Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 38


__ADS_3

Dimas kaget saat istrinya bertanya tentang keberadaan tadi malam.


"Mhm, a-aku ke-ketiduran di warung," jawab Dimas berusaha berbohong.


"Ketiduran di warung sampai pagi gini, Bang. Apa yang punya warung enggak bangunkan Abang shalat subuh?" tanya Fitri curiga.


"Mhm, ada. Tapi, setelah shalat subuh aku ketemu Anton, dia ngajakin kerja eh setelah itu aku malah asyik ngobrol dengan dia," jawab Dimas terus mencari alasan agar Fitri tidak curiga pada dirinya.


"Kamu yakin tidak bohong, Bang?" tanya Fitri mengintimidasi.


Fitri melihat dengan jelas di leher Dimas terdapat bekas kemerahan.


"Lalu ini apa, Bang?" tanya Fitri curiga.


Fitri menunjuk ke arah leher Dimas yang memerah itu.


"Hah? Apanya yang merah?" tanya Dimas balik.


Pria itu terlihat gugup dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang istri.


"Ini lho, Bang!" ujar Fitri penuh penekanan.


Fitri menarik tangan Dimas lalu dia menyuruh Dimas untuk bercermin.


"Ya ampun, ini pasti aksi buas si Susi tadi malam. Mantan janda itu benar-benar menakjubkan," gumam Dimas di dalam hati sambil tersenyum geli membayangkan tubuh sexy dan aduhai sang istri siri.


"Kamu kenapa malah senyum-senyum gitu sih, Bang?" Fitri semakin heran dengan tingkah suaminya.


"Eh, eng-enggak apa-apa, sepertinya ini digigit nyamuk." Dimas berusaha memberi alasan yang masuk akal pada istrinya.


"Kamu enggak bohong 'kan, Bang?" tanya Fitri.


"Ya enggaklah, kamu kok malah jadi cerewet gini setelah pulang dari rumah kedua orang tuamu?" tanya Dimas pada istrinya agar Fitri tidak lagi mencurigai dirinya.


"Mhm," gumam Fitri.


Meskipun Fitri tengah curiga pada sang suami, tapi dia kini berusaha pura-pura tidak tahu apa-apa.


Fitri pun kembali mengambil ponselnya lalu dia melanjutkan pekerjaannya menulis novel di aplikasi online.


Dimas pun keluar dari kamar, lalu dia melangkah menuju dapur.


Dia langsung mencari nasi untuk di makan, karena istri sirinya tidak memasak di rumahnya.


Sang istri siri hanya butuh tubuh Dimas untuk memuaskan na**unya yang terpendam selama bertahun-tahun tidak disentuh oleh seorang pria.

__ADS_1


Melihat Dimas melangkah keluar kamar, Fitri pun mengikuti langkah sang suami.


"Kamu mau ngapain, Bang?" tanya Fitri.


"Aku mau makan, lapar," jawab Dimas.


Fitri pun melayani sang suami yang sudah kelaparan, semalaman dia harus menguras tenaga melayani macan buas yang kelaparan hingga akhirnya tubuh Dimas butuh energi.


"Dimas, nanti antarkan ibu ke kebun, ya," pinta Bu Fatimah yang baru saja masuk dari pintu belakang.


Bu Fatimah baru saja memberi makan hewan ternak miliknya yang dipeliharanya di belakang rumah.


"Oh, ya udah, Bu. Jam berapa?" tanya Dimas


Kalau bisa sesudah kamu makan," jawab Bu Fatimah yang ingin cepat-cepat berangkat ke kebun karena siang semakin tinggi.


"Baiklah, Bu," sahut Dimas.


Setelah itu, Dimas menikmati makanan yang ada di piringnya, Fitri menemani Dimas makan masih sambil menulis di ponselnya.


Mereka tak banyak bicara, Fitri pun membersihkan bekas makan sang suami setelah Dimas menenggak segelas air putih sebagai penutup kegiatan makan paginya.


Dimas masih duduk di tempatnya sambil menunggu makanan yang baru saja dimakannya turun sempurna ke dalam perutnya.


Setelah siap, Bu Fatimah menunggu putranya di teras rumah.


"Yes, itu artinya aku bisa pergi ke rumah kak Sinta nanti setelah mereka pergi," gumam Fitri di dalam hati.


Fitri memang berniat mencari kesempatan untuk pergi ke rumah Sinta supaya dia bisa mengambil barang-barang yang dibutuhkannya.


Terlebih saat ini dia sangat membutuhkan sepeda motornya agar dia bisa melakukan suatu pekerjaan yang menghasilkan.


"Aku akan ke kebun sama ibu, kamu tetap di rumah, ya," pesan Dimas pada Fitri.


Dimas takut Fitri pergi keluar rumah, dan dia mendengar apa yang sudah terjadi di antara dirinya dengan si istri siri.


"Iya, Bang. Lagian aku masih ada pekerjaan di rumah," sahut Fitri menanggapi apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Bagus, kalau begitu tolong ambilkan baju kerjaku di belakang pintu kamar, ya," pinta Dimas pada sang istri.


"Iya, Bang," lirih Fitri.


Fitri pun melangkah ke dalam kamar, di sana Rasya masih asyik main boneka yang dibelikan Riyan saat mereka berada di desa Fitri.


Fitri mengambil baju kerja Dimas Yang ada di balik pintu, lalu membawanya ke dapur.

__ADS_1


"Ini, Bang," ujar Fitri sambil mengulurkan pakaian yang ada di tangannya kepada sang suami.


Dimas meraih pakaian yang disodorkan oleh istrinya itu.


"Terima kasih," ucap Dimas pada sang istri.


Setelah itu Dimas mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.


Fitri menunggu Dimas keluar dari kamar mandi di ruang keluarga. Saat itu Pak Arif tidak ada di rumah, sehingga Fitri merasa leluasa berada di rumah itu.


"Aku berangkat ya, Fit," ujar Dimas berpamitan pada sang istri.


Untuk beberapa hari ini, Dimas akan bersikap manis pada istrinya sambil memikirkan cara untuk bisa membalaskan dendamnya pada Fitri.


Dimas ingin membalas rasa sakit hatinya pada Fitri yang dianggapnya sudah berkhianat.


“Iya, Bang. Kamu hati-hati, ya,” ujar Fitri.


Sebelum pergi Dimas masuk ke dalam kamar, dia menemui putrinya terlebih dahulu.


“Putri ayah, asyik sekali main bonekanya,” ujar Dimas menyapa putrinya yang masih asyik dengan bonekanya.


Rasya tidak menggubris ayahnya, karena di hati Rasya ayahnya sudah membuat bundanya sakit. Di mata Rasya saat ini ayah kandungnya tidak menyayangi dirinya dan bundanya.


Dimas mendekati Rasya. Lalu dia pun mencium puncak kepala sang putri.


“Ayah pergi kerja dulu, ya,” ujar Dimas berpamitan pada sang putri.


Fitri melihat reaksi Rasya yang tidak memperdulikan ayahnya.


“Ini semua ulah dirimu yang sudah semena-mena terhadapku di depan Rasya, Bang,” gumam Fitri di dalam hati.


“Ayo, Dim!” seru Bu Fatimah dari luar rumah yang sudah tak sabar ingin cepat sampai ke kebunnya.


“Iya, Bu. Sahut Dimas.


Setelah itu Dimas mengulurkan tangannya pada Fitri berharap Fitri akan meyalami tangannya sebelum berangkat kerja.


Melihat tangan Dimas yang sudah menggantung di udara, akhirnya Fitri pun menyalami tangan sang suami, Fitri merasa aneh dnegan hal itu karena dia sudah lama tidak melakukan hal itu.


Setelah itu Dimas keluar dari rumah, dia mengambil sepeda motor butut miliknya, lalu menyalakan sepeda butut tersebut. Dia sudah terbiasa ke kebun dnegan Bu Fatimah menggunakan sepeda motor butut tersebut agar Bu Fatimah tidak lelah berjalan. Mereka dapat langsung bekerja saat nanti sampai di kebun.


Fitri pun siap-siap untuk pergi ke rumah Sinta setelah memastikan Dimas benar-benar sudah berangkat.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2