
Dengan berat hati Rania memberikan salah satu es krim yang ada di tangannya, Rania memberikan es krim itu dengan kesal.
Rasya merasa sedih dengan perlakuan Rania, gadis kecil itu sadar diri dengan hidupnya. Selama ini dia tidak pernah memakan makanan yang enak seperti yang dibawakan oleh Omnya.
"Enggak usah, Kak. Nanti kalau bunda punya uang, Rasya minta uang sama Bunda saja," lirih Rasya hati yang iba.
Riyan menoleh pada adiknya, dia melihat sang adik meneteskan air mata melihat apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
"Rania, kalau kamu mau ngasih sama adeknya jangan terpaksa begitu. Nanti Om enggak mau belikan makanan lagi, gimana?" ujar Riyan membujuk Rania.
"Mhm, iya. Ini, ambil aja," ujar Rania berusaha mengubah caranya memberi es krim tersebut.
"Rasya ambil, ya. Nanti kak Rania bisa sedih kalau kamu tidak ambil," ujar Riyan membujuk Rasya menerima es krim yang diberikan oleh Rania.
"Terima kasih, Kak," ucap Rasya.
"Eh, kamu udah di sini, Yan?" Tiba-tiba Dina keluar dari kamar.
Dia yang masih ada pekerjaan di kamar keluar kamar setelah mendengar suara Riyan di rumahnya itu.
"Eh, iya, Kak. Hari ini aku dan Linda ada acara makanya datang lebih pagi," ujar Riyan.
"Oh, begitu. Kamu udah sarapan?" tanya Dina pada sang adik.
"Mhm, belum, Kak," jawab Riyan.
"Ya udah, ayo kita sarapan dulu, tadi Bang Leo sudah belikan sarapan buat kita. Pagi ini kakak capek sekali jadi kami pilih beli makan aja," ujar Dina.
Akhirnya Mereka pun berpindah ke meja makan untuk menyantap lontong sayur yang sudah dibeli oleh suami Dina.
"Bang Leo ke mana, Kak? Enggak ikut makan?" tanya Riyan pada Dina karena tidak melihat kakak iparnya ikut sarapan bersama mereka.
"Tadi habis beli makan dia tidur lagi, katanya masih ngantuk," jawab Dina.
"Mhm," gumam Riyan.
Setelah itu tak ada suara yang keluar dari mulut mereka karena mereka sibuk menyantap lontong sayur yang terkenal enak di desa itu.
"Aku duluan, ya," ujar Dina tiba-tiba merasa sakit perut.
__ADS_1
Dina melangkah keluar ruang makan menuju toilet, tak berapa lama setelah itu Leo datang menghampiri Riyan dan Fitri yang masih menyantap sarapan pagi.
"Riyan, kamu di sini?" Leo menyapa sang adik ipar sekadar untuk berbasa-basi.
"Eh, iya, Bang." Riyan tersenyum pada sang kakak ipar.
"Aduh, ternyata sengantuk apa pun kita tidak akan bisa tidur kalau perut masih kosong," ujar Leo.
"Fit, ambilkan lontongnya buat aku, dong," pinta Leo pada Fitri.
Fitri yang baru saja selesai makan merasa ada yang aneh saat sang kakak ipar menyuruhnya untuk melayaninya makan.
"Eh, i-iya, Bang," lirih Fitri gugup.
Awalnya Riyan menganggap hal itu biasa saja tapi saat Riyan memperhatikan Leo, dia melihat dengan jelas lirikan mata sang kakak ipar pada adiknya.
Tatapan yang dilayangkan sang kakak ipar seperti seorang pria yang mengagumi seorang wanita.
Riyan dapat menangkap sesuatu yang aneh pada diri sang kakak ipar terhadap adiknya.
"Fit, ayo keluar. Aku mau ngomong sama kamu," ujar Riyan pada adiknya yang terlihat risih dengan apa yang dilakukan oleh Leo.
Itu artinya Fitri bisa terselamatkan dari mata genit sang kakak ipar yang tertuju pada dirinya.
Riyan dan Fitri pun melangkah keluar dari ruang makan, sementara itu anak-anak kembali asyik menonton TV di ruang keluarga.
Riyan membawa Fitri ke teras rumah agar mereka dapat mengobrol dengan santai.
"Lho, Fitri sama Riyan mana?" tanya Dina pada sang suami saat tak lagi menemukan adik-adiknya berada di ruang makan.
"Mereka keluar," jawab Leo.
"Oh, kalau gitu aku ke sana dulu, ya." Dina meninggalkan sang suami seorang diri.
Memang saat ini Dina mulai cuek terhadap sang suami, mulai dari pekerjaannya yang kini mulai padat. Dina mengira sang suami dapat memaklumi apa yangs udah dilakukannya karena yang Dina tahu sang suami merupakan pria yang sangat pengertian.
Dina sengaja meninggalkan sang suami karena dia juga ingin berbicara dengan saudara-saudaranya.
"Apa kamu yakin tidak takut tinggal di rumah bapak berdua saja dengan Rasya?" tanya Fitri pada adiknya.
__ADS_1
"Masalah takut atau tidaknya, kita kan punya Allah tempat mengadu, Bang. Ini semua menjelang terbiasa," jawab Fitri penuh keyakinan.
Fitri merasa sudah mantap untuk pergi dari rumah Dina, semalaman ini dia shalat tahajud dan memohon petunjuk pada Allah atas jalan yang harus diambilnya.
"Padahal kakak senang, kalau kamu tinggal di rumah kakak," sahut Dina menghampiri mereka.
"Aku juga senang tinggal bersama kakak, bisa bantuin kakak di sini, tapi, Kak. Aku juga harus memulai kehidupanku, tidak mungkin aku terus bergantung pada kalian," ujar Fitri memberi alasan pada kedua saudaranya agar mereka mengabulkan permintaannya.
"Mhm, menurut aku, semua terserah kamu, Dek. Kalau kamu memang mau tinggal di rumah Ayah dan Ibu, lagian rumah itu juga kosong, kalau kamu di sana rumah orang tua kita akan terjaga, dan tidak lapuk," ujar Riyan menyampaikan pendapatnya.
"Tapi, kalau seandainya nanti Dimas datang seperti kemarin itu bagaimana?" tanya Dina.
Dina khawatir Dimas datang dan akan menyakiti adiknya.
"Kak, di sana masih ada tetangga yang lain, kalau pun dia berniat jahat padaku. Aku bisa minta pertolongan pada tetangga," jawab Fitri berusaha memberi jawaban agar sang kakak mengabulkan keinginannya.
"Mhm, benar juga sih, Kak. Buat aku enggak masalah kalau Fitri mau tinggal di sana, nanti aku juga akan Carikan pekerjaan untuk Fitri supaya Fitri tidak merasa suntuk tinggal di rumah," ujar Riyan mendukung keputusan Fitri.
Riyan menyetujui permintaan Fitri setelah melihat gelagat sang kakak ipar yang bersikap aneh pada adiknya.
Menurut Riyan lebih baik saat ini menjauhkan Fitri dari Leo dari pada membiarkan Leo mencari kesempatan untuk mendekati adiknya sehingga kedua saudaranya akan tersakiti.
Bagi Riyan, lebih baik mencegah dari pada menyesal di kemudian hari.
"Mhm, jadi menurut kamu itu yang terbaik buat Fitri?" tanya Dina pada Riyan memastikan keputusan adiknya sudah benar.
"Iya, Kak. Mungkin Fitri lebih baik mandiri, aku rasa Fitri juga butuh kebebasan. Aku sudah mengurus surat perceraian Fitri dan Dimas, semoga urusan perceraian itu cepat selesai," jawab Riyan.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Dina setuju dengan ucapan Riyan.
"Oh, iya. Ada kemarin Reyhan memberikan aku sesuatu, sebentar aku ambil dulu," ujar Dina.
Dina teringat sesuatu yang diberikan Reyhan beberapa hari yang lalu.
Dina pun berdiri dan melangkah ke kamarnya, dia mengambil sebuah map yang ada di bawah tempat tidurnya, setelah itu dia keluar kamar dan memberikan map tersebut pada Riyan.
"Apa ini, Kak?" tanya Riyan.
Bersambung...
__ADS_1