Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 25


__ADS_3

Hati Fitri semakin hancur, sehingga dia hanya bisa diam mendengarkan cerita dari sang kakak.


“Besok, aku akan antar kamu ke makam ibu. Sudahlah, tidak ada yang harus kamu sesali. Saat ini perbanyaklah berdo’a untuk ibu karena hanya itu yang kini dibutuhkan oleh ibu,” ujar Dina menasehati adiknya.


Fitri masih bergeming di tempatnya. Pikirannya jauh melayang memikirkan jalan hidupnya saat ini.


“Apakah aku harus tinggal di sini menemani ayah? Apakah aku harus jujur pada mereka tentang apa yang tengah aku alami?” gumam Fitri di dalam hati.


“Dek, tenangkanlah pikiranmu. Pergilah beristirahat,” ujar Dina lagi.


Dina berusaha untuk membujuk adiknya untuk tidak larut dalam kesedihan.


“Ya sudah, kakak ke dalam dulu, jangan melamun terus ya, Dek,” bujuk Dina.


Dina berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah, dia kembali melakukan pekerjaannya yang tadi sempat terbengkalai.


Tak berapa lama Dina meninggalkannya, Fitri pun melangkah masuk ke dalam rumah, dia masuk ke dalam kamar yang biasa ditempatinya saat tinggal di rumah kedua orang tuanya.


Ibu satu anak itu mulai membaringkan tubuhnya, dia menatap langit-langit kamar sambil terus menerawak memikirkan langkah yang harus diambilnya setelah ini, dia memejamkan mata hingga akhirnya dia pun tertidur karena lelah hati dan jiwa.


Sementara itu, Dimas mendapat kabar bahwa istrinya sudah tidak lagi berada di desanya, Dimas marah besar dengan apa yang dilakukan Fitri.


“Istri si*lan!” umpat Dimas kesal.


“Ada apa, Dim?” tanya Fatimah heran melihat putranya tengah marah-marah di ruang tamu, dia baru saja pulang dari warung.


“Fitri, Bu. Dia berani-beraninya pergi dari desa ini tanpa izin padaku!” jawab Dimas dengan nada penuh amarah.


Fatimah menghela napas mendengar keluhan sang Putra.


“Kamu tahu dari mana kalau Fitri pergi dari desa ini?” tanya Fatimah tak percaya.


Fatimah memang belum dapat kabar apa-apa tentang kepergian Fitri dari desa karena dia sejak pagi sibuk dengan pekerjaannya di rumah, dia sama sekali belum ada keluar dari rumahnya.


“Semua orang di kampung ini sudah tahu, Bu.” Dimas kesal karena dia merasa tidak dihargai oleh sang istri.


“Fitri pergi pasti ada alasannya, mana tahu sikapmu yang tidak pernah pulang ke rumah menjadi alasan dia untuk pergi. Ibu sudah berkali-kali bilang ke kamu untuk menyelesaikan masalah kalian dengan kepala dingin, tapi kamu justru menghindar dari permasalahan itu,” ujar Fatimah pada putranya.

__ADS_1


“Bu, dia sudah melakukan tindakan yang tidak senonoh, maka dari itu aku enggan untuk bertemu dengannya,” jawab dimas sengaja berkilah.


“Jika memang kamu enggan untuk bertemu dengannya, kamu bisa bersyukur dengan kepergiannya,” ujar Fatimah menasehati putranya.


“Tapi, Bu,--“ Dimas menggantung ucapannya.


Dia tidak mungkin mengungkapkan niatnya untuk membalas dendam sakit hatinya pada sang ibu. Semua rasa yang ada di hatinya tinggal kebencian.


“Biarkan dia pergi dari pada dia tersiksa hati dan pikiran di sini,” ujar Fatimah.


Fatimah saat ini bingung harus membela siapa, dia tidak tahu harus membela Fitri atau putranya kakarena dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Dia ragu dengan pernyataan suami dan putranya tentang tingkah laku Fitri, tapi dia enggan untuk bertanya langsung pada menantunya itu.


“Jika kamu ingin memperbaiki rumah tanggamu, cari tahulah di mana keberadaannya saat ini,” ujar Fatimah memberi saran kepada putranya.


Dimas mengusap wajahnya kasar, dia mengepal tangannya berusaha menahan amarah yang ada di hatinya.


Seketika dia teringat pada Yanto.


“Apakah Yanto mengetahui kepergian Fitri?” gumam Dimas di dalam hati.


Dimas pun melangkah keluar dari rumah, dia langsung mengendarai sepeda motor butut miliknya. Dia mencari Yanto ke rumahnya, bersyukur dia mendapati Yanto tengah duduk di teras rumahnya dengan istrinya.


Dimas memarkirkan sepeda motornya tepat di depan rumah sahabatnya itu.


Yanto dan Sinta saling melempar pandangan melihat kedatangan Dimas.


“Hai, Dim. Tumben kamu ke sini?” tanya Yanto heran.


Tidak biasanya Dimas mencari dirinya hingga sampai ke rumah, biasanya jika dia perlu dengan Yanto, Dimas akan menunggu sahabatnya di warung.


“Ada yang ingin aku tanyakan,” jawab Dimas.


“Silakan duduk, Bang,” ujar Sinta.


“Terima kasih, Sin,” ucap Dimas.


Sinta berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah, dia memberi ruang pada Dimas untuk berbicara dengan sang suami.

__ADS_1


“Ada apa, Dim?” tanya Yanto lagi.


“Yan, apa kamu tahu di mana Fitri?” tanya Dimas pada Yanto.


“Mhm, saat dia sudah pergi kamu baru kalang kabut mencarinya, saat dia ada di sini kamu ke mana saja?” tanya Yanto sinis pada sahabatnya.


Yanto merasa kesal dengan sikap Dimas terhadap istrinya selama ini. Terlebih Sinta sering menceritakan penderitaan hidup yang diberikan Dimas pada sang istri.


“Bukan gitu, Yan. Sebagai seorang istri dia harus pamit padaku saat meninggalkan rumah,” ujar Dimas egois.


Yanto menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan sahabatnya. Kini Yanto semakin kesal pada Dimas.


Awalnya Yanto akan memberitahukan keberadaan Fitri, tapi niatnya itu diurungkannya.


“Astaghfirullah, Dim. Kamu sadar tidak? Perbuatanmu pada Fitri benar-benar sudah kelewatan. Apakah dia masih memiliki kewajiban untuk minta izin padamu?” tanya Yanto.


Yanto tidak habis pikir atas perubahan sahabatnya saat ini, dia tak menyangka semakin hari sikap dan sifat Dimas benar-benar semakin berubah.


“Yan, kamu tahu enggak di mana Fitri sekarang?” tanya Dimas lagi mendesak sahabatnya.


“Kenapa baru cari Fitri sekarang, Bang? Kenapa Bang Dimas mencari Fitri di saat dia sudah di usir secara halus oleh bu Santi?” Sinta mendengar percakapan Dimas dan sang suami, dia merasa geram pada Dimas, akhirnya dia memilih keluar ikut menimpali ucapan Dimas yang terkesan sangat egois.


“Di usir? Apa maksudmu, Sin?” tanya Dimas.


“Iya, Bu Santi menaikkan biaya rumah kontrakkan dua kali lipat dari sebelumnya, di samping dia sama seklai tidak diberi nafkah oleh suaminya, dia mendapat beban baru sehingga dia memilih untuk pergi menjauh dari kehidupanmu,” ujar Sinta semakin emosi.


Yanto memegang tangan istrinya untuk tidak terbawa emosi.


“Tapi dia tidak pernah memberitahuku,” ujar Dimas membela diri.


“Bagaimana dia akan memberitahu kamu Bang, kamu saja tidak pernah pulang, kalau ada maslah itu dihadapi bukan kabur ke pangkuan kedua orang tuamu, Bang. Itu sama saja laki-laki pengecut dan tidak bertanggung jawab,” ujar Sinta tidak tahan melihat sikap suami sahabatnya.


Sinta meluapkan semua kekesalan yang ada di hatinya, dia terus memaki-maki Dimas menyampaikan rasa sakit yang sudah ditorehkannya di hati Fitri, sahabatnya.


“Sinta, sudahlah.” Yanto berusaha menenangkan istrinya yang sudah tersulut emosi.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2