
Suara nyaring yang ditimbulkan dari hand gun milik beberapa agen Edward terdengar memekakkan telinga. Bahkan kini Victor, Dmitry juga beberapa agen kepercayaan Edward sedang melindungi Lizbeth dari penyerangan tiba-tiba yang entah dari siapa. Mereka bahkan tak menyangka bahwa musuh akan mengetahui dan dapat membobol keamanan markas Estebat secepat ini.
Lima menit setelah seluruh alarm markas berbunyi yang menandakan terjadi suatu kesalahan, beberapa orang datang menyerang dan langsung di susul oleh yang lain dengan jumlah yang lumayan banyak.
Dmitry menggenggam tangan Lizbeth erat berada di belakang Victor. Dmitry dengan senjata di salah satu tangannya siap kapanpun menarik pelatuknya untuk melindungi adiknya. Sementara Lizbeth mulai merasakan sakit luar biasa pada kepalanya. “Liz, hey! kau tidak apa-apa?” Tanya Dmitry semakin panik tatkala Lizbeth memegang kepalanya dan sedikit menjambak rambutnya. “Tidak. Kepalaku sakit,” jawab Lizbeth.
“Oh Shit!!!”
Dmitry menatap sekeliling, masih aman untuk Lizbeth berbaring karena serangan masih belum bisa menembus ke dalam. Serangan orang orang tak di kenal itu berada di bagian luar markas, meski begitu mereka harus tetap siaga apalagi Edward sedang tidak ada dan mempercayakan Lizbeth pada mereka.
“Istirahatlah, aku akan mencari dokter Sam,” ujar Dmitry yang di beri gelengan oleh Lizbeth.
“Tidak. Aku merasa sedikit mengingat sesuatu.”
Victor langsung menoleh setelah mendengar ucapan Lizbeth, begitupun dengan Dmitry yang cukup terkejut.
“Kau sudah bisa mengingat semuanya?”
Lizbeth memejamkan matanya sesekali meringis menahan sakit juga mencoba memperjelas lintasan ingatan yang mulai terlihat samar.
Suara tembakan, dinding dengan noda darah, Edward, juga.....
Semua orang semakin bingung saat tiba-tiba saja Lizbeth terisak. “Liz, jangan memaksa untuk mengingat. Kami akan melindungimu dengan nyawa kami,” ujar Dmitry segera membawa Lizbeth ke dalam pelukannya.
Bayangan dimana Edward memeluknya, menciumnya juga bagaimana pria itu mendekap tubuhnya yang nyaris tertembak membuatnya sesak, ingatan dimana wajah frustasi Edward terlihat jelas saat mengetahui kondisinya yang tengah mengandung dengan partikel di dalam tubuhnya bisa kembali Lizbeth ingat. Kejadian demi kejadian mulai terekam jelas, hatinya berdenyut sakit. Bagaimana bisa ia membuat Edward semakin sakit dengan dirinya yang tak bisa mengingat apapun? Bagaimana selama ini Edward menahan sesaknya?
Hormon kehamilannya membuat suasana hati Lizbeth semakin memburuk. Namun Lizbeth sadar apa yang harus ia lakukan sekarang, dirinya tidak bisa hanya berdiam diri dan membuat semua orang khawatir.
Lizbeth mengurai pelukannya lalu menatap Dmitry. “Aku mengingat semuanya,” ujarnya seraya menghapus bulir bening yang membasahi pipinya dengan kasar.
Dmitry tersenyum lega begitupun Victor. Akhirnya satu masalah terselesaikan, dengan begini semua akan semakin mudah. Lizbeth berjalan mendekati meja kecil kemudian membuka lacinya, mengobrak abrik isi di dalamnya kemudian berpindah ke laci yang lain saat apa yang ia cari belum berhasil ia temukan.
“Kau mencari ini?”
“Terima kasih,” ujar Lizbeth setelah menerima pisau kesayangannya yang di berikan oleh Dmitry.
Dmitry menatap Lizbeth saat suara tembakan kembali terdengar semakin dekat.
“Kita bergerak sekarang?”
“Wait!” Lizbeth kembali mencari Deagle yang dulu pernah Edward berikan padanya. Ia yakin Edward menyimpannya di dalam ruangan itu.
“Liz, kita harus bergerak!” Ucap Dmitry segera menarik tangan Lizbeth yang masih sibuk mencari senjatanya.
“Aku membutuhkan Deagle ku, Dmitry.”
“Nyonya, kami akan melindungi anda meski tanpa Deagle itu di tangan anda,” ujar Victor tegas.
Lizbeth menggeleng tak memperdulikan kedua laki laki itu. Senyum tipisnya muncul saat mata hijau itu melihat senjata yang ia cari berada di dalam lemari kaca. Dengan cepat Lizbeth mengambilnya lalu mencengkeramnya erat sebelum mengikuti Dmitry juga Victor keluar dari ruangan itu bersama beberapa agen yang seolah menjadi tameng karena Lizbeth berada di tengah tengah mereka dengan Victor yang berjalan di depannya serta Dmitry yang di sampingnya.
“Apa Edward tahu?”
Dmitry menggeleng. “Kemungkinan besar tidak. Jangan khawatir semua akan baik-baik saja.”
Victor menghentikan langkahnya tiba-tiba setelah mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya. Victor berbalik menatap Lizbeth juga Dmitry dengan serius.
“Ada yang membantu kita.” “Siapa?!” Tanya Dmitry.
“Kami belum bisa memastikan, tapi sedari tadi agen kita terus mendapatkan bantuan dari luar yang terus membantai mereka yang menyerang,” jelas Victor.
Semua orang terlihat berfikir dan menduga duga, siapa kira kira yang memberikan bantuan terang terangan untuk membantu mereka? meski tanpa bantuan itupun sebenarnya anak buah Edward bisa mengatasinya.
Beberapa saat tak terdengar lagi suara tembakan hingga Victor kembali mendapatkan laporan.
“Mereka sudah menghabisi semuanya,” ujar Victor. “Kita periksa keluar!”
“Tidak Liz! Kau tetap di dalam!” Tolak Dmitry disertai perintah tegas.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan aku juga harus tahu siapa mereka,” desak Lizbeth yang hanya dibalas helaan nafas oleh Dmitry.
Laki-laki itu tahu bahwa Lizbeth adalah tipe keras kepala yang kurang lebih dengan Edward. Dmitry merasa lebih baik Lizbeth belum mengingat apapun saat ini karena akan lebih mudah di arahkan, jika sudah seperti ini Dmitry hanya bisa mempersilahkan nyonya besar untuk ikut keluar bersama mereka.
Lorong panjang yang mereka lalu masih terlihat sama karena tak ada satupun musuh yang berhasil masuk. Hingga mereka melihat puluhan mayat bergelimpangan di luar.
Lizbeth mengedarkan pandangannya lalu berlari secara tiba-tiba membuat Dmitry juga Victor segera menyusulnya. Oh- ingatkan Lizbeth bahwa wanita itu sedang hamil muda! Jika sesuatu terjadi sudah pasti Edward tak akan segan memenggal kepala Dmitry serta Victor saat itu juga.
“Lizbeth!!! Berhenti!!” Teriak Dmitry. Lizbeth terus berlari hingga...
Satu jegalan pada kaki seseorang berhasil Lizbeth lakukan hingga orang itu terjatuh dan tak melawan ketika Lizbeth mengunci pergerakannya dengan cara menyatukan kedua tangan orang itu di balik punggung kemudian memaksanya bediri dengan moncong Deagle Lizbeth yang langsung menekan pelipis laki laki itu.
__ADS_1
“Siapa kalian?” Tanya Lizbeth dingin.
Dmitry dan Victor yang sudah berhasil menyusul Lizbeth kini mengatur nafas mereka yang memburu akibat berlari di sertai rasa was-was takut terjadi sesuatu pada Lizbeth Yang nyatanya wanita itu malah dengan santai menangkap seseorang.
Orang itu menatap Lizbeth sejenak lalu menatap Dmitry serta Victor bergantian.
“Kami berada di pihak kalian.”
Lizbeth tersenyum miring. “Semua penghianat juga berkata demikian, jawab dengan benar atau aku akan melubangi kepalamu!” Dmitry mendekat lalu memiringkan kepala laki laki itu dan memperhatikan sebuah tatto di balik telinga.
Dmitry terbelalak. “What the f*ck!! Golden Rose?!”
“Tunggu!jangan menembakku, aku akan menjelaskannya,” ujar laki laki itu cepat saat melihat Victor mengarahkan senjata ke arahnya dan siap menarik pelatuknya.
Sementara Lizbeth yang juga masih setia dengan Deagle di tangannya menatap dingin laki laki itu. Bagaimana bisa Golden Rose membantu mereka sementara Edward sedang memburunya? Lalu siapa yang menyerang?
“Bawa dia!” Perintah Lizbeth yang langsung diberi anggukan anak buah Edward kemudian membawa laki laki asing itu masuk ke dalam markas.
*****
“Kau bisa meretasnya?” Tanya Alexa pada Edward yang sibuk dengan tabletnya untuk meretas sistem keamanan markas Gustavo. Edward mengangguk. “Tetap waspada karena kita tidak tahu sebanyak apa anak buah mereka.”
Alexa mengangguk begitupun Louis. Saat ini mereka sudah berhasil memasuki wilayah markas Gustavo dengan lancar dan hendak menyusup masuk.
Edward memasukkan kembali tabletnya ke dalam ransel yang di bawa Alexa kemudian memutar jam tangannya 45 derajad sebelum tersenyum miring.
“Ada tiga penjaga di depan. Louis tetap awasi belakang kita,” ujar Edward yang berada di depan sementara Alexa di tengah dan Louis di belakang.
Louis mengangguk. Mereka mulai berjalan menyusuri lorong kemudian..
“Three down.”
Hand gun yang sudah di lengkapi peredam suara itu berhasil menumbangkan tiga orang di depan mereka dengan baik.
“Two down.”
Louis berhasil menumbangkan dua orang di belakang mereka yang tak sengaja lewat dan menyadari kehadiran mereka yang menyusup. “Good,” gumam Edward.
Warning!! Warning!!
“Damn!! Move..move!!” Perintah Edward setelah terdengar suara alarm.
“Sial!!” Geram Edward
Mereka terus berlari ketika beberapa anak buah Gustavo menembakkan peluru ke arah mereka yang bagusnya sama sekali tidak tepat pada sasaran.
Alarm yang berasal dari salah satu anak buah Gustavo berhasil membuat Edward, Alexa serta Louis geram. Pasalnya mereka sudah meretas seluruh keamanan termasuk alarm yang ada di sana, tapi siapa sangka jika salah satu anak buah Gustavo menyalakan alarm manual setelah melihat mereka.
“What’s next?” Tanya Loius.
“Hadapi apa yang ada di depan kita,” jawab Edward yang kemudian belok kiri kembali menemukan lorong panjang berdinding merah. “Alexa, periksa tabletmu!” Perintah Edward.
Alexa segera mengambil tablet dari ranselnya kemudian menguliknya, seketika ia menegang menyadari sesuatu telah terjadi. “Mereka menyerang markasmu, Ed.”
“F*ck!!”
“Dan mereka juga berhasil menembus wall barrier pertama,” lanjut Alexa semakin membuat Edward marah.
Langkah mereka terhenti ketika di ujung lorong hanya menemui sebuah lift yang sudah pasti memerlukan password khusus untuk membukanya. Tak perlu berfikir panjang, Edward mengeluarkan ponselnya, memindai tombol lift itu kemudian segera menekan beberapa digit nomor setelah berhasil mengetahui bekas sidik jari yang tertempel disana.
Mereka masuk ke dalam lift setelah pintu lift terbuka.
“Tunggu!” Cegah Louis ketika Alexa hendak menekan satu satunya tombol disana.
“Ada apa?”
“Kita harus mengganti password nya agar bisa sedikit menahan mereka yang mengejar kita,” jawab Louis segera mengeluarkan ponselnya dan berkutat serius selama beberapa detik. Ah-ya, Louis adalah sahabat Alexa yang sudah pasti kemampuannya tak jauh beda dengan gadis itu.
“Sepertinya kita memang harus berpencar,” ujar Edward. “Alexa, kau cari keberadaan chip itu. Louis, kau jaga Alexa dan aku akan mencari Gustavo.”
Mereka kuat dari lift dan dengan segera Alexa berjalan ke arah kiri bersama Louis sedangkan Edward ke arah kanan. Sepertinya penggantian password yang dilakukan Louis cukup membantu mereka menahan anak buah Gustavo, terbukti belum ada satupun yang mengejar mereka.
Edward berjalan dengan posisi tetap siaga dan siap menarik pelatuknya kapanpun.
Edward menendang pintu salah satu ruangan yang ada di depannya hingga Sura tepuk tangan memasuki indra pendengarannya.
“Kau cukup hebat, Mr.Ed.” - “Apa kau menyesal tidak membunuhku waktu itu?”
Edward menatap tajam Gustavo yang kini terkekeh menang melihat Edward tak bisa melakukan apapun saat sebuah senjata mengarah padanya.
__ADS_1
“Seharusnya aku sadar, bahwa harta karun yang aku cari selama ini ternyata bersamamu,” kata Gustavo.
“Kau tidak akan bisa mendapatkan apapun, Gustavo!”
Gustavo tersenyum miring. “Benarkah? Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, Mr.Ed. bahkan aku bisa mendapatkan Mrs. Kostov dengan mudah.” Gustavo terbahak lalu mendekati Edward. “Apa kau ingin mendengarkan sedikit cerita dariku? Kau tahu, Liana tidak pernah mencintai ayah mertuamu. Pernikahan mereka hanya karena balas budi semata. Cinta Liana hanya untukku dan akan melakukan apapun yang ku inginkan termasuk menghianati pernikahannya hanya agar bisa bersamaku. Ah tentang keluargamu?” Gustavo mengusap dagunya angkuh.
“Ibumu terlalu baik untuk menjadi istri Vladmir yang bodoh.” Gustavo tertawa lalu menendang Edward dengan keras. “Seharusnya aku bisa memiliki ibumu! Seharusnya ibumu yang menuruti kemauanku, bukan Liana! Liana hanya sampah tak berguna yang tak layak hidup setelah aku mendapatkan segalanya, tapi ibumu...”
“Shut up your fucking mouth!”
Edward mengerang menahan sakit akibat satu peluru yang menembus kakinya. Gustavo kembali terkekeh.
“Ingatlah dimana kau berada, anak muda. Satu hal yang harus kau tahu bahwa Diana—ibumu dan Liana—ibu mertuamu, mereka adalah sahabat. Dan satu lagi, bahwa yang ku inginkan adalah menghancurkan kalian semua dan mengambil segalanya setelah mereka berhasil menghancurkanku, setelah Diana lebih memilih Vladmir!”
“Aku bersumpah akan melubangi kepalamu, Gustavo!” Geram Edward.
Edward berhasil membalik keadaan dimana anak buah Gustavo yang tadi menembaknya sudah berhasil ia tumbangkan dan menjadikan tubuh laki laki itu sebagi tameng saat Gustavo dengan cepat menyerangnya hingga tak berhasil melukai Edward. Beruntung di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
“Aku tidak perlu cerita darimu, aku tidak peduli dengan cinta mengenaskanmu yang tak terbalas itu. Aku juga tak peduli dengan dendammu yang terdengar konyol! Sekarang katakan dimana kau menyimpan chip induk DNA Sistem!”
Mereka berdua saling mengarahkan senjata masing masing.
“Kau menanyakan kunci harta karun itu? Bagaimana jika aku mengatakan benda itu tidak ada disini? Kau tidak akan bisa mengambilnya kembali, karena semua data sudah terpindah rapi kedalam data base milikku, hanya dengan satu password lagi yang perlu kami temukan hingga BOOMM!! aku bisa mendapatkan semuanya bahkan istri cantikmu itu.”
“F*ck!!!”
DOR...
“Aaarrgghh. ”
****
“Oh sial!! Mereka sudah berhasil membuka semuanya dan hanya tersisa satu password terakhir!”
“Aku akan mencoba memecahkan password nya,” ujar Louis setelah Alexa memeriksa tabletnya.
Mereka berada di salah satu ruangan yang terdapat banyak komputer namun tak dapat menemukan chip itu disana.
“C’mon, Louis!! kita tak punya banyak waktu. Kita tidak tahu apa mereka bisa lebih cepat dari kita.”
“Tenang, Alexa. Aku tidak tahu ini benar atau tidak tapi”
“Louis, Louis, ada yang datang,” ujar Alexa yang sudah siap dengan senjata di tangannya.
“Kau bisa mengatasinya? Aku akan menyelesaikan ini terlebih dahulu.”
Alexa mengangguk kemudian mendekati pintu mengarahkan senjatanya pada salah satu anak buah Gustavo yang datang. “Headshot. One down.”
“Headshot. Two down.” “Headshot. Three down.”
Louis terseyum miring melihat Alexa mencium moncong senjatanya bangga setelah berhasil mengatasi musuhnya.
“Kemampuan menembakmu tak pernah ku ragukan, Lexa.”
Alexa tersenyum lalu mengeluarkan pisaunya mendekati salah satu di antara mereka yang tergeletak di lantai.
“Apa kau masih lama?”
“Ya, sekitar....lima belas menit lagi, maybe atau lebih cepat dari itu,” jawab Louis yang masih fokus dengan pekerjaannnya seraya menggelengkan kepalanya melihat Alexa yang berjongkok di sebelah mayat mengenaskan dengan lubang tembak pada kepalanya. “Pastikan tanganmu steril sebelum melakukan operasi, sexy.” Canda Louis.
“Shut up, Louis! Atau aku akan menyuapkan ususnya padamu!”
Bentak Alexa yang dibalas kekehan oleh Louis.
“Ouch!! ini akan menarik. Kira-kira dimana aku harus memulainya?” Alexa menggoreskan pisaunya sepanjang dada hingga perut mayat laki laki di depannya yang langsung membuatnya terkikik geli. “Perut yang cukup bagus. Hey, Louis! Sepertinya agen mereka rajin melakukan Gym.”
“Kau menyukainya, honey?”
“Tentu!” Alexa menjilat darah pada pisaunya. “Cukup manis untuk ukuran manusia pendosa sepertimu.”
Alexa bangkit setelah menusuk perut korbannya dengan kasar dan mencabut kembali pisaunya. Mengelapnya dengan tissue secara lembut sebelum kembali menyimpanya lalu mendekati Louis. “Sudah selesai?”
“Sedikit lagi, kita harus memasukkan password ini pada komputer penghubung chip kemudian mengganti semua password dengan password baru setelah datanya terbuka. Artinya kita harus mencari keberadaan komputer itu karena aku yakin mereka tak menyimpannya di ruangan ini.”
“Okay, kita akan mencarinya. Semoga Edward baik baik saja.”
“Let’s go, baby!”
Alexa memutar bola matanya mendengar ucapan Louis sebelum mengikuti laki laki tampan itu keluar dari ruangan dan kembali melanjutkan pencarian mereka.
__ADS_1