Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 56


__ADS_3

Rasya kaget saat sadar tubuhnya telah berada di dalam gendongan seorang pria.


"Ayah!" pekik Rasya takut saat melihat ayah kandungnya kini tengah memeluknya.


Fitri kaget saat melihat Dimas berada di hadapannya dengan menggendong putri kecilnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Bang?" tanya Fitri berusaha memberanikan diri untuk menghadapi Dimas yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


Menurut perkiraan Fitri, Dimas tidak akan bisa datang menemui dirinya karena ekonominya yang sangat sulit saat ini.


Untuk datang ke desa Fitri, Dimas harus memiliki uang paling sedikit 500 ribu, menurut taksiran Fitri ekonomi Dimas saat ini pasti dalam keadaan kacau.


"Aku ingin bertemu kalian," jawab Dimas.


Dimas memeluk dengan erat putri kecilnya, ada rasa rindu yang terbesit di hatinya pada putri kecilnya.


Sebagai seorang ayah, dia sangat menyayangi putrinya. Dimas tahu apa pun yang terjadi di antara dirinya dan Fitri, Rasya akan tetap menjadi putrinya.


"Kamu sudah bertemu dengan kami, lepaskan Rasya!" pinta Fitri.


Fitri langsung mengambil putrinya dari gendongan sang suami.


"Tidak, Fit. Aku tidak akan melepaskan Rasya," bantah Dimas.


Dimas berusaha menghalangi Fitri yang berusaha merebut putrinya kembali.


"Jangan macam-macam, Bang. Jangan buat aku berteriak dan menuduhmu sebagai penculik anak!" ancam Fitri.


"Fit, aku ingin bicara denganmu," pinta Dimas memohon pada istrinya.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Bang," ujar Fitri dengan tegas.


Dari nada bicaranya, Fitri terlihat enggan untuk berbicara dengan suaminya.


"Fit, aku mohon beri aku waktu untuk berbicara," ujar Dimas memohon.


"Aku sudah katakan, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Sebentar lagi kita akan bercerai," ujar Fitri menegaskan bahwa 2 hari lagi sidang perceraian mereka akan diselenggarakan.


"Tidak, Fit. Aku tidak akan menghadiri sudah tersebut, aku tidak ingin bercerai denganmu," ujar Dimas masih tetap berusaha bertahan dengan istri sahnya itu.


"Tidak, Bang. Aku sudah tidak sanggup lagi hidup susah denganmu," ujar Fitri


Fitri sengaja berkata seperti itu agar Dimas sadar bahwa dirinya tidak pantas untuk diperjuangkan.


Dimas terdiam mendengar ucapan istrinya, dia tidak menyangka Fitri akan berkata seperti itu.

__ADS_1


"Sudah bermain kamu berkata seperti itu padaku, Fit. Apakah kamu tidak mengingat sedikit pun masa-masa bahagia bersamaku?" tanya Dimas mempertanyakan kesetiaan Fitri selama ini.


"Tidak, Bang. Aku tak lagi mengingat semua yang sudah kita lewati, karena kamu sudah menyakiti hatiku saat kamu melakukan perbuatan terlarang dengan janda itu!" ujar Fitri.


"Apa maksudmu?" tanya Dimas.


Dimas mengira Fitri masih belum tahu apa yang sudah dilakukannya dengan Susi.


"Tidak perlu kamu pertanyakan lagi hal ini, kamu sendiri lebih tahu jawabannya." Fitri menatap Dimas dengan tatapan penuh kebencian.


"Apakah kamu sudah tahu apa yang terjadi?" tanya Dimas lagi.


"Tidak usah berbelit-belit, Bang. Aku muak padamu," ujar Fitri.


Fitri berusaha menarik tangan Rasya, tapi Dimas masih berhasil mencegahnya.


"Bunda, aku mau sama Bunda." Rasya berteriak.


Gadis kecil itu berusaha meronta-ronta di dalam gendongan ayahnya.


"Ayah jahat! Aku enggak mau sama ayah!" teriak Rasya.


Dimas tidak bisa mengendalikan Rasya yang ada di dalam gendongannya, gadis kecil itu terus meronta-rantai hingga akhirnya dia terlepas dari gendongan sang ayah.


Hal ini membuat gadis kecil itu terjatuh ke tanah dan kepalanya terbentur batu yang ada di sana.


"Rasya!" pekik Fitri dan Dimas bersamaan.


Mereka panik melihat putri mereka terluka, sekejap Fitri langsung meraih tubuh gadis kecil itu dan hendak membawanya ke rumah sakit.


Saat dia sudah menaiki sepeda motornya, dia bingung bagaimana cara membawa putrinya ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini.


Dimas mengejar Fitri yang kini sudah berada di parkiran.


"Kamu pegang Rasya, aku yang akan membawa sepeda motornya," ujar Dimas.


Mau tidak mau Fitri pun membiarkan Dimas membawa sepeda motor agar mereka cepat sampai di rumah sakit.


Fitri sangat mencemaskan keadaan gadis kecilnya, dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada malaikat kecil yang selalu ada di sampingnya.


Dimas melajukan sepeda motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, bersyukur rumah sakit tidak jauh dari tempat mereka berada, sehingga mereka dapat sampai di rumah sakit dalam waktu yang singkat.


Sesampai di rumah sakit Dimas menghentikan sepeda motornya, sedangkan Fitri langsung turun dari sepeda motor dan berlari masuk ke dalam rumah sakit membiarkan Dimas yang masih memarkirkan sepeda motor tersebut.


"Dokter!" teriak Fitri saat dia sudah berada di dalam rumah sakit.

__ADS_1


Seorang perawat datang menghampiri mereka.


"Tolong putri saya, Suster," ujar Fitri memohon pada kedua perawat tersebut.


Sang perawat melihat darah yang mengucur dari kepala gadis kecil yang ada di dalam gendongan ibunya.


"Silakan baringkan putri ibu di sini," ujar salah satu perawat pada Fitri.


Fitri membaringkan putrinya di atas tempat tidur yang ditunjuk oleh sang perawat.


"Tunggu sebentar, dokter sudah berjalan ke sini," ujar salah satu perawat lagi.


Tak berapa lama seorang dokter masuk ke dalam ruangan tempat Rasya berada.


"Silakan Ibu tunggu dulu di luar, kami akan memeriksa Putri, Ibu," ujar sang perawat meminta Fitri keluar dari ruangan itu.


"Tapi, suster Dia putri saya, izinkan saya untuk menemaninya di dalam," Cinta Fitri memohon.


"Bunda! Bunda!" tangis Rasya terdengar dengan jelas di ruangan tersebut.


Gadis kecil itu takut berada di ruangan pemeriksaan itu seorang diri tanpa ibunya.


"Suster saya tidak tega membiarkan putri saya sendirian di dala ruangan itu," ujar Fitri memohon pada Suster agar mengizinkan dia berada di samping Sang Putri.


"Biarkan Ibu itu di sini," ujar sang dokter merasa kasihan kepada Rasya dan sang ibu.


Akhirnya sang dokter mengobati Rasya dengan ditemani oleh Fitri sebagai ibu dari gadis kecil itu.


Fitri merasa kasihan melihat dokter menjahit kepala putrinya.


"Putri ibu tidak apa-apa, kami memberi obat untuknya agar beristirahat dulu," ujar Dokter setelah menyelesaikan tugasnya.


Setelah itu, dokter dan perawat pun keluar dari ruangan tersebut.


Fitri menunggu Rasya yang kini terlelap di atas tempat tidur, dia duduk di sebuah kursi yang ada di samping tempat tidur Rasya.


Dia mengambil ponselnya lalu memberitahukan apa yang terjadi pada kedua saudaranya.


Fitri sengaja langsung menghubungi Ryan dan Dina agar kedua saudaranya itu dapat membantunya untuk menghindari Dimas yang kini juga berada di rumah sakit bersamanya.


"Bagaimana keadaan Rasya?" tanya Dimas pada Fitri saat dia sudah berada di dalam ruangan tersebut.


Dimas berinisiatif untuk langsung masuk ke dalam ruangan tersebut setelah melihat perawat dan dokter keluar dari ruangan tersebut.


Fitri menatap tajam ke arah Dimas, kebenciannya pada pria yang berstatus suaminya itu semakin bertambah.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2