
Pria itu terus memperhatikan gelagat Fitri. Setelah Fitri mengambil uang secukupnya, Fitri pun meletakkan sepeda motornya di sebuah parkiran lalu dia melangkah berkeliling mencari barang-barang yang dibutuhkannya.
Fitri masuk ke sebuah toko baju anak-anak, dia teringat pakaian Rasya sudah banyak yang lusuh Fitri pun ingin membelikan pakaian baru untuk putrinya.
Setelah dia selesai membeli baju untuk Rasya, Fitri ingin mengajak putrinya makan bakso di warung bakso favorit Fitri sejak dulu.
Saat Fitri melewati sebuah lorong, pria yang mengikuti Fitri tadi menarik tangan Fitri.
"Kamu mau ke mana?" tanya sang pria pada Fitri.
"Astagfirullah," lirih Fitri kaget.
Wajahnya pucat dan cemas, Fitri takut bahwa orang yang menarik tangannya adalah seorang penjahat.
"Kamu kenapa?" tanya sang pria.
"Aku kira kamu orang jahat," tutur Fitri jujur.
"Hahaha, dari tadi aku perhatikan kamu melangkah dengan hati yang tenang," ujar si pria pada Fitri.
"Mhm, ya begitulah. Seperti yang kamu lihat, kamu ngapain di sini?" tanya Fitri.
Dia heran melihat keberadaan Reyhan di desa mereka karena setahu Fitri, Reyhan bekerja di desa suaminya Dimas.
"Aku lagi ambil libur, mungkin aku mau pindah," jawab Reyhan.
"Oh begitu," lirih Fitri mengangguk paham.
"Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Reyhan.
"Mhm, mau ngajakin Rasya makan bakso," jawab Fitri.
"Aku boleh ikut?" tanya Reyhan mencari kesempatan untuk bisa bersama Fitri.
"Boleh," lirih Fitri.
Fitri senang bisa bertemu dengan Reyhan, perasaannya yang dulu pernah ada untuk Reyhan kembali tumbuh, tapi dia harus tetap menjaga hatinya karena Fitri sadar diri bahwa hubungannya dengan Dimas masih sah sebagai suami istri.
Dengan senang hati Reyhan menggandeng tangan Rasya, mereka pun melangkah bagaikan sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Makan baksonya di tempat biasa, 'kan?" tanya Reyhan pada Fitri.
Fitri mengangguk mengiyakan, warung bakso itu salah satu tempat penuh kenangan bagi Fitri dan Reyhan karena sewaktu mereka pacaran, mereka sering berkencan di sana walaupun hanya sekadar bertemu dan mengobrol sambil menikmati bakso kesukaan mereka.
__ADS_1
"Om, Rey. Kenapa Om Reyhan baik sekali sama bunda?" tanya Rasya mulai penasaran dengan sikap Reyhan pada bundanya saat mereka sudah duduk di dalam warung bakso itu.
Rasya menilai hanya Reyhan yang sangat peduli pada wanita yang sudah melahirkannya itu.
Reyhan menoleh ke arah Fitri, begitu juga Fitri mereka saling beradu pandang.
"Mhm, Bunda Rasya adalah teman terbaik bagi Om Reyhan makanya Om Reyhan juga baik sama bunda Rasya," jawab Reyhan jujur.
"Mhm, tapi kenapa ayah Dimas suka jahatin bunda?" tanya Rasya jujur.
Entah mengapa gadis kecil itu tiba-tiba mengungkapkan rasa sesak di hatinya pada pria yang merupakan mantan terindah bagi sang bunda.
"Rasya, kenapa nanya gitu sama Om Reyhan?" tanya Fitri berharap putrinya tidak lagi mempertanyakan hal-hal yang aneh pada Reyhan.
"Bun, aku cuma mau tanya. Dulu ayah baik sama kita, walaupun kita hidup susah, tapi sekarang ayah jadi jahat, hiks." Rasya mulai menangis.
Fitri menatap sendu pada putrinya yang kini mulai terisak, Reyhan langsung merangkul gadis kecil itu.
"Ya Allah, apakah Rasya ikut sedih dengan jalan hidupku saat ini? Ya Allah, hilangkanlah kesedihan yang menyelimuti hati putriku, berikanlah kebahagiaan dan keceriaan padanya walaupun dia akan tumbuh tanpa hadirnya ayah kandungnya," gumam Fitri di dalam hati.
Tanpa disadarinya, buliran bening pun jatuh membasahi pipi mulus ibu satu anak itu. Reyhan juga melihat raut kesedihan di wajah Fitri.
"Ya Allah, andai engkau memberiku kesempatan untuk membahagiakan mereka maka aku akan membahagiakan mereka. Aku ikut sedih saat melihat air mata yang membasahi pipi mereka," gumam Reyhan di dalam hati.
"Mau," lirih Rasya bersemangat seketika dia melupakan kesedihannya tadi.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini, ya. Om akan belikan di warung sebelah," ujar Reyhan.
Reyhan berdiri dan meninggalkan mereka sebentar, beruntung di sebelah warung bakso terdapat mini market kecil yang menjual es krim.
Reyhan membelikan es krim kesukaan Rasya, walaupun baru beberapa kali mereka bertemu tapi Reyhan sudah tahu es krim kesukaan putri dari wanita yang masih dicintainya itu.
Tak berapa lama Reyhan datang dengan 2 es krim di tangannya.
"Nih." Reyhan menyodorkan dua es krim itu pada ibu dan anak yang ada di hadapannya.
"Lho? Kenapa kamu belikan aku juga?" tanya Fitri.
"Mhm, biar kamu enggak sedih lagi. Kalian berdua harus tersenyum di hadapanku." Reyhan mengembang senyuman manisnya membuat hati dua wanita beda usia itu tersenyum.
"Terima kasih, Rey," ucap Fitri.
Reyhan hanya menjawab dengan sebuah senyuman, pria itu berharap suatu hari nanti Tuhan akan mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan yang bernama pernikahan.
__ADS_1
Setelah menghabiskan es krim di tangan mereka, bakso yang mereka pesan pun datang. Mereka pun menikmati cita rasa bakso sederhana itu dengan lahap.
Sesekali Fitri dan Reyhan saling melirik saat menyantap bakso itu, mereka mengingat beberapa kenangan indah yang terukir di tempat itu.
Mereka berdua masih sama-sama terperangkap dalam cinta masa lalu yang indah dalam hidup mereka.
****
Hubungan Dimas dan Susi semakin kacau karena sikap Susi yang sama sekali tidak peduli terhadap Dimas, bahkan saat ini Susi tidak lagi mau melayani hasrat Dimas yang harus disalurkannya pada seorang wanita.
Dalam pikiran Dimas yang kacau, tiba-tiba seorang kurir datang ke rumah Dimas.
"Permisi," seru si kurir saat berada di depan rumah Dimas.
Dimas beranjak dari kursi yang ada di depan TV, dia melangkah keluar untuk menemui orang yang memanggil-manggil dar luar rumah.
Dimas mengernyitkan dahinya saat melihat seorang kurir berada di depan rumahnya.
"Ada apa, Bang?" tanya Dimas langsung.
"Mhm, apa benar ini rumah pak Dimas ?" tanya si kurir sebelum memberikan surat yang teruntuk atas nama Dimas.
"Iya, benar. Ada apa, ya?" tanya Reyhan heran.
"Apakah saya bisa bertemu dengan pak Dimas?" tanya kurir sekali lagi.
Si kurir teringat bahwa pesan pengirim surat itu, meminta surat yang dikirimkan pada Dimas diterima langsung oleh orang yang tertera namanya di sana.
"Saya Dimas, ada apa, ya?" tanya Dimas lagi.
"Oh, bentar ya, Pak." Si kurir mengeluarkan surat yang dikirim atas nama Dimas.
"Ini ada surat yang tertuju untuk, Pak Dimas," ujar si kurir pada Dimas.
Dimas mengambil surat yang diberikan oleh kurir.
"Surat apa ini?" tanya Dimas pada si kurir.
"Saya juga tidak tahu, Pak," jawab kurir.
"Ya sudah, terima kasih," ucap Dimas.
Bersambung...
__ADS_1