Terperangkap Cinta Masa Lalu

Terperangkap Cinta Masa Lalu
Bab 35


__ADS_3

Fitri kaget mendengar bentakan dari sang suami.


Dia mengernyitkan dahinya heran. Baru saja dia sampai di rumah mertuanya, Dimas sudah berani membentak dirinya.


Fitri menatap ke arah Dimas.


"Memangnya kenapa, Bang? Apakah aku salah mau bertemu dengan Sinta?" tanya Fitri pelan.


Dimas terdiam.


"Aku tidak boleh gegabah, aku harus bicara baik-baik sama dia," gumam Dimas di dalam hati.


"Tidak salah, tapi kita baru saja sampai Rasya masih lelah jadi alangkah lebih baiknya besok saja kamu pergi jemput motornya," ujar Dimas dengan nada yang pelan.


Dimas harus berakting terlebih dahulu, sebelum Fitri tahu masalah pernikahannya dengan Susi.


"Oh, ya udah kalau begitu. Aku bersih-bersih dulu. Badanku terasa sangat lelah," ujar Fitri.


Fitri berdiri, dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Fitri juga membawa Rasya untuk mandikan putrinya.


Saat dia hendak masuk ke dalam kamar mandi, Fitri melihat ibu mertuanya sedang sibuk di dapur.


"Ibu mau masak apa?" tanya Fitri sekadar basa-basi dengan ibu mertuanya.


"Mhm, ini mau bikin sambel terasi dengan ayam kecap," jawab Bu Fatimah.


"Sini aku bantuin, Bu," ujar Fitri.


"Enggak usah, kamu kan masih capek. Kamu mandi aja sana," ujar Bu Fatimah.


"Tapi, Bu," lirih Fitri.


"Enggak usah, Fit. Sana kamu mandi biar segar," ujar Bu Fatimah.


Akhirnya Fitri pun melangkah menuju kamar mandi sambil menggandeng Rasya.


Fitri memandikan Rasya terlebih dahulu, setelah itu baru dia yang membersihkan diri.


Setelah mandi Rasya duduk di ruang keluarga bermain bersama kakeknya, sedangkan Fitri masih berada di dalam kamar mandi.


Saat Fitri sudah selesai mandi, dia langsung masuk ke dalam kamar yang biasa mereka pakai saat tinggal di rumah kedua orang tua Dimas.


"Di mana Bang Dimas?" gumam Fitri heran saat tak melihat suaminya tak berada di dalam rumah.


Sementara itu, Dimas tengah berada di warung Susi. Hari ini Susi tidak jualan, karena dia merasa sangat lelah.


"Sayang," panggil Dimas saat dia sudah berada di depan rumah Susi.


Susi yang sedang bersantai sambil memainkan ponselnya langsung keluar dari kamarnya saat mendengar suara Dimas yang sudah datang.


Satu hari tidak bertemu dengan suami sirinya itu, Susi sudah merasa sangat merindukan sosok pria yang sudah mengisi kekosongan hatinya selama ini.


Susi membukakan pintu untuk sang suami dengan hati bahagia.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah datang?" ujar Susi bahagia.


Susi langsung memeluk tubuh kekar sang suami.


"Sayang, hentikan!" lirih Dimas mengingatkan istri sirinya.


"Kenapa? Kamu kan suamiku," ujar Susi mengerucutkan bibirnya.


Dia memasang wajah merajuk.


"Malu sayang nanti ada yang lihat," ujar Dimas.


"Kamu sudah sah menjadi suamiku, jadi kamu itu udah hak aku," gerutu Susi.


"Iya, Sayang. Aku tahu, tapi tetap saja enggak enak sama tetangga," ujar Dimas.


Dimas pun langsung menghujani istri sirinya itu dengan ciu*an mesra. Dia sengaja melakukan hal itu agar istri sirinya tidak lagi merajuk.


"Aku merindukanmu," bisik Dimas di telinga istri sirinya dengan napas tersengal-sengal.


"Aku juga merindukanmu, kamu lama sekali," lirih Susi juga dengan napas tersengal-sengal.


Akhirnya mereka pun langsung saling melepaskan rasa rindu yang terpendam di hati mereka.


Meskipun mereka hanya berpisah selama 3 hari, rindu mereka membuncah. Berbeda dengan hasrat yang diberikan Dimas pada istri sahnya, Fitri.


"Terima kasih, Sayang," ucap Susi dengan hatinya berbunga-bunga.


Susi benar-benar tersanjung dengan perlakuan yang diberikan oleh Dimas.


Hasrat cintanya pada Dimas Yang selama ini terpendam di hatinya kini dapat tersalurkan.


Saat ini Dimas tengah tenggelam dalam lautan asmara yang membara dengan janda tanpa anak yang ada di kampungnya.


Tanpa disadarinya apa yang sudah dilakukannya akan menyakiti hati istrinya.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar." Terdengar suara azan magrib berkumandang.


Dua insan itu masih hanyut dalam cinta yang bergelora.


"Sayang, aku harus pulang. Aku takut Fitri mencarimu," ujar Dimas hendak berpamitan pada istri sirinya itu.


"Oh, jadi saat ini kamu lebih memilih wanita pengkhianat itu dari pada aku?" ujar Susi sambil merajuk.


"Bukan begitu, Sayang. Aku harus memikirkan Fitri saat ini, karena aku takut dia kabur lagi sebelum kita menyiksa hatinya," ujar Dimas pada Susi.


"Mhm, baiklah, kalau begitu." Akhirnya Susi pun mengalah.


Dengan berat hati dia melepas kepergian Dimas.


Dia pun berdiri, lalu dia mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai. Setelah itu dia pun memakai pakaiannya.


"Aku pulang dulu, ya," ujar Dimas pamit.


"Iya, Sayang. Nanti kamu datang lagi ke sini, 'kan?" lirih Susi dengan manja.

__ADS_1


"Iya, aku datang lagi ke sini setelah Fitri tidur," ujar Dimas berjanji pada Susi.


"Ya udah, aku tunggu, ya," lirih Susi.


Dimas pun mengecup puncak kepala Susi sebelum dia keluar dari kamar janda tanpa anak itu.


"Tunggu sayang," bisik Susi.


Susi pun mengecup bi**r suami sirinya itu dengan penuh gairah.


Dengan usah payah Dimas berusaha melepaskan tautan bi**r Susi.


"Sudah dulu ya, Sayang." Dimas melepaskan diri dari rangkulan sang istri siri.


Dimas melangkah keluar dari kamar, lalu dia keluar rumah Susi.


Dia pun kembali pulang.


Di rumah Fitri masih diam di kamar, dia takut untuk bertemu dengan ayah mertuanya.


Bayangan ayah mertuanya yang hendak memperk**a dirinya saat itu masih jelas terngiang di benak Fitri.


"Ya ampun, Bang Dimas ke mana, sih?" gumam Fitri kesal.


Dia diam di kamar sambil terus menulis novel onlinenya setelah dia selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.


Bersyukur Fitri langsung berwudhu setelah mandi tadi sore, sehingga dia bisa langsung shalat maghrib di kamar.


Saat Fitri asyik dengan ponselnya menulis novelnya, Dimas masuk ke dalam kamar.


"Lho, kamu di sini?" tanya Dimas.


Dimas sudah mencari istrinya di sekeliling rumah, akhirnya dia pun melihat istrinya tengah asyik dengan ponselnya.


"Kamu dari mana saja sih, Bang? Sejak tadi aku nungguin kamu," ujar Fitri kesal.


"Mhm, itu tadi aku baru saja dari warung," jawab Dimas santai.


Fitri memperhatikan dengan seksama pakaian suaminya yang terlihat kusut.


"Bang Dimas habis dari mana, sih? Kayaknya tadi bajunya enggak kusut seperti ini," gumam Fitri di dalam hati.


"Ke warungnya kok lama banget sih, Bang?" tanya Fitri.


"Oh, itu tadi ketemu Yanto, ngomongin pekerjaan," jawab Dimas berbohong.


"Ya udah, kalau gitu ayo kita makan," ajak Dimas yang sudah merasa sangat lapar.


Dia tidak memikirkan mandi wajib dan shalat Maghrib terlebih dahulu, yang ada di benaknya saat ini adalah mengisi perutnya.


Fitri pun meletakkan ponselnya, lalu melangkah keluar mengikuti langkah suaminya menuju dapur.


"Kamu dari mana, Dimas?" tanya Bi Fatimah yang melihat penampilan putranya berantakan.


"Dari warung, Bu." Dimas menjawab.

__ADS_1


"Terus kenapa bibirmu merah-merah gitu?" tanya Bu Fatimah langsung saat melihat bibir putranya berlepotan dengan warna merah.


Bersambung...


__ADS_2