The Devil Charming

The Devil Charming
Part 37


__ADS_3

Semua brankas yang terdapat di dalam ruang bawah tanah itu membuat semua orang menahan nafas saat melihat apa yang ada di dalamnya. Di sana terdapat perhiasan, emas batangan serta tumpukan dolar, selain itu juga terdapat banyak dokumen berisi daftar kekayaan lain milik Kostov seperti perusahaan, hotel, restauran, club malam dan beberapa cafe kecil serta stasiun televisi. Semua itu adalah harta karun yang di buru banyak orang hingga bertaruh nyawa demi mendapatkan kekayaan yang sudah jelas tak akan habis untuk beberapa turunan.



Tak ada yang menyangka bahwa Lizbeth serta Dmitry adalah anak mafia terkaya di Russia, belum lagi uang yang tersimpan di bank. Yang menjadi pertanyaan mereka saat ini adalah siapa yang selama ini mengelola kekayaan Kostov? Apakah ada seseorang yang sangat di percaya untuk mengelolanya?



Baik Lizbeth, Dmitry, Edward serta yang lain pun mempunyai rasa penasaran yang sama dan akan segera mencari tahu siapa seseorang itu.



“Aku tak menyangka kalian sekaya ini,” ujar Alexa yang tengah duduk seraya menikmati hisapan rokoknya.



“Matikan rokokmu, Alexa! Apa kau tidak tahu ada Lizbeth disini?” Edward menatap penuh peringatan pada adik perempuannya yang membuat gadis itu meringis lalu segera mematikan rokoknya.



Sementara Lizbeth, Dmitry, dan Louis hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alexa yang terlihat tak berani membantah ucapan Edward. Louis pun tahu jika Alexa bukan tipe orang yang akan menurut begitu saja apalagi menyangkut kesenangannya seperti kegiatan merokoknya itu.



Lizbeth menyandarkan kepalanya pada bahu Edward lalu menghela nafasnya. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”



“Kita akan memeriksanya satu per satu seperti letak perusahaan, hotel, club, restaurant serta beberapa cafe itu dan stasiun televisi.





Yang terpenting kita harus mencari dulu siapa yang mengelola semuanya karena dengan begitu akan lebih memudahkan kita mencari informasinya. Kita juga tidak bisa masuk begitu saja dan mengatakan kita adalah pewaris Kostov tanpa menyertakan bukti apapun,” jelas Dmitry panjang lebar.



Edward yang tengah mengelus kepala Lizbeth mengangguk setuju. “Minggu depan kita berangkat ke Russia.”



“Minggu depan? Kenapa lama sekali?” Protes Lizbeth.



“Ada sesuatu yang harus kita selesaikan dulu,” jawab Edward menimbulkan kerutan pada kening setiap orang yang ada di ruangan itu.



Kini mereka memang berada di dalam mansion besar milik Edward setelah membawa semua benda berharga itu dari ruang bawah tanah untuk di simpan di tempat lain, di ruang rahasia milik Edward.



“Apa ada masalah lagi?” Lizbeth menegakkan tubuhnya menatap serius suaminya yang malah mendekatkan wajahnya pada telinga Lizbeth.



“Ada, Masalah diantara kita. Apa kau lupa sudah berapa lama aku tak mengunjungi Miller junior?” Bisik Edward yang sukses menimbulkan rona merah pada wajah Lizbeth dengan sensasi degub jantung tak berirama.



Alexa, Louis serta Dmitry yang bisa melihat perubahan ekspresi Lizbeth langsung saja berdehem dan ikut salah tingkah, pasalnya mereka sedang berada di situasi antara pembicaraan suami istri. Damn!



Dmitry beranjak dari duduknya di ikuti Alexa dan Louis.



“Kami pamit dulu, segera selesaikan masalah pribadi kalian sebelum kita pergi,” pamit Dmitry di balas anggukan antusias oleh Edward. “Kenapa tidak dari tadi saja kalian pamit?” Ujar Edward tanpa eksprsi.





“Hah! Aku merasa atmosfir ruangan ini menjadi tidak sehat untuk para lajang,” sindir Alexa.



Edward beranjak dari duduknya menepuk pundak Louis lalu menatap laki-laki tampan itu dengan senyum miring. “Kapan kau akan melamar adikku?”



Pertanyaan Edward seperti sambaran petir di siang bolong bagi Alexa. “Pertanyaan apa itu? Kami—”



“Setelah dia siap untuk ku lamar,” jawab Louis tanpa keraguan memotong ucapan Alexa.



“Ah, aku suka dengan gayamu, Louis. Ku rasa Alexa sudah siap,” goda Dmitry yang semakin membuat Alexa merenggut kesal. “Perempuan perlu sebuah kepastian,Louis. Bukan hanya harapan dan kode tidak jelas.” Lizbeth bangun dari duduknya memberikan senyum terbaiknya sebagai seorang kakak.



“Jangan menunggu dia siap atau tidak. Jika kau mencintanya jangan ragu untuk menyatakan apalagi mengajak untuk hidup bersama dalam ikatan yang kuat. Apa kau takut di tolak?” Lanjut Lizbeth tanpa perlu memelankan suaranya dan terang terangan mengatakan itu di depan Alexa.



Louis menatap Alexa yang terlihat salah tingkah. “A-apa? Kenapa... kau menatapku?”



Louis meraih sesuatu dari balik saku celananya kemudian berlutut di depan Alexa. “Will you marry me?”



“What the f*ck! Lamaran macam apa ini?” Pekik Alexa tak menyangka dengan cara lamaran Louis.



Sementara itu yang lain hanya bisa tercengang, tak percaya bahwa Louis akan bertindak seperti ini setelah beberapa detik yang lalu mendapatkan nasehat. Laki-laki itu benar-benar tak membuang kesempatan!



“Maaf, aku tak membawa cincin saat ini. Aku rasa peluru lebih menarik dari sebuah cincin. Tapi tenang saja, setelah kau menerima





lamaranku aku akan langsung mengajakmu untuk membeli cincin,” ucap Louis tak mengalihkan pandangannya pada Alexa.


__ADS_1


Alexa menelan salivanya susah payah, menatap sekitar yang sialnya malah sedang menatap dirinya penuh harap.



“Apa apaan ini! Kenapa semua menjadi mendukung Louis?” Pikir Alexa.



“Kakak...” Alexa dengan tanpa di duga merengek dan menarik lengan Edward selayaknya adik kecil yang minta di bela.



“Alexa menerimamu, Louis.” Ujar Edward seenak hati menjawab lamaran Louis pada adiknya.



Niat Alexa untuk meminta dukungan kandas begitu saja ketika Edward malah semakin memojokkannya dan membuatnya tak bisa berkutik dengan jawaban itu.



“Aku...aku belum menjawabnya!” Protes Alexa.



“Aku menunggu jawabanmu,” ujar Louis dengan lembut.



“Jangan menyia-nyiakan kesempatan, Alexa. Karena kita tidak akan tahu apa kita masih akan bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk di cintai sepenuh hati,” kata Dmitry seraya memberikan senyum teduhnya.



Alexa menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. Gadis itu menatap Luois yang masih setia berlutut di depannya dengan sebutir peluru yang terlihat konyol.



“Bangunlah! Jangan Berlutut Seperti Itu.” Alexa membungkuk memegang kedua bahu Louis.



“Ya atau tidak?” Tanya Louis masih enggan untuk beranjak.



“Aku tidak tahu,” lirih Alexa menundukkan kepalanya membuat semua orang terkejut kecuali Louis.



Louis berdiri dan langsung memeluk Alexa begitu saja yang nyatanya memang tak mendapatkan perlawanan dari gadis itu. “Aku tahu. Aku tak memaksamu, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu dan tak ragu untuk mengatakannya di depan keluargamu.”



“Maaf, aku belum bisa menjawabnya sekarang,” ujar Alexa masih dalam pelukan Louis.



Semua orang saling menatap sebelum Edward berdehem pelan. “Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi aku harap kalian tak akan seperti ini terus. Aku percaya Louis bisa menjaga Alexa dan Alexa akan baik-baik saja bersama Louis.”



Louis melepaskan pelukannya pada Alexa lalu mengangguk menanggapi ucapan Edward. “Di terima atau tidaknya lamaranku pada Alexa, selama aku bernafas aku akan tetap melindunginya dengan caraku sendiri.”



“Bagaimana perasaanmu terhadap Louis?” Tanya Edward pada Alexa yang langsung mengangkat kepalanya.



“Aku mencintainya,” jawab gadis itu tanpa keraguan.




“Aku memiliki alasan, aku juga tidak tahu apa aku sudah bisa untuk benar-benar melupakan kekasihku dulu, aku...” Alexa tiba-tiba merasa kehilangan suaranya. “Aku hanya takut menyakiti Louis, merusak hubungan baik kita selama ini dan membuatnya kecewa suatu saat.”



“Kau hanya takut dengan bayang-bayangmu sendiri, Alexa. Dan soal melupakan kekasihmu itu, aku rasa itu hanya masalah waktu. Kita tidak mungkin bisa melupakan, tapi setidaknya kita tahu bahwa sudah ada pengganti dia yang tepat untuk kembali mengisi hati kita,” ujar Lizbeth mengelus lengan Alexa lembut.



“Aku tidak memaksamu, tak masalah jika harus menunggu...lagi.” Louis menghela nafas pelan sebelum tersenyum pada Alexa. “Ketakutan akan selamanya mengurungmu dalam ketidak pastian dan keraguan untuk melangkah. Ikuti kata hatimu,” tambah Edward dengan usapan lembut pada kepala Alexa.



“Aku...akan menjawabnya setelah misi kita selesai,” jawab Alexa menatap Louis dalam.



“Aku akan menunggunya,” balas Louis tak melunturkan senyum terbaiknya, meyakinkan semua orang bahwa dirinya baik-baik saja jika harus menunggu, lagi, lagi, dan lagi. Demi Alexa.



******



Lizbeth bergerak gelisah di atas ranjang, sejak satu jam yang lalu setelah Edward benar-benar menepati ucapannya yang mengatakan ingin mengunjungi Miller junior, Lizbeth tidak bisa tidur setelah itu meski sudah berusaha untuk memejamkan mata. Wanita itu melirik suaminya yang nampak pulas dan tak peduli dengannya, seketika saja rasa kesal pada Edward membuatnya menghela nafas.



Lizbeth mengubah posisinya menjadi duduk, ia menggoyangkan bahu Edward berusaha membangunkan suaminya.



“Ed, bangun!”



Edward hanya menggumam tanpa berniat membuka matanya. “Bangun atau ku tendang! Kenapa kau jahat sekali.”



Lizbeth sudah hampir menangis saat ini juga merasa di abaikan oleh suaminya.



“Ya Tuhan, Edward! Bangun!” Lizbeth menyibak selimut suaminya dengan kasar masih berusaha membangunkan Edward yang mendadak susah untuk di bangunkan. Biasanya laki-laki itu mudah sekali terbangun bahkan dengan suara gaduh sedikit saja.



Dengan rasa kesal yang sudah memuncak Lizbeth benar- benar menangis. Oh God! betapa menyebalkan ya hormon ibu hamil yang sangat sensitif seperti ini, dan sekarang Edward terlihat begitu jahat dengan membiarkannya terjaga sendirian sejak tadi. “Menyebalkan!”



Lizbeth turun dari ranjang dan langsung keluar dari kamar begitu saja hingga beberapa detik kemudian Edward membuka matanya kemudian terkekeh pelan. Betapa menggemaskan istrinya itu jika sedang seperti ini. Bohong sekali jika Edward tidak terbangun dengan rengekan Lizbeth.



Edward yang meraih t-shirt nya lalu memakainya dengan cepat sebelum menyusul Lizbeth keluar, sudah menjadi kebiasaan pria itu akan tidur dengan keadaan shirtless karena menurutnya memeluk Lizbeth sudah cukup untuk membuatnya hangat. Apalagi tadi setelah melakukan olah raga malam mereka, Lizbeth meminta agar Edward hanya memakai boxernya saja.

__ADS_1



Langkah pelan Edward terhenti di ruang tengah ketika matanya menangkap sosok Lizbeth sedang meringkuk di sofa hanya menggunakan kemeja besar Edward yang hanya sebatas paha. Pria itu mendekat, berjongkok di depan wajah Lizbeth yang ternyata sudah tertidur.



“Baby.”



Edward mengelus pipi Lizbeth yang basah. “Kau menangis?” Lizbeth membuka matanya dan langsung memukul tangan Edward yang hendak kembali menyentuhnya.



“Kau jahat!”



“Aku, jahat? Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?” Tanya Edward yang sudah mengubah posisinya menjadi berdiri, terlihat menjulang di depan Lizbeth yang kini sudah duduk melipat kedua tangannya.



“Aku sudah membangunkannya berkali-kali tapi kau tetap tidur! Kau bahkan membiarkanku terjaga sendirian,” kesal Lizbeth yang hampir saja membuat Edward tertawa.



Pria itu duduk di sebelah istrinya, menarik tubuh Lizbeth hingga wanita itu kini berada di atas pangkuannya.



“Apa kau ingin sesuatu hingga membangunkanku?” Lizbeth mengangguk pelan.



“Kau ingin apa?” Tanpa permisi Lizbeth langsung saja menyambar bibir suaminya, menciumnya agresif beberapa saat sebelum melepaskannya karena tidak mendapatkan balasan dari Edward.





“Aku...ingin lagi. Tapi sepertinya kau memang sudah tak menginginkanku,” ucap Lizbeth pelan yang hampir tak terdengar dengan wajah menunduk dan meremas ujung kemeja Edward yang ia kenakan.



Demi Tuhan, Lizbeth sudah mempertaruhkan harga dirinya demi mengatakan hal ini. Wanita itu bertambah kesal lalu mengusap air matanya yang enggan di ajak kompromi.



“Kau marah karena ini?” Tanya Edward datar.



Lizbeth mendongak menatap suaminya tak percaya dan hendak membuka mulutnya untuk menumpahkan kekesalannya jika saja bibir sexy milik suaminya tak membungkamnya lebih dulu.



“Aku hanya ingin melihatmu memohon karena aku tidak suka meminta,” bisik Edward di sela ciumannya.



Memang sejak awal Edward tak pernah meminta pada Lizbeth. Pria itu lebih suka melakukannya begitu saja atau menunggu Lizbeth yang memohon meski tak Edward pungkiri keinginannya terhadap Lizbeth sangatlah besar apalagi kini istrinya terlihat lebih sexy dan cantik dengan kehamilannya.



Lizbeth mengerang antara kesal dan bergairah saat bibir Edward dengan lihai mencecap setiap inch bibirnya.



“Damn! Bisakah kau memperlakukanku dengan romantis sedikit saja?!”



Lizbeth mendorong tubuh Edward dengan nafas terengah, kekesalannya tak berefek apapun pada Edward yang nyatanya tatapan Lizbeth menyiratkan keinginan besar atas dirinya.



Edward kembali menarik tengkuk Lizbeth melumat bibir istrinya semakin dalam namun penuh kelembutan.



“Perhatikan bahasamu, baby. Apa kau lupa ada pewaris Miller di dalam sini?”



Edward mengelus perut Lizbeth lembut seraya menurunkan ciumannya pada leher istrinya.



“Memohonlah, dan aku akan memberikan semuanya,” ujar Edward yang benar-benar menunjukkan sifat bossy nya.





“Kau...menyebalkan!”



Edward menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap lekat wajah cantik istrinya yang terlihat kecewa.



“Aku tidak pernah meminta. So, apa kita berhenti disini saja dan kembali tidur?”



“Edward!” Lizbeth menjambak rambut suaminya kasar hingga pria itu meringis.



“Kau hanya perlu memohon sekali saja dan akan aku berikan. Oh, jangan buang tenagamu untuk memjambakku sekarang, baby.”



Lizbeth menggigit bibirnya saat merasakan tangan besar Edward sudah bergerak nakal menyusup ke dalam kemeja besar yang ia kenakan dan tengah mengelus punggungnya secara perlahan. “Please...”



“What?”



“Touch me more than this.”



Akhirnya kalimat itu Lizbeth ucapkan sebelum ia merasakan penyiksaan lebih jauh.

__ADS_1



“Yes, my queen. I’m yours tonight".


__ADS_2