Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 60


__ADS_3

Riyan pun meninggalkan Fitri bersama Reyhan di rumah makan tersebut.


"Kamu sudah makan?" tanya Fitri pada Riyan.


"Mhm, udah. Aku pindah ke sini setelah makan di sana, tadi aku tak sengaja melihat kalian ada di sini, makanya aku pindah," ujar Reyhan.


"Mhm, begitu." Fitri mengangguk.


"Ya udah, ayo kita pergi," ajak Fitri pada Reyhan setelah dia selesai menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


"Kenapa harus buru-buru, kamu baru saja selesai makan. Turunkan terlebih dahulu makanannya," ujar Reyhan.


Dia masih ingin menghabiskan waktu dengan Fitri.


"Lagian Rasya masih menikmati es krimnya, biarkan dia menghabiskan es krimnya dulu," tambah Reyhan.


"Mhm, ya udahlah kalau gitu," lirih Fitri pasrah.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu enggak tinggal di rumah bapak?" tanya Reyhan heran.


Tadinya dia ingin bertanya pada Riyan, tentang hal ini tapi dia segan menanyakannya.


"Saat ini Dimas sedang di desa ini, Bang Riyan takut Dimas berbuat nekat jika aku dan Rasya tinggal di rumah bapak," jawab Fitri menjelaskan keadaannya saat ini.


"Ya ampun, Fit. Aku dapat merasakan susahnya kehidupanmu saat ini, seandainya dulu aku berusaha memperjuangkan cinta kita, aku tidak akan membuatmu tersiksa seperti ini," gumam Reyhan di dalam hati.


Reyhan merasa sedih dengan hidup wanita yang masih dicintainya itu, dia tidak tahan melihat penderitaan demi penderitaan hadir dalam kehidupannya.


Ya sudah, kalau begitu. Ayo, aku antar ke rumah Bang Riyan," ajak Reyhan setelah melihat es krim di tangan Rasya sudah habis.


Fitri mengangguk lalu mereka pun berdiri dan melangkah keluar dari rumah makan.


Tagihan makanan mereka sudah dibayar oleh Riyan sebelum pergi tadi.


Saat mereka berada di parkiran mobil, tiba-tiba Dimas datang dan langsung melayangkan bogem mentah di wajah Reyhan.


Reyhan kaget, dia terjatuh ke tanah karena tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya yang dihajar secara mendadak.


"Rey," pekik Fitri mencemaskan keadaan Reyhan.


Darah segar keluar dari sudut bibir Reyhan, pukulan Dimas yang dipenuhi emosi. Matanya panas melihat sang istri bersama Reyhan.


Rasya bersembunyi dibelakang tubuh sang bunda karena takut melihat ayahnya yang terbakar api cemburu.


Dimas sudah siap hendak melayangkan pukulan berikutnya ke wajah Reyhan.


"Bang Dimas!" teriak Fitri.


Fitri tidak bisa membiarkan Reyhan dipukuli begitu saja oleh sang suami.

__ADS_1


"Oh, begini kelakuan kamu ternyata, kamu meminta perceraian dariku supaya kamu bisa menikah dengan pria ini, 'kan?" bentak Dimas.


Dia memaki istrinya di depan umum, tanpa memikirkan banyak mata yang mulai memperhatikan mereka.


Perlahan Reyhan berdiri, dia menghapus darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan sapu tangan yang ada di saku celananya.


"Kamu salah paham, Bang. Ini tidak seperti apa yang kamu lihat," ujar Fitri berusaha membela diri.


"Aku tahu, kamu pasti ingin mengejar harta pria ini," tuduh Dimas.


Dengan terang-terangan Dimas menjatuhkan harga diri istrinya di hadapan orang-orang yang mulai mengerumuni mereka.


"Ayo, kamu ikut aku sekarang!" bentak Dimas.


Dimas justru menggunakan kesempatan itu untuk membawa Fitri.


Dimas menarik tangan Fitri, dan membawanya pergi.


Reyhan berusaha menghalang-halangi Dimas.


"Dimas! Lepaskan Fitri!" ujar Reyhan.


"Oh, kamu mau membawa kabur istriku, apa perlu semua orang di sini mengeroyok kamu?" ancam Dimas pada Reyhan.


Dimas mencari kesempatan di depan orang-orang yang kini sudah berpikir buruk terhadap Reyhan dan Fitri mereka memandang rendah pada Fitri dan Reyhan karena seperti yang mereka dengar dari mulut Dimas istrinya tengah berselingkuh dengan Reyhan.


Reyhan tak bisa berbuat apa-apa, di saat ini dia berada dalam keadaan terjepit.


Reyhan pun menggendong Rasya.


"Kita kejar bunda ya, Nak," lirih Reyhan membujuk Rasya.


Reyhan sempat melihat Dimas membawa Fitri masuk ke dalam sebuah taksi online.


Reyhan bergegas mengejar taksi yang mereka tumpangi agar bisa menyelamatkan Fitri.


"Om, aku takut ayah jahatin bunda," lirih Rasya dalam isakan tangisnya.


"Kamu tenang, ya. Kita harus berdo'a supaya bunda baik-baik saja," ujar Reyhan pada Rasya.


"Iya, Om." Rasya mengangguk.


Taksi yang ditumpangi Dimas dan Fitri melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


Reyhan ingin menghubungi Riyan, tapi belum bisa karena dia fokus mengejar taksi tersebut.


Saat mereka melewati lampu merah tepat saat mobil Reyhan akan melintas lampu berubah warna menjadi merah sehingga Reyhan kehilangan jejak taksi itu.


"Sial," umpat Reyhan.

__ADS_1


Reyhan merutuki kebodohannya yang sudah membiarkan taksi tersebut luput dari matanya.


"Om, bagaimana bunda?" tanya Rasya pada Reyhan.


Gadis kecil itu mulai risau memikirkan keadaan bundanya, dia tahu saat ini bundanya dalam bahaya.


"Kamu tenang ya, Sayang. Ayahmu tidak akan menyakiti bunda, karena walau bagaimanapun bunda masih tetap istri ayah, jadi dia tidak akan menyakiti bunda," ujar Reyhan.


Reyhan melajukan mobilnya saat lampu sudah berganti warna hijau.


Setelah itu dia menghentikan mobilnya sejenak, Reyhan mengambil ponselnya lalu menghubungi Dina.


Reyhan tidak berani menghubungi Riyan karena dia tahu saat ini Riyan dalam keadaan sibuk. Jadi, dia memutuskan untuk menghubungi Dina.


Reyhan menjelaskan apa yang terjadi di saat itu pada Dina, Reyhan juga memberitahukan alasan Fitri bersama dirinya.


"Kamu di mana sekarang?" tanya Dina pada Reyhan.


"Aku di depan taman budaya, aku kehilangan jejak mereka, Kak," jawab Reyhan.


"Lalu Rasya di mana?" tanya Dina.


"Rasya bersamaku, Kak," jawab Reyhan.


"Ya udah, kalau gitu aku langsung ke sana, aku akan jemput Rasya. Riyan saat ini tidak bisa diganggu karena kantornya sedang inspeksi," ujar Dina.


"Baiklah, Kak," sahut Reyhan.


Reyhan pun mengajak Rasya keluar dari mobilnya, mereka akan menunggu Dina si sana.


Mereka duduk di bangku panjang yang ada di pinggir taman.


Reyhan terus berusaha menenangkan gadis kecil itu agar dia tidak mengkhawatirkan keadaan bundanya.


Tak berapa lama mereka menunggu, Dina datang, dia memarkirkan sepeda motornya di depan mobil Reyhan. Dia turun Daris sepeda motor lalu melangkah menghampiri mereka.


"Rasya," panggil Dina.


"Mama," teriak Rasya saat melihat Dina sudah beradaptasi di hadapannya.


Rasya langsung memeluk kakak dari bundanya itu dengan erat.


Rasya memanggil Dina dengan sebutan 'mama' sama dengan sebutan Rania dan Fatih.


"Kamu enggak apa-apa, Sayang?" tanya Dina mengkhawatirkan gadis kecil itu.


Rasya kini terisak dalam pelukan Dina, kasih sayang Dina pada Rasya sama seperti kasih sayang Fitri padanya sehingga Rasya merasa sangat dekat dengan kakak dari bundanya itu.


Dina mengelus lembut punggung Rasya, dia menenangkan gadis itu, Dina membiarkan Rasya menangis dulu.

__ADS_1


"Ma, ayah membawa bunda. Ayah bawa bunda dan meninggalkan aku," isak Rasya.


Bersambung...


__ADS_2