The Devil Charming

The Devil Charming
Part 21


__ADS_3

Lizbeth mengerang dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut, ia mengerjapkan matanya berkali kali berusaha menyesuaikan cahaya temaram lampu yang menyinari ruangan besar itu. Itu adalah kamar Lizbeth dan Edward yang ada di mansion. Lizbeth mengedarkan pandangannya, sepertinya hari sudah malam. Selama itu kah dirinya tak sadarkan diri?



Lizbeth menyingkap selimutnya, menjajakkan kakinya ke lantai yang terasa dingin, dan setelahnya Lizbeth baru sadar bahwa betis salah satu kakinya terdapat perban yang melilit. Wanita itu menautkan kedua alisnya mencoba menyentuh luka tembak yang di lakukan oleh Edward padanya. Lizbeth mengerjapkan matanya, apa dirinya sudah mati rasa? Wanita itu kemudian mencubit sisi di sebelah lukanya yang membuatnya meringis bahwa ternyata dirinya masih bisa merasakan sakit. Lalu, kenapa luka yang seharusnya menyakitkan itu tidak terasa apapun?



Lizbeth terus menunduk memperhatikan luka pada kakinya yang menjuntai ke lantai.



“Apa masih sakit?” Lizbeth tersentak mendapati Edward yang sudah berjongkok di depannya kemudian mengelus lembut betisnya yang terluka.



“Aku sudah memberikan obat khusus. Tenang saja, tidak akan ada bekas luka di sana, dan harusnya kau sudah tidak merasakan sakit karena aku yakin lukanya sudah mengering sempurna,” ujar Edward dengan gerakan perlahan dari tangannya yang mencoba membuka perban pada kaki istrinya.



Lizbeth hanya diam membiarkan apa yang akan Edward lakukan padanya. Ah ya—harusnya dia ingat bahwa Edward memiliki tim medis dan profesor handal yang mengelola pabrik racunnya. Obat seperti ini tentu bukan hal sulit bagi mereka.



Edward tersenyum puas mendapati luka Lizbeth yang ternyata memang sudah mengering bahkan bekas jahitan itu sudah terlihat





sedikit memudar. Paling lambat dua hari lagi kulit mulus Lizbeth akan kembali seperti semula.



Edward bangkit, dan membuang perban bekas itu pada bak sampah di sebelah nakas. Kemudian laki laki itu kembali mendekati Lizbeth yang masih terduduk diam dan memberikan segelas air putih. “Minumlah! kau tidak sadar cukup lama.”



Lizbeth meneguk setengah air putih itu dan kembali menatap Edward. Wanita itu tak tahu harus marah, kecewa, atau bahagia saat ini.



Edward mendudukkan dirinya di sebelah Lizbeth dan segera membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan.



“MaaThan aku, aku hanya tidak ingin kau pergi, karena aku tahu di luar sana ada banyak pasang mata yang mengintaimu, menginginkan nyawamu.”



“Kenapa kau berusaha melindungiku jika benar aku adalah keturunan clan pembunuh ibumu?” Tanya Lizbeth seraya mencengkeram erat kaos yang Edward kenakan.



“Karena aku mencintaimu,” jawab Edward cepat.



Edward menyurukkan wajahnya pada leher Lizbeth dan memeluk istrinya erat. “Bukankah sudah ku katakan, kau harus mempercayaiku apapun yang terjadi?”



Lizbeth mengangguk samar, entah mengapa Edward mampu membuatnya percaya. Setelah kebenaran yang Lizbeth ketahui bahwa ternyata dirinya adalah anak dari clan Golden Rose, mafia yang di buru Edward selama ini.


__ADS_1


“Aku hanya takut kau menjadikanku alat untuk balas dendam.” Edward mengurai pelukannya kemudian menatap Lizbeth dengan sebelah alis yang terangkat. “Apa aku terlihat seperti itu?”



Lizbeth mengedikkan bahunya. “Tidak ada yang tidak mungkin.” Lizbeth tersenyum masam “Bahkan aku masih tidak percaya bahwa aku keturunan mereka. Tidak ada satu pun tanda tanda yang aku miliki,” lanjut Lizbeth menatap Edward serius.



Edward bangkit dari duduknya, mengulurkan tangannya kepada Lizbeth. “Kita makan malam dulu, setelah ini kita akan mencari tahu apa yang tadi kau pertanyakan.”



Lizbeth menyambut uluran tangan Edward, berjalan bersama suaminya dengan tangannya yang di genggam erat oleh telapak tangan besar nan hangat.



****



“Bagaimana? Apa kalian sudah berhasil mencari tahu tentang partikel itu?” Tanya Edward dengan tatapan mengintimidasi dua orang yang mengenakan jas putih di depannya.



Dokter Sam melirik profesor Martin yang mengangguk tanpa ragu. “Partikel manipulasi, itu adalah partikel langka yang hanya di produksi satu saja di dunia ini. Partikel tersebut di tanam dalam kulit dan bekerja sempurna menutupi sebuah tanda, luka, tatto dan sejenisnya tanpa perlu menghilangkannya. Jangka waktunya tidak terbatas, kecuali kita mengeluarkan partikel itu. Dan yang membuat kita terlambat menyadarinya, adalah karena partikel itu hanya bisa terdeteksi melalui darah. Darah akibat luka yang berhasil mengenai salah satu titik dimana partikel tersebut di tanam.”



“Itu berarti partikel tersebut tidak hanya satu di dalam tubuh Lizbeth?” Tanya Edward dengan mata memicing.



Profesor Martin menghela nafasnya. “Sayangnya, Kami menemukan partikel itu lebih dari tiga di dalam tubuh Nyonya.”



Edward menoleh ketika merasakan Lizbeth yang meremas tangannya dengan kuat. Kemudian Edward kembali menatap dua orang di depannya itu.




“Ya. Tapi itu akan menyakitkan. Kami harus melakukan penyayatan pada kulit dimana partikel tersebut di tanam,” jawab dokter Sam. “Lakukan saja, kita bisa menyuntikkan obat bius saat penyayatan nanti,”sahut Edward tenang.



Dokter Sam menggeleng dan menatap boss mafia itu dengan tatapan penuh sesal. “Maaf Mr.Ed, jika kita memberikan obat bius atau obat penahan rasa sakit lainnya itu akan berpengaruh pada partikelnya. Partikel itu akan menyatu sempurna pada jaringan kulit dan tidak akan bisa lagi untuk di ambil.”



Edward memejamkan matanya sejenak, mencoba mengontrol emosinya yang perlahan naik. Orang tua mana yang tega melakukan itu pada anaknya yang masih bayi? Menanamkan partikel sialan, demi kelangsungan clan.



“Apa itu harus di ambil?” tanya Lizbeth yang sedari tadi diam. Wanita itu tiba-tiba merasakan ngeri membayangkan kulitnya di sayat dalam keadaan sadar seratus persen. Seolah dirinya tawanan Edward yang sedang di kuliti.



“Benar, Nyonya. Jika itu di biarkan mungkin tidak akan berefek apapun pada anda, tapi itu akan berefek pada janin anda jika nantinya anda mengandung. Dengan kata lain, anda tidak boleh hamil jika tidak ingin mengeluarkan partikel itu, atau janin anda tidak akan pernah selamat.”



Lizbeth menelan ludahnya mendengar penjelasan dokter Sam, sementara profesor Martin menyerahkan selembar kertas kepada Edward yang terlihat sudah sangat emosi. Damn! Edward mengerti sekarang mengapa Lizbeth di sebut putri terakhir, itu karena memang tidak akan ada lagi keturunan Golden rose setelahnya karena partikel yang di tanam itu akan mempengaruhi semuanya.



“Shit!”

__ADS_1



Edward mengumpat keras, meremas kertas yang baru saja ia baca dan kini nafasnya yang memburu membuat Lizbeth menatap





dengan takut.



“Ada apa?” Tanya Lizbeth menatap mata biru Edward.



Dokter Sam dan profesor Martin segera pamit pergi memberikan privasi pada dua orang itu di dalam ruang kerja dokter Sam.



Edward menarik tubuh Lizbeth, memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya pada cerukan leher istrinya. Lizbeth yang bingung hanya bisa mengelus lembut punggung suaminya. “Semua akan baik baik saja Ed.”



“Tidak ada yang baik baik saja,” jawab Edward pelan “Kau akan tetap jadi yang pertama di atas segalanya bagiku.”



“Apa maksudmu?”



Lizbeth menarik wajah suaminya mencari sesuatu dalam mata biru yang terlihat risau. “Kau ingin aku melakukannya? Akan aku lakukan.”



“Jangan! Itu menyakitkan, demi apapun jangan lakukan itu,” ucap Edward dengan suara bergetar.



Demi apa! seorang Edward hampir menangis saat ini juga bahkan terlihat sangat rapuh..



“Meski saat ini ada janin dalam rahimmu,” lanjut Edward membuat Lizbeth membeku.



“A-aku hamil?” Tanya Lizbeth meraba perut rampingnya dengan gerakan kaku.



“Aku tidak ingin melihatmu di sayat seperti itu.” “Itu berarti kau ingin membunuh anakmu?”



Edward terdiam dengan kedua tangan yang mengepal erat pada kedua sisi tubuhnya, “Ya, daripada aku harus kehilanganmu.” Lizbeth menatap marah Edward. “Kau fikir aku akan mati dengan hal seperti itu?! perlu kau ingat bahwa aku tidak akan mengorbankan anakku demi kepentingan pribadi!! Apapun alasannya!!”



Mungkin itu memang tidak akan membahayakan nyawa Lizbeth, tapi bagaimanapun juga hal itu amat sangat menyakitkan, menahan



__ADS_1



sakitnya di sayat dalam keadaan normal, membiarkan darah segar mengalir begitu saja, dan menahan sakit yang tidak hanya sekali. Oh Tuhan! Edward menjambak rambutnya frustasi, di sisi lain ia membenarkan ucapan Lizbeth yang tidak akan mengorbankan anak mereka demi kepentingan pribadi karena mereka juga pernah merasakannya, merasakan di buang demi kepentingan clan. Dan kali ini pilihan Edward jauh lebih kejam, Edward harus siap melihat istrinya tersiksa atau membunuh calon anak mereka.


__ADS_2