Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 31


__ADS_3

"Maaf, Yah. Aku memang salah, aku datang ke sini mau menyelesaikan masalahku dengan Fitri," jawab Dimas pada ayah mertuanya.


Dia merasa saat ini sang ayah mertua sudah mengetahui alasan kepergian istrinya dari kampung.


Dimas pun memilih untuk berpura-pura menyadari kesalahannya.


Pak Rahim menatap putri bungsunya dengan dalam.


"Fitri, bagaimana menurutmu?" tanya Pak Rahim menyerahkan keputusan kepada putri bungsunya.


Fitri masih diam, dia terlihat berpikir.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" gumam Fitri di dalam hati.


Dia bimbang untuk bertindak.


"Ya. sudah, ayah tinggal. Kalian berdua berbicaralah dari hati ke hati. Kalian sudah dewasa, dan sudah menjalani rumah tangga selama 7 tahun seharusnya kalian sudah dapat mengenali sifat masing-masing," ujar Pak Rahim.


Di saat seperti ini dia tidak bisa bersikap seolah-olah memihak putrinya, mengembalikan permasalahan pada Fitri itu lebih bijaksana menurutnya.


Pak Rahim berdiri, dia melangkah masuk ke dalam ruang keluarga menemani Rasya menonton.


Dia membiarkan Fitri dan Dimas berbicara di ruang tamu.


Dimas pun menghadap pada istrinya yang kini lebih terlihat rapi dan cantik.


"Dek," lirih Dimas.


Deg deg.


Hati Fitri bergetar saat Dimas memanggilnya dengan sebutan yang selalu diucapkan sang suami di saat dia meluapkan rasa sayangnya.


Fitri menoleh ke arah Dimas, dia menatap pria yang sudah 7 tahun menjadi imamnya.


Dia berusaha menyelami tatapan Dimas terhadap dirinya.


"Aku minta maaf atas apa yang sudah terjadi," ujar Dimas membujuk sang istri.


"Mhm," gumam Fitri.


Dia masih enggan untuk menggubris ucapan sang suami walau saat ini kebimbangan sudah menyelinap di hatinya.


"Aku tahu, aku salah dalam bertindak. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu, aku mohon kembalilah ke kampung. Kita perbaiki rumah tangga kita," pinta Dimas memohon pada istrinya.


"Aku tidak bisa kembali ke kampungmu, Bang," ujar Fitri tegas.


"Apa salahnya, Fit?" tanya Dimas masih mendesak Fitri untuk ikut dengannya ke kampung.


"Kita sudah tidak memiliki rumah kontrakan lagi," ujar Fitri.


"Kalau masalah rumah kontrakan, nanti kita bisa cari, sambil mencari kontrakan kita akan tinggal di rumah kedua orang tuaku lagi," ujar Dimas meyakinkan Fitri.

__ADS_1


"Apa? Tinggal di rumah kedua orang tuamu?" tanya Fitri sambil menggelengkan kepalanya.


"Memangnya kenapa? Ibu selalu baik sama kita, begitu juga dengan bapak. Beliau juga baik sama kamu," ujar Dimas.


"Tidak, Bang. Bapakmu sudah mencoba untuk memperko*a diriku," gumam Fitri di dalam hati.


Dia tidak mungkin menyampaikan kelakuan bapaknya pada Dimas karena saat ini Fitri tidak memiliki bukti apa-apa.


"Tidak, Bang. Kita tidak bisa tinggal di rumah orang tuamu lagi, kita akan menyusahkan mereka.


"Tidak, Fit. Kita tidak akan menyusahkan mereka. Ibu terus membujukku untuk membawamu pulang. Dia sangat merindukanmu. Ibu ingin kita kembali tinggal bersama mereka seperti dulu," ujar Dimas.


Pria itu terus membujuk sang istri, dia memohon hingga membawa nama Rasya.


"Apakah kamu tega membiarkan putri kita, buah hati kita tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ayah?" ujar Dimas .


Hati Fitri tiba-tiba tersentuh dengan perkataan Dimas. Fitri dapat membayangkan bagaimana pertumbuhan putrinya tanpa seorang ayah.


"Kamu ingat, Fit. Tidak akan ada orang yang mampu menyayangi Rasya melebihi kasih sayangku padanya. Kamu tidak bisa pungkiri hal itu," ujar Dimas.


"Rasya akan sangat sedih, jika dia tumbuh tanpa seorang ayah, jika suatu hari nanti aku memiliki pengganti Bang Dimas, belum tentu dia bisa menyayangi putriku," gumam Fitri di dalam hati.


Fitri mulai bimbang, saat ini dia memikirkan kebahagiaan putrinya, gadis kecilnya yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.


Demi sang buah hati akhirnya Fitri memutuskan untuk memberi maaf pada sang suami.


"Baiklah, Bang. Aku akan ikut kembali denganmu," ujar Fitri.


"Terima kasih, Fit. Kamu masih memikirkan masa depan putri kita," ujar Dimas.


Tak berapa lama setelah mereka berbincang-bincang, Pak Rahim kembali ikut bergabung dengan putri dan menantunya.


"Bagaimana, Fit? Apa keputusanmu?" tanya Pak Rahim kepada putrinya.


"Mhm, aku akan ikut dengan Bang Dimas, Pak. Semoga setelah ini rumah tangga kami menjadi lebih baik," ujar Fitri.


Pak Rahim terdiam mendengar jawaban dari putrinya, dia tidak setuju dengan keputusan Fitri tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Fitri yang akan menjalani semuanya.


"Ya sudah, kalau begitu kamu coba hubungi kakakmu. Suruh dia datang ke sini," perintah Pak Rahim pada putrinya.


"Baiklah, Yah," ujar Fitri.


Setelah itu Fitri pun menghubungi ponsel sang kakak.


"Halo," ucap Dina saat panggilan sudah tersambung.


"Halo, kakak di mana?" tanya Fitri.


"Aku lagi di rumah, ada apa, Dek?" jawab Dina.


"Mhm, kak, ayah meminta kakak untuk datang ke sini," ujar Fitri.

__ADS_1


"Ada apa, Dek? Kenapa mendadak?" Dina merasa tidak tenang.


"Mhm, enggak apa-apa, Kak. Ayah mau ketemu kakak," jawab Fitri berbohong.


Fitri takut Dina tidak mau datang jika dia mengatakan Dimas sedang berada di rumah kedua orang tua mereka.


"Ya sudah, nanti setelah pulang Rania aku ke sana, ya," ujar Dina.


"Iya, Kak." Fitri mengangguk lalu memutuskan panggilan telpon dengan kakaknya.


"Ya sudah, Fit. Dimas pasti lelah, kamu suruh dia istirahat dulu," ujar Pak Rahim.


"Iya, Yah," sahut Fitri.


Pak Rahim berdiri lalu meninggalkan mereka.


"Kamu mau istirahat dulu, Bang?" tanya Fitri pada sang suami.


"Boleh, kita ke kampung naik bis besok pagi saja," ujar Dimas.


Bus menuju kampung Dimas hanya ada 2 trip, trip pertama pada pukul 07.00 pagi dan trip kedua pada pukul 18.00 sore.


Mereka tidak mungkin berangkat nanti sore, karena Fitri harus berpamitan dengan Dina dan Riyan.


"Ayo, Bang." Fitri mengajak sang suami masuk ke dalam kamar.


Seketika Fitri melupakan apa yang sudah dilakukan oleh suaminya terhadap dirinya.


Memaafkan itu lebih baik untuk masa depan yang lebih baik, begitulah tekad Fitri. Dengan mudah dia memaafkan Dimas demi kebahagiaan putri kesayangannya.


Di saat Fitri melewati ruang keluarga Fitri melihat Rasya yang sudah terlelap di atas sofa yang ada di ruang keluarga.


"Ya ampun, Nak. Kamu sudah tertidur di sini," lirih Fitri.


"Biarin aja dia istirahat, mungkin lelah menonton. Ayo kita masuk ke dalam kamar, aku sudah lelah," ujar Dimas.


Mereka pun melangkah menuju kamar Fitri, kamar yang biasa ditempati Fitri saat dia berada di rumah kedua orang tuanya.


Saat mereka masuk ke dalam kamar, Dimas tak bisa menahan diri untuk tidak melampiaskan hasratnya.


Rasa rindu akan tubuh istrinya membuat dia ingin menikmati tubuh sang istri di siang hari bolong ini.


"Bang," lirih Fitri malu.


"Aku merindukanmu, Fit," lirih Dimas.


Dengan tergesa-gesa, Dimas pun melakukan hal yang sudah lama tidak dilakukannya bersama sang istri.


Fitri yang sudah lama tidak disentuh oleh Dimas merasa senang dan bahagia dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Dia merasa yakin untuk tetap kembali membina rumah tangga dengan Dimas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2