
"Rasya, kita pergi ke rumah Tante Sinta, yuk!" ajak Fitri pada putrinya.
“Ngapain ke sana, Bun?” tanya Rasya.
Seketika gadis itu menghentikan kegiatannya saat sang bunda mengajaknya mengobrol.
Jauh berbeda dengan sikapnya terhadap ayah kandungnya.
“Main aja, sekalian kita ngambil sepeda motor bunda. Biar nanti kalau Rasya mau pergi jalan kita ada sepeda motornya,” jawab Fitri.
“Oh gitu, ya udah. Ayuk, Bun.” Rasya berdiri dan menghampiri bundanya.
“Rasya boleh bawa bonekanya, Bun?” tanya Rasya minta izin untuk membawa mainannya.
Setelah mereka siap, Fitri pun keluar dari rumah. Lalu dia menggandeng tangan putrinya melangkah menuju rumah Sinta.
Saat mereka di tengah jalan, banyak mata warga yang melihat aneh pada Fitri.
“Eh, Fit. Kamu masih mau datang ke sini setelah apa yang dilakukan Dimas,” ujar salah satu ibu-ibu yang berpapasan dengan Fitri.
“Hah? Memangnya Bang Dimas ngelakuin apa, Bu?” tanya Fitri.
“Mending kamu tanya langsung deh sama suamimu, biar kesannya enggak Fitnah,” jawab ibu-ibu tersebut.
Fitri menautkan kedua alisnya bingung.
“Sudah ya, Fit. Kamu tanya langsung sama suamimu nanti,” ujar ibu-ibu itu lagi.
Lalu dia pun pergi meninggalkan Fitri yang terlihat kebingungan.
“Apa sebenarnya yang dilakukan Bang Dimas?” gumam Fitri di dalam hati.
Fitri terus melanjutkan langkahnya meskipun banyak mata yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dia mempercepat langkahnya, Fitri akan mempertanyakan apa yang sudah terjadi saat Fitri tak berada di kampung suaminya.
Tok tok tok.
Fitri mengetuk pintu rumah Sinta saat dia sudah berada di depan rumah sahabatnya itu.
“Assalamu’alaikum,” ucap Fitri,
“Wa’alaikumsalam,” jawab Yanto dari dalam rumah.
Yanto membuka pintu rumahnya, dia kaget saat melihat istri dari sahabatnya sudah berada di depan rumahnya.
“Fitri kamu kapan datang?” tanya Yanto heran.
Yanto kaget karena semalam dia masih melihat Dimas masuk ke rumah Susi, jadi Yanto mengira Fitri masih berada di desanya.
“Aku baru datang kemarin, Bang. Oh iya, apakah Kak Sinta ada di rumah?” tanya Fitri.
__ADS_1
“Mhm, Sinta pergi keluar sebentar, kamu tunggu aja, dulu,” ujar Yanto.
“Mhm, Kak Sinta lama enggak, Bang?” tanya Fitri.
Fitri merasa segan berada di rumah itu berdua dengan sahabat suaminya.
“Sepertinya sebentar lagi dia datang, kalau kamu mau menunggu, silakan duduk,” ujar Yanto mempersilakan Fitri duduk di bangku teras rumahnya agar tidak terjadi fitnah di antara mereka.
“Baiklah, Bang.” Fitri membawa Rasya duduk di kursi yang tersedia di depan rumah Sinta. ‘
DIa berharap Sinta cepat datang, agar dia tidak merasa segan di sana bersama Yanto.
Tak berapa lama, Sinta datang dengan menggunakan sepeda motornya.
“Fitri! Kapan datang?” seru Sinta surprise saat melihat sahabatnya telah duduk di depan rumahnya.
Sinta memarkirkan sepeda motornya, lalu dia bergegas menghampiri Fitri. Sinta langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan erat.
“Aku kangen sama kamu,” pekik Sinta histeris.
“Sama kak, aku juga kangen sama kamu,” balas Fitri.
Fitri senang mendengar ucapan Sinta, dia merasa terharu. Di desa suaminya ini masih ada orang baik yang menganggap dirinya berarti.
“Ayo, masuk! Kenapa nunggunya di luar?” ujar Sinta setelah dia melepaskan pelukannya dari Fitri.
“Enggak enak, Kak. Ada abang,” jawab Fitri jujur.
“Rasya cantik, apa kabar?” tanya Sinta menghampiri Rasya yang sedang menggendong boneka kesayangannya.
“Baik, tante,” jawab Rasya dengan memasang wajah yang imut.
Sinta tersenyum mendengar jawab Rasya.
“Aduh, bonekanya cantik sekali,” puji Sinta saat melihta boneka yang dipeluk oleh Rasya.
“Om Iyan yang belikan,” ujar Rasya dengan riang.
“Siapa itu?” tanya Sinta.
“Abangku,” ujar Fitri menjawab pertanyaan Sinta,
“Oh gitu, ya udah, yuk kita masuk!” ajak Sinta,
Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah.
“Bentar, ya. Aku taruh barang belanjaanku sebentar ke dapur,” ujar Sinta lalu melangkah menuju dapur.
Sekaligus Sinta membuatkan secangkir the panas serta mengisi toples makanan dengan cemilan yang dibelinya tadi.
Setelah itu, Sinta membawanya ke ruang tamu agar mereka dapat mengobrol dengan santai.
__ADS_1
“Lho, kenapa repot-repot sih, Kak?” Fitri merasa tidak enak hati.
“Enggak repot, kok. Lagian kamu juga sudah biasa datang ke sini,” ujar Sinta.
Mereka pun mengobrol, awalnya mereka hanya saling bertanya kabar. Namun, setelah itu Fitri teringat dengan apa yang dikatakan oleh ibu-ibu tadi saat di jalan menuju ke rumah Sinta.
“Eh, kak.” Fitri mengalihkan pembicaraan.
“Ada apa?” Sinta mengernyitkan dahinya.
“Mhm, tadi sewaktu aku jalan ke sini ada yang bilang, aku tuh masih maunya datang ke desa ini padahal perilaku bang Dimas padaku tidak baik. Memangnya Bang Dimas udah ngelakuin apa, sih?” tanya Fitri penasaran.
Sinta terdiam sejenak, awalnya Sinta tidak ingin menyampaikan apa yang sudah dilakukan oleh Dimas. Akhirnya Sinta pun menceritakan apa yang sudah terjadi pada sahabatnya.
“Astaghfirullah, dia sudah ber**na?” ucap Fitri tidak percaya.
Seketika hati Fitri hancur lebur, dia kecewa dengan sikap sang suami, dia tak menyangka suaminya yang selam ini menuduh dirimya selingkuh ternyata dirinyalah yang sudah melakukan pengkhianatan.
Buliran bening kini mulai membasahi pipi Fitri, luka hatinya kini mulai terasa sakit lagi, bayang-bayang perilaku Dimas sebelum Fitri pergi dari desa itu kembali melintasi pikirannya.
“Sudahlah, kasihan Rasya,” lirih Sinta sambil menoleh ke arah Rasya yang masih asyik memainkan bonekanya.
“Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini, pantesan saja mala mini dia tidak pulang. Pasti dia tidur di rumah istri keduanya itu,” lirih Fitri menahan isak tangisnya agar Rasya tidak heran.
"Ini ujian, Fit. Kamu harus sabar," Sinta berusaha menghibur Fitri.
"Seandainya aku tahu hal ini, Kak. Aku tidak akan mau ikut dia kembali ke sini. Dari pada hatiku tersiksa di sini lebih baik aku menjaga ayahku yang kini tinggal seorang diri di rumah," ujar Fitri.
"Apa maksud kamu, Fit? Ibumu ke mana?" tanya Sinta heran.
Setahu Sinta, Fitri masih memiliki kedua orang tua.
"Ibu sudah meninggal, Kak." Fitri kembali menangis.
Dia teringat rasa duka yang mendalam saat dia baru saja sampai di rumah kedua orang tuanya waktu itu.
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un," ucap Sinta tidak percaya.
"Aku ikut berduka ya, Fit," ucap Sinta lagi.
"Iya, Kak," lirih Fitri.
Fitri berusaha mengusap air matanya yang kini mulai terus mengucur dengan derasnya.
Kali ini dia tidak dapat menahan rasa luka yang sudah mengoyak hatinya.
"Bunda," lirih Rasya.
Gadis kecil itu ikut sedih saat melihat bundanya terus menangis.
Fitri pun memeluk Rasya dengan eratnya.
__ADS_1
Bersambung...