
Fitri mengernyitkan dahinya bingung dengan apa yang tengah terjadi.
"Kak, a-ada a-apa?" tanya Fitri mulai cemas.
"Kamu dari mana saja, Dek?" lirih Dina.
Suara Dina masih terdengar parau karena menahan Isak tangisnya.
"Kak, ayah mana?" tanya Fitri sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan ayahnya.
Dina belum menjawab pertanyaan Fitri, dia menarik tangan Fitri masuk ke dalam rumah.
Reyhan juga heran dengan apa yang terjadi, akhirnya dia ikut masuk melangkah bersama Rasya.
Saat ini mereka telah duduk di ruang tamu, Fitri duduk di samping Dina, sedangkan Reyhan dan Rasya duduk di hadapan mereka.
"Kak, aku tadi ke rumah ayah, tapi enggak ada orang. Ayah ke mana, Kak?" Fitri kembali mengulangi pertanyaannya yang tak kunjung dijawab oleh sang kakak.
Dina menghela napas panjang, dia mencoba mengatur napasnya agar dapat menyampaikan berita tentang ayahnya pada sang adik.
“Fit, ayah sudah tidak ada,” lirih Dina pada adiknya.
Fitri menggelengkan kepalanya, dia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya.
Dunia seakan runtuh baginya, satu-satunya orang yang akan melindunginya dari sosok Dimas sudah pergi jauh untuk selamanya. Fitri merasa hancur dan terpuruk.
“Tidak, Kak. Aku baru seminggu berada di kampung Dimas, tidak mungkin ayah ninggalin aku begitu saja. Kamu bohong, Kak.” Fitri memungkiri apa yang sudah dikatakan oleh sang kakak.
“Saat kamu pergi, ayah tiba-tiba sakit. Keesokannya ayah pun pergi, hiks.” Dina kembali menangis.
“Tapi kenapa kakak tidak memberitahuku?” tanya Fitri merasa tersisihkan.
Fitri merasa saudaranya begitu jahat pada dirinya.
“Apakah kalian marah padaku? Sehingga kalian sedikitpun tidak memberitahuku.” Fitri kembali merasakan sakit yang sama seperti saat mengetahui ibunya meninggal.
“Kalian begitu jahat padaku, hiks.” Fitri terisak.
Dina merangkul adiknya dengan erat, dia memeluk Fitri. Awalnya Fitri memberontak, tapi Dina terus merangkul Fitri.
Rasya hanya terdiam melihat bundanya yang kini menangis, Reyhan memeluk Rasya yang juga ikut sedih melihat bundanya yang kini menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang kakak.
“Aku sudah menghubungimu, tapi entah mengapa, nomor kamu selalu sibuk,” ujar Dina menjelaskan alasan dirinya tidak memberitahukan perihal tersebut pada Fitri.
__ADS_1
“Tidak mungkin, Kak, ponselku selalu aktif.” Fitri mulai curiga dengan suaminya yang tidak mempunyai perasaan itu.
“Jangan-jangan,” lirih Fitri.
Fitri pun membuka ponselnya, setelah itu dia pun membuka nomor hitam yang ada di ponselnya, terlihat jelas beberapa nomor kontak yang sudah diblokir.
“Dimas kurang ajar.” Ujar Fitri semakin membenci Dimas.
“Apa yang sudah terjadi, Dek?” tanya Dina pada adiknya setelah mereka mulai tenang.
“Aku kabur dari rumah orang tua Dimas, kak.” Tutur Fitri jujur.
Untuk saat ini Dina tidak mempertanyakan alasan adiknya pergi dari rumah mertuanya.
Dina memberi ruang untuk Fitri menenangkan hatinya yang kini masih terguncang.
“Rey, kamu tunggu dulu, ya. Aku buatkan teh,” ujar Dina saat menyadari keberadaan Reyhan di dalam rumahnya.
“Enggak usah repot-repot, Kak,” ujar Reyhan.
“Enggak, kok.” Dina pun berdiri dan melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Reyhan.
Saat ini Dina tidak tahu kenapa Fitri bisa bersama Reyhan, dia membiarkan saja hal itu terjadi, meskipun dia tahu hal yang sudah dilakukan adiknya merupakan sebuah kesalahan.
“Minumlah,” ujar Dina pada Reyhan.
Setelah itu, Dina mengambil secangkir teh untuk Fitri.
“Kamu minumlah teh ini dulu, biar kamu merasa lebih tenang,” ujar Dina memberikan cangkir teh itu pada adiknya.
Fitri pun menyeruput teh yang diberikan oleh kakaknya, begitu juga dnegan Reyhan. Fitri mulai merasa tenang.
“Memangnya ayah sakit pa, Kak?” tanya Fitri saat dia sudah merasa lebih tenang.
“Setelah ibu meninggal, ayah mengalami sakit jantung. Saat kamu pergi, ayah menahan rasa sakit itu, dan mungkin di sanalah ajalnya,” jawab Dina.
Dina menasehati adiknya, mungkin inilah jalan hidup yang harus dilewati oleh Fitri. Tidak dapat melihat wajah kedua orang tuanya sebelum mereka meninggal dunia.
“Kenapa kamu kabur dari rumah orang tua Dimas?” tanya Dina setelah dia selesai menasehati adiknya.
Fitri pun menceritakan apa yang sudah dilakukan Dimas dibelakangnya.
“Dasar laki-laki kurang ajar! Dimas itu memang bring*ek.” Dina tidak dapat lagi menahan emosinya terhadap adik iparnya yang tidak tahu diri itu.
__ADS_1
"Saat dia datang ke sini, dia sudah dipaksa warga untuk menikah," tambah Fitri.
"Aku tidak menyangka, Dimas itu orang yang berpendidikan tapi tidak memiliki attitude sama sekali," lirih Dina kesal.
"Intinya tidak semua orang yang tidak berpendidikan tidak baik untuk dijadikan pendamping hidup," ujar Fitri.
“Seandainya dulu ibu,--“ Ucapan Dina tergantung.
“Kak, jangan sesali apa yang sudah terjadi,” potong Fitri.
Fitri tidak ingin kakaknya menyalahkan ibunya yang telah menjodohkan dirinya dnegan pria yang tidak bertanggung jawab seperti Dimas.
“Lalu, kenapa kamu bisa bersama Reyhan?” tanya Dina sambil melirik ke arah Reyhan.
“Mhm.” Fitri terlihat bingung menjelaskan kebersamaannya dengan Reyhan yang tak seharusnya dilakukannya karena saat ini dia masih berstatus sebagai seorang istri dari Dimas.
“Begini, Kak. Saat ini aku bekerja di desa tempat orang tua Dimas tinggal. Kemarin aku bertemu Fitri dan dia bilang mau pulang, makanya aku tawarkan ikut pulang bersamaku sekalian aku juga ingin pulang bertemu ibuku,” jelas Reyhan.
Reyhan tidak ingin Dina salah paham pada dirinya.
“Mhm, apakah ada yang tahu Fitri pergi denganmu?” tanya Dina menginterogasi adiknya dan Reyhan.
Dina khawatir nama baik adiknya tercoreng di kampung itu.
“Mhm.” Kali ini giliran Reyhan yang bingung harus jawab apa.
“Ayah mertuaku tahu kalau aku pergi dengan Reyhan, mungkin beberapa tetangga ada yang melihat hal itu,” jawab Fitri jujur.
“Terserah orang mau menganggapku seperti apa, yang penting aku bisa kabur dari suami yang tidak bertanggung jawab itu. Toh, aku tak lagi tinggal di sana,” tambah Fitri menjawab kekhawatiran sang kakak.
“Memang benar kamu tidak tinggal lagi di sana, tapi kamu masih berstatus seorang istri, Dek.” Dina kembali menasehati sang adik bungsu.
“Iya, Kak,” lirih Fitri sambil menundukkan kepala.
Fitri menyadari kesalahannya, tapi hal itu dibiarkannya demi bisa kabur dan menjauh dari keluarga Dimas.
Menurut Fitri, kemungkinan besar penduduk di desa pasti mengerti situasi yang saat ini dihadapinya.
"Iya, bagi kakak kalian dekat lagi tidak masalah, tapi kamu harus pastikan terlebih dahulu statusmu dengan Dimas sudah putus. Kakak dan Riyan akan membantu perceraian kalian," ujar Dina.
Ucapan Dina seolah memberi peluang pada Reyhan untuk kembali mendekati adiknya.
Reyhan tersenyum mendengar ucapan Dina, dia kembali memiliki harapan untuk dapat hidup bersama dengan wanita yang dicintainya.
__ADS_1
Bersambung...