
"Hei, bagaimana keadaan Rasya?" tanya Dimas lagi.
Dia tidak menghiraukan tatapan tajam dari Fitri.
Fitri masih di, dia semakin kesal melihat Dimas.
"Mana kunci motorku?" tanya Fitri tanpa menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Fit, aku nanya keadaan Rasya saat ini. Bagaimana keadaan putri kita?" tanya Dimas lagi.
Sedikitpun pria itu tidak menyadari kesalahannya.
"Mana kunci motorku!" bentak Fitri sudah tidak sabar untuk menghadapi pria seperti Dimas.
Akhirnya Dimas pun memberikan kunci sepeda motor Fitri.
Fitri mengambil kunci tersebut dengan kasar, saat ini Fitri sama sekali tidak memikirkan tata Krama yang harus diperbuat seorang istri pada suaminya, Fitri tidak menganggap Dimas sebagai suaminya lagi meskipun mereka masih terikat.
"Fitri kamu benar-benar sudah berubah," ujar Dimas.
"Iya, aku sudah berubah. Kamulah yang sudah membuat aku berubah. Ini semua karena kamu!" ujar Fitri sambil meruncingkan telunjuknya tepat di depan Dimas.
"Kenapa aku yang salah? Kamu yang masih saja mengingat masa lalumu meskipun kita sudah menikah!" ujar Dimas membela diri.
"Kamu memang tidak pernah berpikir! Aku muak padamu! Pergi kamu dari sini!" bentak Fitri.
Fitri malas berdebat dengan Dimas yang selalu ingin menang sendiri, dia tidak pernah mau disalahkan.
Pria itu selalu saja merasa dirinya paling benar, semua yang sudah terjadi tetap Fitri yang bersalah baginya.
"Bang, aku mohon pergi dari sini. Aku sudah tidak mau lagi berhubungan denganmu," ujar Fitri memohon pada Dimas agar sang suami mau pergi dari sana.
"Tidak, Fit. Aku akan tetap di sini, aku akan menjaga Rasya dan kamu di sini," ujar Dimas sok bertanggung jawab.
Berkali-kali Fitri berusaha menyuruh Dimas pergi dari rumah sakit, tapi pria itu masih saja tetap ingin berada di sana, akhir Fitri diam dan kembali duduk di samping tempat tidur Rasya.
Dia memilih untuk mengabaikan pria keras kepala itu, dari pada terus-terusan berdebat tanpa ada manfaatnya.
Dimas pun duduk di sebuah sofa tunggal yang ada di ruangan itu, dia terus memandangi Fitri dan Rasya.
Entah apa yang kini dipikirkan Dimas, dia tidak mau beranjak dari tempat itu sedikitpun.
"Fitri!" ujar Riyan saat dia masuk ke dalam ruang tersebut.
__ADS_1
Riyan datang hanya seorang diri, Dina belum bisa datang karena dia memiliki acara dengan teman sekantornya.
Riyan belum menyadari keberadaan Dimas di ruangan itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Riyan pada Fitri.
Riyan terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan keponakannya.
"Ini semua gara-gara dia!" ujar Fitri sambil menunjuk ke arah Dimas yang kini masih duduk di sofa itu.
Riyan membalikkan tubuhnya, dia kaget saat mendapati Dimas sedang duduk di sofa ruang rawat itu.
"Kau!" lirih Riyan geram.
Riyan langsung menghampiri Riyan, lalu dia menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Dimas.
Riyan sudah bersiap hendak melayangkan bogem mentah di wajah Dimas.
"Apa yang kau inginkan di sini?" bentak Riyan pada Dimas yang kini sedang duduk di sofa memperhatikan kedatangan Riyan dalam diam.
"Aku ke sini mau ketemu anak dan istriku, Bang," jawab Dimas santai.
"Tidak perlu kamu datang lagi mencari Fitri dan Rasya!" ujar Riyan penuh penekanan.
Riyan pun mendorong tubuh Dimas hingga adik iparnya itu terjatuh ke sofa.
Perlahan Dinas berdiri, dia mendekati Riyan.
"Fitri masih sah istriku, Bang. Jadi aku masih berhak untuk bertemu dengannya. Kamu tidak bisa menghalangiku untuk bertemu mereka," ujar Dimas tidak mau kalah.
"Aku berhak menghalangimu, karena aku adalah satu-satunya orang yang kini bertanggung jawab atas adikku, kamu sebagai suami yang tidak bertanggung jawab tidak pantas mengikat adikku lagi," bentak Riyan geram.
Melihat perdebatan antara Riyan dan Dimas yang semakin alot membuat kepala Fitri semakin pusing mendengarnya, Fitri pun menghampiri sang kakak. Dia menarik lengan sang kakak menjauhi Dimas.
"Bang, sudahlah. Jangan hiraukan dia, anggap saja dia orang gila," ujar Fitri.
Dimas kesal mendengar Fitri mengatakan bahwa dirinya merupakan orang gila.
Namun, saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Fitri tengah berada di dekat abangnya. Dimas tidak mungkin memarahi istrinya itu di hadapan sang kakak ipar.
Di sore hari, Rasya sudah bisa pulang dari rumah sakit.
Riyan hendak membawa Fitri pulang ke rumahnya, dia takut Dimas akan berbuat hal-hal yang tidak diinginkan jika Riyan membiarkan adiknya itu pulang ke rumah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kamu harus pulang ke rumahku," perintah Riyan tanpa bisa diganggu gugat.
Mau tidak mau Fitri mengikuti apa yang dikatakan oleh Riyan, sebelum mereka keluar dari rumah sakit, Riyan menghubungi seseorang.
Riyan menyuruh orang suruhannya untuk membawa sepeda motor yang dipakai Fitri tadi ke rumahnya.
"Fitri!" panggil Dimas di saat mereka hendak keluar dari ruang tersebut.
Riyan menghentikan langkahnya begitu juga dengan Fitri.
Riyan membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Dimas.
"Asal kamu tahu, saat ini aku masih bisa membunuh orang," ancam Riyan pada adik iparnya itu.
"Kau lihat, belum satu hari mereka bersamamu, kau sudah membuat Rasya celaka. Aku tidak akan membiarkan adik dan keponakanku terluka karenamu," ujar Riyan penuh penekanan.
Riyan memperlihatkan kebenciannya pada Dimas, selama ini dia masih menghormati Dimas untuk menjaga hati adiknya.
Setelah dia tahu Dimas telah menyakiti hati adiknya, hanya kebencian yang tersisa untuk adik iparnya itu.
Fitri hanya diam mendengar ucapan sang kakak, dia terlihat menyerahkan semuanya pada sang kakak.
Diana tidak dapat berkata apa-apa lagi, saat ini dia hanya diam terpaku. Dia sempat melihat putrinya, bahkan Rasya pun sudah tidak menganggap dirinya lagi.
"Lihatlah, kalian pasti akan menyesal sudah memperlakukan aku seperti ini," lirih Dimas.
Riyan dan Fitri mengabaikan ucapan Dimas, mereka tidak memperdulikan keberadaan Dimas lagi.
Mereka melangkah keluar dari rumah sakit, saat mereka sampai di parkiran, seseorang datang menghampiri mereka.
"Fitri, berikan kunci sepeda motor pada dia," pinta Riyan.
"Iya, Bang." Fitri mengangguk.
Mereka pun pergi meninggalkan kawasan rumah sakit setelah memberikan kunci sepeda motor pada orang suruhan Riyan.
****
Sementara itu di rumahnya, Ibu Fatimah tampak kebingungan sambil membongkar seisi lemari yang ada di kamarnya.
Dia membolak-balikkan isi lemari mencari sesuatu berharga baginya, tapi barang yang dicarinya masih saja tidak dapat ditemukannya.
"Ya Allah di mana barang itu? Aku tidak mungkin salah taruh, pasti ada seseorang yang mengambilnya." Bu Fatimah yakin seseorang telah mengambil sesuatu yang berharga dari dalam lemarinya.
__ADS_1
"Apakah jangan-jangan bapak atau Dimas yang sudah mencurinya?" gumam Bu Fatimah mencurigai putra dan suaminya.
Bersambung...