Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 49


__ADS_3

Dimas menghela napas panjang, dia tahu saat ini Susi tengah menyindir dirinya.


"Ya sudah, kalau gitu aku berangkat dulu," ujar Dimas.


Dimas memilih pergi secepatnya dari hadapan istri sirinya dari pada nanti berdebat panjang lebar yang akan membuat hatinya sakit.


"Mat, aku duluan, ya. Ini masih mau ke rumah ibu, sepeda motorku masih di sana," ujar Dimas berpamitan pada temannya yang masih asyik mengobrol dengan temannya yang lain sambil menikmati tubuh seksi Susi dengan balutan baju kaos ketat serta rok mini yang hanya sepaha.


Penampilannya menampilkan lekuk tubuhnya yang aduhai serta kulit mulus putih yang mengagumkan bagi kaum Adam.


Dimas melangkah menuju rumah kedua orang tuanya untuk mengambil sepeda motornya serta dia hendak mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak kemarin malam.


Sesampai di rumah, Dimas langsung masuk ke dalam rumah. Dimas tak mendapati seorang pun di rumah kedua orang tuanya. Begitulah rumah-rumah di desanya meskipun tak ada orang di rumah.


Rumah hanya tertutup dan tidak dikunci sama sekali karena di desa itu memang tidak pernah terjadi kejahatan berupa pencurian. Apalagi mereka percaya bahwa tetangga yang tidak pergi kerja akan menjaga rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya.


"Ibu ke mana, ya," gumam Dimas di dalam hati saat dia sudah berada di dapur.


Dia pun mulai membuka tudung saji, di sana masih terdapat sayur bening bayam dan sambal terasi.


"Ya ampun, ibu cuma bikin ini doang," gerutu Dimas.


"Ya udahlah, aku terpaksa makan ini, dari pada tidak makan sama sekali," gumam Dimas.


Dimas mengambil nasi yang ada di magic com, lalu menyantap makanan yang ada di atas meja dengan lahapnya.


Hal ini dilakukannya karena dia benar-benar merasa sangat lapar.


"Enggak nyangka aku akan hidup semenderita ini, tinggal bersama istri siri malah tidak diurus sama sekali," gumam Dimas saat dia masih menyantap makanannya.


Tiba-tiba Dimas teringat dengan Fitri, dia tahu selama ini Fitri dengan susah payah untuk tetap bertahan dengan dirinya meskipun hatinya teruntuk pada pria lain.


Dimas tahu pernikahan dirinya dan Fitri waktu itu hanya berdasarkan perjodohan, tapi saat itu Dimas benar-benar menyukai Fitri dan mencintai Fitri sehingga dia memaksa ibunya untuk menjodohkan dirinya dengan Fitri.


Saat itu Dimas yakin bahwa Fitri akan mencintainya seiring berjalannya waktu, meskipun hatinya terisi oleh pria yang bernama Reyhan.


Hidup yang susah tidak membuat Fitri ingin meninggalkan dirinya, Fitri masih bertahan mendampingi sang suami dengan niat mencari surga Allah walaupun pria itu bukanlah pria yang dicintainya.


Perlahan Fitri bisa melupakan sang mantan kekasih di hatinya, menggantikan posisi sang mantan dengan sang suami.

__ADS_1


Setiap hari Fitri rela melakukan apa saja demi mempertahankan rumah tangganya. Dia ikut membantu Dimas dalam mengais rejeki agar mereka dapat bertahan hidup.


Hanya karena petaka yang menghampiri rumah tangganya itu membuat Dimas sangat membenci dirinya hingga Dimas tega menyakiti hati Fitri.


Dengan mudah Dimas menerima hasutan syetan dari mulut Susi dan ayah kandungnya, Dimas percaya begitu saja terhadap mereka.


"Ya ampun, apakah aku sudah salah memperlakukan Fitri dengan menyiksa bathinnya," gumam Dimas mulai memikirkan apa yangs udah dilakukannya terhadap Fitri selama ini.


"Ah, sekarang wanita itu sudah meninggalkan aku begitu saja. Semua wanita sama saja," gumam Dimas lagi.


Dimas menyudahi kegiatan makannya setelah dia merasa kenyang, meskipun hanya ditemani sayur bening dan sambal terasi, dia tetap makan dengan lahap.


Setelah selesai makan, Dimas memilih untuk duduk di belakang rumahnya sejenak untuk menenangkan hatinya yang galau sebelum berangkat bekerja.


Dia kembali mengingat Fitri.


"Fit, kamu kenapa tinggalkan aku? Apakah kamu mengetahui apa yang sudah aku lakukan dengan Susi?" gumam Dimas masih bertanya-tanya alasan kepergian Fitri dari rumah kedua orang tuanya.


Ingin rasanya Dimas pergi ke desa Fitri untuk mempertanyakan alasan Fitri meninggalkan dirinya, tapi apa boleh buat Dimas tidak memiliki uang untuk pergi ke sana.


Jangankan untuk ongkos ke desa Fitri, uang untuk makan dan rokoknya saja dia tidak punya.


****


Setiap hari dia hanya melakukan pekerjaan rumah, menulis novel, serta mengasuh Rasya.


Dina dan keluarganya selalu pergi pagi dan pulang di siang hari, kakaknya dan suaminya bekerja di kantor kecamatan, mereka akan pulang pada siang hari atau sore hari.


Anak-anak Dina sibuk sekolah dan berbagai belajar tambahan, sehingga Fitri dan Rasya hanya menghabiskan hari di rumah berdua saja.


Sore ini, Fitri duduk bersantai di taman belakang. Kebetulan Rasya sedang tidur pulas di kamar.


Fitri duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman belakang, dia membuka ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh yang dilewatinya sepanjang hari.


Semua pekerjaan rumah sudah diselesaikannya, bahkan memasak untuk makan malam pun sudah diselesaikannya.


Saat ini dia hanya menunggu kedatangan sang kakak.


"Kamu ngapain, Dek?" Tiba-tiba Leo datang menghampiri Fitri yang sedang asyik dengan ponselnya.

__ADS_1


"Astagfirullah," lirih Fitri.


Fitri hampir saja menjatuhkan ponselnya karena kaget.


"Lho? Kamu kaget, Dek?" tanya Leo, si kakak ipar.


"Mhm, i-iya, Bang." Fitri mengusap dadanya menstabilkan detak jantungnya yang sempat berdegup kencang karena kaget.


"Ya ampun, segitunya," ujar Leo.


Sang kakak ipar Fitri langsung duduk tepat di samping Fitri, hal ini membuat Fitri merasa canggung.


"Mhm, kak Di-dina mana, Bang?" tanya Fitri gugup.


"Mhm, dia ada acara dengan teman kantor," jawab Leo santai.


"Kamu kenapa, sih. Kok kelihatannya takut gitu liat aku?" tanya Leo heran.


Fitri bukan takut pada sang kakak ipar tapi dia harus menjaga sikap dengan sang kakak ipar.


"Eng-enggak apa-apa, Bang. Aku cu-cuma heran," lirih Fitri.


Leo menatap Fitri dengan tatapan yang sulit diartikan, hal ini membuat Fitri merasa risih.


Akhirnya Fitri mengambil keputusan untuk meninggalkan Leo di yang masih saja duduk di bangku panjang itu.


"A-aku mau ngeliat Rasya dulu di kamar, ma-mana tahu Ra-rasya sudah bangun," ujar Fitri berpamitan pada sang kakak.


Saat Fitri hendak berdiri, Leo meraih tangan Fitri. Sehingga ibu satu anak itu menghentikan langkahnya.


Dia membalikkan tubuhnya menatap wajah Leo yang kini menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Fitri mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti dengan sikap sang kakak ipar.


"A-ada apa, Bang?" tanya Fitri bingung.


"Di sinilah dulu, kita bisa saling bertukar pikiran," ujar Leo memberi usul, dia berharap Fitri mau menemaninya duduk di taman belakang.


"Maaf, Bang. Aku harus ke kamar," lirih Fitri menolak dengan halus.

__ADS_1


Fitri tidak mau ada salah paham antara dirinya dan kakaknya.


Bersambung...


__ADS_2