The Devil Charming

The Devil Charming
Part 24


__ADS_3

Victor berjalan di belakang Edward yang terus saja diam semenjak keluar dari ruangan Lizbeth. Boss mafia nya itu terlihat kacau juga mengerikan, dengan semua perintah mutlak dan sorot tajam mata biru itu terasa mengintimidasi siapapun yang di tatapnya. Kedua orang itu memasuki lorong dan terus berjalan hingga menemui sebuah pintu baja dengan tinggi hanya satu meter setengah, mengharuskan mereka menunduk untuk masuk setelah Edward membuka pintu itu dengan sebuah scan retina.



Hingga kini mereka terus berjalan menuruni sebuah tangga yang menuju ruang bawah tanah dimana disana terdapat semua jenis senjata milik Edward. Victor belum mengerti tujuan Edward selanjutnya yang ia tahu bahwa kini pertempuran antar mafia tidak akan bisa lagi di elakkan. Tanpa sengaja Victor menghela nafas dan langsung menghentikan langkahnya dengan wajah serius saat Edward mendorong dinding di depan mereka yang langsung terbuka layaknya sebuah pintu.



Victor menelan ludahnya dan kembali mengikuti Edward. Ini gila, Victor belum pernah masuk ke dalam ruangan ini bahkan ia tidak tahu bahwa dinding itu merupakan sebuah pintu.



Edward menekan satu satunya tombol yang ada di meja kerjanya di dalam ruangan itu hingga sebuah brangkas kecil muncul dari lantai yang terbelah dan lagi lagi membuat Victor takjub.



Edward mendekati brangkas itu kembali menekan beberapa tombol hingga benda itu terbuka dan Edward mengambil sesuatu dari dalamnya.



Edward masih diam dengan tatapan tajamnya tanpa ada senyum sedikitpun pada wajahnya.



“Bisakah aku mempercayakan Lizbeth padamu?”



Seketika Victor terperangah memastikan bahwa yang ia dengar tidaklah salah.



“Maaf, Mr.Ed, apa maksud anda?”





“Aku harus masuk ke dalam clan itu, dan selama itu pula aku tidak bisa menjaga istri dan calon anakku. Apa kau bisa menjaga mereka selama aku pergi?”



Victor terdiam sesaat saling beradu tatap dengan Edward. “Apa tidak sebaiknya kita menyerang saja? Agen kita bisa di andalkan bahkan menurut saya kita tidak akan kalah jumlah.”



Edward membuang nafasnya kasar lalu duduk di kursi kerjanya. “Aku tidak sebodoh itu untuk menyerang mereka di saat kondisi Lizbeth seperti ini, mereka bisa saja mengambil kesempatan ini sebagai kelemahanku. Menusuk dari dalam lebih mudah dari pada harus merobohkan pertahanan luar, apa kau paham?!”



Victor mengangguk. “Tapi, bagaimana anda bisa menyusup dan menjadi bagian dari mereka jika mereka—”



“Sudah mengenaliku?” Victor kembali mengangguk. “Bagaimana jika seperti ini?”



Edward memasang sebuah topeng transparan yang langsung menyatu dengan kulit wajahnya hingga merubah bentuk wajah serta merubah suara berat Edward menjadi sedikit serak. “Apa kau masih bisa mengenaliku?”



Victor tak bisa menyembunyikan raut takjubnya, demi apa! Edward selalu berhasil mengejutkannya dengan segala rahasia yang tidak Victor ketahui sebelumnya. Wajah asing di depannya saat ini serta suara serak maskulin membuat Victor akan benar benar tak mengenali Edward jika saja tak melihat perubahan itu.



“Ini luar biasa!” ucap Victor yang hanya di balas seringai oleh Edward.



“Aku akan menyuruh Dmitry untuk membantumu selama aku tidak ada,” ucap Edward kembali melepaskan topeng itu dan memasukkannya kedalam kotak hitam.



“Anda benar-benar akan melakukan itu seorang diri? Izinkan saya untuk menemani anda, Mr.Ed.”



“Apa kau mulai melawan perintahku,Victor?!” “Maaf, saya hanya—”



“Kau hanya perlu menjaga istri dan calon anakku dengan baik, bahkan kau harus menjaga mereka dengan nyawamu. Sedikit saja terjadi sesuatu pada mereka, kau tahu bukan apa yang akan aku lakukan padamu?”



Victor hanya bisa pasrah menerima keputusan Edward, rasa setianya pada Edward membuatnya ingin selalu berada di barisan depan demi menjaga nyawa boss nya itu, namun sepertinya Edward memang lebih memilih agar dirinya menjaga keluarga kecil Edward. “Saya akan menjaga mereka dengan nyawa saya sendiri.”


__ADS_1


*****



Keheningan malam di ruangan luas itu menemani sosok yang tengah berbaring di atas ranjang. Lizbeth, menatap sekelilingnya kemudian beranjak duduk. Tangannya mengelus perut ratanya kemudian menggeleng pelan.



“Who am I?” Tanya Lizbeth pada dirinya sendiri dengan menundukkan kepalanya.



“You are my wife,” jawab pemilik suara yang baru saja muncul dari balik pintu kemudian berjalan mendekati Lizbeth Yang langsung mengangkat kepalanya, menatap Edward dalam diam.



“Kau istriku, sayang, juga ibu dari calon anak kita,” ucap Edward dengan tatapan lembut yang tak pernah ia berikan pada siapapun kecuali keluarganya.



“Aku tak bisa mengingat apapun.”



Edward meraih tangan Lizbeth, menggenggamnya kemudian menciumnya lembut. “Yang harus kau ingat bahwa aku mencintaimu.”





Lizbeth hanya diam, ia merasakan sesak di hatinya secara tiba-tiba setelah melihat sorot luka pada tatapan mata biru Edward. “Bisakah kau membantuku mengingat semuanya?”



Edward tersenyum, mengelus kepala Lizbeth penuh kasih sayang. “Tentu saja. Aku akan membuatmu mengingat kembali semua tentang kita. Apapun yang terjadi kau harus tetap percaya padaku.” Lizbeth termenung sejenak, kalimat terakhir Edward terasa tidak asing pada pendengarannya seolah kalimat itu sering ia dengar. “Kau mendengarku?” Tanya Edward merasa Lizbeth hanya terus menatapnya.



Lizbeth mengerjapkan matanya. “Apa kau sering mengucapkan kalimat terakhirmu itu padaku?”



Edward hanya mengangguk kemudian naik ke atas ranjang besar itu, membaringkan diri di sebelah Lizbeth dan membawa istrinya ke dalam pelukan.



Entah mengapa Lizbeth merasa tenang dan nyaman ketika berada di pelukan Edward, ia menghirup aroma tubuh Edward dalam-dalam seolah berusaha mengingat bau yang lagi-lagi familiar menurutnya.




“Bisakah kau tetap disini?”



Seketika Edward membuka matanya menunduk memperhatikan Lizbeth yang tengah menatapnya.



“Aku merasa nyaman bersamamu, bisakah kau tetap disini? Mungkin dengan ini aku bisa mengingat semuanya,” ucap Lizbeth bersungguh-sungguh.



“Aku harus menyelesaikan sesuatu besok, maaf. Kau akan aman disini, Victor dan yang lain akan membantumu dalam segala hal selama aku tidak ada.”





Seketika Lizbeth menatap kecewa, ia hanya ingin bersama Edward bukan yang lain.



“Berapa lama?”



“Satu Minggu,” jawab Edward cepat. Ya, dia akan menyelesaikan semuanya dengan cepat agar bisa cepat kembali dan berada di samping istrinya.



Lizbeth menghela nafasnya. satu Minggu, entah mengapa ia merasa itu terlalu lama, ia memang tidak bisa mengingat apapun termasuk Edward, tapi hatinya bisa mengenal dengan baik laki-laki yang tengah memeluknya itu.



“Baiklah.”

__ADS_1



Edward tersenyum tipis mengelus kepala Lizbeth dan memberikan kecupan-kecupan ringan disana.



“Eennghh...”



“Ada apa?” Tanya Edward setelah mendengar erangan kesakitan dari Lizbeth.



“Aku merasa panas di area punggung, lengan, dan perut,” jawab Lizbeth mencengkeram kaos yang di pakai Edward dengan raut wajah yang sukses membuat laki-laki itu panik seketika.



Edward bangkit dari posisinya dan segera menekan tombol yang ada di atas ranjang hingga tak menunggu lama tim medis beserta dokter Sam datang tergopoh-gopoh.



“Apa yang terjadi, tuan?”



“Lizbeth merasakan panas pada punggung, lengan, serta perutnya,” jawab Edward memperhatikan Lizbeth yang tengah bergerak menahan panas dalam tubuhnya.



Dokter Sam segera memeriksa keadaan Lizbeth, tidak ada yang salah, semua normal.



Melihat kebingungan dokter Sam yang nampak tak menemukan keganjilan pada kondisi Lizbeth membuat Edward geram dan menatap tajam dokter Sam.





“Kenapa diam saja?!!! Apa kau tidak melihat istriku sedang menahan rasa panas sialan itu, hah?!!”



“Tidak ada yang aneh, tuan, semua normal bahkan janinnya juga baik baik saja,” jelas dokter Sam.



“Ed...”



Sebuah tarikan pada ujung kaosnya membuat Edward kembali memperhatikan Lizbeth dan seketika tersentak melihat tatto samar pada lengan istrinya. Edward menyingkap kaos yang di pakai Lizbeth, memperlihatkan perut rata yang juga mulai nampak tatto samar disana.



“Berbalik, Liz! aku ingin melihat punggungmu.”



Lizbeth berbalik membiarkan Edward kembali menyingkap kaosnya dan melihat punggungnya.



“Shit!!!”



Umpatan kasar itu keluar begitu saja dari mulut Edward setelah melihat bahwa sepanjang punggung istrinya terdapat tatto mawar seperti yang ada pada lengan dan perut Lizbeth.



Dokter Sam yang awalnya juga nampak terkejut kini mulai bisa memahami bahwa chips berisi partikel itu benar benar bisa menyembunyikan tatto yang ada di tubuh Lizbeth.



“Apa kau masih merasakan panas?” Tanya Edward mengusap lembut peluh yang membasahi kening istrinya.



“Aku pusing,” jawab Lizbeth sebelum jatuh tak sadarkan diri di pelukan Edward.



“Apa lagi ini, Sam?!!!”



“Tenang, tuan, nyonya baik baik saja.”

__ADS_1



Edward menghela nafasnya, membaringkan Lizbeth perlahan sementara dokter Sam mulai memeriksa keadaan Lizbeth Dan memastikan Lizbeth hanya pingsan karena efek dari pemunculan tatto tadi yang menguras tenaga, mengingat Lizbeth tak sekuat dulu semenjak ada janin di dalam perutnya.


__ADS_2