
Dimas masuk ke dalam rumah, lalu dia membuka map yang ada di tangannya, dia mengeluarkan sehelai kertas dari map tersebut, lalu dia membaca surat yang tertera di sana.
“Tidak! Ini tidak mungkin!” teriak Dimas tak percaya bahwa istrinya mengirimkan surat gugat cerai.
Di surat itu tertera undangan untuk menghadiri sidang perceraian.
Dimas tak menyangka, Fitri akan melakukan hal ini, dia mengira Fitri hanya meninggalkan dirinya untuk menenangkan diri saja.
“Apakah kamu sudah tidak lagi peduli denganku? Apakah kamu akan kembali dengan cinta masa lalumu itu?” gumam Dimas.
Dia sama sekali tidak menerima apa yang sudah dilakukan Fitri pada dirinya.
Dimas merasa Fitri telah mencampakkan dirinya begitu saja.
“Kenapa kamu tega sekali meninggalkan aku seperti ini? Bahkan kamu juga berani mengirimi aku surat gugat cerai ini,” ujar Dimas seorang diri.
Dia terus saja mengata-ngatai apa yang sudah dilakukan oleh Fitri terhadap dirinya, tanpa menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya terhadap istrinya itu.
Di mata Dimas saat ini Fitri sudah bersalah pergi meninggalkan rumah tanpa pamit padanya, itupun Fitri pergi dengan seorang pria.
“Lihatlah, Fitri. Kamu pasti menyesal sudah melakukan hal ini,” ujar Dimas lagi.
Di dalam rumah itu hanya dia seorang diri, tapi dia sibuk berbicara tanpa ada lawan bicaranya.
“Aku tidak akan datang pada persidangan itu,” gumam Dimas lagi.
Hari Dimas semakin kacau setelah mendapatkan surat tersebut, dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Fitri tidak bisa melakukan ini, aku harus melakukan sesuatu," ujar Dimas.
Tiba-tiba Dimas teringat dengan sepeda motor Fitri yang ada di rumah Sinta.
Dia pun berdiri lalu melangkah keluar dari rumahnya. Dia melangkah menuju rumah Sinta, dia berniat akan mengambil sepeda motor Fitri yang ada di rumah Sinta agar dia bisa mengancam Fitri agar membatalkan rencana perceraian mereka.
Tok tok tok.
Dimas mengetuk rumah Sinta saat dia sudah berada di depan rumah sahabatnya itu.
Rumah sederhana milik Yanto dan Sinta itu terlihat tertutup dengan rapat seperti tidak ada orang di rumah itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Dimas masih sambil mengetuk pintu rumah Sinta.
"Sinta! Sinta!" Dimas memanggil-manggil nama istri sahabatnya itu.
Dia tidak sabar ingin bertemu dengan Sinta secepatnya.
__ADS_1
"Sinta tidak ada di rumah!" teriak seseorang dari rumah yang ada di samping rumah Sinta.
"Dia ke mana, Bu?" tanya Dimas kesal.
"Mereka pergi ke luar kota, mereka menghadiri acara pernikahan saudara Sinta," jawab tetangga Sinta.
"Ya ampun, kenapa aku apes begini, ya?" gumam Dimas merutuki nasibnya.
Akhirnya Dimas pun mengambil keputusan untuk pergi ke warung Susi berharap hubungannya dengan Susi bisa membaik. Dimas tidak mau rugi 2 kali, setelah hubungannya dengan Fitri di ambang kehancuran, sekarang hubungannya dengan Susi juga berada di ujung tanduk.
Dimas akan melakukan apa pun agar dia bisa tetap mempertahankan hubungannya dengan Susi.
Dia melangkah menuju warung janda tanpa anak yang kini berstatus sebagai istri sirinya.
Sesampai di depan rumah Susi, Dimas heran melihat warung Susi tertutup, tidak biasanya Susi tidak membuka warungnya.
Bagi Susi, warung merupakan satu-satunya penghasilan yang didapatnya untuk bisa tetap bertahan hidup di desa itu.
Dimas melangkah menuju pintu rumah, dia mengira saat ini Susi tengah sakit atau kurang sehat.
"Sayang," lirih Dimas saat dia sudah berada di depan pintu rumah Susi.
Tok tok tok.
"Susi, buka dong pintunya," pinta Dimas.
Dia mengira saat ini, Susi masih marah padanya dan tidak mau membukakan pintu untuknya.
"Susi, aku minta maaf. Ayo, dong buka pintunya, aku janji akan melakukan apa pun untukmu, supaya kamu tidak marah lagi padaku," ujar Dimas.
Dia berusaha membujuk Susi, dia terus berbicara dari luar rumah karena dia yakin Susi sedang berada di dalam rumah.
"Dim, kamu ngapain di sana?" teriak Rahmat.
Rahmat baru saja melintas di depan warung Susi, dia melihat temannya itu sedang berdiri di depan rumah Susi.
"Aku mau ketemu Susi," jawab Dimas.
"Susi tidak di rumah, dia sedang pergi," ujar Rahmat memberitahu Dimas.
"Hah? Pergi? Ke mana?" tanya Dimas pada Rahmat.
"Aku kurang tahu juga, sih. Hanya saja saat itu dia bilang mau pergi keluar kota sekitar beberapa hari," jawab Rahmat.
"Jadi, dia memberitahumu dia pergi keluar kota, sedangkan aku sebagai suaminya tidak diberitahunya. Sebagai seorang istri i, dia harus pamit padaku," ujar Dimas kesal.
__ADS_1
"Aku juga tidak kalau masalah itu," balas Rahmat.
Saat ini Dimas merasa nasib sial menghampiri dirinya, istri sahnya pergi satu Minggu yang lalu dengan seorang pria, sementara itu istri sirinya juga pergi tanpa berpamitan dengannya.
"Sial benar nasibku kali ini, apa yang harus aku lakukan?" gumam Dimas di dalam hati.
Dengan langkah gontai Dimas pun kembali ke rumahnya.
Hari ini dia merasa dunia tak berpihak pada dirinya, dia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia menatap kosong langit-langit kamarnya, hatinya hancur dan hidupnya menjadi berantakan.
Meskipun seperti itu, Dimas masih belum menyadari kesalahannya. Dia masih menganggap semua yang dialaminya saat ini adalah akibat dari kesalahan Fitri.
"Fitri, ini semua salahmu. Seandainya kamu tidak terperangkap dalam cinta masa lalumu, maka hubungan rumah tangga kita akan baik-baik saja," lirih Dimas menyesali apa yang sudah dilakukan oleh istrinya.
Dimas masih dapat merasakan sakitnya dikhianati oleh sang istri, Dimas masih saja menyesali hati istrinya yang masih ada untuk pria lain meskipun mereka sudah menikah selama 7 tahun.
****
Jadwal persidangan perceraian Fitri dan Dimas tinggal 2 hari lagi, entah mengapa Fitri merasa galau. Dia masih memikirkan perasaan Rasya jika dia berpisah dengan Dimas, tapi dia juga tidak sanggup tersiksa jika kembali bersatu dengan Dimas.
Hari ini, Fitri sama sekali tidak menulis novel. Pikirannya yang tertuju pada perceraian membuat Fitri tidak mood untuk menulis.
"Rasya," lirih Fitri pada putrinya yang kini asyik menonton TV.
"Iya, Bunda." Rasya menoleh pada bundanya.
"Bunda ngerasa bosan di rumah, kita jalan, yuk!" ajak Fitri pada putrinya.
Fitri berencana akan membawa putrinya jalan-jalan ke sebuah taman, dia ingin menenangkan pikirannya dan menata hatinya agar dia siap dengan keputusan yang sudah diambilnya.
"Ayo," sahut Rasya senang.
Akhirnya ibu dan anak itu bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan ke taman yang terletak tak jauh dari komplek perumahan orang tua Fitri.
Di taman Fitri membeli es krim untuk Rasya dan dirinya.
Fitri duduk di bangku taman sambil melihat Rasya bermain ayunan.
Di saat mereka sedang asyik bermain, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Rasya.
Dia mengangkat tubuh Rasya dan menggendong gadis kecil itu.
Bersambung...
__ADS_1