
"Hei, Rasya," sapa Reyhan pada Rasya saat Rasya menarik-narik celana Reyhan yang mengabaikan dirinya.
"He." Senyum Rasya mengembang setelah Reyhan mengajak dirinya berbicara.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Reyhan pada Fitri.
"Aku mau buka rekening," jawab Fitri.
Akhirnya mereka pun mengobrol sejenak.
Saat asyik mengobrol, Fitri teringat sesuatu.
"Oh iya, bagaimana kalau aku minta bantuan Reyhan saja untuk kabur dari rumah kedua orang tua Dimas," gumam Fitri.
Reyhan heran melihat Fitri yang tiba-tiba diam.
"Ada apa, Fit?" tanya Reyhan mengangkat satu alisnya
"Rey," lirih Fitri ragu untuk menyampaikan gundah gulananya pada pria yang jelas-jelas mantan kekasihnya.
"Ada apa, Fit?" tanya Reyhan penasaran.
"Mhm, Rey, bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Fitri jujur.
"Apa? Selagi aku bisa membantumu aku akan lakukan apa saja untukmu, Apa yang bisa aku bantu?" tanya Reyhan.
Reyhan terlihat fokus menanti ucapan yang keluar dari mulut wanita yang masih disayanginya hingga saat ini.
"Rey, aku mau balik ke desa. Tapi, aku tidak mau suami dan mertuaku mengetahui kepergianmu," ujar Fitri sambil berbisik pada Reyhan.
Fitri tahu tak seharusnya dia minta tolong pada Reyhan, karena dia tahu akan akibat yang terjadi jika Dimas mengetahui hal ini.
"Kebetulan, Fit. Hari Minggu ini aku balik ke desa, kamu bisa ikut aku." Reyhan langsung menawarkan diri.
Meskipun Fitri tidak menceritakan apa yang terjadi, dengan senang hati dia membantu Fitri.
Sebenarnya Reyhan tidak ada rencana untuk kembali ke desanya, tapi melihat kehidupan wanita yang masih disayanginya itu sangat menderita bersama pria yang berstatus sebagai suaminya membuat Reyhan harus berbohong.
Reyhan sudah tidak tahan mendengarkan penderitaan yang saat ini dialami oleh wanita yang masih disayanginya itu.
Reyhan sudah tahu tentang apa yang sebenarnya dilakukan Dimas terhadap Fitri. Reyhan bahwa Dimas telah menikah dengan seorang janda karena ketahuan sedang berbuat hina.
Pria itu mendapatkan informasi dari seorang mata-mata yang disuruhnya mencari tahu tentang kehidupan Fitri saat ini.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu nanti aku akan menghubungimu lagi," ujar Fitri penuh harap.
Fitri sangat senang bisa bertemu dengan Reyhan di sana, sehingga dia mendapatkan kesempatan untuk bisa kabur dari Dimas.
Keputusan Fitri saat ini sudah bulat, jika memang ada kesempatan mengapa dilewatkan? pikir Fitri.
Tak berapa lama terdengar nomor antrian Fitri terpanggil, Fitri berdiri dan melangkah menuju customer service.
"Aku ke sana dulu, ya," ujar Fitri sebelum meninggalkan Raihan yang masih menunggu nomor antriannya terpanggil.
Setelah menyelesaikan urusannya di customer service, Fitri tidak lagi melihat Reyhan ada di dalam ruangan bank tersebut.
"Reyhan ke mana, ya?" gumam Fitri di dalam hati.
Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan tersebut.
"Mungkin dia sudah pergi duluan," gumam Fitri menebak.
Akhirnya Fitri pun keluar dari bank, ternyata Reyhan sudah menunggunya di sana.
Reyhan tersenyum saat melihat Fitri keluar dari Bank.
"Lho, kamu di sini. Aku kira kamu sudah pulang," ujar Fitri saat melihat Reyhan yang berdiri di depan bank.
"Aku menunggumu," ujar Reyhan dengan tatapan yang masih sama seperti beberapa tahun yang lalu.
"Jangan seperti itu, anggap saja aku sebagai sahabatmu yang kini sedang membantumu," ujar Reyhan agar Fitri tidak merasa segan terhadap dirinya.
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu, takutnya Dimas menungguku terlalu lama," ujar Fitri berpamitan kepada Reyhan.
"Iya, kamu hati-hati di jalan," ujar Fitri.
Reyhan memandangi Fitri yang kini mulai melajukan sepeda motornya hingga tidak terlihat lagi.
"Fitri, seandainya dulu kamu adalah jodohku. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan dirimu seperti yang dilakukan oleh suamimu saat ini. semoga setelah ini aku masih memiliki peluang untuk bisa mendapatkan dirimu, aku akan membahagiakanmu," gumam Reyhan dalam hati.
Sebelum Fitri kembali ke rumah, Tri singgah terlebih dahulu di swalayan untuk membeli food Frozen untuk putrinya nanti.
****
Hari Minggu pun tiba, Fitri sudah mempersiapkan barang-barangnya tanpa sepengetahuan Dimas.
Fitri dapat leluasa menyiapkan barang-barangnya karena suaminya itu jarang berada di rumah hal ini merupakan peluang terbaik bagi Fitri untuk bisa meninggalkan Dimas.
__ADS_1
Usai sarapan pagi, Ibu Dimas meminta Dimas untuk mengantarkannya ke kebun.
"Dim, kamu tidak ada kerjaan kan hari ini?" tanya Bu Fatimah kepada putranya.
"Enggak, Bu. Memangnya ada apa, Bu?" tanya Dimas pada ibunya.
"Ada pekerjaan ibu yang belum selesai di kebun, jadi hari ini Ibu mau pergi ke kebun. Kamu bisa kan nganterin Ibu?" tanya Bu Fatimah menyampaikan permintaannya.
"Ya sudah kalau begitu, Bu. Ibu siap-siap saja dulu," ujar Dimas menanggapi permintaan wanita yang sudah melahirkannya.
Setelah itu Bu Fatimah dan Dimas pun bersiap-siap hendak berangkat ke kebun.
Fitri sangat senang sekali dengan hal ini, itu artinya Fitri bisa keluar dari rumah tanpa sepengetahuan ibu mertua dan sang suami.
"Udah, Dim!" teriak Bu Fatimah dari tera.
Dia sudah menunggu putranya beberapa menit, dia terus saja mendesak Dimas agar bergegas, wanita paruh baya itu sudah tidak sabar untuk sampai di kebun.
"Iya, Bu!" sahut Dimas dari dalam kamar.
Dimas baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja.
"Fit, aku pergi dulu, ya. Kamu enggak usah keluar rumah." Dimas berpamitan kepada sang istri.
Dimas dan Bu Fatimah menaiki sepeda motor butut milik Dimas, lalu Dimas pun melajukan sepeda motor tersebut meninggalkan Fitri yang kini masih menetapnya dari depan pintu rumah.
"Alhamdulillah, dia sudah pergi. Itu artinya aku bisa pergi tanpa Dimas tahu," gumam Fitri di dalam hati.
Saat ini merupakan kesempatan emas untuk Fitri kabur, tapi dia harus memastikan ayah mertuanya tidak berada di rumah.
Fitri pun menghubungi Reyhan, dia menyampaikan bahwa Reyhan sudah bisa datang menjemputnya.
Fitri tidak mendapati ayah mertuanya berada di rumah, saat ini dia hanya tinggal menunggu kedatangan Reyhan.
Tak menunggu lama, Reyhan pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kedua orang tua Dimas
Mendengar suara mobil di depan rumah, Fitri langsung keluar. Dia mengangkat barang-barangnya ke luar kamar.
Reyhan turun dari mobil, lalu dia membantu Fitri untuk memasukkan barang-barang Fitri ke dalam mobil.
Setelah memastikan semua barang-barang bawaannya sudah masuk ke dalam mobil milik Reyhan, Fitri menggandeng Rasya untuk ikut masuk ke dalam mobil Reyhan.
"Hei, Fitri!" teriak Pak Arif marah pada menantunya.
__ADS_1
Langkah Fitri terhenti saat itu juga, dia bingung harus berbuat apa.
Bersambung...