
Dina merebahkan kepala Rasya ke dadanya, dia memberi kehangatan kepada gadis kecil itu.
"Kamu tenang dulu, ya. Kita akan cari bunda secepatnya." Dina mengusap air mata yang membasahi pipi putri dari adiknya itu.
"Ke mana Dimas membawa Fitri, ya?" gumam Dina bingung.
Di saat seperti ini mereka sendiri tidak tahu ke mana arah Dimas akan membawa istrinya.
"Apa jangan-jangan, dia membawa Fitri ke desanya, Kak?" ujar Reyhan.
Reyhan merasa bersalah pada Dina dan Riyan, padahal dia sudah dipercaya untuk menjaga Fitri tapi, dia malah tidak bisa menahan Dimas membawa Fitri.
"Enggak mungkin, masa iya dia pergi bawa Fitri ke desanya tanpa membawa Rasya. Bagaimana nanti nasib Rasya?" bantah Dina.
Dina yakin Dimas masih berada di desa itu. Hanya saja dia tidak tahu Dimas membawa Fitri ke mana.
Mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Maafkan aku ya, Kak," lirih Reyhan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, kakak tahu situasi kami saat itu." Dina memahami situasi Dimas.
"Tapi tetap saja aku yang salah, Kak," ujar Dimas.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Mhm, terima kasih kamu sudah jagain Rasya," ujar Dina.
Perkataan Dina membuat Reyhan merasa semakin bersalah.
****
Di tempat lain, Susi sedang berkeliling di sebuah pusat perbelanjaan bersama seorang pria dengan berpenampilan kaya dan elegan.
"Terima kasih, Bang. Sudah bawa aku belanja," ujar Susi pada pria kaya yang terlihat sudah berumur.
Langkah Susi dan pria itu terlihat seperti seorang anak dan ayahnya.
"Sama-sama, aku senang jika kamu senang," ujar laki-laki tua itu.
"Mhm, setelah ini kita mau ke mana?" tanya Susi pada lelaki itu.
"Kamu mau ke mana pun akan aku bawa," jawab sang pria.
"Mhm, baiklah aku mau pergi ke pantai. Sudah lama rasanya kaki ini tak menginjak pasir pantai nan putih," ujar Susi.
"Baiklah." Sang pria mengangguk setuju.
__ADS_1
Pria tua yang bersama Susi itu bernama Syams. Dia seorang laki-laki berduit yang memiliki usaha di mana-mana.
Susi mengenal Syams melalui media sosial. Perkenalan mereka dimulai dari saling follow, chating, dan calling tak lupa mereka pun sudah sering melakukan video call hingga akhirnya Susi memutuskan untuk bertemu dengan pria itu.
Dia meninggalkan desanya demi bertemu dengan pria tua itu.
Uang yang dimiliki pria tua itu membuat Susi tergila-gila pada sang pria, dia rela melakukan apa saja demi uang si pria.
Di saat Susi dan Syams keluar dari pusat perbelanjaan, Dimas melihat sosok istrinya sirinya sedang memeluk manja pria yang sepantaran dengan ayahnya.
Saat itu Dimas tengah berada di dalam taksi bersama Fitri. Darah Dimas mendidih seketika, amarahnya memuncak melihat wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu tengah berada di dalam pelukan seorang pria.
Fitri melihat tatapan penuh amarah itu tertuju keluar jendela, entah apa yang tengah dilihat oleh suaminya, tapi dia memilih untuk diam.
Fitri tengah berpikir bagaimana cara dia lolos dari cengkraman Dimas.
Dimas merasa dirinya benar-benar seorang pria yang tidak memiliki harga diri, pada hari yang sama kedua istrinya didapatinya tengah bersama pria lain.
Harga dirinya sebagai seorang suami terasa diinjak-injak oleh kedua istrinya, baik istri sah maupun istri sirinya.
"Kamu mau bawa aku ke mana, Bang?" tanya Fitri pada Dimas.
"Diam kamu!" bentak Dimas pada istrinya.
Si sopir sempat kaget mendengar bentakan Dimas pada istrinya, dia hanya melihat sepasang suami istri itu dari kaca spion.
Si sopir sudah penasaran sejak awal Dimas menarik Fitri dan memaksanya untuk masuk ke dalam taksi, tapi sebagai orang luar dia tidak berani bertanya apa-apa pada penumpangnya.
Fitri terdiam mendengar bentakan sang suami.
"Aku akan buat kamu menyesal sudah melakukan hal ini padaku," bentak Dimas lagi pada sang istri.
"Bang, kamu sudah meninggalkan Rasya, anak kita pasti sangat mengkhawatirkan aku," lirih Fitri.
Fitri berharap Dimas akan luluh saat mendengar nama sang putri.
"Aku yakin mereka tidak akan menyia-nyiakan putri kita, mereka pasti akan menjaga Rasya," ujar Dimas santai.
Fitri terdiam.
"Aku harus tahu ke mana Dimas membawaku, setelah itu aku akan memberitahu Kak Dina atau Bang Riyan," gumam Fitri di dalam hati.
Tak berapa lama, taksi berhenti di sebuah penginapan kecil, bangunan penginapan itu terlihat kumuh. Mungkin Dimas sengaja menyewa kamar di penginapan tersebut karena harganya yang terjangkau kantongnya.
Dimas membayar taksi lalu mereka pun turun dari taksi itu.
__ADS_1
Dimas menggenggam erat tangan Fitri agar istrinya tidak kabur dari tangannya.
Dimas membawa Fitri masuk ke dalam kamar yang sudah disewanya beberapa hari ini.
Dia mengunci kamar itu, setelah itu Dimas menghempaskan tubuh istrinya ke atas tempat tidur.
"Apa yang akan kamu lakukan, Bang?" lirih Fitri ketakutan.
Dimas menatap istrinya dengan tatapan yang sulit di artikan, Fitri sangat takut melihat sorotan masta Dimas padanya.
"Kau masih istriku, Fitri. Kamu harus lakukan tanggung jawabku padaku!" bentak Dimas.
"Tidak, tidak jangan lakukan itu padaku, Bang. Aku mohon," lirih Fitri mulai terisak.
Fitri sangat mengerti apa yang dimaksud oleh Dimas kali ini, Fitri sudah tidak berniat sama sekali untuk melayani suaminya yang sudah membagi cintanya pada wanita lain.
"Jangan, Bang," isak Fitri.
Dimas mendekati Fitri, pria itu menarik hijab yang melekat di kepala istrinya, setelah itu dia pun membuka kemeja yang terpasang di tubuh istrinya.
Dengan susah payah Fitri berusaha menghindari apa yang dilakukan sang suami.
Kemeja Fitri sudah terlepas dari tubuhnya, kini tinggal celana kulot yang dikenakan oleh sang istri.
Fitri terus berusaha melawan Dimas tapi kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan sang suami.
"Kamu masih milikku, Fitri. Apa yang kita lakukan ini bukanlah dosa," ujar Dimas.
Dimas sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya yang sudah tertahan berhari-hari.
Dia harus melakukan hal ini pada istrinya agar kepalanya tidak pusing, hasratnya tidak bisa ditahan lagi.
"A-aku mohon, Bang. Jangan sentuh aku, aku tidak mau." Fitri mulai menangis.
"Apa kau bilang? Kau tidak mau melayaniku?" bentak Dimas.
Kata-kata yang keluar dari mulut Fitri membuat amarah Dimas semakin memuncak, hingga dia tidak perlu berpikir dua kali untuk menikmati tubuh istrinya.
"Sudah lama aku tak menyentuhmu, aku sudah merindukan keni*matan tubuhmu," ujar Dimas.
"Tidak, aku mohon," lirih Fitri.
Buliran bening kini sudah mulai membasahi pipinya.
"Aku semakin tertarik padamu, Sayang," lirih Dimas.
__ADS_1
Dimas menarik kaca mata hitam yang menutupi dua bukit kembar Fitri dan segitiga hitam yang juga menutupi lembah tempat Dimas akan mereguk keni*matan dari haus yang menyerang tubuhnya.
Bersambung...