Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 29


__ADS_3

Kini Dimas dan Susi sudah berada di kantor urusan agama setempat, karena perbuatan hina yang sudah mereka lakukan, mereka dipaksa menikah oleh warga.


Keputusan warga, mereka lakukan tanpa izin Fitri sebagai istri pertama, sehingga pernikahan dilakukan dengan secara siri.


Tak banyak orang yang hadir dalam acara akad nikah itu, hanya beberapa warga yang mau menjadi saksi, serta kedua orang tua Dimas.


Sementara itu Susi tidak didampingi oleh kedua orang tuanya karena orang tuanya enggan menerima putri mereka yang sudah berbuat dosa.


Setelah menikah, Dimas tinggal bersama Susi. Dia bekerja membantu Susi berjualan di warung kopinya.


Sejak perbuatan hina yang dilakukan Dimas diketahui oleh masyarakat, maka Dimas dipecat oleh lembaga pendidikan tempat dia mengajar.


Sekolah tidak sudi memiliki seorang pendidik yang tidak berakhlak karena guru merupakan contoh bagi siswanya.


****


Satu minggu sudah Fitri pergi dari desa, Dimas mulai risau memikirkan kepergian sang istri karena ibunya selalu saja mendesak dirinya untuk mencari sang istri.


"Dimas, kamu kok bisa tenang begitu saja saat istri dan anakmu sudah pergi menghilang begitu saja?" tanya Bi Fatimah geram dengan putranya.


Bu Fatimah merasa khawatir Fitri kembali ke rumah kedua orang tuanya. Dia bingung harus menjelaskan apa pada sahabatnya nanti tentang permasalahan hidup yang dijalani oleh Fitri selama mereka berada di kampungnya.


Temannya itu pasti marah besar pada dirinya, dan kecewa karena putranya sudah membuat putrinya tersiksa.


"Aku sudah mencarinya, Bu, tapi dasar Fitri saja yang ja*ang, pergi tanpa izin suami terus tidak pulang-pulang lagi," gerutu Dimas geram.


Dia sama sekali tidak sadar diri, bahwa istrinya pergi karena dirinya.


"Jangan kamu tumpahkan kesalahanmu padanya, Ibu tidak mau tahu, kamu harus bisa membawa Fitri kembali ke sini," ujar Fatimah memberi ancaman pada putranya.


Fatimah mengungkap keresahan hatinya, dia khawatir dengan keadaan menantu dan cucunya.


Dimas hanya bisa diam saja mendengar ancaman dari ibunya.


Dia termenung di depan meja makan, memikirkan cara untuk bisa menemukan Fitri.


Dia teringat untuk mencari Fitri ke rumah kedua orang tuanya yang ada di kota.

__ADS_1


"Jangan-jangan Fitri sekarang berada di rumah kedua orang tuanya, Iya benar Fitri pasti berada di rumah kedua orang tuanya, mau ke mana lagi dia kalau tidak kembali kepada keluarganya," gumam Dimas di dalam hati.


"Aku harus mencari Fitri ke kampungnya, aku harus paksa dia untuk kembali ke desa ini," lirih Dimas.


Di saat dia sudah jelas-jelas mengkhianati istrinya, dia masih berharap istrinya mengikuti apa yang diinginkannya.


Dimas pun keluar dari rumah kedua orang tuanya, dia melangkah menuju warung Susi yang kini sudah menjadi tempat tinggal baginya.


"Kamu dari mana saja, Dim. Liat, nih banyak pengunjung bantuin, kek," ujar Susi kesal melihat suaminya yang selalu keluyuran tidak jelas.


"Dari rumah ibu," jawab Dimas.


"Sini aku bantuin," ujar Dimas.


Dia menggantikan Susi membuat kopi untuk pengunjung. Warung Susi memang rame di pukul 11.00 sampe pukul 02.00 karena biasanya para pekerja yang melangsir hasil kebun warga beristirahat.


Dimas mulai terbiasa untuk melayani para pengunjung. Dia yang kini tak bekerja tidak bisa berpangku tangan karena Susi sudah menjadi tanggung jawabnya.


Sesekali dia ikut bekerja dengan teman-temannya yang mengajaknya bekerja di kebun.


Setelah para pengunjung warung mulai sepi, Dimas duduk di kursi panjang yang terdapat di pojok warung.


Dia ingin mengajak Fitri kembali tinggal bersamanya untuk disakitinya.


"Kamu kenapa, Dim?" tanya Susi heran melihat Dimas melamun.


"Mhm, enggak ada apa-apa," jawab Dimas berbohong.


Susi menatap Dimas dengan seksama, dia dapat mengetahui bahwa suaminya itu kini tengah berbohong padanya.


"Kamu lagi mikirin apa sih?" Susi memaksa Dimas untuk jujur padanya.


"Tidak ada apa-apa," jawab Dimas masih berbohong.


"Sudah katakan apa yang sedang kamu , Aku tahu kamu saat ini tengah berbohong padaku," ujar Susi memaksa Dimas untuk berlaku jujur padanya.


"Bohong? Bohong apa, sih?" Dimas merasa enggan menceritakan apa yang tengah dipikirkannya.

__ADS_1


"Kamu lagi mikirin apa, sih?" Susi terus mendesak Dimas untuk menjawab pertanyaannya.


"Mhm, tadi ibu menyuruhku untuk mencari Fitri, karena sudah satu minggu dia belum kembali ke desa ini." Akhirnya Dimas menjawab pertanyaan Susi.


"Apa kamu mikirin istri kamu yang sudah jelas-jelas ninggalin kamu? Seharusnya kamu mikirin aku istri kamu yang sudah ada di hadapan kamu, ini malah mikirin wanita lain." Susi kesel pada suaminya.


"Bukan begitu, Sayang. aku kepikiran Fitri karena disuruh ibu, ibuku takut terjadi salah paham antara dia dan temannya. secara ibunya Fitri merupakan teman ibuku," ujar Dimas menjelaskan apa yang selama ini tidak diketahui oleh Susi.


"Udah deh, Dim. mendingan kamu ceraikan aja wanita itu, lagian kamu sudah punya pengganti, kok," ujar Susi kesal.


Dia tidak ingin Dimas terikat lagi dengan wanita yang sangat dibenci oleh Susi. Mantan janda itu ingin menyingkirkan sosok Fitri dalam kehidupan Dimas.


"Ya enggak bisa, dong. Aku punya putri yang kini bersama Fitri," ujar Dimas tidak mau menceraikan istri sahnya.


"Lalu, kamu anggap apa keberadaan aku sekarang?" ujar Susi kesal.


"Ya kamu istriku jugalah, hanya saja aku ingin tahu keberadaan dia saat ini. Aku ingin melihat dia lebih menderita lagi,' ujar Dimas.


Senyuman Susi mengembang saat suaminya ingin melihat Fitri lebih menderita dari apa yang sudah dilihatnya selama ini.


Susi setuju, sang suami membawa kembali istrinya dengan alasan untuk menyakitinya. Dari dulu memang itu yang diinginkannya karena dia tidak merasa sudah dikalahkan oleh Fitri.


"Jadi kamu mau bawa kembali istrimu ke kampung ini?" tanya Susi penuh selidik.


"Rencananya begitu, aku akan kurung dia di sini, aku tidak akan membiarkan dia hidup senang di luar sana" ujar Dimas dengan senyuman licik.


"Menurut kamu dia sekarang ada di mana?" tanya Susi penasaran.


"Mungkin dia saat ini berada di rumah kedua orang tuanya, makanya aku lagi memikirkan cara untuk bisa pergi ke kampungnya Fitri." Dimas mengungkap apa yang tengah menjadi pikirannya.


"Aku punya uang, mungkin bisa kamu pakai untuk ongkos ke kampung wanita itu." Demi melihat kehancuran Fitri, Susi rela memberikan uangnya agar dia dapat melihat penderitaan Fitri.


"Ya udah, besok aku akan pergi ke kampung Fitri, semoga saja dia ada di sana," ujar Dimas.


"Sayang, pijitin, dong." Susi merengek pada Dimas.


Dia memberikan punggungnya ke hadapan Susi.

__ADS_1


Dengan senang hati Dimas pun memijit pundak istri sirinya. Mumpung pengunjung warung sedang sepi.


Bersambung...


__ADS_2