Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 63


__ADS_3

"Kamu mau ke mana, Fitri?" tanya Dimas.


Entah bagaimana caranya Dimas bisa tahu keberadaan Fitri saat ini, di saat dia ingin kabur di saat itu dia tidak menemukan taksi atau ojek online.


"Bang, aku mohon tinggalkan aku, pergilah jauh-jauh dari kehidupanku," isak Fitri memohon pada Dimas.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Fit," ujar Dimas.


Dia berusaha menangkap Fitri yang terus saja berusaha menghindar dari Dimas.


"Sadarlah, Bang. Kamu sudah menyakitiku, aku tidak mungkin bisa kembali hidup sama kamu," ujar Fitri mengungkapkan rasa sakit yang sudah ditorehkan oleh sang suami.


Fitri terus melangkah menyusuri jalanan menghindari Dimas, dia takut suaminya itu terus saja mengejarnya, hingga akhirnya sebuah mobil berhenti di samping Fitri.


"Fit, ayo naik pria yang ada di dalam mobil itu.


Fitri bergegas masuk ke dalam mobil, akhirnya dia pun bisa kabur dari Dimas, beruntung Dimas masih jauh tertinggal di belakang.


"Sial, siapa yang bawa istriku kabur?" umpat Dimas kesal.


"Apa jangan-jangan itu Reyhan, mantan kekasihnya?" gumam Dimas menebak-nebak siapa yang sudah membawa Fitri jauh darinya.


"Syukur, kamu datang lebih awal. Aku tak menyangka rumah Bang Riyan tertutup, sepertinya dia masih sibuk, ya," ujar Fitri setelah dia berada di dalam mobil bersama Reyhan.


"Iya, aku ingat Bang Riyan ada kerjaan di kantornya, aku juga takut kamu ke rumah Kak Dina, karena Bang Riyan sempat cerita alasan dia membawa kamu ke rumahnya," ujar Reyhan.


"Rey," lirih Fitri saat dia teringat sesuatu.


"Mhm," gumam Reyhan.


"Rasya di mana?" tanya Fitri.


"Rasya dibawa kak Dina, mungkin ke rumahnya," jawab Reyhan.


"Kita langsung ke rumah kak Dina, ya," pinta Fitri pada Reyhan.


"Iya," lirih Reyhan.


Reyhan pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Dina.


Kini sang mantan kekasih itu mengantarkan Fitri ke rumah sang kakak untuk menjemput putrinya.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sang kakak. Di sana terlihat Rasya sedang duduk di teras rumah masih dalam keadaan murung.

__ADS_1


"Rasya," panggil Fitri saat dia sudah masuk ke pekarangan rumah Dina.


"Bunda!" teriak Rasya.


Gadis kecil itu langsung berlari mengejar bundanya, dia pun memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya.


Rasya mulai menangis di dalam pelukan sang Bunda.


"Bunda aku takut," lirih Rasya dalam tangisnya.


"Kamu tenang, ya. Bunda tidak apa-apa," ujar Fitri.


Tak berapa lama Riyan pun datang bersama istrinya.


Fitri sudah memberi tahu Riyan bahwa sedang di jalan menuju rumah Dina.


Setelah menyelesaikan segala urusannya di kantor, Riyan langsung menjemput sang istri di tempat arisan, setelah itu dia pun melajukan mobilnya menuju rumah sang kakak.


Riyan tidak ingin Fitri berada di rumah Dina dalam waktu yang lama, dia khawatir kakak iparnya akan berbuat yang macam-macam pada adiknya.


"Terima kasih, Rey. Maaf, kami sudah merepotkanmu," ujar Riyan saat mereka hendak berpisah.


Mereka pun kembali ke rumah Riyan, sesampai di rumah Rian Fitri langsung masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan untuknya.


Bayangan perbuatan Dimas padanya tadi siang kembali mengisi benaknya.


Dia menangis dalam balutan kepedihan luka yang ditorehkan oleh sang suami.


****


Di rumahnya, Bu Fatimah tampak melamun di teras belakang rumahnya, dia tengah memikirkan keberadaan putranya.


"Dimas, kamu ke mana, Nak? Apakah kamu yang mencuri gelang ibu?" lirih Bu Fatimah.


Wanita paruh baya itu merasa terpukul dengan hilangnya barang simpanannya yang sudah susah payah ditabungnya dengan hasil keringatnya selama ini.


Di saat dia membutuhkan gelang itu, justru hilang begitu saja bersamaan dengan perginya sang putra dari rumah.


Sudah berhari-hari Dimas tidak pulang ke rumah kedua orang tuanya, hal itu membuat Bu Fatimah yakin bahwa Dimas adalah orang yang sudah mengambil gelang emas miliknya itu.


"Di mana kamu sekarang, Dimas? Apakah kamu tidak teringat dengan ibumu yang sudah tua ini?" gumam Bu Fatimah.


Wanita paruh baya itu meratapi nasib yang sudah menimpanya, dalam kehidupannya yang susah, sang suami sibuk dengan kesenangan dirinya sendiri tidak peduli dengan kebutuhan mereka.

__ADS_1


Ditambah dengan sikap dan perilaku putranya yang sudah mencoreng nama baik keluarga, kini putranya itu tidak tahu di mana keberadaannya dengan membawa barang simpanannya.


Bu Fatimah mulai menangis, dia merasa tidak sanggup lagi untuk menjalani hidup seperti ini. Dia merasa sudah lelah menjalani hari-hari yang sulit bersama pria yang sama sekali tidak tahu dengan tanggung jawabnya.


Bu Fatimah tidak lagi memiliki semangat untuk menjalani hidup, dia mulai berputus asa dengan apa yang sudah ditakdirkan dalam hidupnya.


"Ya Allah, aku merasa semakin berat perjalanan hidup ini untuk aku tempuh." Buliran bening terus membasahi pipi yang berangsur keriput itu.


"Bu, kamu tidak masak?" tanya Pak Arif tiba-tiba datang menghampiri sang istri.


Bu Fatimah hanya diam, dia tidak menggubris ucapan sang suami sedikitpun.


Dia mengabaikan amarah pak Arif yang merasa lapar karena hari sudah siang.


"Kamu benar-benar istri yang tidak berguna, ya. Beberapa hari ini masak cuma sambel terasi dan ikan asin. Nah sekarang kamu malah tidak masak sama sekali," bentak Pak Arif kesal.


Bu Fatimah masih saja tida menanggapi apa yang dikatakan oleh sang suami, dia memilih untuk diam seribu bahasa dari pada bertengkar dengan sang suami yang tidak akan pernah menghasilkan apapun.


Hari ini Bu Fatimah sama sekali tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa, dia tidak berniat untuk memasak sama sekali bahkan dia enggan untuk memasak nasi.


Dia berpikir, tidak ada gunanya mengurusi orang yang tidak tahu diri. Lebih baik dia diam, dan mengabaikan pria tua Bangka yang tidak pernah sadar diri dengan umurnya.


Pria tua itu hanya tahu duduk di warung dan minum kopi di warung, pulang dari warung makan dan nonton TV, jika bosan di rumah dia kembali ke warung.


Begitulah yang dilakukanya hari demi hari tanpa berpikir mencari uang untuk kehidupan mereka.


"Hei, Fatimah!" bentak Pak Arif kesal melihat istrinya yang hanya diam.


Bu Fatimah menoleh ke arah sang suami dengan tatapan tajam.


"Kamu dengar tidak apa yang sudah aku katakan!" bentak Pak Arif.


Bu Fatmah masih diam, dia memalingkan wajahnya dari pak Arif.


Pak Arif semakin kesal dengan sikap sang istri yang sama sekali tidak memperdulikan dirinya.


"Fatimah!" bentak Pak Arif lagi.


Bu Fatimah masih saja diam, kali ini Bu Fatimah benar-benar sudah muak dengan kelakuan sang suami.


Saking kesalnya, Pak Arif pun mendorong tubuh Bu Fatimah hingga tersungkur ke tanah.


Tanpa di sadari Pak Arif kepala sang istri terbentur batu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2