
Kehidupan Fitri sudah mulai berubah, kegiatannya kini diisi mengurusi rumah kedua orang tuanya serta melayani segala hal yang dibutuhkan oleh ayahnya.
Pak Rahim senang dengan kehadiran Fitri di rumahnya, karena sejak kedatangan Fitri, putri sulungnya tidak perlu repot-repot mengantarkan makanan untuk ayahnya.
Dia merasa tidak enak selalu merepotkan putri sulungnya itu. Perlahan Fitri mulai melupakan Dimas, yang sudah menoreh luka di hatinya.
Sambil mengurusi ayah dan putrinya, Fitri masih tetap menulis novel di aplikasi novel yang ada di ponselnya.
Kegiatannya tidak terlalu padat lagi, dia sudah bisa membuat novel lebih banyak.
Dia bisa menulis novel 5 episode dalam sehari sehingga pembaca semakin banyak yang menyukai novel yang ditulisnya.
"Fit," sapa pak Rahim.
Pria paruh baya itu pun duduk di samping putrinya.
"Iya, Yah." Fitri menghentikan kegiatannya.
Dia menoleh pada pria yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya.
"Ayah perhatikan kamu selalu asyik dengan ponselmu setiap hari, apa yang kamu lakukan?" tanya pria paruh baya itu khawatir putrinya akan melakukan hal-hal yang tidak baik dengan ponselnya.
Pada zaman sekarang ponsel sering digunakan untuk hal-hal negatif oleh penggunanya.
Sebagai seorang ayah Pak Rahim merasa memiliki kewajiban untuk mengingatkan putrinya jika sang putri melakukan kesalahan.
"Mhm," gumam Fitri.
Fitri menghela napas panjang. Dia menggenggam erat tangan sang ayah.
"Ayah, sekarang Fitri sedang bekerja menggunakan hp ini," ujar Fitri menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Bekerja?" Pak Rahim mengernyitkan dahinya heran.
"Yah, ayah ingat enggak kalau putri ayah ini hobi menulis?" tanya Fitri.
"Mhm, iya. Ayah masih ingat, semua buku tulismu kamu isi dengan berbagai puisi atau cerita pendek, sehingga Ayah pernah dipanggil oleh wali kelasmu," ujar Pak Rahim mengenang perilaku putrinya.
Sewaktu kecil, Fitri sering menggunakan waktu belajarnya dengan menulis berbagai khayalan yang ada dibenaknya.
"Nah, sekarang hobiku itu bisa menghasilkan uang, Yah. Dan ini yang sekarang aku lakukan," ujar Fitri.
"Ayah tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan," ujar Pak Rahim masih bingung.
"Begini, Yah. Zaman canggih ini, semua orang dan semua kalangan sudah memiliki ponsel android. Yang mana dari ponsel tersebut semua orang bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, termasuk membaca novel." Fitri pun menjelaskan cara kerja dalam menulis online yang kini dijalaninya.
"Insya Allah, bulan depan aku bisa gajian dari menulis, Yah," ujar Fitri senang.
__ADS_1
"Jadi, Kak Dina dan Bang Riyan tidak terlalu keberatan menanggung hidup kita," ujar Fitri pada sang ayah.
Pak Rahim tersenyum.
"Baguslah kalau begitu, ayah senang kamu bisa mandiri. Semoga ujian ini lekas berlalu, aamiin," ujar Pak Rahim.
"Aamiin," sahut Fitri.
"Ya udah kalau gitu kamu lanjutkan pekerjaanmu, ayah akan ajak Rasya main di kebun belakang," ujar Pak Rahim.
Dia tidak ingin putrinya terganggu dengan ocehan Rasya, jadi dia pun membawa sang cucu bermain.
Saat Fitri sedang asyik menulis, dia mendengar bel rumah berbunyi, pertanda seseorang ada yang datang bertamu.
Fitri melihat ayahnya dan Rasya sedang asyik bermain, akhirnya Fitri pun melangkah keluar untuk melihat siapa yang bertamu ke rumah kedua orang tuanya.
Fitri mengenakan hijab sarung yang digantungnya di belakang pintu, lalu keluar menuju pagar.
Perlahan dia membuka pagar, Fitri membulatkan matanya saat melihat tamu yang datang ke rumah kedua orang tuanya.
“Ka-kamu,” lirih Fitri kaget saat melihat sosok yang selama ini selalu melukai hatinya.
Fitri bergegas kembali menutup pagar, tapi Dimas dapat menghalanginya.
“Ada apa kamu ke sini?” tanya Fitri ketus.
“Fitri, kamu tahu kesalahanmu yang sudah pergi tanpa izin pada suamimu?” ujar Dimas masih menyalahkan Fitri yang pergi dari kampung tanpa izin darinya.
“Apakah aku harus pamit terlebih dahulu pada suami sepertimu?" tanya Fitri mulai melawan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Fitri, jaga sikapmu! Aku ini masih sah sebagai suamimu," ujar Dimas mulai meninggikan suaranya.
Dimas tak sadar bahwa mereka masih berada di luar rumah, seorang warga keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang terjadi di luar rumah.
"Pergilah, Bang. Aku tak punya waktu meladenimu," ujar Fitri mengusir sang suami.
"Tidak, aku akan pulang d Ngan membawamu kembali ke kampung." Dimas masih bertahan di sana.
"Aku tidak akan pulang ke sana lagi, aku akan tinggal di sini," ujar Fitri menolak.
"Fit, kamu tidak boleh seperti ini. Aku ini masih suamimu, kamu harus ikut denganku sekarang juga," ujar Dimas.
"Aku tidak mau," ujar Fitri tegas.
Fitri masih bersikeras dengan keputusannya.
"Ada apa, Fit?" Tiba-tiba pak Rahim keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
Dia mendengar keributan dari luar rumah, sehingga dia menghentikan bermain dengan Rasya.
Pak Rahim melihat Dimas berdiri di luar pagar.
"Oh, ada, Nak Dimas. Ayo masuk dulu," ajak Pak Rahim.
Pak Rahim tidak mau masalah putrinya jadi obrolan hangat di komplek tempat tinggalnya karena ibu-ibu di sana memang hobi bergosip.
"Oh, iya, Yah," lirih Dimas santun.
Dimas harus bersikap manis agar dia berhasil membawa Fitri pulang ke kampung.
Mau tak mau Fitri pun membukakan pagar untuk sang suami, lalu melangkah di belakang ayahnya.
Dimas mengikuti langkah Fitri dari belakang.
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Silakan duduk, Dimas," ujar Pak Rahim ramah.
Sebagai seorang ayah, Pak Rahim masih ingin melihat rumah tangga putrinya kembali seperti semula. Selama ini, dia hanya mendengar perkataan dari Fitri saja, dia juga ingin tahu inti permasalahannya dari mulut Dimas.
Mereka pun duduk di ruang tamu, Dimas sengaja duduk di samping istrinya. Sedangkan Pak Rahim duduk di sebuah sofa tunggal yang ada di hadapan Dimas dan Fitri.
Rasya yang sedang menonton melihat ayahnya datang, dia langsung berlari mendekati kakeknya. Gadis kecil itu terlihat takut untuk bertemu dengan ayah kandungnya.
"Rasya, anak ayah," lirih Dimas merentangkan tangannya berharap gadis kecilnya itu berlari untuk memeluknya.
Sebagai seorang ayah, Dimas sangat merindukan putri kecilnya.
"Itu ayah, Salim dulu sama ayah," ujar Pak Rahim pada cucunya.
Rasya melirik ke arah sang Bunda, dia melihat wanita yang melahirkannya itu mengangguk, akhirnya Rasya pun mau melangkah mendekati sang ayah.
"Rasya sayang, ayah kangen," ujar Dimas sambil memeluk putri kecilnya.
Terlihat jelas pancaran rindu terhadap putrinya di wajah Dimas.
Rasya hanya diam di dalam pelukan Dimas.
"Rasya, kamu nonton tv dulu, ya," perintah Pak Rahim setelah melihat Dimas puas memeluk tubuh mungil gadis kecilnya.
Rasya mengangguk, setelah itu dia melangkah menuju ruang keluarga yang mana di sana terdapat tv besar.
"Mhm, apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Pak Rahim penasaran.
Bersambung...
__ADS_1