
Reyhan duduk tepat di hadapan Fitri.
“Aku boleh duduk di sini?” tanya Reyhan sebelum bergabung dnegan ibu dan anak itu.
“Silakan,” lirih Fitri.
“Hai, anak gadis,” sapa Reyhan ramah pada putri mantan kekasihnya.
“Hai, Om,” balas Rasya dengan suara imutnya.
“Namanya siapa?” tanya Reyhan berusaha akrab dengan gadis kecil itu.
“Namaku Rasya, Om,” jawab Rasya.
“Oh Rasya, Rasya sudah sekolah?” tanya Reyhan mengajak gadis kecil itu mengobrol.
Rasya terlihat senang mengobrol dengan Reyhan, mereka pun terlibat obrolan panjang yang membahas berbagai hal.
Fitri merasa heran dengan putrinya yang terlihat nyaman bersama Reyhan, biasanya Rasya sulit bergaul dengan orang yang baru saja dikenalnya.
Fitri tersenyun melihat keakraban dua insan beda usia itu. Fitri membayangkan, seandainya dulu dia menikah dengan Reyhan, mungkin apa yang kini dialaminya tak akan pernah ada.
“Om Reyhan baik ya, Bun. Tidak seperti ayah,” lirih Rasya sendu.
Entah mengapa, gadis kecil Fitri berbicara mengarah pada soosk ayahnya.
Reyhan mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Rasya.
“Memangnya ayahnya tidak baik, ya?” tanya Reyhan penasaran.
“Iya, ayah selalu marah-marahin ibu, Ayah tidak sa,--“ Fitri membungkam mulut putrinya yang sudah berani menjelek-jelekan ayahnya sendiri di depan pria yang baru saja dikenalnya.
“Maaf, omongan Rasya tidak usah dimasukin ke hati,” lirih Fitri sambil menunduk.
Seketika suasana menjadi hening, tak satu orang pun yang memulai pembicaraan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga makanan mereka pun habis.
“Rey, aku duluan, ya,” lirih Fitri hendak meninggalkan Reyhan.
Fitri berdiri dan hendak melangkah, tiba-tiba Reyhan menarik tangan Fitri.
“Aku masih ingin bicara denganmu,” ujar Reyhan penuh harap.
Fitri bimbang, tapi Reyhan ikut berdiri. Dia mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan meletakkan di atas meja.
__ADS_1
“Kak, itu uangnya di atas meja, kembaliannya ambil saja,” ujar Reyhan.
Reyhan menarik tangan Fitri keluar dari warung lalu membawa Diska masuk ke dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya dan membiarkan sepeda motor Fitri masih terparkir di depan warung itu.
“Kita mau ke mana, Rey?” tanya Fitri cemas.
“Tidak ke mana-mana, aku hanya ingin membawamu ke suatu tempat.
“Tapi, Rey. Kalau ada yang melihat kamu membawaku, rumah tanggaku akan,--“ Fitri tak melanjutkan ucapannya setelah mendapat tatapan memohon dari Reyhan.
Fitri memilih diam sambil memangku putrinya, Rasya juga diam. Mereka melajukan mobilnya, membawa mereka sebuah taman yang tidak jauh dari perusahaan tempat Reyhan bekerja.
Reyhan memarkirkan mobilnya, lalu mengajak Fitri dan Rasya turun, mereka melangkah memasuki kawasan taman.
Di taman itu terdapat beberapa mainan anak-anak seperti ayunan, seluncuran dan lain-lain.
“Rasya sayang, kamu mau es krim?” tanya Reyhan pada gadis kecil itu.
Rasya menoleh ke arah bundanya pertanda meminta izin untuk menerima tawaran dari Reyhan. Fitri mengangguk mengiyakan.
“Mau. Mau, Om,” seru Rasya senang.
Dia tampak senang dengan tawaran Reyhan, Reyhan mengajak Rasya membeli es krim, sedangkan Fitri memilih untuk duduk di sebuah bangku taman yang terdapat di bawah pohon yang rindang.
“Bunda, aku mau main ayunan,” ujar Rasya meminta izin pada Fitri untuk bermain ayunan yang ada tak jauh dari bangku taman tempat Fitri kini sedang duduk.
Saat Rasya sudah asyik bermain ayunan, Reyhan duduk di samping Fitri.
“Aku sudah tahu tentang semua masalahmu,” ujar Reyhan memulai pembicaraan dengan mantan kekasihnya itu.
Fitir menoleh menatap dalam pada sang mantan.
“Apa maksudmu?” tanya Fitri tak mengerti dnegan apa yang baru saja yang diucapkan oleh Reyhan.
“Leih baik kamu tinggalkan pria yang tidak bertanggung jawab itu, tidak ada gunanya bertahan dengannya,” ujar Reyhan penuh amarah.
Reyhan tidak terima dengan perlakuan dimas terhadap wanita yang masih dicintainya. Dia ingin membawa Fitri pergi jauh dari Dimas.
“Rey, aku tidak bisa pergi. Rasya masih butuh seorang ayah,” jawab Fitri masih mau mempertahankan rumah tangganya.
Reyhan menghela napas panjang mendengar jawaban dari sang mantan.
“Baiklah, kalau kamu memang tidak mau meninggalkannya, tapi kamu harus memikirkan kebahagiaanmu sendiri, Fit,” pinta Reyhan.
__ADS_1
“Tujuh tahun kamu bersamanya, pernahkah kamu merasakan kebahagiaan?” tanya Reyhan menatap dalam mata indah Fitri.
Mata yang dulu memancarkan kebahagiaan bersamanya kini terlihat sembab karena penderitaan hidup yang dihadapinya.
“Kamu berhak untuk mencari kebahagiaanmu,” ujar Reyhan lagi.
Fitri terdiam mendengar kata-kata Reyhan, semua yang dikatakan Reyhan memang benar. Usaha Fitri untuk melupakan Reyhan dan memilih untuk mencintai Dimas kini dibalas dengan sikap Reyhan yang mengabaikan dirinya.
Cinta yang susah payah dihadirkannya untuk Reyhan kini kembali sirna, kepedulian Reyhan terhadap dirinya membuat Fitri kembali terjebak dalam cintanya pada mantan kekasihnya dulu.
Mereka kembali diam, dua insan itu kini sibuk dengan pikiran masing-masing. Melihat sikap, Reyhan memilih untuk bermain dengan Rasya agar tidak ada kecanggungan yang terjadi di antara mereka.
Fitri hanya dapat melihat interaksi Reyhan dengan gadis kecilnya, dia terharu melihat sikap Reyhan pada sang putri.
“Apakah aku harus meninggalkan Dimas? Apakah aku harus pergi dari desaitu?” gumam Fitri di dalam hati.
****
Dua hari setelah kedatangan Bu Santi, Fitri berencana untuk kembali ke desanya terlebih dahulu. Dia akan kembali ke desanya dengan beralasan pergi liburan pada orang tuanya. Fitri tidak akan memberitahukan masalahnya dengan Dimas pada keluarganya.
Untuk sementara waktu, Fitri menitipkan barang-barangnya pada Sinta, satu-satunya orang yang menjadi tempatnya mengadu.
Sebelum berangkat, Fitri mampir ke rumah Bu Santi untuk memberikan kunci rumah.
“Assalamu’alaikum,” ucap Fitri saat telah berdiri di depan rumah Bu Santi.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bu Santi dari dalam rumah.
Wanita paruh baya itu melangkah keluar untuk melihat tamu yang berkunjung ke rumahnya.
“Eh, kamu, Fit. Ada apa? Ayo masuk dulu” tanya Bu Santi. Pada Fitri.
“Tidak usah, Bu. Saya cuma sebentar, saya cuma ingin memberikan kunci rumah,” ujar Fitri langsung.
Fitri menyodorkan sebuah kunci pada Bu Santi.
“Maaf, Bu. Saya tidak sanggup dengan biaya yang ibu berikan, sehingga saya memilih untuk mencari kontrakan baru, rumah kontrakan ibu sudah saya kosongkan,” ujar Fitri lagi.
Bu Santi kaget dengan keputusan Fitri, dia tak menyangka ibu satu anak itu akan memilih keluar dari kontrakan miliknya.
“Oh, iya, terima kasih.” Bu Santi terpaksa menerima kunci yang diberikan oleh Fitri.
“Kalau begitu saya pamit dulu, Buk,” ujar Fitri.
__ADS_1
Fitri enggan berlama-lama di rumah Bu Santi, dia melangkah meninggalkan rumah Bu Santi dan dia langsung berangkat ke desanya dengan menggunaka bus umum.
Bersambung…