Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 47


__ADS_3

Dimas menoleh ke arah Susi, dia merasa istri sirinya itu tampak kesal terhadap dirinya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Dimas heran pada Susi.


Istri sirinya yang selalu bersikap lemah lembut dan selalu gemulai di hadapannya, kini terlihat ketus terhadap dirinya.


"Enggak ada," ujar Susi.


Wanita itu malas bertengkar, karena masih ada pengunjung yang duduk di warungnya.


"Malam ini aku tidur di sini boleh 'kan, Sayang?" tanya Dimas pada Susi.


"Memangnya kenapa kamu tidak pulang?" tanya Susi heran.


Tak biasanya Dimas meminta izin untuk menginap di rumahnya.


"Enggak ada, aku kan sudah menjadi suami kamu, wajar dong aku mau tinggal serumah dengan istriku," ujar Dimas.


Dimas memberi alasan yang masuk akal agar istri sirinya itu mengizinkan dirinya tidur di rumahnya.


"Ya udah terserah kamu saja," ujar Susi.


"Makasih ya, Sayang," bisik Dimas.


"Jangan terima kasih doang, aku juga butuh dinafkahi, bukan nafkah bathin doang," ujar Susi.


Dimas mengerti yang dimaksud oleh Susi. Dia merangkul pinggang istrinya itu dengan erat.


"Kamu do'akan saja aku dapat pekerjaan, ya," ujar Dimas.


"Iya," lirih Susi.


Seketika kekesalan Susi terhadap Dinas pun hilang.


Saat ini yang dibutuhkan janda satu anak itu adalah tanggung jawab Dimas terhadap dirinya.


Sebelum maghrib Dimas pulang ke rumahnya untuk mandi, awalnya dia ingin mandi di rumah Susi, tapi dia lupa bahwa pakaiannya tidak ada di rumah Susi sehingga dia harus mengambil pakaiannya ke rumah kedua orang tuanya.


Setelah maghrib, Dimas membuka tudung saji yang ada di dapur, di sana hanya terlihat sayur daun singkong dan sambel terasi.


"Ih, enggak enak banget sih menu makan malam ini," lirih Dimas.


"Kalau mau enak, cari duit dulu." Bu Fatimah menyindir putranya yang kini hanya tahu makan tanpa memikirkan asal makanan tersebut.


"Ibu kenapa, sih? Sekarang sudah jadi hitung-hitungan sama anak sendiri," gerutu Dimas.

__ADS_1


"Ya wajar dong, ibu hitung-hitungan sama kamu. Kamu itu bukan anak kecil lagi, kamu punya akal dan pikiran. Kamu juga memiliki tenaga buat kerja, ya seharusnya kamu cari uang untuk ibu agar ibu enggak susah lagi cari uang," ujar Bu Fatimah yang sudah seminggu ini dia merasa kesal pada putranya.


"Mending aku pergi dari rumah ini, biar ibu senang dan tidak merasa keberatan menanggung biaya hidupku lagi," ujar Dimas.


"Terserah, kalau mau pergi, pergi saja," ujar Bu Fatimah sama sekali tidak menghalanginya langkah Putranya.


Dimas menatap ibunya yang sudah mengalihkan perhatiannya dengan pekerjaan lain.


"Ibu jangan menyesal sudah mengusir putramu ini," ujar Dimas mengancam ibunya.


"Aku tidak akan menyesal, jika kamu masih seperti ini lebih baik kamu pergi," ujar Bu Fatimah sedang asyik menata piring-piring yang sudah bersih ke atas rak piring.


Dimas kesal mendengar jawaban dari ibunya.


Akhirnya Dimas mengambil beberapa helai pakaian miliknya, lalu memasukkan pakaiannya ke dalam tas ransel.


Setelah itu, Dimas pun keluar dari rumah, dia meninggalkan rumah kedua orang tuanya lalu melangkah menuju rumah sang istri.


"Ternyata ibu benar-benar sudah tidak sayang lagi padaku," lirih Dimas saat dia sudah setengah perjalanan.


Tok tok tok.


Dimas mengetuk pintu rumah Susi, tak berapa lama Susi pun keluar dan membuka pintu rumahnya.


Susi memperhatikan Dimas dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan yang aneh, dia heran melihat Dimas membawa ransel ke rumahnya.


"Mhm, kamu kenapa bawa ransel segala?" tanya Susi.


"Ajukan mau nginap di sini, jadi wajar dong aku bawa pakaianku," jawab Dimas.


Setelah itu Dimas masuk begitu saja ke dalam rumah istri sirinya.


"Ya meskipun nginap, enggak perlu juga kali bawa pakaian sebanyak ini," ujar Susi merasa tidak suka Dimas membawa pakaiannya ke rumahnya.


"Memangnya kenapa, sih? Sepertinya kamu tidak suka aku tinggal di sini?" tanya Dimas merasa tersinggung.


"Bukan seperti itu, aku cuma nanya aja," ujar Susi malas berdebat dengan Dimas.


"Ya udah, aku mau tidur dulu, capek." Susi sudah bersiap-siap masuk ke kamar.


"Sayang," panggil Dimas pada istri sirinya.


"Mhm," gumam Susi menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar.


"Mhm, aku lapar. Kamu masak apa malam ini?" tanya Dimas berharap istri sirinya akan melayani dirinya.

__ADS_1


"Hah? Kamu belum makan? Aku tadi makan pake mie instan, jadi aku cuma bikinnya satu buat diriku sendiri," ujar Susi cuek.


"Lho, aku belum makan di rumah ibu," ujar Dimas curhat.


"Kalau kamu mau makan, itu masih ada mie instan nya satu lagi," ujar Susi cuek.


"Aku lapar, nih. Kamu mau kan bikinkan aku mie instan?" tanya Dimas berharap istrinya itu mau melakukan hal yang diinginkannya.


"Aduh, Dim. Aku udah ngantuk, aku capek banget. Kamu bikin sendiri aja, ya," ujar Susi.


Susi pun masuk ke dalam kamar, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ya elah, dia kenapa seperti itu? Bukannya seorang istri itu harus melayani suaminya," gumam Dimas kesal.


Dimas mulai teringat pada istrinya yang sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Kalau Fitri pasti akan memasaknya untukku, kamu jauh berbeda dengan Fitri," gumam Dimas di dalam hati.


Dia mulai membeda-bedakan sosok Fitri dengan Susi.


"Kamu jauh berbeda d Ngan Fitri, meskipun dia tidak mencintaiku, tapi dia masih melayaniku dengan baik. Mulai dari hal yang paling kecil hingga yang besar sekaligus." Dimas kembali mengingat istrinya yang telah pergi.


Dimas pun berdiri dan melangkah masuk ke dapur, dia mulai memasak mie instan yang dikatakan Susi tadi.


Dia mendapatkan mie instan tergeletak di atas lemari kecil, lalu dia pun menyalakan kompor lalu mulai memasak mie instan tersebut.


"Ya mau bagaimana lagi, perutku lapar aku harus melakukannya seorang diri," gumam Dimas.


Setelah masak, Dimas membuka magic com yang terletak di atas meja, tak sedikitpun ada nasi yang tersisa di sana, terpaksa Dimas hanya memakan mi instan tersebut tanpa nasi.


"Syukurlah bisa makan, meskipun aku belum kenyang," lirih Dimas lagi.


Dimas pun meletakkan piring kotornya di tempat piring kotor setelah itu dia melangkah masuk ke dalam kamar hendak tidur bersama Susi.


Seperti biasa, Dimas akan melakukan hal yang sangat disukai oleh istri sirinya itu.


Mata Dimas membulat saat masuk kamar, dia mendapati istrinya sedang asyik bermain ponsel, dia sibuk tersenyum sambil mengotak-atik ponselnya.


Hati Dimas seakan terbakar melihat apa yang dilakukan oleh Susi saat ini.


"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Dimas.


Susi menoleh ke arah Dimas sejenak lalu dia kembali fokus pada ponselnya, Susi mengabaikan keberadaan Dimas yang kini telah berdiri di dalam kamarnya.


"Aku lagi chating sama teman," jawab Susi dengan santainya.

__ADS_1


"Ya ampun, Susi. Kamu menolak permintaanku demi chatingan?" keluh Dimas.


Bersambung...


__ADS_2