
"Kamu harus tenang, jangan cemas," ujar Reyhan.
Reyhan saat ini Fitri merasa gugup karena dia tahu kepulangannya ke rumah kedua orang tuanya akan merubah hidupnya nanti.
Fitri juga merasa bersalah pada keluarganya karena telah mengambil keputusan yang salah.
Hanya satu minggu dia mengikuti sang suami dia pun kembali pulang karena perbuatan sang suami sudah melakukan pengkhianatan terhadap dirinya.
Fitri tidak ingin bertengkar dengan Dimas, pergi diam-diam itu lebih baik baginya.
"Assalamu'alaikum," ucap Fitri.
Fitri memperhatikan rumah ayahnya, dia melihat suasana rumah yang sepi.
Fitri mencoba membuka pagar rumah, lalu melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Fitri lagi.
"Ayah," panggil Fitri saat tak ada seorang pun yang menyahut ucapannya.
"Ayah," panggil Fitri lagi.
Berkali-kali Fitri memanggil, tapi tak seorang pun yang menjawab.
Hati Fitri mulai risau. Fitri langsung mengambil ponselnya, dia mencari nomor kontak Dina di layar ponselnya.
Berkali-kali dia mencari nama sang kakak di layar ponselnya tapi tidak ada.
"Aku sudah menyimpan nomor kak Dina di ponselku, kenapa tidak ada?" gumam Fitri di dalam hati.
"Ada apa, Fit?" tanya Reyhan ikut khawatir saat melihat wajah Fitri yang risau.
"Enggak ada orang di rumah," jawab Fitri.
"Lalu bagaimana?" tanya Reyhan.
"Aku juga enggak tahu," jawab Fitri.
"Coba deh kamu hubungi Kak Dina, mana tahu ayah bersama dia," ujar Reyhan.
"Itu masalahnya, nomor kak Dina di ponselku hilang.
"Ya udah coba hubungi Bang Riyan," usul Reyhan lagi.
"Oh iya, ya," lirih Fitri.
Setelah itu Fitri kembali mengotak-atik ponselnya mencari nomor kontak saudara laki-lakinya.
Hal yang sama pun terjadi, di kontak ponselnya sama sekali tak ditemukan nomor kontak saudaranya.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" gumam Fitri bingung.
"Kamu yakin sudah menyimpan nomor kak Dina di ponselmu?" tanya Reyhan.
"Iya, aku yakin banget," lirih Fitri.
__ADS_1
Fitri mencoba mengingat-ingat sesuatu.
Flash back on.
Satu hari Fitri berada di rumah mertuanya, setelah Fitri selesai membantu Bu Fatimah di dapur. Fitri melangkah masuk ke dalam kamar.
Saat dia masuk ke dalam kamar, Fitri melihat Dimas tengah mengotak-atik ponselnya.
"Kamu ngapain, Bang?" tanya Fitri.
Dimas kaget saat melihat istrinya sudah berada di depannya.
"Oh, ini aku cuma liat- liat FB kamu, mana tahu ada berita terbaru," jawab Dimas gugup.
"Beneran, Bang?" tanya Fitri curiga pada sang suami.
"Iya, ya udah aku berangkat kerja dulu," ujar Dimas langsung keluar dari kamar.
Flash back off.
"Sepertinya, Bang Dimas sudah menghapus nomor ponsel Kak Dina dan Bang Riyan agar aku tak bisa lagi berkomunikasi dengan saudaraku," lirih Fitri menduga-duga.
Dia yakin Dimas lah orang yang sudah menghapus kontak Dina dan Riyan di ponselnya.
"Ya ampun, tuh cowok benar-benar kurang ajar, ya," lirih Reyhan merasa kesal pada sosok yang bernama Dimas.
"Bunda, aku lapar," rengek Rasya merasa lapar.
Wajar gadis kecil itu sudah merasa lapar, karena saat ini sudah lewat waktu makan siang.
Sebenarnya Fitri ingin bertanya pada beberapa tetangganya. Hanya saja semua rumah tetangganya yang di dekat rumahnya tertutup rapat, Fitri yakin tak ada rumah tetangganya yang tengah berpenghuni.
Fitri mengangguk, mereka pun kembali masuk ke dalam mobil.
Reyhan melajukan mobil meninggalkan rumah orang tua Fitri mencari sebuah rumah makan atau restoran untuk mengajak Fitri dan Rasya makan siang terlebih dahulu.
Sepanjang jalan hati Fitri bercampur aduk, dia merasa tidak tenang. Fitri merasa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.
Pikiran Fitri tertuju pada sosok ayahnya, dia sangat mencemaskan ayahnya, orang tua satu-satunya yang masih hidup.
"Fit, kita sudah sampai, kita makan dulu, ya. Kasihan Rasya sudah lapar," ujar Reyhan bersiap untuk turun.
Reyhan tak jadi turun saat melihat Fitri yang masih melamun.
"Fit," panggil Reyhan.
Fitri masih saja diam.
"Fitri," panggil Reyhan dengan nada yang lebih ditinggikannya.
Reyhan juga melambaikan tangannya tepat di depan wajah Fitri agar Fitri sadar.
"Eh, iya, Rey. Ada apa?" tanya Fitri saat dia tersentak dari lamunannya.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Reyhan dapat merasakan kerisauan hati wanita yang masih dicintainya itu.
__ADS_1
"Aku tiba-tiba teringat ayah, pikiranku terus tertuju pada sosok ayah," jawab Fitri jujur.
"Tenangkanlah dirimu saat ini, kita berdo'a saja semoga ayahmu dalam keadaan baik-baik saja. Ayo turun makan dulu Setelah itu kita langsung ke rumah Kak Dina," ujar Reyhan.
"I-ya" lirih Fitri.
Akhirnya dia pun turun dari mobil dan menggandeng Rasya melangkah masuk ke dalam restoran.
"Fit," lirih Reyhan memanggil.
"Mhm," gumam Fitri.
"Sudahlah, setelah ini kita akan ke rumah kak Dina, seandainya Rasya tidak lapar aku pasti akan membawamu langsung ke rumah kak Dina." Reyhan dibuat bingung dengan sikap Fitri.
"Maaf," lirih Fitri merasa bersalah.
Meminta Reyhan membantu dirinya saja, Fitri sudah merasa sangat merepotkan pria itu ditambah pula saat ini pikirannya yang kacau karena tidak mendapati sosok ayahnya di rumah.
"Tidak apa-apa, ayo cepat habiskan makananmu, setelah ini kita langsung ke rumah Kak Dina," ujar Reyhan lagi.
Fitri pun bergegas menghabiskan makanan yang ada di piringnya, begitu juga dengan Rasya. Fitri menyuruh Rasya mengunyah makanannya lebih cepat.
Setelah mereka selesai makan siang Fitri langsung berdiri dia melangkah menuju parkiran, dia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan ayahnya. Sementara itu Reyhan membayar tagihan maka mereka terlebih dahulu di kasir.
Fitri terlihat risau dan tak sabar menunggu Reyhan di parkiran.
"Reyhan ke mana, sih? Kenapa lama buanget," gerutu Fitri.
Padahal Reyhan hanya membayar tagihan tanpa melakukan hal selain itu, dia yang ingin cepat bertemu dengan ayahnya merasa Reyhan terlalu lama.
"Kamu kok lama sekali?" gerutu Fitri pada Reyhan saat Reyhan sudah menunjukkan batang hidungnya.
Reyhan menggelengkan kepalanya, Reyhan mengingat kembali tingkah Fitri yang seperti ini di saat dia sedang risau atau mencemaskan sesuatu.
Reyhan sangat mengerti sifat Fitri, sehingga dia tidak marah sama sekali saat diprotes oleh Fitri.
"Yuk, berangkat," ajak Reyhan.
Reyhan membukakan pintu mobil untuk Fitri, setelah itu dia ikut masuk ke dalam mobil.
Reyhan mulai melajukan mobilnya meninggalkan restoran lalu mengarahkan setir mobil ke rumah Lina.
Reyhan yang sudah pernah ke rumah Lina, sudah tahu arah menuju rumah kakak dari wanita yang dicintainya itu.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di depan rumah yang cukup megah dan terlihat mewah. Design minimalis rumah itu membuat kesan sederhana bagi mata yang memandang.
Fitri langsung turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam rumah Dina. Dia berharap dapat bertemu dengan ayahnya secepatnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Fitri.
"Wa'alaikummussalam," jawab Dina dari dalam rumah.
"Fitri!" Dina kaget saat melihat sosok adiknya.
Dina langsung memeluk tubuh Fitri, dan menangis.
__ADS_1
Bersambung...