
Di tengah malam, pada pukul 01.15, Fitri terbangun dari tidurnya. Fitri mengambil ponselnya yang tergeletak di atas bantalnya. Dia melihat putrinya yang sudah tertidur dengan lelapnya.
“Astagfirullah, Bang Dimas. Dia pasti mau masuk, aku malah mengunci kamarnya,” lirih Diska merasa bersalah telah mengunci sang suami di luar.
Fitri membayangkan suaminya tertidur di kursi ruang keluarga atau di lantai di depan TV.
“Maafkan aku ya, Bang. Aku tertidur,” lirih Fitri menyesal telah mengunci pintu kamar.
Fitri pun bangkit dari tidurnya, dia berdiri dan melangkah keluar kamar, dia hendak mengecek keberadaan sang suami dan membangunkannya.
Saat Fitri keluar dari kamar, dia melihat rumah sudah sepi, taka da seorang pun yang berada di luar kamar.
Fitri tidak mendapati sang suami di ruang tamu maupun di ruang keluarga.
“Bang Dimas ke mana, sih?” gumam Fitri.
Dia heran melihat sang suami tidak berada di rumah. Di rumah itu hanya ada 2 kamar, dan satu kamar laginya adalah kamar kedua orang tua Dimas, tidak mungkin dimas berada di kamar tersebut.
Dalam kebingungannya, Dimas teringat bahwa saat ini, dia belum menunaikan ibadah shalat Isya, akhirnya dia pun melangkah menuju kamar mandi yang berada di samping dapur.
Fitri pun berwudhu’ dan bersiap-siap hendak menunaikan ibadah shalat Isya, saat Fitri keluar dari dalam kamar mandi, seseorang membekap mulutnya dengan erat.
Fitri berusaha melepaskan diri dari tangan pria yang membekap mulutnya itu, tapi sia-sia tenaga si pria lebih kuat dari dirinya.
Si pria membekap mulut Fitri dengan sapu tangan lalu mengikat tangannya.
“Ya Allah, siapa yang melakukan hal ini?” gumam Fitri ketakutan.
Setelah itu, si pria mendorong Fitri hingga dia terduduk di lantai. Di saat itu Fitri dapat melihat dengan jelas ayah mertuanya berdiri tepat di hadapannya.
“Hei wanita ja**ng,” bentak Pak Arif.
“Aku ingatkan padamu! Jangan sampai apa yang sudah aku lakukan padamu diketahui oleh orang di rumah ini, jika kamu berani memberitahukan apa yang sudah terjadi, maka kamu akan menyesal,” ujar Pak Arif mengancam Fitri.
Fitri ketakutan melihat sorotan mata pak Arif yang sangat tajam tertuju pada dirinya. Dia benar-benar takut dengan apa yang dilakukan oleh Pak Arif terhadap dirinya.
__ADS_1
Air mata Fitri pun mulai mengucur deras karena ketakutan serta mengingat kejadian yang pernah dilakukan ayah mertuanya terhadap dirinya.
Setelah mengancam menantunya itu, Pak Arif pun membuka ikatan tangan Fitri lalu dia meninggalkan menantunya itu begitu saja.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?” lirih Fitri.
Perlahan Fitri bangkit, dia kembali berdiri sambil melepas sapu tangan yang membekap mulutnya tadi, setelah itu dia kembali berwudhu dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Setelah itu Ibu satu anak itu pun melaksanakan shalat Isya, lalu dia pun menunaikan shalat sunat tahajud.
Fitri mengadukan semua yang dialaminya saat ini pada sang Penguasa, Fitri hanya bisa berkeluh kesah pada sang Pencipta.
Semalaman itu Fitri habiskan menangis di atas sajadahnya, hingga akhirnya dia pun terlelap.
Pukul 05.00 azan subuh berkumandang terdengar samar-samar di telinga Fitri, dengan mata yang terasa masih sangat berat dia berusaha duduk dari posisi berbaringnya yang semalaman dia tidur di atas sajadahnya.
“Astaghfirullah, sudah subuh, aku harus bangun.” Diska bangkit dan melangkah keluar dari kamarnya.
Saat di luar kamar, Fitri masih mencari sosok sang suami. DIa masih belum mendapati sang suami berada di rumah.
“Bang Dimas ke mana, sih?” gumam Fitri.
Akhirnya Fitri memilih melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, di dapur ibu Fatimah sedang mempersiapkan apa yang akan dimasaknya untuk sarapan pagi ini.
“Eh, Fitri. Kamu sudah bangun?” tanya Bu Fatimah menyapa sang menantu.
Fitri kaget saat mendengar suara ibu mertuanya, dia mengira Pak Arif yang berada di dapur. Bayang-bayang apa yang dilakukan Pak Arif tadi malam kembali melintas di pikirannya. Perbuatan Pak Arif menjadi trauma tersendiri di diri Fitri.
“Kenapa, Fit? Kenapa kamu terlihat ketakutan?” tanya Bu Fatimah penasaran dengan apa yang terjadi pada sang menantu.
“I-itu, Bu. Eng-nggak apa-apa kok, Bu,” lirih Fitri berusaha menenangkan dirinya yang takut.
“Oh, ya sudah. Kamu mau mandi?” tanya Bu Fatimah.
“Iya, Bu. Aku mau siap-siap shalat subuh dulu,” jawab Fitri.
__ADS_1
Setelah itu Fitri hendak masuk ke dalam kamar mandi, tapi saat itu dia kembali membalikkan badannya.
“Bu, semalaman Bang Dimas tidak pulang. Bang Dimas ke mana, ya?” tanya Fitri pada ibu mertuanya.
“Apa? Sejak tadi malam Dimas tidak pulang?” Bu Fatimah justru balik bertanya pada Fitri.
“Iya, Bu. Dia ke mana ya, Bu?” tanya Fitri lagi.
“Ya ampun, anak itu pasti tidur di rumah si janda tak tahu diri itu,” gumam Bu Fatimah di dalam hati.
“Maaf, Fit. Ibu juga tidak tahu Dimas pergi ke mana, palingan dia nongkrong sama teman-temannya hingga dia lupa diri. Mungkin Dimas lupa ada kamu di sini,” ujar Bu Fatimah asal.
Wanita paruh baya itu sedikit pun tidak menjaga perasaan menantunya saat ini.
“Apa? Bang Dimas lupa akan kehadiran diriku di sini, di rumah kedua orang tuanya.” Fitri membathin sendiri.
Mendengar jawaban dari Bu Fatimah Fitri merasa sangat kesal, dia pun mendongkol di dalam hati. Fitri masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Usai mandi, Fitri langsung melangkah menuju kamarnya. Lalu dia melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah shalat subuh, Fitri membantu ibu mertuanya memasak di dapur, setelah itu dia pun memandikan Rasya yang sudah bangun.
“Kita sarapan dulu ya, Nak.” Fitri mengajak putrinya untuk makan pagi.
Hingga Fitri dan yang lainnya sudah selesai sarapan, Fitri juga belum mendapati tanda-tanda sang suami pulang. Hati Fitri semakin risau.
“Bang Dimas ke mana, sih? Apa jangan-jangan dia belum berubah?” gumam Fitri kesal pada suaminya .
Pada pukul 09.00 pagi, Fitri baru saja menyelesaikan semua pekerjaan rumah, mulai dari menyapu hingga mengepel rumah sudah dikerjakannya.
Ibu satu anak itu pun kembali masuk ke dalam kamarnya setelah pekerjaannya tuntas. Fitri mulai mengotak-atik ponselnya mengerjakan pekerjaannya dalam menulis sebuah karya di salah satu platform novel yang ada di Indonesia.
Baru saja dia membuka ponselnya terdengar suara langkah Dimas yang masuk ke dalam rumah.
Fitri langsung berdiri, lalu keluar dari kamar.
__ADS_1
“Kamu dari mana saja sih, Bang?” tanya Fitri pada Dimas?
Bersambung…