
“Dari pemakaman,” jawab Dina singkat.
Reyhan mengernyitkan dahinya heran.
“Pemakaman?” tanya Reyhan penasaran.
Reyhan yang sudah lama merantau juga tidak tahu berita tentang ibu Fitri yang sudah tiada.
“Ibu, Rey. Ibu sudah meninggal satu tahun yang lalu, aku baru saja tahu,” jawab Fitri.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” ujar Reyhan tak percaya.
“Kamu yang sabar ya, Fit,” ujar Reyhan lagi.
Dina masih melihat tatapan cinta yang diberikan mantan kekasih adiknya itu kepada adiknya.
“Rey, kami pulang duluan, ya,” ujar Dina.
Dina sadar diri bahwa adiknya sudah memiliki seorang suami, sehingga dia tidak ingin sang adik berlama-lama berinteraksi dengan mantan kekasihnya.
Dina menarik tangan Fitri, setelah itu mereka menaiki sepeda motor dan berlalu meninggalkan Reyhan.
Reyhan berada di desanya karena dia tengah meminta izin untuk bertemu dengan keluarganya karena sudah beberapa minggu tidak pulang ke rumahnya.
Sesampai Fitri dan Dina di rumah, terlihat sebuah mobil terparkir di depan rumah kedua orang tua mereka.
“Mobil siapa, Kak?” tanya Fitri heran.
Putusnya komunikasi dia dan semua keluarganya membuat dirinya tidak tahu apa-apa yang telah terjadi pada keluarganya, dia juga tidak tahu dengan perkembangan kehidupan sang kakak dan abangnya.
“Itu mobil Riyan,” jawab Dina sambil memarkirkan sepeda motornya tepat di depan mobil Riyan.
“Bang Riyan sudah punya mobil, Kak?” tanya Fitri.
“Alhamdulillah sekarang dia sudah menjadi kepala bidang di Dinas pendidikan,” jawab Dina.
“Alhamdulillah,” lirih Fitri.
“Yuk masuk,” ajak Dina pada Fitri yang terlihat ragu melangkah masuk.
“Kenapa?” tanya Fitri.
“Aku takut bertemu dengan Bang Riyan,” tutur Fitri jujur.
__ADS_1
“Apa yang kamu takutkan? Riyan adalah saudaramu,” ujar Dina.
Dina menarik tangan adik bungsunya, lalu mereka pun melangkah masuk.
“Assalamu’alaikum,” ucap Dina saat membuka pintu rumah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Riyan dan Pak Rahim.
“Bunda,” ujar Rasya berlari menghampiri bundanya.
Sejak tadi sore, Rasya ditinggal bersama kakeknya.
Fitri menggendong Rasya.
“Bunda, Rasya beli es krim,” ujar Rasya sambil menunjukkan es krim yang ada di tangannya.
“Beli di mana? Sama siapa?” tanya Fitri pada putrinya.
“Sama om Iyan,” jawab Rasya sambil menunjuk Riyan yang duduk di sofa ruang keluarga.
Fitri menatap ke arah saudara laki-lakinya, Fitri menurunkan Rasya dari gendongannya, Fitri melangkah menghampiri Riyan lalu dia hendak bersimpuh di kaki abangnya memohon maaf atas kesalahan yang sudah dilakukannya.
“Maafkan aku, Bang,” isak Fitri.
Riyan mengangkat tubuh adiknya lalu memeluk adik bungsunya.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu tidak salah, Dek.” Riyan mengusap lembut kepala adiknya.
Fitri mengira bahwa Riyan akan membencinya karena dia menentang keinginan semua keluarganya.
“Kamu tidak salah, Dek. Kamu benar, karena kamu mengikuti semua perintah suamimu,” ujar Riyan.
Fitri menangis mendengar ucapan Riyan, dia semakin merasa bersalah terhadap keluarganya. Fitri memilih untuk mengikuti sang suami dan melukai hati mereka. Namun, kini sang suami malah menyia-nyiakannya.
Riyan heran mendengar tangisan adiknya yang semakin menjadi-jadi, dia mulai merasakan ada masalah yang tengah dihadapi adiknya. Riyan membiarkan Fitri menangis di dalam pelukannya.
Dina dan Pak Rahim ikut sedih mendengar tangisan Fitri yang semakin menyayat hati, tanpa mereka sadari kini buliran mulai membasahi pipi mereka.
“Ada apa, Dek?” tanya Riyan setelah melihat adiknya mulai tenang.
Fitri diam, dia bingung harus bagaimana.
“Apakah aku harus menceritakan semuanya pada keluargaku,” gumam Fitri di dalam hati.
__ADS_1
“Ceritakanlah apa yang tengah kamu hadapi,” ujar Riyan pada Fitri.
Fitri menunduk, dia terdiam lama. Riyan, Dina dan sang Ayah masih menunggu Fitri untuk menceritakan beban apa yang kini tengah dipikulnya.
Perlahan Fitri mulai menceritakan kehidupannya bersama Dimas 3 tahun terakhir, kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja meskipun masalah keuangan terus menjadi permasalahan dalam kehidupan mereka.
Tak ada pertengkaran hebat yang membuat mereka menjadi jauh, semakin sulit ekonomi yang mereka hadapi semakin besar kasih sayang yang terjalin di antara mereka sehingga Fitri menceritakan musibah yang mereka alami saat ini.
Fitri menceritakan perubahan sikap Dimas setelah musibah yang dialami Fitri, penipuan yang menyebabkan hilangnya uang tabungan mereka sebesar 3 juta menjadi petaka dalam hidup mereka.
Sikap Dimas berubah drastis, rasa saling pengertian itu sirna seketika. Dimas tak lagi memenuhi kebutuhan Fitri baik lahir maupun bathin.
Fitri juga menceritakan apa yang telah dilakukan oleh ayah mertuanya pada dirinya, perbuatan hina ayah mertuanya lalu fitnah yang dilemparkan pada dirinya membuat hubungan Dimas dan Fitri semakin di ujung tanduk.
Semua hal diceritakan Fitri pada keluarganya, Dina berdiri dan mendekati sang adik. Dia memeluk tubuh adiknya. Dia tak menyangka Dimas yang selama ini sangat baik pada Fitri dan keluarganya bisa menyakiti Fitri tanpa ada rasa kasihan sedikitpun.
Tangan Riyan mengepal menahan emosi, ingin rasanya dia membunuh pria yang telah menyakiti adiknya.
Suasana seketika hening setelah Fitri menceritakan semua kisah perjalanan hidupnya selama dia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan keluarganya.
“Mulai hari ini, Fitri tinggallah bersama ayah di sini, aku akan menyelesaikan permasalahan kalian. Kamu harus bercerai darinya,” ujar Riyan mengambil keputusan untuk adiknya.
“Tapi, Bang, Dimas masih suamiku,” lirih Fitri ragu.
“Dia tidak pantas dijadikan seorang suami jika dia tidak sanggup memenuhi kebutuhan anak dan istrinya,” ujar Riyan geram pada adik iparnya itu.
“Apa yang dikatakan abangmu benar, Fit. Ayah akan sangat senang jika kamu mau tinggal bersama ayah di sini.” Pak Rahim tidak tinggal diam, dia pun ikut menyuarakan kata hatinya.
“Benar, Fit. Aku setuju dengan pendapat Riyan dan Ayah. Untuk sementara waktu masalah keuangan biar kami berdua yang bantu,” ujar Dina menawarkan diri.
Fitri masih saja diam, dia terlihat tengah memikirkan usulan yang baru saja. Beberapa menit, ruang keluarga kembali hening hingga akhirnya Fitri mulai buka suara.
“Mungkin untuk beberapa waktu ini aku akan mengikuti apa yang Kak Dina dan Bang Riyan katakan,” ujar Fitri setuju.
Dina dan Riyan menghela napas panjang, dia lega mendengar keputusan Fitri. Mereka bersyukur kali ini Fitri mau mendengarkan ucapan keluarganya.
“Masalah kebutuhanmu selama tinggal bersama ayah, aku yang akan menanggungnya, tapi aku minta sama kamu ikuti saran kami,” pinta Riyan.
Fitri mengangguk mengiyakan apa yang sudah diputuskan oleh sang kakak.
Setelah itu Fitri pun menjalani hari-hari bersama sang ayah, sesekali Dina dan Riyan datang mengunjungi mereka.
Hari-hari Fitri yang gelap kini mulai bersinar tanpa kehadiran Dimas di kehidupannya, Fitri mulai membuka lembaran baru dia mulai mencoba untuk melupakan Dimas, sang suami egois yang selama ini dengan tulus dilayaninya. Fitri bertekad akan meraih kebahagiaannya.
__ADS_1
Bersambung…