Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 22


__ADS_3

Dimas semakin kesal mendengar istrinya mulai berani membantah apa yang dikatakannya. Dimas menghampiri istrinya yang masih terduduk di lantai. Dia mencengkram erat lengan sang istri, sehingga istrinya merasa kesakitan.


“Sudah pandai membantah sekarang, ya. Apakah ini yang diajarkan oleh selingkuhanmu?” bentak Dimas.


Fitri hanya diam, dia menatap tajam pada sang suami, sikap sang suami tidak bisa lagi dibenarkan, Fitri berusaha berdiri, di saat itu dia dapat melihat dengan jelas di leher sang suami terdapat bekas cium*n.


Fitri juga dapat merasakan aroma parfum wanita dari tubuh sang suami.


“Bang, ini bekas cium*n siapa?” tanya Fitri pada suaminya.


Seketika dia melupakan masalah yang sedang terjadi di antara mereka. Fitri menunjuk leher Dimas yang terdapat bekas ciu*an.


Dimas terlihat gugup, dia teringat apa yang sudah dilakukannya dnegan Susi tadi malam.


Flash back.


“Dim, aku sudah capek. Aku mau tidur,” ujar Susi mau masuk ke dalam rumahnya.


Warungnya sudah tutup sejak tadi karena tak ada lagi pengunjung di sana kecuali Dimas, dia belum ingin pulang karena Dimas tidak mau pulang ke rumah sebelum ibunya tidur karena wanita yang sudah melahirkannya itu mulai rewel dengan hubungannya dan Fitri.


“Sus, aku belum mau pulang. Aku belum ngantuk,” ujar Dimas berharap Susi mau menemaninya.


Susi yang melihat Dimas yang masih saja kacau berniat ingin menghibur pria yang sempat mengisi hatinya.


“Ya sudah, kalau begitu kita ngobrol di dalam aja, sudah malam dan dingin,” ajak Susi.


Dengan mudah Dimas mau menerima ajakan Susi, mereka melangkah masuk ke dalam rumah si janda kembang itu.


Di dalam rumah Susi mulai mengusik jiwa Dimas yang sudah gersang, dia menyirami kehampaan yang dilewati pria beristri itu sehingga terjadilah hubungn terlarang di antara mereka berdua.


Flash back off.


“Itu bukan urusanmu!” bentak Dimas.


Dia tidak ingin istrinya curiga terhadap dirinya.


“Bang, apa yang sudah kamu lakukan? Dengan siapa?” tanya Fitri.


Firasat seorang istri membuat Fitri yakin bahwa suaminya memiliki hubungan terlarang dnegan wanita lain.


“Hentikan, Fitri. Kamu jangan mengada-ada,” bentak Dimas lagi.


“Kalau kamu terus-terusan bersikap seperti ini padaku, Bang. Kenapa kamu tak menceraikan aku?” tanya Fitri semakin kesal dan marah pada suaminya.


“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu! Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia dengan selingkuhanmu,” ujar Dimas tegas.

__ADS_1


Setelah itu Dimas pun pergi dari rumah kontrakannya. Dia kembali menorehkan luka di hati istrinya.


Tidak hanya menuduh Fitri berbuat zina, Dimas juga menyiksa hati istrinya dengan tidak memberinya nafkah. Setiap kali dia datang ke rumah kontrakannya, dia selalu mencari masalah dengan sang istri sehingga jiwa Fitri semakin tergoncang.


Rasya langsung menghampiri ibunya, dia tak menyangka ayahnya akan bersikap semakin jahat pada bundanya. Gadis kecil itu mulai kecewa dengan perlakuan sang ayah pada sang Bunda.


Fitri memeluk erat tubuh gadis kecilnya, saat ini Fitri hanya berjuang untuk gadis kecilnya. Fitri bertekad akan membahagiakan putrinya meskipun tanpa adanya Dimas di sisinya.


Tak berselang lama Dimas meninggalkan rumahnya, pemilik rumah kontrakan Fitri datang.


“Assalamu’alaikum,” ucapnya menyapa Fitri yang terlihat duduk bermenung di pagi hari.


“Eh, wa’alaikumsalam,” jawab Fitri.


Kedatangan wanita paruh baya itu membuyarkan lamunan Fitri.


“Pagi-pagi kok udah melamun,” ujar Bu Santi pada Fitri.


“Eh, Bu santi. Ada apa?” tanya Fitri.


“Ada yang ingin saya bicarakan,” ujar Bu Santi.


“Oh, iya, Bu. Silakan masuk,” ujar Fitri.


Dia memberikan sebuah kursi plastic pada Bu santi, agar mereka dapat bicara dengan nyaman.


Dia sengaja menunggu reaksi dari Fitri.


“Ada apa dengan kontrakan, Bu?” tanya Fitri,


“Mhm, dikarenakan biaya hidup semakin tinggi, biaya kontrakan mau kami naikkan. Kalau Fitri mau tetap di sini berarti kamu harus sanggup membayar uang kontrakan sesuai harga yang sudah kami tetapkan,” ujar Bu Santi terus terang.


“Oh, masalah biaya, ya, Bu. Memangnya, Bu Santi mau menaikkan biaya kontrakan ini menjadi berapa?” tanya Fitri penasaran.


“Mhm, empat ratus ribu tiap bulannya,” jawab Bu santi santai.


Dia sama sekali tidak keberatan mengungkap biaya yang mereka minta 2 kali lipat dari biaya sebelumnya.


“Apa?” lirih Fitri tak percaya.


“Maaf, Fit. Ini sudah keputusan saya dan Bapak, kalau memang kamu tidak sanggup membayar dengan harga segitu, kamu bisa cari kontrakan yang lain,” ujar Bu santi dengan santai.


Fitri terlihat bingung harus menjawab apa, karena saat ini ekonominya baru saja stabil, dia diam terlihat tengha berpikir.


“Bagaimana, Fit?” tanya Bu Santi apda Fitri.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu seakan tidak peduli dengan permasalahan yang tengah dihadapi oleh ibu satu anak itu padahal pahitnya kehidupan Fitri saat ini sudah menjadi rahasia umum.


“Oh, baiklah, Bu, Aku coba pikir-pikir dulu,” jawab Fitri.


“Ya sudah, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Dua hari lagi saya tunggu keputusannya,” ujar Bu santi.


Fitri tersenyum kecut mendengar ucapan Bu Santi, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Baiklah, Bu,” lirih Fitri pasrah.


Bu Santi pun berdiri dan keluar dari rumah kontrakan miliknya,


“Ya Allah ujian apalagi yang harus aku hadapi kali ini?” gumam Fitri di dalam hati sambil memeluk erat tubuh gadis kecilnya.


“Sayang, kita pergi keluar, yuk,” ajak Fitri pada putrinya.


Masalah yang datang pagi ini membuat Fitri merasa suntuk, dia ingin keluar sejenak sekadar untuk menghilangkan stress dalam pikirannya.


“Ke mana, Bunda?” tanya Rasya.


“Kamu ikut aja ya, Nak,” ujar Fitri.


“Iya, Bunda,” jawab Rasya.


Fitri dan Rasya pun bersiap-siap, sebelum Fitri membawa Rasya pergi, dia terlebih dahulu membersihkan rumahnya yang tadi sempat dibuat berantakan oleh Dimas.


Fitri menyalakan sepeda motornya lalu melajukannya meninggalkan desa, dia tidak tahu akan ke mana, dikarenakan dia merasa lapar, dia pun mencari warung yang menjual sarapan di jalan yang dilintasi.


Dia berhenti di sebuah warung sarapan pagi, dia masuk ke dalam warung itu lalu memesan lontong untuk dirinya dan semangkuk bubur kacang hijau untuk Rasya.


Sambil makan, Fitri mulai berpikir ke mana tujuannya setelah ini, dia ingin mencari tempat yang tenang agar dia dapat berpikir mengatasi masalah yang kini dia hadapi.


“Fitri,” sapa seorang pria saat melihat ibu dan anak itu.


“Rey,” lirih Fitri.


“Kamu di sini,” lirih Reyhan.


Reyhan izin ke luar kantor untuk sarapan tidak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya yang saat ini masih tetap bertahta di hatinya.


“Eh, iya, Rey, Rasya mau sarapan di luar,” ujar Fitri.


“Oh, kebetulan bisa ketemu di sini,” ujar Reyhan.


Fitri hanya tersenyum mendengar ucapan Reyhan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2