Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 62


__ADS_3

Dimas merasa puas dengan apa yang baru saja dilakukannya terhadap sang istri, demi mendapatkan sensasi yang berbeda, Dimas mengikat tangan Fitri di sisi kepala tepat tidur, sehingga dia leluasa menikmati tubuh sang istri.


"Terima kasih, Sayang," lirih Dimas mencium puncak kepala sang istri dengan napas tersengal-sengal.


Fitri merasa dirinya benar-benar kotor setelah apa yang dilakukan oleh sang suami, meskipun hubungan yang baru saja mereka lakukan masih diperbolehkan dalam agama, dia tidak terima dipaksa untuk melayani hasrat bejat sang suami.


Ibu satu anak itu kini menangis, air matanya terus mengalir tanpa henti. Dia merasa sang suami telah menginjak-injak harga dirinya.


Perlahan Dimas melepaskan ikatan tangan Fitri. Dia membiarkan Fitri bebas dari kungkungannya.


Fitri berdiri dan meraih semua pakaiannya yang berserakan di lantai, dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat hina.dengan perlakuan sang suami.


Dimas membiarkan istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Dia benar-benar merasa puas dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap sang istri.


Dimas yakin dengan apa yang sudah dilakukannya, akan membuat Fitri membatalkan gugat cerai yang dimintanya.


Fitri merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Perbuatan sang suami sudah melebihi dari perbuatan seekor binatang, akal sehat Dimas benar-benar sudah tidak digunakannya lagi.


Sebagai seorang sarjana, dan berilmu dia tidak lagi memiliki perasaan. Semua ilmu yang didapatkan selama mengecam sebuah pendidikan sirna karena kebodohan dan hasratnya.


Semua ini terjadi karena dia tidak lagi pernah mengingat adanya Allah yang akan menuntun setiap hamba dalam melangkah.


Dimas telah terjerumus dalam limbah dosa yang dalam, sehingga Allah pun enggan memberi petunjuk padanya atas apa yang sudah dilakukannya.


Fitri menghidupkan shower kamar mandi, dia membiarkan guyuran air membasahi tubuhnya.


Dia menangis sejadi-jadinya, Fitri tak menyangka sang suami yang duku penuh kasih sayang padanya, kini berbuat bejat terhadap dirinya.


"Dosa apa yang sudah aku lakukan padamu, sehingga kamu menyakitiku seperti ini, Bang. Tak ada lagi cinta yang harus aku pertahankan bersamamu, aku terlalu kecewa dan terluka karena sikapmu, Bang," lirih Fitri.


Satu jam berlalu, Fitri mulai merasakan dingin. Akhirnya dia berdiri dan mulai membersihkan dirinya yang kotor.


Setelah selesai membersihkan diri, Fitri pun keluar dari kamar mandi. Dia mendapati Dimas tengah tertidur lelap di atas tempat tidur.


Pria itu masih dalam keadaan tanpa pakaian sehelai pun, tubuhnya dibalut dengan selimut.


Fitri bergegas mengenakan pakaiannya, dia melirik ke arah pintu kamar berharap kunci kamar itu tergantung di pintu, agar dia bisa melarikan diri dari penginapan itu.


"Di mana kunci kamar ini disembunyikan Bang Dimas?" gumam Fitri.


Dia berusaha mencari kunci kamar di saku baju dan celana milik Dimas yang kini berserakan di lantai.


Namun, usaha yang dilakukanya sia-sia. Fitri tidak dapat menemukan kunci kamar itu.

__ADS_1


Setelah usahanya tidak membuahkan hasil, Fitri langsung mengambil tasnya, dia mencari ponselnya.


Fitri langsung mengirimkan pesan pada Dina dan Riyan, dia juga mengirimkan lokasi keberadaannya saat ini pada kedua saudaranya itu.


Fitri juga tidak lupa memberitahukan keberadaannya pada Reyhan, berharap salah satu dari mereka dapat membantu Fitri keluar dari penginapan tersebut.


Sambil menunggu kabar dari Riyan dan Dina, Fitri masih saja berusaha mencari kunci tersebut.


Fitri mengangkat kasur secara perlahan, mana tahu Dimas menyembunyikan kuncinya di bawah tempat tidur.


Di saat seperti itu Dimas menarik tangan Fitri sehingga Fitri terjatuh ke dalam pelukan Dimas. Dia memeluk istrinya dengan erat.


Mata Fitri membulat, dia khawatir usahanya untuk kabur akan gagal.


"Sayang, apakah kamu lupa kebersamaan kita selama tujuh tahun ini?" bisik Dimas.


"Apakah kamu masih ingat kenangan indah yang kita lalui saat membesarkan Rasya?" bisik Dimas lagi.


Hati Fitri merasa sakit mendengar kata-kata sang suami karena selama ini hal itulah yang menjadi alasan Fitri untuk tetap bertahan hidup susah dengan Dimas, tapi pengkhianatan yang dilakukan Dimas menghapus semua rasa yang telah menghiasi hari-hari Fitri.


Fitri hanya diam, dia tidak membalas ucapan Dimas sedikitpun.


Tak berapa lama Dimas pun tak bersuara, perlahan Fitri membalikkan tubuhnya seiring Dimas sudah melonggarkan pelukannya.


Ada rasa kasihan yang terbesit di hati Fitri pada suaminya.


"Seandainya kamu tidak berbuat ini, Bang. Mungkin aku mencoba berpikir untuk memberi kesempatan padamu, tapi sekarang semuanya sudah terlambat, aku terlalu sakit dengan perlakuanmu," lirih Fitri kembali menitikkan air matanya.


Saat Fitri hendak bangun dari posisi berbaringnya, Fitri melihat kunci dibawah bantal yang digunakan oleh Dimas.


Sepertinya Dimas tertidur dengan lelap, entah karena energinya terkuras habis karena apa yang baru saja dilakukannya.


Fitri berusaha mengambil kunci itu pelan-pelan. Dia harus menggunakan kesempatan itu untuk kabur.


Akhirnya Fitri pun dapat keluar dari penginapan itu. Dia melangkah keluar dari kawasan penginapan.


Fitri langsung menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya.


"Fitri!" panggil Dimas.


Dimas yang baru saja terbangun heran karena Fitri tidak kunjung keluar dari kamar mandi.


"Fit!" panggil Dimas lagi.

__ADS_1


Dimas pun bangun dan berdiri, dia melangkah menuju kamar mandi dengan membalut tubuhnya dengan selimut.


"Fitri!" Dimas mengetuk pintu kamar mandi.


Berkali-kali tak ada jawaban, Dimas pun memegang handle pintu kamar mandi lalu membukanya.


Dimas kaget saat mengetahui pintu kamar mandi tidak terkunci. Dia langsung mendorong pintu kamar mandi dan mencari Fitri di dalamnya.


"Fitri!" teriak Dimas lagi.


Seketika Dimas tersadar, dia pun keluar dari kamar mandi. Dia langsung melihat pintu kamar.


Emosi Dimas memuncak saat melihat kunci kamar sudah tergantung di pintu.


"Sial, dia kabur," ujar Dimas kesal.


"Fitri! Kenapa kamu masih saja pergi dariku?" teriak Dimas meluapkan kekesalannya.


Dimas hendak mengejar Fitri pun akan sia-sia, ditambah saat ini dia masih belum mengenakan pakaiannya.


Dimas terduduk di atas kasur, dia mulai merenungi apa yang sudah menimpa hidupnya.


"Kamu benar-benar sudah tidak menginginkan diriku lagi," lirih Dimas.


Meskipun Dimas sudah melampiaskan amarahnya pada Fitri, tapi dia masih ingin hidup bersama kembali membina rumah tangga bersama istrinya itu.


Sedikitpun Dimas tidak menginginkan perceraian terjadi dalam rumah tangganya.


Fitri terus menghubungi Riyan dan Dina, tapi panggilannya tak juga tersambung.


Akhirnya Fitri memilih untuk langsung pergi ke rumah Riyan, dia berharap Riyan berada di rumah dan dia bisa selamat dari Dimas jika pria itu masih mengejar dirinya.


Fitri meminta sopir taksi untuk mengantarkan dirinya ke rumah Riyan.


Saat Fitri sampai di rumah Riyan, Fitri melihat rumah abangnya itu tertutup rapat.


"Sepertinya Bang Riyan belum pulang," lirih Fitri.


Fitri teringat, bahwa hari ini kakak iparnya pergi arisan dengan teman-temannya.


"Aku harus ke mana? Apa aku ke rumah kak Dina saja," gumam Fitri.


Di saat Fitri mau mencari taksi hendak ke rumah Dina, Dimas telah berdiri. di hadapannya.

__ADS_1


"Ba-bang Di-dimas," lirih Fitri ketakutan.


__ADS_2