Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 26


__ADS_3

“Tidak bisa, Bang. Bang Dimas itu harus tahu semua kenyataannya, aku tidak sudi dia menyakiti Fitri seperti yang dilakukannya saat ini,” bantah Sinta tidak bisa mengontrol dirinya.


Beberapa orang tetangga Sinta mulai keluar dari rumahnya karena mendengar Sinta yang ribut-ribut memaki sahabat suaminya.


“Aku paling benci melihat laki-laki yang tidak bertanggung jawab sepertimu, Bnag Dimas. Sudah untung Fitri mau menikah dan mendampingimu selama ini, sudah cukup kamu menyakitinya, biarkan dia pergi dari kehidupanmu!” bentak Sinta mengungkap rasa sakit yang dialami Fitri selama ini.


Dengan susah payah Yanto menyuruh istrinya untuk diam, tapi tetap saja istrinya terus memaki-maki Dimas di depan beberapa orang tetangga yang melihat kejadian itu.


“Dim, pergilah dari sini,” pinta Yanto tidak bisa berkutik lagi.


Amarah dan emosi Sinta benar-benar sudah memuncak melihat kedzholiman yang sudah dilakukan oleh sahabat suaminya itu terhadap sahabatnya.


Akhirnya Dimas memilih untuk keluar dari rumah Yanto, dia mengabaikan mata yang menatap tidak suka pada dirinya. Dimas melajukan sepeda motornya meninggalkan kediaman sahabatnya menuju warung janda kembang yang selalu saja menghasutnya.


“Ada apa, Dim?” tanya Susi pada Dimas yang baru saja masuk ke dalam warung miliknya dengan wajah ditekuk.


“Aku lagi kesal, Sus,” jawab Dimas.


Warung Susi tampak sepi karena hari semakin petang dan sebentar lagi akan berganti maghrib.


“Apa lagi yang dilakukan oleh istrimu itu sehingga kamu bisa kesal seperti ini?” tanya Susi mencoba menghibur Dimas dengan caranya.


“Fitri pergi dari rumah, dan aku tidak tahu dia pergi kemana,” jawab Dimas.


“Memang dasar wanita tidak tahu diri istrimu itu, sudah dikasih pelajaran masih saja membuat kesal,” ujar Susi memancing emosi Dimas.


Dimas hanya diam, dia tidak menggubris ucapan Susi. Dia menatap kosong ke arah depan, melihat sikap Dimas, Susi pun memilih diam menemani Dimas yang duduk bermenung di warungnya hingga gelap menutup sinar sang surya.


Setelah isya, semakin banyak pengunjung yang datang, Dimas mengabaikan semua pengunjung, dia membaringkan tubuhnya di kursi panjang bagian pojok di warung Susi.Dia enggan untuk mengobrol dengan teman-teman yang lain.


Dia sengaja memejamkan matanya agar tidak ada satu orang pun yang menggangu dirinya yang kini ingin menyendiri.

__ADS_1


Malam semakin larut, pengunjung di warung Susi satu per satu mulai pulang ke rumah Susi hingga tinggallah Dimas seorang.


“Dim,” panggil Susi membangunkan Dimas yan mulai terlelap.


“Eh,” lirih Dimas terbangun.


“Sudah sepi aku mau tutup warung,” ujar Susi.


“Oh iya, ternyata aku sudah ketiduran,” ujar Dimas.


“Tidak apa-apa, atau kita tidur di dalam saja,” ujar Susi penuh menggoda.


Dimas yang juga sudah lama tidak melampiaskan hasrat di dalam jiwanya mengangguk, mereka pun masuk ke dalam rumah Susi dan kembali melakukan hal terlarang itu.


Ada 2 orang penduduk yang melihat Dimas masuk ke dalam rumah si janda kembang di desa itu, mereka mencurigai apa yang dilakukan Dimas di dalam rumah si janda.


Mereka memanggil beberapa orang warga yang baru saja pulang dari warung lain lalu mengajak mereka untuk memeriksa apa yang dilakukan Dimas dan Susi di rumahnya.


“Susi!” teriak salah satu warga saat mereka sudah ramai di depan rumah Susi.


“Astaghfirullah,” lirih beberapa orang warga tak menyangka seorang guru seperti Dimas melakukan hal terlarang dalam agama.


“Hei, Dimas! Apa yang sudah kalian lakukan!” bentak salah satu warga.


“Kalian sudah berbuat zi*a di desa ini, kalian harus dihukum!” bentak warga lainnya.


“Benar, pendosa harus kita hukum! Usung mereka ke rumah kepala desa,” usul warga lainnya.


Akhirnya warga memaksa Dimas dan Susi menuju rumah kepala desa dan mereka juga memanggil para tetua di desa itu untuk menindak perbuatan dosa yang dilakukan oleh Dimas dan Susi.


Semua orang sudah berkumpul di rumah sang kepala Desa, mereka dihakimi dan dipaksa untuk menikah saat itu juga.

__ADS_1


Keesokan harinya, berita tentang Dimas dan Susi menyebar ke seluruh penjuru masyarakat di desa itu, Arif dan Fatimah merasa malu dengan apa yang sudah dilakukan oleh putra semata wayangnya, belum lagi Fatimah malu atas keretakan rumah tangga putranya kini ditambah pula dnegan yang lain.


“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Fatimah dingin saat mendapati Dimas masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi tamu.


“Bu, maafkan aku, aku khilaf, Bu,” rengek Dimas pada ibunya.


Dia terus memohon maaf pada wanita yang sudah melahirkannya,


“Kamu menuduh Fitri berselingkuh tanpa ada bukti-bukti yang jelas, tapi kamu telah berbuat zi*a dengan wanita lain yang mana status kalian masih sah sebagai suami istri,” ujar Fatimah dengan nada tinggi.


Wanita paruh baya itu benar-benar kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh putranya.


“Bu, ini semua gara-gara Fitir yang sudah mengkhianatiku, seandainya dia tidak selingkuh aku tidak akan melakukan ini dengan Susi,” bantah Dimas.


Dia masih saja membela diri dengan menumpahkan semua kesalahannya pada Fitri yang tidak tahu apa-apa sama sekali.


“Diam kamu, Dimas!” bentak Fatimah sudah tak sabar menghadapi putrinya.


“Jangan lagi kamu salahkan Fitri atas perbuatan dosa yang telah kamu lakukan!” bentak Fatimah.


Dimas pun terdiam, dia masih saja tidak mau disalahkan atas apa yang telah terjadi, kini nama baik Dimas di desa itu sudah tercemar. Pandangan warga padanya kini mulai tak lagi dihormati.


Warga pun mulai mengambil kesimpulan, Dimas sengaja menuduh istrinya berselingku demi menutupi perbuatan hina yang dilakukannya dengan janda kembang di desanya itu.


Ayah Dimas hanya banyak diam, saat ini dia tidak bisa menasehati putrinya karena dia sendiri tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh putranya.


Ibu Dimas yang kesal langsung keluar rumah, dia pun memilih untuk menghampiri Sinta dan ingin mencari tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi di antara Dimas dan menantunya.


Sebagaimana yang dia ketahui selama ini, Fitri sangat akrab dengan Sinta, dan dia bergharap  Sinta tahu apa yang sudah terjadi di dalam rumah tangga putranya.


Dengan berjalan kaki dia melangkah menahan malu, semua warga yang bertemu dengannya sepanjang jalan menuju rumah Sinta menatap hina padanya. Mereka merendahkan Fatimah karena tidak bisa mendidik putra semata wayangnya.

__ADS_1


Fatimah hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap orang-orang yang kini memandang rendah padanya.


Bersambung…


__ADS_2