu?” tanya Dimas pada ibunya.
“Coba, deh, kamu lihat ke cermin!” ujar Bu Fatimah menyuruh putranya bercermin di sebuah cermin yang terdapat di luar kamar mandi.
Dimas pun langsung melangkah menuju cermin yang terpasang di dinding luar kamar mandi.
“Ya ampun, jangan-jangan ini lipstick Susi yang menempel di bibirku,” gumam Dimas di dalam hati.
Dia langsung menghapus bekas merah di bibirnya.
“Bekas apa itu, Bang?” tanya Fitri curiga.
“Eh, ini. Tadi aku makan agar-agar di warung, sepertinya pewarna di agar-agar itu kebanyakan dan menempel di wajahku,” jawab Dimas asal.
“Ya sudah, ayo kita makan!” ajak Dimas mengalihkan pembicaraan.
Kini semua orang sudah berada di ruang makan untuk menyantap makan malam bersama. Rasya duduk di antara Fitri dan Dimas, sedangkan ayah mertua Fitri duduk tepat di hadapan Fitri.
Fitri merasa ketakutan saat melihat tatapan mata sang ayah mertua, dia membayangkan apa yang sudah dilakukan ayah mertuanya terhadap dirinya beberapa waktu lalu.
Terlihat dengan jelas Fitri makan dengan tegang, dia sama sekali tidak menikmati makan malam dengan baik.
“Kamu kenapa, Fit?” tanya Bu Fatimah yang melihat dengan jelas wajah pucat sang menantu.
Bu Fatimah melihat Fitri seperti seseorang yang melihat setan.
“Mhm, ti-tidak ada apa-apa, Bu.” Diska berusaha berbohong.
“Apakah Fitri merasa takut pada bapak yang kini sedang duduk di hadapannya, berarti apa yang sudah dikatakan Sinta semua adalah benar,” gumam Bu Fatimah di dalam hati.
Setelah selesai makan malam, Fitri membantu ibu mertuanya membereskan piring kotor bekas makan mereka. Sedangkan Dimas membawa Rasya menonton TV di ruang keluarga.
“Fit,” lirih Bu Fatimah mendekati Fitri yang sedang mencuci piring.
__ADS_1
Fitri menoleh ke arah sang ibu mertua.
“Ada apa, Bu?” tanya Fitri heran.
“Apakah benar bapak pernah melakukan hal keji terhadap dirimu?” tanya Bu Fatimah tak bisa menahan diri untuk tidak mempertanyakan hal ini pada menantunya.
“Mhm, i-ibu tahu dari mana?” tanya Fitri pada ibu mertuanya.
Fatimah menarik tangan menantunya untuk duduk di kursi meja makan.
“Maafkan ibu, Fit. Sehari setelah kamu pergi dari kampung ini, ibu pergi ke rumah Sinta. Ibu meminta penjelasan dari Sinta tentang semua yang terjadi pada dirimu,” tutur Bu Fatimah jujur terhadap menantunya.
Saat ini wanita paruh baya itu tengah berada dalam kebimbangan, di antara membela menantunya atau membela suami dan putranya.
Meskipun Bu Fatimah tahu apa yang kini dilakukan putra dan suaminya salah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Mhm, apa yang dikatakan Sinta benar, Bu. Tapi, jangan sampai hubungan ibu dengan bapak jadi rusak karena ini,” lirih Fitri.
Akhirnya Fitri dapat berbagi beban yang dipikulnya pada ibu mertuanya, setidaknya kenyamanannya selama berada di rumah kedua orang tua suaminya bisa lebih terjaga.
“Maafkan ibu, atas semua yang telah dilakukan oleh bapak. Ibu tak menyangka bapak bisa sekeji itu,” ujar Bu Fatimah merasa bersalah.
“Ya sudah, kalau begitu. Ibu akan bantu kalian cari kontrakan, sebenarnya ibu senang kamu tinggal di sini, tapi jika seperti ini keadaannya, lebih baik kita hati-hati.” Bu Fatimah meminta Fitri untuk lebih berwaspada terhadap suaminya.
Setelah mereka mengobrol sejenak, Fitri kembali melanjutkan pekerjaannya, begitu juga dengan bu Fatimah.
“Rasya, ayo kita tidur!” ajak Fitri pada putrinya.
Fitri sengaja mengajak Rasya masuk ke dalam kamar agar Dimas juga ikut masuk ke dalam kamar.
Iya, Bunda,” lirih Rasya.
Rasya berdiri lalu dia melangkah menghampiri bundanya, mereka pun melangkah masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Fitri menunggu Dimas masuk, tapi yang ditunggu pun tak kunjung datang.
Akhirnya Fitri mengunci pintu dari dalam kamar karena Fitri takut ayah Dimas masuk ke dalam kamarnya saat dia sudah tertidur nanti.
Setelah dia mengunci pintu kamar, Fitri menidurkan Rasya terlebih dahulu. Rencananya setelah itu dia akan melanjutkan pekerjaannya menulis novel.
Tanpa disadarinya, Fitri ikut terlelap dengan putrinya karena dia kelelahan telah berkendaraan sepanjang hari.
__ADS_1
Pada pukul 22.00, Dimas mematikan TV. Ayah dimas sudah terlebih dahulu masuk ke kamar karena mengantuk. Dia berdiri dan melangkah menuju kamar tempat Fitri dan Rasya berada.
Tok tok tok.
Dimas mengetuk pintu kamar berkali-kali, tapi Fitri sama sekali tidak menggubris karena Fitri sangat mengantuk dan tidur dengan nyenyak.
“Kenapa dia langsung mengunci pintu kamar? Padahal aku masih berada di luar,” gumam Dimas di dalam hati.
“Baguslah kalau begitu, ini kesempatan buat aku menginap di rumah Susi,” gumam Dimas di dalam hati.
Dia merasa senang dengan kesempatan yang didapatnya, karena besok dia bisa mencari alasan pada istrinya.
Dimas langsung melangkah menuju rumah istri sirinya, dia bahagia bisa tidur bersama istri barunya itu. Entah mengapa Dimas merasakan sensasi yang berbeda saat berada di samping istri sirinya itu.
Di rumah Susi, janda tanpa anak itu sedang asyik memainkan ponselnya, wanita itu asyik berchating ria dengan semua teman sosial medianya.
Tok tok tok.
Dimas mengetuk pintu rumah istri sirinya, tak menunggu lama Susi membukakan pintu untuk suaminya itu.
“Susi memang lebih baik dari Fitri, lihat saja sikap Susi yang langsung membukakan pintu rumahnya saat dia mendengar ketukan pintu dariku,” gumam Dimas di dalam hati.
Dimas mulai membandingkan kedua istrinya itu.
“Kenapa lama, Sayang?” tanya Susi pada suaminya dengan manja.
“Mhm, aku harus nungguin Fitri tidur dulu, makanya lama.” Dimas melangkah masuk ke dalam rumah Susi.
Dimas pun mulai mencum**I Susi dengan ganasnya.
“Sayang, kamu mau lagi?” tanya Susi mulai menggoda suaminya.
Dimas tidak menjawab pertanyaan Susi, dia pun langsung melu**ti pakaian istri sirinya, tidak menunggu lama Dimas mulai melancarkan aksinya. Susi sebagai wanita yang sudah lama tak disentuh oleh pria sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Dimas.
“Terima kasih, Sayang,” lirih Susi di telinga Dimas setelah mereka lelah bertempur.
“Aku sangat mencintaimu!” lirih Dimas.
Dimas saat ini bagaikan seorang yang lupa daratan, dia lupa akan dirinya saat ini. Yang dia tahu saat ini hanyalah cinta yang menggelora di dalam dadanya terhadap istri sirinya,
Bersambung…
__ADS_1