
Dimas menghampiri Fitri yang baru saja keluar dari pengadilan.
"Fitri," panggil Dimas.
Seketika Fitri langsung bersembunyi di belakang tubuh abangnya.
Fitri masih trauma dengan yang sudah dilakukan Dimas terhadapnya beberapa hari yang lalu.
Riyan menghadang Dimas.
"Jangan sekali-kali kamu berani mendekati adikku!" bentak Riyan emosi.
"Bang, aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Fitri," pinta Dimas memohon.
Fitri melihat sebuah penyesalan di mata sang suami.
"Bang, biarkan bang Dimas bicara sebentar denganku," lirih Fitri.
Akhirnya Fitri mengizinkan Dimas berbicara dengannya karena Fitri melihat mata Dimas yang mengiba.
Meskipun ada rasa benci, tapi dia tidak sanggup melihat wajah sendu pria yang baru saja menjadi mantan suaminya.
Fitri berdiri di depan Dimas, sementara itu Riyan melangkah menjauh dari mereka. Di memberi ruang untuk adiknya berbicara dengan Dimas.
"Fitri," lirih Dimas.
"Maafkan aku atas semua yang sudah aku lakukan padamu, aku mohon jangan pisahkan aku dengan Rasya," lirih Dimas dengan nada penuh penyesalan.
"Aku sudah memaafkanmu, jika kamu ingin bertemu dengan Rasya datanglah. Aku tidak akan menghalanginya bertemu dengan ayahnya," ujar Fitri tegas.
Dimas masih berharap Fitri kembali padanya, dan memulai hidup baru.
Namun, Fitri sama sekali sudah tidak menginginkan Dimas. Perbuatan Dimas terlalu menyakitkan baginya.
"Terima kasih, aku pergi," lirih Dimas.
Dimas pun membalikkan tubuhnya lalu meninggalkan Fitri yang masih berdiri di sana, Fitri sama sekali tidak memperhatikan kepergian Dimas.
Sementara itu Dimas yang sudah berlalu sengaja membalikkan tubuhnya berharap Fitri menatapi kepergiannya, hatinya semakin sedih saat wanita itu sudah tak lagi berada di tempatnya tadi.
Fitri sudah berada di dalam mobil abangnya, hatinya benar-benar sudah tertutup untuk Dimas. Dia tidak ingin lagi berhubungan dengan Dimas.
Setelah Dimas berpamitan pada Fitri, dia pun langsung menuju terminal bus. Dia akan berangkat ke desanya hari itu juga.
Kini Dimas tengah duduk di sebuah loket bus, dia tengah menunggu keberangkatan bus menuju desanya.
Dimas duduk sambil melamun, tatapan Dimas kosong, saat ini dia tak lagi memiliki semangat hidup, pikirannya tertuju pada kenangan yang sudah dilakukannya pada Fitri selama ini
Seketika ayah satu anak itu teringat dengan kata-kata sahabatnya.
"Yanto benar, aku yang sudah jalan. Seharusnya aku mendengarkan nasehat Yanto waktu itu, saat ini aku sudah berada dalam lautan penyesalan. Menyesal di akhir tak ada gunanya," gumam Dimas mulai menyesali apa yang sudah diperbuatnya terhadap sang istri.
"Ya Allah, aku benar-benar sudah lupa pada-Mu, aku sudah meninggalkan-Mu, Tuhan. Apakah ini azab yang Kau berikan padaku?" Dimas baru teringat pada Tuhannya.
__ADS_1
"Bang, ayo naik. Kita mau jalan." Seorang kernek bus meminta Dimas untuk naik ke dalam bus yang mesinnya sudah menyala.
Dimas mengangguk lalu naik ke dalam bus, dan bus pun mulai berjalan.
7 jam perjalanan, bus sudah sampai di desa Dimas.
Pria itu turun dari bus, dia melangkah menuju rumahnya tanpa ada semangat sedikitpun.
Di sepanjang jalan banyak orang yang mengajak dia berbicara, tapi dia hanya diam tak menggubris apa yang dikatakan oleh orang-orang hingga akhirnya dia sudah berada di depan rumahnya.
Dia heran melihat di rumahnya berdiri sebuah tenda.
"Apa yang terjadi?" tanya Dimas di dalam hati.
Dia bergegas melangkah masuk ke dalam rumah, di rumah itu masih terlihat ramai didatangi oleh para pelayat.
Semua mata tertuju pada Dimas saat dia sudah berada di teras rumah.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Dimas pada Pak Udin yang duduk di teras rumah.
Pak Udin diam, dia tidak sanggup menyampaikan apa yang sudah terjadi.
Dimas semakin heran dengan apa yang sedang terjadi di rumahnya.
Dimas pun masuk ke dalam rumah, semua mata tertuju padanya.
Dimas mencari sosok ibunya, tapi dia tidak melihat ibunya di sana, Dimas hanya melihat ayahnya sedang duduk di samping adik ibunya.
"Bi, apa yang terjadi?" tanya Dimas pada adik ibunya.
"Dim, ibumu sudah meninggal," jawab Bibi Dimas jujur.
"A-apa? Tidak, aku tak percaya, ibu masih hidup," ujar Dimas tak percaya.
Dimas melangkah menuju kamar ibunya. Dia belum bisa menerima kenyataan yang menimpa dirinya.
"Bu, Ibu. Ibu di mana? Aku sudah pulang, ibu pasti mencari-cari aku selama ini," ujar Dimas.
"Bu, ibu. Ibu, aku sudah pulang," lirih Dimas.
Dimas mulai menangis.
"Ibu!" pekiknya.
Dimas menangis histeris dia tak percaya ibunya sudah meninggal dunia. Dia tidak terima ibunya pergi tanpa sepengetahuan dirinya.
Dimas merasa hancur dan sedih yang mendalam.
"Ibu, jangan tinggalkan aku," isak tangis Dimas membuat orang-orang yang berada di sana ikut menangis.
Mereka juga ikut merasakan sedih yang dirasakan oleh Dimas saat ini.
Apa yang pernah dirasakan Fitri kini Dimas pun ikut merasakannya, mendapati orang tuanya sudah meninggal dunia saat dia kembali ke desanya.
__ADS_1
****
Di tempat lain, Susi tengah berada di sebuah hotel bersama pria yang menggandengnya.
Pria itu rela menghabiskan uang untuk Susi karena dia menginginkan sesuatu yang berharga di diri janda muda itu.
Si pria meminta Susi untuk melayani dirinya.
Janda tanpa anak itu dengan senang hati melayani hasrat si pria yang umurnya beda jauh darinya.
Baru saja mereka selesai melakukan pergulatan panas, pintu kamar hotel terdengar diketuk oleh seseorang.
Susi bergegas mengenakan pakaiannya, sedangkan si pria membuka pintu kamar hotel.
Tak berapa lama, 5 orang pria masuk ke dalam kamar hotel itu.
"Itu, dia. Permainannya dahsyat," ujar si pria itu.
Susi masih duduk di pinggir ranjang, dia menunggu si pria datang menghampirinya.
"Boleh juga, bodynya juga mantap," ujar salah satu pria yang baru saja datang.
Mereka menatap Susi dengan tatapan penuh hasrat.
"Baiklah, aku akan transfer uang ke rekening kamu," ujar pria lainnya.
"Aku juga," bisik pria lainnya.
" Ya sudah, nikmati saja," ujar si pria tua.
5 pria itu berdiri langsung mendekati Susi.
Susi bingung melihat aksi kelima pria yang semakin mendekati dirinya.
Sementara itu si pria tua hanya duduk diam di sofa melihat apa yang dilakukan oleh teman-temannya.
Susi terlihat sangat ketakutan. 5 pria itu mulai melakukan aksi mereka, mereka memaksa Susi untuk melayani para tua Bangka yang bejat itu secara bergiliran.
Susi saat ini berada dalam situasi terjepit dia tidak mungkin menolak apa yang diminta para lelaki hidung belang itu.
Dalam sekejap harga diri Susi diinjak-injak oleh teman pria yang dikenalnya lewat media sosial itu.
Setelah mereka puas menikmati tubuh Susi mereka pun meninggalkan Susi di kamar hotel itu seorang diri.
Teman pria Susi pun ikut meninggalkan janda tanpa anak itu.
Dalam sekejap hidup Susi hancur, dia tak lagi memiliki harga diri sedikitpun, dia merasa hancur.
Kini janda tanpa anak itu meratapi nasibnya, dia tak menyangka keinginannya mencari kehidupan yang berbeda kini menjerumuskan dirinya dalam dunia kehancuran.
Tamat.
TERIMA KASIH BUAT SEMUA READERS YANG SUDAH MEMBACA KARYAKU.
__ADS_1
ππππ