Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 53


__ADS_3

Aku juga tidak tahu apa ini, aku belum membukanya. Reyhan bilang ini dapat mempermudah urusan perceraian Fitri dengan Dimas," jawab Dina.


Riyan mengambil map itu, lalu dia membuka map coklat itu.


Riyan melihat beberapa barang bukti perselingkuhan Dimas dengan Susi, di dalam map itu juga di perlihatkan berbagai bukti tindakan Dimas yang tidak pernah menafkahi Fitri dengan layak.


Amarah Riyan seketika memuncak, dia merasa tersakiti di saat adiknya disakiti oleh Dimas.


"Aku akan berikan ini pada pengacara yang mengurus perceraian Fitri," ujar Riyan.


Fitri hanya diam. Dia tahu saat ini hanya Riyan yang akan mengambil keputusan atas dirinya selaku pengganti kedua orang tuanya.


"Kamu siap bercerai dengan Dimas, 'kan?" tanya Riyan pada Fitri.


"Iya, Bang," lirih Fitri.


Walau ada rasa sakit yang menyelinap di hatinya, ada rasa sedih yang menghampirinya karena tak berapa lama lagi dia akan menyandang status janda.


"Ya udah, Dek. Kalau begitu kamu bersiaplah. Aku akan antarkan kamu langsung ke rumah Ayah, bawa barang-barangmu." Riyan langsung hendak membawa Fitri keluar dari rumah itu.


"Lho, hari ini?" tanya Dina kaget.


"Iya, Kak. Kapan lagi? Besok sampai Jumat aku kerja, tidak ada yang akan mengantarkan Fitri ke sana, kakak juga sibuk 'kan dengan pekerjaan kakak?" ujar Riyan.


"Oh, ya udah kalau begitu." Dina terpaksa setuju.


"Tapi hari ini kakak tidak bisa ikut mengantarkan Fitri, pekerjaan kakak masih banyak," ujar Dina lagi.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti, kok," ujar Fitri memaklumi kesibukan sang kakak.


"Ya udah, kalau begitu aku siap-siap dulu," ujar Fitri.


Setelah itu Fitri pun berdiri menuju kamarnya. Fitri menyiapkan barang-barang miliknya yang akan dibawanya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Leo tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya.


"Apa yang Bang Leo lakukan di sini?" tanya Fitri kaget saat melihat sang kakak ipar berada di kamarnya.


"Aku mau pulang ke rumah bapak," jawab Fitri.


"Kenapa? Aku baru saja ingin mendekatimu," lirih Leo.


Leo terus mendekati Fitri, dia ingin menyentuh pipi mulus Fitri.


"Bang Leo, jaga sikapmu. Ingat, Bang. Kak Dina dan Bang Riyan masih ada di rumah ini," lirih Fitri.

__ADS_1


Fitri tidak berani berteriak karena Fitri tidak mau rumah tangga kakaknya hancur karena sikap suaminya.


"Mhm, tenanglah. Kita bisa saling dekat tanpa sepengetahuan mereka," bujuk Leo.


Leo seakan terhipnotis dengan kecantikan natural yang dimiliki oleh Fitri, entah mengapa dia begitu terobsesi untuk mendekati adik iparnya itu.


"Jangan macam-macam, Bang. Kalau tidak aku akan teriak!" ancam Fitri.


"Jangan coba-coba mengancamku, kalau tidak kamu akan menyesal," bisik Leo sambil membekap mulut Fitri.


"Bunda." Tiba-tiba Rasya masuk ke dalam kamar.


Gadis kecil itu kaget saat melihat Leo berada di kamar mereka.


"Om Leo ngapain di sini?" tanya Rasya polos.


Rasya sempat melihat Leo ingin berbuat kasar pada bundanya.


Leo mengabaikan pertanyaan Rasya, setelah itu dia keluar dari kamar Fitri.


"Astagfirullah, Ya Allah, terima kasih engkau telah menyelamatkanku," lirih Fitri sambil merangkul tubuh Putri kecilnya.


"Om Leo ngapain di sini, Bunda?" tanya Rasya lagi.


Meskipun Rasya masih kecil tapi dia cukup mengerti bahwa Leo hendak berbuat jahat pada ibunya.


Mereka pun keluar dari kamar tersebut lalu melangkah keluar rumah menghampiri Riyan dan Dina yang masih mengobrol di teras rumah.


"Bang, aku udah siap," ujar Fitri.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita pergi," ajak Riyan.


"Kamu mau ke mana, Fit?" tanya Leo yang tiba-tiba ikut keluar.


Wajah Fitri pucat seketika mendapat pertanyaan dari Leo.


"A-aku," lirih Fitri.


"Fitri akan tinggal di rumah Bapak, biar ada yang ngurusin rumah di sana," jawab Dina.


"Emangnya kenapa, Bang?" tanya Dina heran.


Dina merasa aneh dengan sikap suaminya yang tiba-tiba peduli dengan saudaranya, selama ini Leo selalu cuek tidak terlalu akrab dengan keluarganya, meskipun sesekali dia tetap bergaul dengan keluarga Dina.


"Oh," lirih Leo.

__ADS_1


"Ya sudah, yuk! Kasihan kakakmu menunggu Abang," ujar Riyan.


"Iya, Bang." Fitri mengangguk.


Setelah itu dia melangkah mengikuti langkah abangnya menuju mobil yang terparkir di depan rumah Dina.


****


Fitri pun memulai hari-harinya tinggal berdua saja dengan Rasya di rumah peninggalan kedua orang tuanya, dia merasa lebih nyaman tinggal berdua dengan putrinya di sana.


Fitri memulai kesibukannya dengan menulis novel, kali ini Fitri mencoba membuat beberapa novel yang on going sekaligus karena waktunya masih banyak yang luang.


Sehari-hari dia mengerjakan pekerjaan rumah, setelah dia menyelesaikan pekerjaannya dia akan fokus dengan ponselnya menulis novel, karena saat ini dia hanya memiliki ponsel maka dia akan menulis dengan ponsel, dia berangan-angan ingin membeli laptop agar bisa menulis dengan nyaman menggunakan laptop.


Namun, untuk saat ini berusaha memadai ponsel yang dimilikinya.


Di saat Fitri mulai fokus menulis dia akan membiarkan Rasya bermain dengan boneka kesayangannya.


Rasya merupakan gadis kecil yang pintar, dia sangat mengerti keadaan bundanya dan pekerjaan bundanya.


Hari ini, Fitri akan mengambil uang di ATM karena uang hasil menulis novelnya sudah cair dan langsung masuk ke dalam rekeningnya.


Fitri akan pergi ke pasar membawa putrinya, kebetulan di rumah itu ada sepeda motor milik ayah Fitri yang biasa digunakan oleh sang ayah di saat dia masih hidup, jadi Fitri akan menggunakan sepeda motor itu untuk ke pasar.


"Kita mau ke mana, Bun?" tanya Rasya antusias.


Selama mereka berada di desa kelahiran Fitri, dia belum pernah mengajak Rasya pergi ke mana pun.


"Kita mau ke pasar, bunda mau ngambil uang buat jajan Rasya," jawab Fitri.


"Asyik, aku boleh beli es krim yang waktu dibelikan om Iyan itu, Bunda?" tanya Rasya takut.


Fitri tersenyum, " Iya, Sayang. Bunda akan belikan, apa saja yang kamu mau bunda akan belikan, tapi Rasya harus jadi anak sholehah bunda dulu," ujar Fitri.


"Iya, Bunda. Rasya akan jadi anak sholehah satu-satunya untuk bunda," seru Rasya.


Senyum Rasya mengembang dengan indahnya, hati Fitri merasa tersentuh melihat senyuman manis sang putri yang sudah lama tidak dilihatnya.


"Ya Allah, apakah aku harus bahagia dulu, agar putriku juga dapat bahagia?" gumam Fitri di dalam hati.


Akhirnya mereka pun keluar dari rumah menggunakan sepeda motor milik ayah Fitri, sebelum berangkat Fitri mengunci rumah dengan rapat.


Dia melajukan sepeda motor menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah kedua orang tuanya.


Sesampai di pasar, seseorang melihat Fitri yang baru saja masuk ke dalam bank. Pria itu pun mulai mengikuti langkah Fitri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2