Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 40


__ADS_3

Yanto melihat apa yang terjadi, tapi dia memilih diam.


Pria itu berpura-pura tidak mengetahui apa yang sudah dibicarakan istrinya dan sang sahabat.


Yanto ikut sedih dengan penderitaan yang dialami oleh Fitri.


"Fit, lebih baik kamu kembali ke desamu, aku yakin kamu akan lebih baik lagi," gumam Yanto di dalam hati sambil memandangi Fitri yang masih asyik curhat dengan istrinya.


"Menurut kakak, apa yang harus aku lakukan?" tanya Fitri pada Sinta meminta pendapat.


"Mhm, terserah kamu saja, Fit. Coba kamu pikirkan baik-baik bagaimana lebih baiknya. Jika aku berada di posisimu, aku akan kembali ke desaku. Aku akan meninggalkan pria seperti Dimas." Sinta mengeluarkan pendapatnya.


Dia tidak suka dengan apa yang sudah dilakukan oleh Dimas pada Fitri.


Bertahun-tahun Fitri rela hidup menderita dengannya, justru dibalas Dimas dengan perbuatan yang hina.


Dimas menuduh Fitri berkhianat sementara itu dia sendiri yang melakukan pengkhianatan.


Fitri terdiam mendengar saran dari Sinta. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Sinta.


Apa yang dikatakan oleh Sinta ada benarnya, lagian saat ini Rasya sama sekali tidak menganggap Dimas sebagai ayahnya, hal ini akan memudahkan Fitri untuk mengambil keputusan.


"Baiklah, Kak. Aku akan pikirkan apa yang kakak bilang," ujar Fitri.


"Mhm, tadinya aku mau ambil sepeda motorku di sini. Tapi, sepertinya aku tidak jadi membawa sepeda motor itu. Aku ingin berpura-pura tidak tahu dulu hal ini. Aku ingin melihat apa sebenarnya yang saat ini sedang direncanakan Dimas," ujar Fitri pada Sinta.


"Kalau masalah itu, kamu tenang saja. Jangan diambil pusing. Sepeda motormu aman di sini," ujar Sinta.


"Terima kasih ya, Kak. Aku ngerasa di kampung ini hanya kamu yang mengerti aku," ujar Fitri terharu dengan kebaikan Sinta.


"Lebay, ah. Biasa aja, aku sudah anggap kamu adikku sendiri," ujar Sinta.


Sebelum azan dzuhur berkumandang, Fitri pun izin pamit pada Sinta untuk pulang ke rumah.


Dia takut nanti Dimas tahu kalau dia keluar dari rumah, karena pesan Dimas tadi dia tidak boleh keluar rumah.


Saat perjalanan pulang, masih banyak mata yang menatap Fitri dengan sorotan mata yang aneh.


Kali ini Fitri tak menghiraukan mereka, dia membiarkan saja, karena dia tahu alasan orang-orang itu melihat aneh pada dirinya.


Sesampai di rumah, Fitri masih mendapati bahwa rumah mertuanya itu masih kosong, Fitri langsung masuk dan melangkah masuk ke kamar.


"Semoga saja, Bapak tidak mengetahui kalau aku tadi keluar," gumam Fitri di dalam hati.


Fitri mulai membuka ponselnya dan menyelesaikan tulisan novelnya yang masih terbengkalai.

__ADS_1


Saat azan dzuhur berkumandang, Fitri meletakkan ponselnya lalu dia keluar dari kamar.


Fitri melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu, dia akan menunaikan ibadah shalat dzuhur.


Setelah shalat dzuhur, Fitri pun menengadahkan tangannya memohon kepada Tuhan akan kekuatan untuk menjalani cobaan dalam hidupnya saat ini.


Rasa benci yang sempat dihapus Fitri kini kembali hadir saat mengetahui perilaku sang suami yang tidak senonoh itu.


Saat ini hanya Allah tempat dia mengadu, dan menumpahkan rasa sakit yang dirasakannya.


****


Satu minggu sudah berlalu, Dimas selalu pergi malam dan pulang pagi sesudah subuh atau menjelang subuh.


Pagi ini Fitri mendapati sang suami masuk ke dalam rumah saat dia hendak melaksanakan shalat sunat tahajud.


"Baru pulang, Bang?" tanya Fitri berusaha menahan emosi yang sudah memuncak di hatinya.


"Eh, kamu enggak tidur?" tanya Dimas pada istrinya yang kini sudah mengenakan mukena.


Fitri melihat dengan jelas pakaian suaminya yang kusut, padahal dia pergi dengan keadaan rapi.


Sudah seminggu ini Dimas tidak pernah meminta jatah pada Fitri, hal ini membuat Fitri yakin bahwa Dimas menghabiskan malam-malam panjangnya dengan janda itu.


"Biasa, Fit. Aku ngobrol sama teman di warung," jawab Dimas berbohong.


Akhirnya dia memilih untuk diam, dia sedang mencari cara untuk bisa pergi dari rumah itu tanpa diketahui oleh Dimas dan keluarganya.


Fitri sudah muak dengan berbagai kebohongan yang dilakukan oleh sang suami.


Melihat Fitri tidak banyak tanya akhirnya Dimas pun memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur di samping Rasya.


Dia merasa aman dengan sikap Fitri Yang seolah-olah bodoh di hadapannya. Fitri menunaikan shalat sunah hingga azan subuh berkumandang, dia langsung menunaikan ibadah subuhnya.


Usai beribadah, Fitri mengambil ponselnya. Dia mengecek saldo yang tertulis di aplikasi menulisnya.


"Wah, sepertinya aku sudah bisa mengambil uang yang ada di sini, berarti nanti siang aku harus pergi ke Bank untuk membuka buku rekening agar dia bisa menarik saldo yang ada di aplikasi tersebut ke rekening miliknya.


Pada pukul 09.00.


Fitri melihat Dimas sedang asyik menonton TV di ruang keluarga.


Fitri tengah memikirkan bagaimana caranya dia bisa pergi keluar dari rumah tersebut.


Akhirnya Fitri memberanikan diri untuk meminta izin pada suaminya.

__ADS_1


"Bang," panggil Fitri setelah dia duduk di samping sang suami.


"Mhm," gumam Dimas tanpa menoleh ke arah Fitri yang hendak bicara.


"Bang, aku boleh pinjam sepeda motornya?" tanya Fitri pelan-pelan.


Dia berharap kali ini hati Dimas sedang baik dan mengizinkan dirinya keluar sebentar.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dimas pada istrinya.


"Mhm, aku mau pergi ke swalayan yang ada di ujung gang," jawab Fitri.


"Ngapain?" tanya Dimas lagi.


"Rasya pengen food frozen, Bang. Dari semalam dia merengek minta dibelikan food frozen itu," jawab Fitri menggunakan Rasya sebagai alasan.


"Apa itu benar, Rasya?" tanya Dimas pada Rasya.


Dimas curiga istrinya akan pergi ke mana-mana dengan selingkuhannya.


Fitri cemas dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh putrinya.


"Mhm, benar, Yah," jawab Rasya mengiyakan.


Entah mengapa kali ini Rasya mengiyakan apa yang dikatakan oleh bundanya.


"Ya sudah, pergilah! tapi ingat jangan lama-lama," ujar Dimas.


"Iya, Bang," sahut Fitri senang.


Fitri pun berdiri dan menarik tangan putrinya keluar rumah, mereka pun menaiki sepeda motor butut tersebut menuju Bank yang berada tidak jauh dari lokasi swalayan yang dikatakan Fitri tadi.


"Kita ngapain ke sini, Bunda?" tanya Rasya polos.


"Bunda ada urusan sebentar ke sini, jadi kamu sabar dulu, ya," ujar Fitri.


Rasya yang tahu niat bundanya yang ingin membeli good frozen kesukaannya bingung saat bundanya membawa dirinya masuk ke dalam bank.


Saat Fitri sedang mengantri, lagi-lagi dia bertemu dengan Reyhan secara tidak sengaja.


"Fit, kamu di sini?" tanya Reyhan pada Fitri saat melihat wanita yang dicintainya juga berada di tempat yang sama dengannya.


Fitri kaget saat bertemu dengan Reyhan di bank itu.


"Aku mau buka buku rekening," jawab Fitri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2