Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 27


__ADS_3

“Assalamu’alaikum,” ucap Fatimah saat dia sudah sampai di depan rumah Sinta.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Sinta dari dalam rumah sambil melangkah menuju pintu dan membukakan pintu untuk Fatimah.


Sinta heran melihat tamu yang datang ke rumahnya.


“Eh, Bu Fatimah, ayo masuk, Bu,” ajak Sinta pada wanita paruh baya yang tiba-tba datang ke rumahnya.


Fatimah melangkah masuk dan duduk di ruang tamu.


“Bentar ya, Bu. AKu ambilkan minum dulu,” ujar Sinta berbasa-basi.


“Eh, jangan, Sinta. Tidak usah repot-repot, Ibu ke sini hanya sebentar,” ujar Fatimah menghalangi Sinta yang hendak membuatkan the manis.


“Beneran, Bu?” ujar Sinta sekadar basa-basi.


“Iya, Sin. Ada yang mau ibu tanyakan sama kamu,” ujar Bu Fatimah.


“Tentang apa, Bu?” tanya Sinta penasaran.


“Ibu cuma ingin tahu, apakah Fitri pernah cerita sama kamu tentang masalah rumah tangganya?” tanya Bu Fatimah pada Sinta terus terang.


“Mhm, masalah Fitri ya, Bu?” lirih Sinta miris.


Dia merasa sedih jika teringat perlakuan Dimas pada sahabatnya.


“Iya,” lirih Bu Fatimah.


“Memang benar Fitri selalu datang ke sini untuk berbagi pahitnya kehidupan yang dialaminya,” jawab Sinta jujur.


“Bisakah kamu menceritakan apa yang sudah diceritakan padamu,” pinta Bu Fatimah memohon.


“Baiklah, Bu. Aku akan menceritakan apa yang sudah diceritakan Fitri padaku,--“ Sinta pun mulai menceritakan apa yang sudah diceritakan Fitri padanya.


Taka da satu pun yang disembunyikan Sinta, dia snegaja menceritakan apa yang sudah dilakukan ayah Dimas terhadap Fitri.


Fatimah menutup mulutnya tak percaya saat mengetahui perbuatan suaminya terhadap sang menantu.


“Apakah yang kamu katakana itu, semuanya benar SInta?” tanya Bu Fatimah masih tidak percaya.


“Bu, ibu sendiri yang meminta saya untuk bercerita, kalau ibu tidak percaya dengan apa yang saya ceritakan lebih baik ibu tidak usah bertanya pada saya,” ujar Sinta tersinggung dengan pertanyaan mertua dari sahabatnya.


“Maaf, Sinta,” lirih Bu Fatimah menyesali pertanyaan yang baru saja dilontarkannya pada Sinta.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Bu,” ujar Sinta berusaha mengulas senyum di wajahnya.


“Lalu apakah kamu tahu dengan keberadaan Fitri saat ini?” tanya Bu Fatimah.


“Masalah keberadaan Fitri saat ini, aku belum bisa memberitahukannya pada siapa pun, aku akan meminta izin padanya, apakah bisa memberitahukan Ibu perihal keberadaannya,” jawab Sinta.


“Ya sudah kalau begitu, terima kasih atas informasinya,” ucap Bu Fatimah.


Setelah itu Bu Fatimah pamit pada Sinta.


“Sama-sama,” lirih Diska.


Bu Fatimah keluar dari rumah Sinta, hatinya berkecamuk. Dia pun melangfkah dengan gontai menuju rumah, dia benar-benar kecewa dengan perbuatan yang dilakukan oleh suaminya. Puluhan tahun mereka bersama, kini dia mengkhianati cintanya, itupun pada sang menantu.


****


Di sore hari menjelang petang, Dina menemanin Fitri berziarah ke makam ibunya.


“Bu, maafkan Fitri, Fitri sudah melukai hati ibu, mungkin penderitaan yang kini Fitri dapat adalah karma tidak mendengarkan apa yang ibu katakan, Fitri mohon, Bu. Jangan benci Fitri, hiks,” isak Fitri di dalam luka yang dalam.


Dina hanya memperhatikan apa yang dilakukan adiknya, dia merangkul bahu sang adik memberi kekuatan.


Dina membiarkan sang adik menangis di hadapan makan sang ibunda agar sang adik dapat meluapkan rasa sesak di dadanya.


Setelah itu, dia pun membaca do’a memohon ampun pada Allah atas dosa-dosanya selama ini dan memanjatkan do’a agar sang ibunda mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.


“Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa ibuku. Hamba mohon berikanlah beliau tempat terbaik di sisimu. Hamba mohon jauhilah belia dari siksaan azab kubur serta azab api neraka. Pertemukanlah kami di surge-Mu nantinya, Amin ya Rabbal ‘Alamin,” lirih Fitri.


Dia kembali mengusap pipinya yang dibasahi buliran bening yang jatuh begitu saja.


Setelah itu, Dina dan Fitri meninggalkan makam kuburan sang ibunda. Mereka menaiki sepeda motor yang dikendarai oleh Dina.


“Kak, udah mau maghrib kita langsung cari masjid saja sambil istirahat,” ujar Fitri pada sang kakak.


“Iya, Fit. Sebentar lagi waktu maghrib masuk,” ujar Dina.


Mereka langsung mencari sebuah masjid untuk melaksanakan shalat maghrib, Tak berapa jauh dari pemakaman terdapat sebuah masjid dengan bangunan yang sederhana tapi sangat nyaman berada di sana.


Dina menghentikan sepeda motornya dan memarkirkan sepeda motor itu di parkiran roda dua yang tersedia di halaman masjid.


Mereka turun dari sepeda motor lalu melangkah menuju tempat berwudhu. Setelah berwudu mereka duduk sejenak sambil menunggu waktu maghrib masuk.


Fitri pun mulai melantunkan zikir untuk menenangkan dirinya yang terguncang dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dina juga mengikuti apa yang dilakukan oleh sang adik.

__ADS_1


Mereka terus berzikir hingga azan maghrib berkumandang. Mereka melaksanakan shalat maghrib berjamaah di masjid itu.


“Kak, kita di sini dulu hingga masuk waktu isya, ya. Aku masih ingin menenangkan diriku,” pinta Fitri pada sang kakak usai mereka melaksanakan shalat maghrib berjamaah.


“Iya, enggak apa-apa. Yang penting kamu bisa tenang, Dek.” Dina menyetujui permintaan sang adik.


Dina menatap sendu pada sang adik, ada rasa kasihan kini menyelimuti jiwanya terhadap sang adik. Dina merasa saat ini Fitri tengah menghadapi maslaah yang berat, kesedihannya yang mendalam bukan hanya karena kepergian ibunya.


“Entah masalah apa yang kini kamu hadapi, Dek. Aku harap kamu kuat dalam menghadapinya,” gumam Dina di dalam hati.


Di saat Fitri masih khusuk melaksanakan shalat sunat dan berzikir, Dina membuka ponselnya lalu dia mengirimi pesan pada adik laki-lakinya untuk datang ke rumah kedua orang tua mereka, Dina memberitahukan kedatangan Fitri kepada Riyan.


Usai shalat isya dua kaka beradik itu pun keluar dari masjid, mereka melangkah menuju parkiran sepeda motor mereka.


“Fitri,” ujar seseorang menghampiri mereka.


Fitri mendnegar suara yang taka sing ditelinga baru saja memanggil namanya.


Fitri memalingkan wajahnya ke arah asal suara itu.


“Rey, kamu di sini?” tanya Fitri kaget saat mendapti Reyhan juga berada di masjid yang sama dnegannya.


“Hei, Kak Dina. Apa kabar?” tanya Reyhan pada mantan calon kakak iparnya.


Dina menautkan kedua alisnya, dia berusaha mengingat pria yang ada di hadapannya saat ini.


“Ka-kamu. Rey-han?” lirih Dina memastikan ingatannya tidak salah.


Reyhan tersenyum pada Dina dan Fitri secara bergantian.


“Iya, Kak. Bagaimana kabarnya, Kak?” tanya Reyhan lagi pada Dina yang sejak tadi belum menjawab pertanyaan darinya.


“Alhamdulillah, aku baik. Kamu apa kabar?” tanya Dina balik pada Reyhan.


“Alhamdulillah , baik juga.” Jawab Reyhan.


“Mau ke mana, Kak?” tanya Reyhan pada Dina.


“Mau pulang, Rey,” jawab Dina singkat.


“Dari mana, Kak?” tanya Reyhan lagi.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2