
"Aku harus tanyakan bapak hal ini," gumam Bu Fatimah di dalam hati.
Saat petang mulai menggantikan siang dengan malam, Pak Arif baru saja tiba di rumah.
Pria paruh baya itu baru saja pulang dari sebuah warung, hanya itu pekerjaan yang dia tahu sepanjang hari.
"Pak!" bentak Bu Fatimah.
Selama ini Bu Fatimah tidak pernah membentak suaminya.
Emosi yang kini semakin memuncak membuat wanita paruh baya itu mulai hilang kendali.
Pak Arif kaget saat istrinya membentaknya.
"Kamu kenapa, Bu? Main bentak saja," ujar Pak Arif kesal mendapat bentakan dari istrinya.
Pria paruh baya itu merasa tak dihargai oleh istrinya.
"Kamu ngambil gelang emasku?" tuduh Bu Fatimah langsung.
"Gelang emas?" Pak Arif mengernyitkan dahinya.
Dia tidak tahu apa-apa, bahkan selama ini dia tidak tahu kalau istrinya menyimpan emas.
"Iya, aku tidak mungkin salah simpan. Pasti kamu yang curi gelang itu, untuk bersenang-senang di warung sana," ujar Bu Fatimah langsung menuduh sang suami.
"Jangan asal ngomong, Bu. Aku sama sekali tidak ada mengambil gelang," bantah Pak Arif.
"Lalu siapa yang mengambil gelang itu?" tanya Bu Fatimah pada suaminya.
"Mana aku tahu, Bu. Si Dimas kali, di mana tuh anak?" tanya Pak Arif.
"Tidak mungkin Dimas yang mengambilnya, anak itu jelas-jelas disekolahkan untuk menjadi orang baik, mana mungkin dia berani mencuri," gumam Bu Fatimah membantah tuduhan suaminya pada sang putra.
"Enggak mungkin Dimas, Pak," bantah Bu Fatimah.
"Ya sudah, nanti kamu tanyakan saja padanya kalau dia sudah datang," ujar Pak Arif.
"Mhm, siapa pun yang mengambil barang itu aku tidak akan maafkan," ujar Bu Fatimah mengancam berharap sang suami mau mengakui bahwa dia yang mengambil gelang simpanan Bu Fatimah itu.
"Ya terserah kamu, Bu. Nanti kalau anakmu sudah datang kamu langsung tanyakan saja sama dia," ujar Pak Arif kesal.
Pria paruh baya itu merasa kesal dengan sikap istrinya yang sembarangan menuduh dirinya mencuri.
__ADS_1
"Makanya, kalau punya barang berharga itu disimpan baik-baik," lirih Pak Arif kesal.
Pak Arif pun masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju dapur, dan bersiap untuk makan karena perutnya sudah lapar.
Dia meninggalkan istrinya yang masih emosi.
"Ya Allah, siapa yang sudah berani mengambil gelang itu. Apakah Dimas akan tega melakukan hal itu padaku?" gumam Bu Fatimah.
Wanita paruh baya itu pun duduk di kursi ruang tamu.
Dia menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Biasanya dia menyimpan gelang itu sebuah kantong kain yang dimasukkannya ke dalam kaleng yang ada di dalam lemarinya itu.
Dia teringat dengan gelang emas itu karena dia ingin membeli sepetak sawah yang berada di dekat kampung agar dia tidak perlu berkebun lagi jauh dari kampung karena dia tidak bisa lagi mengharapkan putranya mengantarkan dirinya ke kebun seperti biasanya.
Banyak yang sudah berubah dalam diri putranya sejak ada masalah dalam rumah tangga putranya itu.
Selama ini, hanya Dimas yang selalu diharapkannya dalam berbagai hal.
"Ya Allah, apa salahku, sehingga Engkau memberi aku ujian seperti ini," lirih Bu Fatimah.
Buliran bening mulai membasahi pipi wanita paru baya yang sudah mulai berkeriput itu.
"Bu, kamu enggak masak?" tanya Pak Arif tiba-tiba dari dapur.
Pria paruh baya itu kesal saat tidak mendapati apa pun di atas meja makan.
Bu Fatimah menatap tajam ke arah suaminya.
"Kalau mau makan, kerja dulu cari uang buat beli beras!" ujar Bu Fatimah kesal.
Bu Fatimah masuk ke dalam kamar lalu dia mengunci kamar itu dari dalam agar Pak Arif tidak bisa masuk.
Bu Fatimah mulai membereskan kamar yang sudah berantakan bagaikan kapal pecah ulah dirinya yang mencari gelang emas miliknya.
Sementara itu Pak Arif mengomel di luar kamar seorang diri tanpa ada yang menggubris perkataan pria paruh baya itu.
****
Sidang pertama selesai, dengan bukti-bukti yang diberikan oleh Reyhan pada Dina membuat persidangan berjalan lancar hanya saja, kehadiran Dimas dalam persidangan itu yang memohon untuk rujuk membuat Hakim belum bisa mengambil keputusan, Hakim memberi waktu kepada kedua belah pihak untuk berpikir ulang.
Usai sidang perceraian pertama, Fitri langsung pulang dengan Riyan.
Selama Riyan mengetahui Dimas ada di desa mereka, maka Riyan tidak berani membiarkan adiknya tinggal di rumah kedua orang tua mereka, dia menyuruh Fitri tinggal di rumahnya, Riyan juga sengaja tidak membiarkan Fitri tinggal di rumah kakaknya, dia ingin melindungi adiknya itu dari sang kakak ipar karena Riyan mencium gelagat tidak baik dari sang kakak ipar.
__ADS_1
Saat mereka hendak masuk ke dalam mobil, Dimas menarik tangan Fitri.
"Fit, aku ingin bicara," ujar Dimas memohon.
"Maaf, Bang. Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan," ujar Fitri menolak permohonan Dimas.
"Rasya, tolong bilang sama bunda supaya mau ngomong sama ayah," rengek Dimas pada putrinya berharap gadis kecil itu akan mau membujuk bundanya.
"Lebih baik ayah pulang, jangan ganggu bunda lagi," ujar Rasya pada ayahnya.
Rasya sudah sangat membenci sosok ayahnya. Baginya lebih baik tidak memiliki ayah dari pada terus menerus melihat wanita yang melahirkannya tersakiti.
"Rasya, apakah kamu tidak sayang ayah lagi?" tanya Dimas pada putrinya.
"Saat ayah sudah berani menyakiti bunda, sejak itu Rasya tidak mau punya ayah lagi," lirih Rasya.
Kata-kata gadis kecil itu begitu menyakitkan baginya. Dimas tak menyangka putrinya akan berkata seperti itu padanya.
"Rasya," lirih Dimas.
Tanpa diketahuinya, buliran bening jatuh begitu saja di pipinya.
Di saat seperti itu, Fitri langsung menarik tangan putrinya, lalu masuk ke dalam mobil.
Riyan mulai melajukan mobilnya meninggalkan Dimas yang masih termangu mendengar kata-kata menyakitkan dari malaikat kecilnya.
Di sepanjang perjalanan, Fitri tak banyak berkata-kata. Dia melihat dengan jelas wajah sedih yang terpancar dari wajah pria yang sudah menjadi imamnya itu selama 7 tahun ini.
Fitri ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh calon mantan suaminya itu.
Banyak kenangan indah yang sudah mereka lewati selama 7 tahun terakhir.
Meskipun pernikahan mereka merupakan pernikahan paksaan, tapi Fitri sudah mulai mencintai suaminya itu. Dengan susah payah dia menghapus rasa cintanya pada Reyhan.
Walaupun Fitri sudah mencintai Dimas, tapi masih ada kenangan manis yang tetap ada di hati Fitri terhadap Reyhan.
"Fit," lirih Riyan.
Riyan memperhatikan adiknya yang terlihat sedih.
Fitri menoleh ke arah abangnya yang kini sedang fokus menyetir mobil.
"Iya, Bang." Fitri menunggu apa yang diucapkan oleh abangnya.
__ADS_1
"Abang tahu, apa yang saat ini kamu rasakan. Ingat satu hal, jika kamu kembali dengannya apakah kamus udah siap untuk tersakiti lagi? Kamu sudah pernah memberi kesempatan untuknya, tapi dia menyia-nyiakan kesempatan itu. Jadi, kamu jangan terpengaruh lagi dengannya," nasehat Riyan pada adiknya.
Bersambung...