
"Mau ke mana kamu?" tanya Pak Arif setelah dia berada di depan Fitri.
"Itu bukan urusanmu, Pak," jawab Fitri berusaha untuk berani.
"Kamu tidak boleh pergi." Pak Arif menghalangi Fitri untuk pergi.
"Tak ada alasan aku untuk menuruti perintah kamu, Pak." Kali ini Fitri mencoba membantah.
Entah mendapat keberanian dari mana, Fitri melawan perkataan ayah mertuanya.
Pak Arif kaget melihat sikap Fitri, tak biasanya menantunya itu membantah dirinya.
Pak Arif emosi melihat Fitri yang membantah. Pria paruh baya itu menarik tangan Fitri dan maksa Fitri untuk masuk ke dalam rumah.
Reyhan tidak tinggal diam, dia keluar dari mobil, lalu mendekati Fitri.
"Hei, pria tua!" ujar Reyhan kesal.
Reyhan tidak terima melihat wanita yang dicintainya disakiti tepat di hadapannya.
Pak Arif menghentikan langkahnya, dia masih mencengkram erat tangan sang menantu.
Fitri meringis menahan rasa sakit akibat cengkraman pak Arif yang begitu kuat.
"Lepaskan dia!" bentak Reyhan penuh amarah.
Sorotan mata Reyhan memancarkan amarah yang begitu besar pada Pak Arif yang telah menyakiti Fitri.
Pak Arif sempat kaget mendapat bentakan dari pria yang sama sekali tidak pernah ditemuinya, tapi pria paruh baya itu tetap berusaha menyimpan rasa takutnya.
"Siapa kau? Berani sekali membentakku?" bentak Pa Arif dengan suara yang bergetar.
"Kamu tidak perlu siapa aku, yang jelas aku ingin melindungi Fitri dari perbuatan dzholim kalian terhadap dia," ujar Reyhan tegas.
Dengan susah payah Fitrie melepaskan diri dari cengkeraman pria paruh baya itu.
Fitri menghindar dan bersembunyi di belakang Reyhan.
"Berani kau menyakitinya lagi, aku akan menghubungi polisi," ancam Reyhan.
Akhirnya pak Arif mengalah, dia tak lagi berusaha untuk menahan Fitri.
Saat ini dia tidak tahu pria asing itu akan membawa menantunya pergi ke mana, dia akan memberitahukan putranya setelah Dimas datang dari kebun nanti.
Reyhan menuntun Fitri masuk ke dalam mobil, lalu dia pun masuk ke dalam mobil setelah memastikan Fitri dan Rasya aman.
Setelah itu, Reyhan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman kedua orang tua Dimas.
Beberapa warga sempat melihat kejadian itu.
"Eh, Fitri pergi dengan siapa itu?" tanya ibu-ibu A.
__ADS_1
"Enggak tahu tuh, mana tahu selingkuhan Fitri yang dibilang Dimas waktu itu," ujar Ibu-ibu B menanggapi ucapan temannya.
"Wajar aja, Fitri memilih hidup dengan pria itu, lebih kaya," ujar Ibu-ibu A menimpali.
"Iya juga, sih. Lha si Dimas udah kere, kelakuannya enggak benar pula," ujar si Ibu B.
Mereka berdua pun asyik menggosipkan Dimas dan Fitri setelah mobil Reyhan tak lagi terlihat.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa terlepas dari keluarga Dimas," ucap Fitri setelah mobil Reyhan melewati batas desa tempat tinggal kedua orang tua Dimas.
Reyhan tersenyum lega melihat wajah Fitri yang tadi sempat tegang kini dia sudah mulai tersenyum.
Fitri mendekap erat tubuh Putri kecilnya dengan erat.
"Terima kasih, Ya Allah," gumam Fitri di dalam hati.
"Semoga dengan ini kami bisa hidup lebih baik," ujar Reyhan.
"Iya, Rey. Aku akan memulai hidupku yang baru tanpa adanya Dimas dalam kehidupanku," ujar Fitri.
"Apakah kamu akan bercerai darinya?" tanya Reyhan pada Fitri.
Fitri menoleh ke arah pemuda tampan yang kini masih fokus mengemudikan mobilnya.
"Mhm, entahlah. Seharusnya itu aku lakukan agar dia tidak berhak lagi mengekangku," jawab Fitri jujur.
"Jika kamu perlu bantuan, aku akan selalu ada membantumu," ujar Reyhan menawarkan diri untuk membantu wanita yang masih dicintainya itu.
"Terima kasih ya, Rey. Aku sudah merepotkanmu," ujar Fitri.
Fitri dapat melihat dengan jelas, bahwa pria yang bersama dirinya saat ini masih menyimpan rasa terhadap dirinya, hampir sama dengan dirinya yang juga menyimpan kenangan indah cinta masa lalunya.
"Maafkan aku ya, Rey," lirih Fitri merasa bersalah telah meninggalkan Reyhan beberapa tahun yang lalu dan menikah dengan Dimas.
"Kamu tidak salah, Fit." Reyhan menghentikan mobilnya di sebuah restoran.
Dia merasa sangat lapar karena sejak tadi belum sempat makan.
"Kita makan dulu, ya," ujar Reyhan.
Fitri mengangguk mengiyakan, mereka pun keluar dari mobil.
Rasya menggandeng tangan Fitri, saat Reyhan sudah berjalan sejajar, Rasya meraih tangan Reyhan lalu menggandeng tangan pria yang sudah membuat dia nyaman, jauh berbeda dengan ayah kandungnya.
Fitri dan Reyhan saling melempar pandangan. Jantung mereka berdegup kencang, ada rasa yang sama dengan masa lalu yang pernah mereka lewati.
"Kamu mau makan apa?" tanya Reyhan pada Fitri.
"Mhm, makan apa, ya?" lirih Fitri bingung.
Mata Fitri tertuju pada menu yang tertera di dinding restoran tersebut.
__ADS_1
"Aku nasi soto aja," jawab Fitri.
"Rasya mau makan apa?" tanya Reyhan pada gadis kecil itu.
"Mhm," gumam Rasya bingung.
"Rasya berdua denganku saja, takutnya malah enggak habis sama dia, mubazir," jawab Fitri.
"Oh, ya udah." Reyhan melambaikan tangannya memanggil pelayan.
Si pelayan langsung menghampiri mereka setelah melihat lambaian tangan Reyhan.
"Iya, Bang. Mau pesan apa?" tanya si pelayan.
"Nasi soto 2, ya," jawab Reyhan.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Bang," sahut si pelayan.
Tiba-tiba Reyhan dan Fitri merasa canggung, mereka kembali mengingat kenangan yang telah menghiasi hidup mereka.
Tak menunggu lama, makanan yang dipesan pun datang.
Mereka menyantap nasi soto tersebut dengan lahap, Reyhan sudah biasa berhenti di restoran ini, makanan di restoran tersebut selalu mengisi perut Reyhan saat melakukan perjalan menuju desanya.
Fitri makan soto yang ada di depannya sambil menyuapi Rasya.
"Bunda, aku udah kenyang. Aku mau es krim," ujar Rasya sambil menunjuk kulkas es krim yang ada di samping kasir.
"Mhm, habisin dulu nasi sotonya," ujar Fitri.
"Aku mau es krim," rengek Rasya lagi.
Reyhan melihat Fitri yang terus berusaha membujuk putrinya.
Reyhan baru saja selesai makan nasi soto di piringnya.
"Rasya mau es krim, ayo sama om," ajak Reyhan sambil berdiri.
"Tapi,--"
Reyhan mengabaikan ucapan Fitri dia meraih tangan gadis kecil itu lalu membawanya melangkah menuju kulkas yang berisi berbagai macam es krim.
Mau tak mau Fitri terpaksa membiarkan Rasya pergi melangkah beriringan dengan pria baik hati itu.
"Terima kasih, Om," ucap Rasya sambil menarik kemeja Reyhan agar menunduk.
Rasya mendaratkan sebuah ciuman di pipi pria yang hampir seumuran dengan ayah kandungnya.
Setelah mereka makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju desa mereka.
Fitri merasa cemas seketika, dia takut hal ini bisa menjadikan penyakit bagi ayahnya.
__ADS_1
Dia memegangi dadanya, mencoba menghirup napas perlahan sebelum dia turun dari mobil Reyhan yang kini sudah terparkir di depan rumah orang tua Fitri.
Bersambung...