
Pak Arif kaget saat sang istri tak bergerak lagi, dia mendekati tubuh sang istri yang tergeletak di tanah. Dia membalikkan tubuh wanita tua itu.
Pak Arif melihat kepala sang istri terdapat lebam bekas benturan ke batu.
Seketika pria itu takut.
"Bu, bangun. Bangun, Bu," ujar pak Arif panik.
"Bu," teriak pak Arif.
"Tolong!" teriak pak Arif.
Akhirnya Pak Arif meminta tolong, dia berharap ada tetangga yang mendengar teriakannya.
"Tolong! Tolong!" teriak pak Arif lagi.
Pak Arif mengangkat tubuh sang istri dan meletakkan kepala Bu Fatimah di atas pahanya.
Tak beberapa lama dua orang tetangga Pak Arif masuk ke dalam rumah.
"Ada apa, Pak?" tanya Pak Udin yang langsung masuk ke dalam rumah Pak Arif.
Pak Udin dan Pak Slamet kaget melihat Bu Fatima yang sedang tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Pak Slamet.
"Mhm, itu tadi Ibu jatuh ke tanah, setelah itu dia enggak sadarkan diri," jawab Pak Arif berbohong.
Pak Arif tidak mungkin mengungkap apa sebenarnya yang terjadi, bisa-bisa dia akan dituduh membunuh dan akan masuk penjara.
Pak Udin mendekati Bu Fatimah, dia mencoba mengecek denyut nadi Bu Fatimah.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap Pak Udin.
"Apa yang terjadi, Pak Udin?" tanya Pak Arif bingung.
"Bu Fatimah sudah meninggal, Pak," lirih Pak Udin hati-hati.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ujar orang-orang yang sudah mulai ramai di rumah pak Arif.
Pak Udin dan Pak Slamet membantu Pak Arif mengangkat tubuh sang istri ke dalam rumah.
Beberapa orang di sana pun mengeluarkan sebuh kasur dan merapikan kasur tersebut, mereka mengalasi kasur tersebut dengan kain panjang.
__ADS_1
Setelah itu mereka membaringkan tubuh Bu Fatimah di atas kasur itu.
Pak Arif terduduk terdiam melihat jasad istrinya yang sudah tak bernyawa.
"Aku pembunuh, aku sudah membunuh istriku," gumam Pak Arif di dalam hati.
"Dimas di mana, Pak?" tanya pak Udin pada Pak Arif.
"Dimas, saya tidak tahu Dimas ke mana sudah satu Minggu dia tidak pulang," jawab Pak Udin.
"Apa ada nomor hp yang bisa kita hubungi?" tanya Pak Udin pada Pak Arif.
Pak Arif menggelengkan kepalanya, selama ini dia tidak pernah mengerti dengan urusan telpon menelpon.
"Lalu bagaimana, Pak. Apa kita selenggarakan jenazah Bu Fatimah tanpa kehadiran Dimas?" tanya Pak Udin.
"Saya tidak tahu," lirihnya.
Pak Udin merasa terpukul dengan kepergian Bu Fatimah, apalagi kematian istrinya akibat tangannya sendiri. Jiwanya masih terguncang dengan apa yang baru saja terjadi.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, hiks." Pak Udin pun mulai menangis.
Warga desa mulai banyak datang ke rumah itu, setelah salah satu warga mengumumkan berita meninggalnya Bu Fatimah di mesjid.
"Ya Allah, kasihan Bu Fatimah, ya. Sepertinya dia tertekan hidup bersama suaminya, ditambah pula anaknya tidak tahu diri," lirih Bu Yuyun berbicara dengan temannya yang kini sedang melangkah menuju rumah Pak Arif.
"Eh, dengar-dengar Bu Fatimah mau beli sawah Bu Santi, tapi tidak jadi karena gelang emasnya hilang," ujar teman Bu Yuyun.
"Iya, kabarnya gelang as itu dibawa kabur sama Dimas, sampai sekarang saja Dimas belum pulang ke kampung ini. Entah ke mana anak itu," timpal ibu lainnya.
"Heran deh sama si Dimas, istri cantik baik hati dan setia malah diselingkuhi sama janda tak tahu diri itu," ujar Bu Yuyun kesal.
Sedikit banyak Bu Yuyun tahu masalah rumah tangga Dimas dan Fitri, karena dia berkali-kali melihat Dimas bertengkar dengan Sinta, karena Bu Yuyun tetangga Sinta.
Tak berapa la mereka pun sampai di rumah Pak Arif, di rumah itu sudah ramai berdatangan para penduduk yang datang melayat.
"Yanto, coba kamu telpon Dimas, mana tahu dia bisa datang lebih awal," ujar Pak Udin pada Yanto yang baru saja datang.
Di kampung itu Yanto memang dikenal sebagai sahabat Dimas, jadi pada Yanto Pak Udin berharap dapat memberitahukan berita meninggalnya sang ibu.
"Baiklah, Pak," ujar Yanto.
Yanto pin mengambil ponselnya, lalu dia pun menghubungi Dimas.
__ADS_1
Berkali-kali Yanto mencoba menghubungi sahabatnya itu tapi tak satupun panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Tidak masuk, Pak. Nomor ponselnya tidak aktif," ujar Yanto pada Pak Udin setelah mencoba menghubungi sahabatnya.
"Mhm, ya sudah. Mungkin hari ini belum bisa untuk menyelenggarakan jenazahnya. Terus hubungi dia ya, Yan. Mana tahu nanti masuk, kita selenggarakan jenazah ini besok pagi," ujar Pak Arif mengambil keputusan.
Para kerabat pun setuju dengan apa yang diputuskan oleh Pak Arif.
****
Satu Minggu Dimas berada di desa Fitri, hari ini sidang putusan perceraian Dimas dan Fitri.
Dimas tidak mau menghadiri persidangan tersebut, dia sudah tahu keputusan hakim. Dia yakin hakim akan mengabulkan permintaan perceraian dari istrinya.
Dimas saat ini mulai hidup Luntang Lantung di desa Fitri. Persediaan uang yang ada di tangannya mulai habis, biaya hidupnya mulai dari penginapan dan makan selama di sana sudah menghabiskan banyak uang.
Kini uang di tangannya hanya bersisa untuk ongkos pulang ke kampung.
Semua usaha yang dilakukannya sia-sia, tak ada hasil sama sekali, yang didapat hanya menyakiti Fitri semakin dalam.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" lirih Dimas yang kini duduk di pinggir tempat duduk.
Dia kini tengah memikirkan apa yang harus dilakukannya saat ini. Sejak kejadian itu dia sama sekali tidak bisa bertemu dengan Fitri dan Rasya.
Riyan dan Dina menjaga adiknya dengan ketat sehingga dia tidak pernah mendapatkan peluang untuk bertemu dengan Fitri.
"Apakah aku harus melepaskan Fitri, dan membiarkan dia hidup dengan pilihannya saat ini?" lirih Dimas lagi.
Hati Dimas benar-benar hancur dan sakit dengan hidup yang kini dihadapinya.
Dimas melihat jam yang ada di dinding, jam sudah menunjukkan ke angka 10 pagi, hari ini dia belum melakukan apa-apa.
Akhirnya Dimas pun memutuskan untuk pergi dari desa Fitri, kali ini sebelum pulang ke desanya, Dimas memutuskan untuk bertemu dengan Fitri meskipun untuk terakhir kalinya.
Dimas akan pergi ke pengadilan tapi dia tidak akan masuk ke dalam pengadilan itu.
Dia akan menunggu persidangan selesai di luar pengadilan.
Dia pun bersiap-siap, sekaligus keluar dari penginapan tersebut.
Dimas akan pulang dan akan meninggalkan Fitri hidup bahagia tanpa dirinya.
Tak ada lagi yang bisa diperjuangkannya, lebih baik melepaskan wanita yang sudah tidak ingin lagi menjadi istrinya.
__ADS_1
Bersambung...