
Semua orang merasa cemas menunggu dokter Sam yang baru saja keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya. Dokter kepercayaan Edward itu menatap satu persatu orang di depannya kemudian mengernyitkan keningnya.
“Dimana Nyonya Lizbeth?”
Dmitry mendekat lalu angkat bicara. “Dia tadi pingsan dan sedang di periksa oleh dokter Jack. Bagaimana keadaan Edward?”
Disana hanya ada Victor, Dmitry serta Louis. Sementara Alexa sedang menemani Lizbeth di ruangan lain.
“Kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya. Kita tunggu Mr.Ed hingga sadar,” J elas dokter Sam. “Kita akan memindahkannya ke ruang perawatan nanti.”
“Beruntung kalian cepat membawa Mr.Ed, karena selain luka tembak, di sana juga terdapat luka tusukan dari pisau yang mengandung racun,” lanjutnya.
Semua orang menghela nafasnya sedikit lega, setidaknya mereka tidak terlambat untuk menyelamatkan nyawa Edward.
“Apa dia akan segera sadar?” Tanya Dmitry.
“Kami tidak bisa memastikannya. Semoga saja Mr.Ed segera sadar, saya permisi dulu.”
Semua orang mengangguk sebelum mereka pergi ke ruang di mana Lizbeth berada, ruangan yang terletak tak jauh dari sana. Mereka melihat Alexa yang dengan setia berada di samping Lizbeth yang masih terbaring belum juga membuka matanya.
Alexa menoleh kemudian beranjak dari duduknya, membiarkan Dmitry mendekati adiknya. Laki-laki itu mengelus kepala Lizbeth lembut.
“Bagaimana keadaannya?”
“Dokter Jack hanya mengatakan Lizbeth kelelahan. Karena usia kandungannya yang masih muda dan pertama, Lizbeth tidak bisa terlalu lelah atau banyak pikiran. Sepertinya apa yang terjadi pada.
Edward berefek besar bagi Lizbeth.” jawab Alexa.
Benar, siapa saja pasti akan merasa dunianya runtuh saat melihat orang terkasih dalam kondisi terluka. Edward adalah dunia Lizbeth begitupun sebaliknya.
“Bersihkan dirimu, aku dan yang lain akan menjaganya,” ujar Louis yang sudah mendekati Alexa.
Gadis itu menatap tampilannya sendiri yang benar benar kacau. Kaos yang tak lagi utuh dengan banyak noda darah disana serta wajah lelahnya menandakan betapa buruk ia menjalani harinya.
“Kami akan menyiapkan pakaian untuk anda, mari ikut saya.” Victor memberi isyarat Alexa agar mengikutinya.
Alexa mengangguk kemudian mengikuti Victor meninggalkan dua orang laki-laki di dalam ruangan Lizbeth.
__ADS_1
“Kau sudah mengenal Alexa dengan baik sepertinya.”
Louis yang mendudukkan dirinya di sofa mengangguk kemudian melepaskan jaketnya. “Sejak aku mengabdi pada keluarga Kostov, sejak itu pula aku menjadi sahabat Alexa.”
Dmitry kini juga ikut duduk di sofa bersebelahan dengan Louis. “Sejak kapan kau mengabdi pada keluargaku?”
Louis tersenyum tipis. “Sejak umur sepuluh tahun. Aku diberi kehidupan baru oleh keluargamu. Tuan Kostov yang baik memungutku dari jalanan dan memberiku tempat tinggal yang layak. Ia mendidik ku menjadi lebih kuat tapi tak pernah meminta apapun dariku. Dari situ aku bersumpah untuk mengabdikan seluruh hidupku untuk keluarganya. Membatu Alexa menjaga keturunan Golden rose dari jauh.”
Dmitry tersenyum mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih, Louis.”
“Senang bisa berjumpa kalian secara langsung,” balas Louis. “Ed.”
Dmitry langsung beranjak dari duduknya mendekati Lizbeth yang mulai sadar. Wanita itu menatap sekeliling sebelum tatapannya tertuju pada Dmitry.
“Bagaimana Edward?”
“Tenang, jangan banyak bergerak dulu.” Dmitry menahan Lizbeth yang hendak bangun. “Operasinya berjalan dengan baik. Kita hanya perlu menunggunya sadar.”
“Aku ingin melihatnya,” ujar Lizbeth memaksa bangun.
Louis juga ikut beranjak mengikuti Lizbeth dan Dmitry keluar dari ruangan itu.
“Aku akan menyusul Alexa.”
Dmitry mengangguk membiarkan Louis pergi. Laki laki itu membukakan pintu ruang rawat dimana sekarang Edward berada. “Ed, kau tak ingin melihatku?” Gumam Lizbeth yang sudah duduk di sisi ranjang, membungkuk mengelus rahang suaminya lembut. “Kau tak merindukanku? Buka matamu, Ed.”
Dmitry perlahan meninggalkan ruangan itu memberi waktu Lizbeth untuk bersama Edward. Ia tak ingin menganggu momen mereka yang mengharukan itu. Dmitry juga perlu membersihkan dirinya dan beristirahat sejenak dari segala kepenatan hari ini. “Kau berjanji akan kembali dengan cepat, tapi bukan dalam keadaan seperti ini yang aku inginkan.” Lizbeth mengusap air matanya masih dengan posisinya menatap wajah suaminya. “MaaThan aku.”
Lizbeth mulai terisak lalu membenamkan wajahnya pada cerukan leher Edward tanpa membuat pria itu sesak karena Lizbeth tak menumpukan berat badannya disana.
“Ini hanya karena aku, bukan? Hanya karena chip itu kau mengorbankan dirimu.” Lizbeth kembali bermonolog merasa sangat bersalah atas kejadian ini meski sebenarnya itu bukan salahnya.
“Kami akan menemanimu disini, Daddy.”
Lizbeth tersenyum tipis, menjauhkan wajahnya lalu memposisikan dirinya untuk duduk di kursi sebelah ranjang karena tak ingin mengusik kenyamanan Edward jika Lizbeth ikut berbaring di sebelahnya meski ranjang itu cukup untuk tidur berdua.
__ADS_1
Lizbeth menggenggam lembut tangan Edward mendaratkan ciumannya pada bibir suaminya cukup lama sebelum merebahkan kepalanya pada tumpukan tangannya sendiri. Berharap hari esok Lizbeth sudah bisa kembali melihat binar biru meneduhkan yang akan menatapnya penuh cinta.
*****
“Merasa lebih baik?”
Alexa mengangguk lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Louis. Mereka sudah selesai membersihkan diri mereka serta makan malam meski hanya beberapa suap saja yang mampu Alexa telan, mengingat pikirannya sedang kacau.
“Terima kasih sudah menjadi tempat sandaran terbaikku.”
Louis tersenyum tangannya yang hendak bergerak mengelus kepala Alexa ia urungkan.
“Aku selalu ada untukmu, kapanpun.”
Tanpa Louis duga, Alexa menegakkan tubuhnya menarik tengkuk Louis dan langsung melumat bibir laki-laki itu penuh perasaan. Louis yang semula hanya terdiam kaku kini mulai bisa mengendalikan dirinya dan membalas ciuman Alexa. Menarik tubuh gadis itu semakin menempel pada tubuhnya. Keduanya larut dalam ciuman tanpa nafsu untuk beberapa saat sebelum sebuah ketukan pintu membuat mereka melepaskan pagutan itu.
Alexa merapikan tampilannya lalu membuka pintu kamar mendapati Dmitry berdiri dengan senyum tipisnya.
“Maaf jika menganggu waktu kalian.”
“Tak apa Dmitry. Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Edward dan Lizbeth?”
“Tidak. Aku hanya ingin menanyakan tentang chip itu. Apa kalian sudah membukanya?”
Alexa menoleh menatap Louis sebelum mempersilahkan Dmitry untuk masuk kemudian menutup pintunya.
“Kami belum membukanya. Kami rasa Edward yang berhak untuk membukanya meski kami sudah berhasil menemukan password terakhir,” jelas Alexa.
“Jadi kita akan menunggu Edward sadar?” Louis dan Alexa mengangguk.
“Baiklah, semoga semua lekas selesai.”
“Ya, semoga,” balas Alexa. “Apa Lizbeth masih berada di ruangan Edward?”
“Ya, Lizbeth terlihat sangat bersalah atas kejadian ini.”
“Ini bukan kesalahan siapapun. Jika kehidupan selalu berjalan sesuai keinginan kita, kita tak akan mengerti apa itu arti perjuangan.”
__ADS_1
Dmitry dan Louis mengangguk setuju dengan apa yang Alexa ucapkan. Hidup memang tak selamanya mulus. Tapi, mereka yakin bahwa kebahagiaan itu pasti ada, karena Tuhan memiliki kasih yang tak terhingga terhadap makhluk pendosa sekalipun, seperti mereka yang terbiasa hidup dalam pedoman membunuh atau di bunuh.