Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 45


__ADS_3

Sementara itu di desa, Dimas baru saja pulang dari kebun, kali ini dia pulang lebih awal, sebelum ashar dia sudah berada di rumah.


“Assalamu’alaikum,” ucap Dimas saat dia sudah berada di ambang pintu.


Tak seorang pun yang menjawab salam dari Dimas. Akhirnya Dimas langsung melangkah menuju kamar, dia mengira Fitri dan Rasya tengah tidur di dalam kamar sehingga tidak mendengar salam yang diucapkannya.


“Fitri,” ujar Dimas sambil membuka pintu kamar.


Dimas kaget saat tidak mendapati sang istri berada di kamar, akhirnya Dimas pun mencari istrinya ke dapur.


“Fitri, kamu di mana?” tanya Dimas.


Dimas terus mencari-cari sosok istrinya di rumah kedua orang tuanya itu. Berkali-kali Dimas ke depan dan ke belakang mencari Fitri, akhirnya dia duduk di atas kursi ruang tamu.


“Fitri ke mana, ya?” gumam Dimas.


“Kenapa, Dim?” tanya Bu Fatimah yang juga sudah duduk di kursi ruang tamu.


“Fitri ke mana ya, Bu? Aku sudah cari dia ke mana-mana tapi tidak ketemu,” jawab Dimas.


“Main kali keluar,” ujar Bu Fatimah.


“Tapi aku kan sudah larang dia untuk keluar rumah, Bu,” ujar Dimas.


“Ya, mana tahu dia bosan di rumah seharian,” ujar Bu Fatimah.


“Lagian ini juga udah sore, Bu. Masa iya belum pulang juga,” ujar Dimas kesal.


“Ibu juga enggak tahu, kita kan sama-sama baru pulang, kalau mau tanya ya mending tanya bapakmu,” ujar Bu Fatimah.


“Istri ja**ngmu itu sudah pergi dengan selingkuhannya,” ujar Pak Arif yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Dia baru saja pulang dari warung, begitulah kesehariannya selalu duduk di warung menghabiskan waktu. Tidak ada sedikitpun dia teringat untuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan uang.


Dimas kaget mendengar ucapan ayahnya.


“Apa maksud, Bapak?” tanya Dimas tak percaya.


“Tadi pagi, seorang pria datang ke sini, lalu dia pergi bersama pria itu. Dia membawa barang-barangnya dengan koper,” ujar Pak Arif memberitahukan apa yang sudah dilakukan oleh menantunya pagi tadi.

__ADS_1


“Tidak mungkin,” teriak Dimas tidak percaya.


Dimas pun berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar untuk memeriksa barang-barang istri dan anaknya di dalam lemari.


Mata Dimas terbelalak saat melihat tak ada sehelai pun pakaian putri dan istrinya di dalam lemari itu.


“Fitri!” teriak Dimas tidak terima sang istri meninggalkan dirinya.


Bu Fatimah pun tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar.


“Ada apa, Dim?” tanya Bu Fatimah pada putranya.


“Lihat, Bu. Fitri tinggalin aku,”jawab Dimas.


Entah mengapa kali ini hati Dimas merasa kehilangan. Ada rasa takut menyelinap di dalam dirinya.


“Kamu sih, udah jelas Fitri di sini, masih juga main ke rumah janda itu,” ujar Bu Fatimah kesal dengan putranya yang lebih memilih janda itu dari pada istrinya.


“Bu, Susi juga istriku,” bantah Dimas membela diri.


“Iya, Istrimu. Dia bisa menjadi istrimu karena kalian sudah berbuat h*na,” ujar Bu Fatimah kesal.


Bu Fatimah pun pergi meninggalkan putranya. Dia merasa Dimas sekarang sudah menjadi pria yang bodoh gara-gara janda tanpa anak itu.


Dia hanya mengabaikan Fitri di saat dia berada di rumah Susi, selama dia bersama Fitri. Sang istri selalu memberikan perhatian yang penuh padanya.


****


Saat malam datang, Riyan datang ke rumah sang kakak karena Dina memberitahukan kedatangan Fitri pada adiknya itu.


Fitri langsung memeluk tubuh saudara laki-lakinya itu, mulai hari ini Riyan akan menjadi tempat dia berkeluh kesah karena ayahnya sudah tiada.


Fitri menangis di dalam pelukan abangnya.


“Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Aku akan mengurus perceraianmu dengan Dimas.” Riyan sudah tidak memiliki kesabaran lagi terhadap adik iparnya yang sudah berkali-kali menyakiti adik kandungnya.


“Maafkan aku, Bang. Seandainya aku mendengarkan apa yang kalian katakana, mungkin hal ini tak akan terjadi dalam hidupku.” Fitri semakin terisak.


“Jangan pikirkan lagi masalah itu, ini sudah takdir yang harus kita lewati, jadikan semua ini pembelajaran dalam hidup kita berikutnya,” nasehat Riyan pada adiknya.

__ADS_1


Riyan berharap Fitri dapat mengambil hikmah atas kehidupan yang telah dijalaninya selama ini.


“Dek,” lirih Dina.


“Iya, Kak.” Fitri menoleh ke arah adiknya


“Udah malam, kamu istirahatlah dulu. Kasihan Rasya, kayaknya dia kelelahan,” ujar Dina menyuruh Fitri untuk membawa putrinya tidur.


“Iya, Kak. Aku istirahat dulu ya, Bang,” ujar Fitri.


Fitri menuruti apa yang dikatakan oleh sang kakak. Kali ini dia sudah berniat akan menuruti apa saja yang dikatakan oleh Dina dan Riyan karena saat ini hanya Dina dan Riyan yang dimilikinya.


Fitri pun melangkah masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan Dina di rumahnya. Hari ini Dina meminta sang adik untuk tinggal bersama dia, Dina takut Dimas datang dan menyakiti Fitri jika membiarkan Fitri tinggal di rumah kedua orang tua mereka.


Fitri mengajak Rasya untuk membaringkan tubuh di atas tempat tidur, Fitri memeluk erat tubuh putrinya.


“Rasya, bunda minta maaf sama kamu,” lirih Fitri merasa bersalah pada putrinya.


Fitri sadar bahwa keputusan yang sudah diambilnya saat ini akan menyakiti Rasya, gadis kecil itu akan tumbuh dewasa tanpa kasih sayang dari seorang ayah.


Fitri mendekap erat tubuh mungil putri kecilnya.


“Bunda, jangan nangis. Rasya bahagia bisa hidup bersama Bunda, meskipun ayah tidak bersama kita. Rasya tidak ingin ayah menyakiti bunda terus,” ujar putri kecilnya memahami perasaan sang bunda.


Gadis kecil itu cukup mengerti dengan kondisi yang dihadapi oleh wanita yang sudah melahirkannya itu.


“Ya udah, kita tidur ya, Nak. Semoga setelah ini hari-hari kita akan menjadi lebih baik lagi,” lirih Fitri penuh harap.


Mereka pun mulai memejamkan mata, lalu mereka terlelap hanyut dalam mimpi indah. Mereka berharap kebahagiaan akan menghampiri mereka pada suatu hari nanti.


“Kak, Dimas tidak bisa dimaafkan.” Riyan mulai membuka pembicaraan dengan sang kakak.


“Iya, Dek. Kita harus urus perceraian mereka secepatnya. Mana tahu Fitri masih memiliki jodoh setelah itu,” ujar Dina penuh harap.


“Maksud kakak?” tanya Riyan.


Saat ini justru Riyan ingin Fitri menata hidupnya terlebih dahulu, mulai memikirkan jalan hidupnya ke depan agar tidak mudah diperalat oleh laki-laki.


“Dek, kakak perhatikan Reyhan masih menyimpan rasa pada Fitri. Kalau mereka ada jodoh, tidak masalah Fitri menikah dengan Reyhan agar ada seseorang yang akan menjaga dirinya,” ujar Dina menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.

__ADS_1


“Tapi, Kak,” Riyan masih saja membantah.


Bersambung…


__ADS_2