
Edward langsung membopong tubuh Lizbeth menuju kamar apartemennya setelah keluar dari mobil. Laki laki itu sengaja membawanya kemari untuk menghindari masalah baru jika Edward membawa Lizbeth ke mansionnya karena bisa saja sewaktu waktu baik Nathalie maupun keluarga yang lain datang dan akan sulit menjelaskan sosok gadis dengan kondisi seperti ini dan apartemen ini adalah salah satu tempat yang tidak di ketahui oleh keluarga Franklyn maupun Miller.
Edward membaringkan tubuh Lizbeth perlahan di atas ranjang king size miliknya, dengan cekatan Edward melepaskan sepatu Lizbeth juga jaket hitam gadis itu menyisakan kaos berwarna putih dan celana jeans. Dengan tatapan datar tanpa Ekspresi Edward mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru muda dari sakunya dan berjalan menuju lemari untuk mengambil alat suntik. Perlahan cairan yang merupakan penawar racun itu masuk ke dalam alat suntik dengan sempurna, bahkan terlihat bahwa Edward sudah biasa melakukan hal ini dengan mudah. Tanpa kesulitan untuk menemukan pembuluh darah pada tangan Lizbeth, Edward membersihkannya terlebih dahulu dengan kapas yang sudah ditetesi alkohol sebelum menyuntikkan cairan penawar racun itu di sana. Edward menghela nafasnya dan memandangi wajah pucat Lizbeth beberapa detik sebelum berbalik, berjalan menuju kamar mandi.
Guyuran air dari shower yang membasahi tubuh atletis.
Edward dari atas hingga bawah ternyata tidak cukup untuk mendinginkan kepalanya saat ini. Edward tidak mengerti dengan perasaannya yang mendadak kacau hanya karena melihat Lizbeth terbaring lemah dengan kondisi menyedihkan. Edward menumpukan kedua tangannya pada dinding kamar mandi dengan kepala menunduk, masih membiarkan dinginnya air menyiram tubuhnya. Pikirannya yang terbiasa tenang dan stabil kini mulai terusik semenjak kehadiran gadis itu. Edward memejamkan matanya sejenak kemudian mematikan showernya. Melilitkan handuk putih pada pinggangnya dan segera keluar dari kamar mandi dengan sisa sisa air yang masih menetes dari rambutnya.
“Aarrgghh…”
Edward menghentikan langkahnya yang hendak menuju walkin closet ketika mendengar erangan halus Lizbeth, gadis itu masih memejamkan matanya dengan kening berkerut membuat kaki Edward dengan perlahan mendekatinya dan duduk di sisi ranjang. Tangan besarnya mengelus kening Lizbeth dengan lembut sementara mata birunya mengamati wajah cantik itu tanpa ekspresi, hingga pandangannya jatuh pada sudut bibir Lizbeth yang terluka. Sekilas ingatan tentang bagaimana Robinson menendang gadis itu kembali berputar pada otak Edward, ingatan itu membuat emosi Edward kembali naik maskipun pada kenyataannya ia sudah meleyapkan Robinson, hal yang menurut Edward sepadan dengan apa yang sudah laki laki itu lakukan. Edward menghembuskan nafasnya perlahan sebelum beranjak dari duduknya setelah memeriksa denyut nadi Lizbeth yang sudah tidak selemah sebelumnya menandakan bahwa penawar racun itu sudah mulai bekerja dengan baik. Mungkin Lizbeth akan sadar tiga atau empat jam kemudian.
****
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Edward berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Hingga sampai di depan pintu kamar, Edward langsung mendorongnya dengan kaki dan kembali menutupnya. Di atas ranjang, Lizbeth sudah sadar dan gadis itu kini duduk dengan kening berkerut menatap Edward yang berjalan ke arahnya.
“Kenapa?” tanya Edward datar Lizbeth menerima mangkuk bubur yang di berikan oleh Edward dengan raut wajah penuh waspada kemudian menatap Edward tajam.
__ADS_1
“Ap—“
Ucapan Lizbeth terhenti ketika Edward menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulutnya sendiri, “Kau mengira aku akan meracunimu? See, jika ya, maka aku yang akan mati terlebih dahulu,” ujar Edward setelah menelan habis bubur di dalam mulutnya
Lizbeth masih diam dengan tatapan tajamnya, ia marah, sangat, bagaimana tidak jika laki-laki yang sudah menyelamatkan nyawanya ini adalah laki-laki yang beberapa waktu lalu ingin membunuhnya? Lizbeth meletakkan mangkuk ke atas meja dan dengan cepat menendang Edward hingga laki-laki itu terjatuh kebelakang karena tidak siap mendapatkan serangan mendadak yang di lakukan oleh Lizbeth, hal itu tidak di sia-siakan oleh Lizbeth, gadis itu langsung menginjak dada Edward yang tengah terlentang di lantai. Edward masih diam, membiarkan apa yang akan Lizbeth lakukan padanya.
“Kau melukai kepercayaanku, Ed...” desis Lizbeth dengan nafas memburu menahan emosinya “…aku bodoh karena sudah percaya pada mafia iblis sepertimu!”
“Apa ini caranya berterima kasih kepada seseorang yang bahkan sudah menyelematkanmu?” tanya Edward setelah dengan cepat menarik kaki Lizbeth, membanting tubuh gadis itu dan mengunci pergerakannya dengan tubuh besar Edward yang sudah berada di atas Lizbeth.
“Dan orang itu juga yang sudah hampir membunuhku!” bentak Lizbeth penuh amarah yang berkilat pada matanya.
“Ikuti kemauanku jika kau masih ingin hidup!” tatapan tajam Edward tidak terlepas sedikitpun saat mengatakan kalimat perintahnya yang terdengar tidak ingin untuk dibantah. Sedangkan Lizbeth semakin menatap benci laki laki di depannya.
“Bahkan sampai mati pun aku tidak akan mengikuti kemauanmu! Kau bukan siapa-siapa.” Lizbeth menekankan setiap kata pada kalimat terakhirnya.
Dengan sekuat tenaga Lizbeth berusaha melepaskan dirinya, entah Edward sengaja melepaskannya atau dia yang cukup kuat yang jelas sekarang Lizbeth sudah berdiri dengan nafas memburu, mengenakan jaket dan sepatunya sebelum pergi meninggalkan kamar apartemen Edward. Lizbeth menuruni anak tangga dengan cepat hingga ia mendapati seorang laki laki yang berada di ruang tengah menatapnya bingung, Lizbeth tidak peduli ia hanya ingin segera pergi dari apartemen mafia iblis itu. Beruntung pintu apartemen tidak terkunci hingga Lizbeth bisa langsung keluar tanpa harus mendobraknya.
__ADS_1
“Mr.Ed?” Victor menatap Edward yang berjalan dengan santai seolah tak terjadi apapun, berbeda dengan ekspresi Lizbeth beberapa saat yang lalu .
“Dia yang memilih pergi.”
Edward mendudukkan dirinya pada sofa panjang berwarna putih, menumpukkan kaki kanan di atas kaki kirinya. Tangannya meraih botol wine dan menuangkan isinya ke dalam gelas kristal di sampingnya sebelum menyesapnya perlahan, mengalihkan sejenak fikirannya dengan berusaha menikmati wine seperti biasanya meski apa yang ia lakukan hanyalah sia-sia. Meskipun dirinya terlihat tenang, namun sebenarnya Edward tidak akan mungkin membiarkan Lizbeth pergi begitu saja. Edward hanya ingin membiarkan gadis itu meredakan emosinya, Edward tidak bisa menjelaskan alasan bodohnya mengapa ia menyuntikkan racun saat Lizbeth tertidur sebelum Edward kembali ke New York. Alasan bodoh yang Edward miliki hanya akan membuat laki laki itu menjadi bahan tertawaan Lizbeth atau lebih buruknya gadis itu menganggapnya gila? Tidak.. sejak mengenal Lizbeth Edward memang sudah gila dengan melakukan tindakan di luar garis batas yang ia ciptakan sendiri, di luar perannya sebagai sang iblis Eduardo Estebat mafia kejam yang tidak pernah bermain menggunakan perasaannya namun hal itu sudah ia langgar.. mengingat Edward sengaja menarik ulur Lizbeth agar masuk ke dalam kehidupannya. Edward meraih ponselnya untuk tetap memantau keberadaan Lizbeth yang saat ini ternyata sudah keluar dari kawasan apartemen dan hendak masuk ke dalam taxi hingga beberapa saat kemudian Edward beranjak dengan cepat setelah melihat apa yang ada di layar ponselnya, dan membuat Victor yang tadi hanya diam kini langsung terkesiap.
“Ada apa,tuan?”
Edward tidak menjawabnya, laki laki itu keluar dari apartemen di ikuti Victor di belakangnya. Edward berjalan dengan langkah lebarnya memasuki lift dan segera memencet tombol menuju lantai dasar, setelah lift terbuka Edward langsung berjalan memasuki mobil yang sudah di siapkan anak buahnya sementara Victor yang masih diam namun tetap mengikuti kemanapun Edward pergi kini mulai merasakan bahwa ada hal buruk lagi yang terjadi dan itu sudah pasti berkaitan dengan Elizaveta. Gadis yang akhir akhir ini membuat boss besarnya sering tidak bisa mengendalikan emosinya. Mobil mereka masih melaju membelah malamnya kota New York, Edward kembali mengulik ponselnya dang memejamkan matanya sejenak sebelum kalimat yang ia ucapkan kepada supir membuat Victor semakin mengerutkan keningnya tak mengerti “Putar balik!”
“yes, Sir.” sang supir yang juga merupakan agen terlatih Edward langsung menjawab dengan patuh.
Victor menggelengkan kepalanya, orang kepercayaan Edward itu semakin yakin bahwa ini kembali menyangkut tentang Lizbeth enatah apa itu yang jelas Edward kembali bertingkah di luar batasnya, bertingkah bukan seperti Edward yang biasanya.
“Apa terjadi sesuatu dengan nona Lizbeth?” tanya Victor memberanikan diri, pasalnya kini Edward tengah dalam emosi yang buruk.
“Tidak.”
__ADS_1
Jawaban singkat itu tak membuat Victor percaya begitu saja kepada Edward. Karena siapapun pasti sudah bisa menyimpulkan jika Edward berbohong atau memang sedang tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Victor hanya bisa mengangguk tak ingin menanyakan hal ini lagi, karena ini sudah masuk ke dalam privasi Edward.