Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 46


__ADS_3

"Iya, iya. Kita serahkan saja sama Fitri. Toh, dia yang akan menjalani, itu tadi cuma pendapat aku aja," ujar Dina.


Akhirnya Dina mengalah, dia mengakhiri perdebatan dengan adiknya itu. Dina tahu betul bagaimana sifat Riyan yang tidak akan berhenti berdebat jika pendapatnya belum disetujui.


"Nah, biar aja Fitri yang menentukan jalan hidupnya sendiri. Aku pengen dia menatap hati dan menata hidupnya terlebih dahulu, tidak perlu tergesa-gesa dalam menentukan pilihan hidup." Riyan menyampaikan pendapatnya.


"Oh, iya. Aku dan Fitri akan ziarah ke makam bapak dan ibu. Apakah kamu mau ikut?" tanya Dina mengalihkan pembicaraan.


"Mhm, sepertinya aku tidak bisa ikut, Kak. Besok ada pertemuan dengan seluruh kepala bidang. Jadi, aku tidak bisa meninggalkan kantor," ujar Riyan.


"Ya udah, kalau begitu aku pergi sama Fitri saja," ujar Dina.


Dina dapat memahami kesibukan adiknya sekarang, sejak Riyan menjadi kepala Dinas kegiatannya semakin padat.


"Kak, udah malam. Aku pamit pulang, ya. Kasihan Linda nungguin aku," ujar Riyan berpamitan pada sang kakak.


Riyan berdiri dan melangkah keluar dari rumah diikuti oleh Lina yang mengantarkan hingga teras.


Riyan masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan kediaman sang kakak.


****


Satu minggu sudah berlalu.


Fitri tidak pernah lagi kembali ke kampung Dimas sejak kepergiannya. Dimas merasakan hidupnya hampa tanpa kehadiran sang istri di sampingnya.


Meskipun saat ini dia masih tetap menjalin hubungan dengan Susi, dia masih saja merasa hidupnya ada yang kurang.


Hari ini Dimas menghabiskan harinya di rumah tanpa pergi ke rumah istri sirinya.


Dimas duduk di sebuah kursi panjang yang terdapat di belakang rumahnya sambil menatapi ternak milik ibunya yang berkeliaran di halaman belakang rumah.


Tatapannya kosong entah apa yang kini menjadi beban pikirannya.


Dia mengingat perjuangan hidup yang sudah dijalaninya bersama Fitri selama 7 tahun terakhir.


"Fit, kenapa kamu pergi dengan cara seperti ini?" gumam Dimas di dalam hati.


Selama satu minggu Fitri berada di rumahnya waktu itu, dia merasakan perhatian yang lebih dari sang istri, meskipun Dimas tak menghiraukan keberadaan Fitri saat itu, bahkan dia lebih memilih untuk melayani istri sirinya yang haus belaian kasih sayang seorang pria.


"Apakah kamu marah padaku, sehingga kamu meninggalkan aku begitu saja?" gumam Dimas lagi tanpa sedikitpun dia merasa apa yang sudah dilakukannya telah menyakiti hati istrinya.

__ADS_1


"Dimas!" panggil Bu Fatimah.


"Dimas!" panggil Bu Fatimah lagi.


Bu Fatimah mulai kesal karena putranya sejak tadi dipanggil tidak menyahut sama sekali.


"Dimas!" bentak Bu Fatimah saat dia sudah berada di samping Dimas.


Dimas pun kaget saat mendengar bentakan dari wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Aduh, Bu. Kenapa bentak-bentak, sih?" ujar Dimas kesal.


"Makanya kalau dipanggil itu didengarkan, sejak tadi ibu panggil kamu tapi tidak menyahut sama sekali. Kamu ngapain di sini?" bentak Bu Fatimah lagi.


"Ih, ibu. Pagi-pagi udah marah-marah aja," keluh Dimas.


"Gimana ibu enggak marah, makanya kalau punya kuping itu digunakan," omel Bu Fatimah.


"Ada apa sih, Bu?" tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.


"Ayo, kita ke kebun. Udah satu minggu kita enggak ke kebun. Paling tidak ibu bisa mungutin pinang, kan lumayan uangnya bisa tambah beli lauk," ujar Bu Fatimah mengajak putranya untuk bekerja.


Sejak kepergian Fitri, Dimas tak memiliki semangat hidup, dia selalu uring-uringan. Kalau di rumah dia selalu melamun, sesekali dia pergi ke rumah Susi saat dia butuh menyalurkan hasratnya.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau mengantar ibu ke kebun, sana kamu melamun di rumah istri sirinya itu!" bentak Bu Fatimah kesal.


"Ibu mengusir aku?" tanya Dimas kesal.


"Iya, anak dan ayah sama saja, yang ada nyusahin aku!" keluh Bu Fatimah sudah tidak sanggup menanggung biaya hidup pria dewasa yang sanggup mencari uang tapi kerjanya hanya santai dan melamun saja.


"Benarkan ibu mengusir aku?" tanya Dimas lagi.


Dimas merasa kesal dengan sikap ibunya yang sudah mengata-ngatai dirinya.


Bahkan Dimas paling kesal kalau dia disamakan dengan ayahnya yang pemalas itu.


"Kalau kamu tidak mau bekerja seperti ayahmu lebih baik kamu pergi," ujar Bu Fatimah lalu di pun meninggalkan Dimas yang masih melamun di belakang rumah.


Akhirnya Bu Fatimah memilih untuk berangkat ke kebun seorang diri dengan berjalan kaki.


Wanita paruh baya itu merasa hidupnya semakin tersiksa setelah kepergian menantunya.

__ADS_1


"Ya Allah, apakah ini azab darimu atas perbuatan putraku yang sudah menyakiti seorang wanita yang tulus mencintainya?" lirih Bu Fatimah.


Bu Fatimah mengingat semua kebaikan Fitri terhadap keluarganya. Menantunya itu rela melakukan pekerjaan apapun agar mereka tetap dapat hidup.


Dimas berdiri dan melangkah keluar dari rumahnya setelah memastikan ibunya sudah pergi ke kebun.


Pria itu melangkah menuju warung istri sirinya.


Sesampai Dimas di warung milik sang istri siri, dia duduk di kursi paling pojok.


Di sana terlihat Susi sedang sibuk melayani pengunjung warung, meskipun nama baiknya sudah tercemar di kampung itu, Susi masih percaya diri untuk melakukan aktivitas rutinnya.


"Susi," panggil Dimas saat Susi sudah terlihat tidak sibuk.


Susi pun menoleh ke arah pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.


"Ada apa?" ujar Susi saat dia sudah berada di samping Dimas.


"Bikinkan aku kopi, dong," pinta Dimas pada istrinya.


"Kamu itu ya, cari duitnya malas, ini malah minta dibikinkan kopi segala," lirih Susi kesal, tapi Dimas masih sempat mendengar gerutuan sang istri.


Meskipun Susi kesal pada Dimas, Susi masih membuatkan secangkir kopi untuk sang suami.


"Ini," ujar Susi.


"Sayang, kamu kenapa, sih?" tanya Dimas heran melihat sikap Susi.


"Dim, kamu tahu kan kalau aku itu istri kamu, kamu harus bertanggung jawab atas kehidupanku," ujar Susi mengeluarkan uneg-unegnya.


"Iya, Susi. Aku tahu, tapi kamu sendiri kan tahu kalau aku sekarang cuma seorang pengangguran," ujar Dimas membela diri.


"Ya paling tidak kamu bantuin aku kerja di warung kalau kamu enggak ke kebun," ujar Susi lagi.


Susi merasa kesal pada Dimas karena Dimas selalu datang di saat dia membutuhkan tubuhnya untuk melampiaskan hasratnya.


"Ya udah, aku bantuin kamu kerja di sini," ujar Dimas patuh dengan ucapan istri sirinya itu.


Hari ini, Dimas pun melakukan apa yang diinginkan oleh sang istri. Dia tidak ingin Susi marah padanya hingga akhirnya dia tidak mendapatkan jatah ***-*** dari istri sirinya.


"Aduh, capek juga, ya," ujar Dimas duduk beristirahat.

__ADS_1


"Namanya juga kerja, ya pasti capeklah," ujar Susi menimpali ucapan sang suami.


Bersambung...


__ADS_2