The Devil Charming

The Devil Charming
Part 40


__ADS_3

Deretan nama yang ada di otak cantik Lizbeth semakin membuatnya kesal, pasalnya tak satupun dari nama-nama itu menjadi terduga kuat siapa yang akan menjelaskan semua ini atau lebih tepatnya orang kepercayaan mendiang ayahnya melebihi Makarov sendiri yang bahkan Makarov sangat menghormatinya. Tidak mungkin bukan bahwa ayahnya masih hidup lalu bersembunyi dari publik dan membuang identitas lama mengganti dengan identitas baru? Lizbeth menggeleng, itu terlalu konyol. Bahkan Alexa sudah menceritakan kematian ayahnya.



Edward yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya yang duduk di pinggir ranjang terlihat sedang fokus dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari kedatangan Edward.



Tangan dingin Edward yang menyentuh pipinya membuat Lizbeth terlonjak terkejut.



“Ada apa?” Tanya Edward datar. “Kau mengejutkanku, Ed.”



Edward duduk di samping Lizbeth lalu menarik tubuh istrinya agar menghadapnya. “Kau tahu jika itu bukan jawaban yang aku inginkan?”



Lizbeth menghela nafasnya kemudian mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa centimeter dari dada Edward bahkan nafas hangat wanita itu terasa menggelitik kulit liat milik Edward.



“Apa yang kau lakukan?”



“Aku suka harummu saat setelah kau mandi seperti ini,” ujar Lizbeth yang langsung merapatkan tubuhnya pada Edward, memeluk suaminya erat serta menyusupkan wajahnya pada dada bidang itu. “Apa semua akan baik-baik saja?”



Edward bergumam seraya mengelus rambut istrinya lembut.



“Aku hanya sedang berpikir, siapa orang itu, apa kau bisa menebak siap kira-kira orangnya?” Lanjut Lizbeth.



“Tidak. Jangan terlalu berfikir keras, selama aku masih bernafas maka seluruh jiwaku hanya untuk kalian, untuk melindungi keluarga kecilku.”



Hati Lizbeth menghangat mendengar penuturan Edward meski tak nampak ekspresi apapun pada wajah tampannya saat mengatakan hal itu. Lizbeth sudah tidak heran dengan sifat dingin serta datar milik Edward yang bisa berubah kapan saja menjadi sangat manis dan romantis, hanya saja hal itu amat sangat jarang Edward tunjukkan.



“Terima kasih kau sudah menjadi lelaki hebat ku,” ujar Lizbeth.



Edward melepaskan pelukannya, menangkupkan wajah istrinya dengan kedua telapak tangan besarnya lalu menyelami mata hijau indah yang terlihat teduh. Perlahan Edward mendekatkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dengan penuh perasaan, Edward mulai melumat lembut bibir Lizbeth, menyesapnya seolah itu adalah wine memabukkan yang terus menggodanya untuk di nikmati sedikit demi sedikit. Ini bukan pertama kalinya Lizbeth mendapatkan serangan detak jantung tak berirama saat di dekat Edward bahkan ia merasa jatuh cinta setiap harinya dengan pria yang sudah berhasil menaklukkan dirinya sejak awal pertemuan.



Tiba-tiba saja Lizbeth mendorong kuat tubuh Edward hingga ciuman mereka terlepas saat merasakan gejolak aneh dalam perutnya, seketika saja Edward menatap istrinya khawatir saat melihat Lizbeth yang menutup mulutnya kemudian berlari menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya yang nyatanya tak berhasil mengeluarkan apapun selain cairan bening. Edward yang sudah berhasil menyusul istrinya segera meraih tissue lalu mengelapkan pada sudut bibir Lizbeth yang basah.



“Apa kau mulai mengalami morning sickness?”



Lizbeth menggeleng. “Aku tidak tahu, tapi sepertinya iya.”





Dengan sigap Edward membopong tubuh istrinya keluar kamar mandi karena Lizbeth yang terlihat pucat dan lemah. Mereka masih berada di Moscow, Russia saat ini bersama Alexa, Louis serta Dmitry. Bahkan kini mereka tinggal di salah satu hotel milik Rafael Franklyn yang kebetulan tidak jauh dari kantor GR Group.



Edward duduk di atas sofa membiarkan Lizbeth berada di atas pangkuannya. “Kau ingin makan sesuatu?”



Lizbeth menggeleng menyandarkan kepalanya pada dada bidang Edward karena kini posisinya yang duduk menyamping di atas pangkuan suaminya membuatnya terasa nyaman dan aman. “Aku hanya ingin seperti ini saja.”



Edward mengangguk, membiarkan posisi mereka tetap seperti itu dan melingkarkan lengannya untuk memeluk istrinya.



Sejenak hanya keheningan yang ada hingga sebuah ketukan pintu kamar mereka membuat Lizbeth mendongak lalu menggeser duduknya dan tak lagi berada di atas pangkuan Edward.



Edward sendiri mendecakkan lidah merasa kesal karena waktunya bersama sang istri harus terganggu seperti ini.



“Buka saja, mungkin itu Alexa,” ujar Lizbeth.



Edward merunduk sekilas mengecup bibir Lizbeth sebelum berjalan menuju pintu lalu membukanya.



“Astaga! Kalian belum siap-siap?” Tanya Alexa dengan nada tak percaya melihat Edward masih mengenakan kaos dan Lizbeth yang terlihat duduk di atas sofa mengenakan kemeja besar Edward.



Edward hanya mendengkus membiarkan adiknya masuk kamar mereka tanpa permisi sebelum menutup kembali pintu kamar itu. “Maaf, tadi aku sedikit mengalami mual jadi belum siap-siap,” uajr Lizbeth segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.



“Kau baik-baik saja?” Selidik Alexa mengamati wajah pucat kakak iparnya.





“Dia mulai mengalami morning sickness, Aku harap itu tidak akan lama,”sahut Edward menyusul Lizbeth menuju kamar mandi membuat Alexa memutar bola mata malas.



“Sepuluh menit,Ed! Atau aku akan mendobrak pintu itu!” Teriak Alexa.



Edward mengabaikan teriakan Alexa dan malah memeluk istrinya dari belakang saat Lizbeth tengah berusaha menaikkan resleting dress nya.

__ADS_1



“Ed, kita akan terlambat.”



“Tidak jika hanya sepuluh menit,” jawab Edward santai mulai menciumi pundak istrinya dan mencegah tangan Lizbeth untuk melanjutkan aktifitasnya membenarkan resleting dress nya.



“Alexa menunggu kita,” ucap Lizbeth mengingatkan Edward yang nampak tak peduli.



“Salahnya karena sudah mengganggu waktu kita. Aku hanya ingin seperti ini sebentar saja.”



Masih dengan posisi memeluk istrinya dari belakang, tangan besar Edward bergerak mengelus perut Lizbeth yang sudah terasa berbentuk itu dengan lembut.



“Aku harap dia tidak menyusahkan mu,” gumam Edward.



Lizbeth mengamati pantulan diri mereka dari kaca di depannya kemudian tersenyum, tangannya juga ikut bergerak di atas tangan Edward untuk mengelus perutnya.



“Tidak akan. Aku bahkan tidak sabar untuk merasakan tendangan tendangannya dalam perutku nanti.”



Edward mengecup pipi Lizbeth sekilas lalu menegakkan tubuhnya, tangannya bergerak membantu Lizbeth menaikkan resleting dress berwarna biru gelap itu dengan hati-hati.



“Terima kasih,” ujar Lizbeth dengan senyumnya.



“Hanya itu?” Edward menaikkan sebelah alisnya saat Lizbeth sudah berbalik menghadapnya.



“Lalu?”





Edward melirik jam tangannya kemudian tersenyum miring. “Masih ada waktu lima menit. Tiga menituntuk melanjutkan ciuman kita dan dua menit untukku ganti baju.”



Lizbeth yang hendak memprotes ucapan Edward terhenti ketika dengan cepat Edward menciumnya, melumat bibirnya dengan rakus bahkan sedikit menggigitnya hingga menimbulkan erangan halus dari Lizbeth.



Berbeda dengan keadaan di dalam kamar mandi, Alexa yang duduk di atas sofa itu ingin sekali mendobrak pintu kamar mandi saat telinganya mendengar suara aneh dari dalam. Damn! Kakaknya itu benar-benar menyebalkan!



“Shit!” Alexa mengumpat kasar dan hendak berteriak mengingatkan dua pasangan di dalam kamar mandi itu sebelum pintu itu terbuka dan menampakkan Edward serta Lizbeth yang terlihat berjalan santai.




“Maaf, Edward yang memulai,” ujar Lizbeth berjalan di sebelah Alexa untuk keluar dari kamar.



“Dasar si tua mesum!” Umpat Alexa yang langsung saja di hadiahi pukulan pelan pada kepalanya oleh Edward dari belakang hingga membuat gadis itu meringis.



“Jaga mulut cantikmu itu atau aku akan menikahkan paksa kau dengan Louis saat ini juga!” Geram Edward yang nyatanya tak berhasil membuat Alexa takut.



“Setidaknya Louis tidak mesum sepertimu!”



“Tidak ada lelaki yang tidak mesum,Lexa. Jangan bertingkah seperti kelinci bodoh yang tidak pernah melihat buaya kelaparan. Aku berani bertaruh bahwa Louis lebih mesum dariku,” uajr Edward dengan senyum miring.





Lizbeth menggelengkan kepalanya melihat perdebatan dua bersaudara itu. Kini mereka sudah berada di dalam lift yang bergerak menuju lobby karena Louis dan Dmitry sudah menunggu mereka di sana.



“Dimana Dmitry?” Tanya Alexa sesaat setelah sampai di lobby.



namun hanya mendapati Louis sendirian di sana.



“Sedang mengejar seseorang gadis, entahlah.” Laki-laki itu mengedikkan bahunya.



“Good. Setelah yang dua datang yang satu menghilang. Aku akan benar-benar mengajaknya duel jika lima menit lagi Dmitry tidak kembali!” Kesal Alexa dengan ekspresi marahnya.



Beberapa detik kemudian terlihat Dmitry yang berjalan cepat menuju arah mereka dengan wajah serius mengabaikan tatapan tajam Alexa.



“Maaf, kita bisa pergi sekarang?” Ujar Dmitry.



Semua orang mengangguk dan Alexa yang berjalan terlebih dahulu. “Kau dari mana?” Tanya Lizbeth membuat Dmitry menoleh. “Mengejar seseorang,” jawab Dmitry dengan senyumnya. “Kekasihmu?” Selidik Lizbeth menuntut Dmitry menjelaskan.



Melihat Dmitry yang menghela nafas, Edward langsung melingkarkan lengannya pada pundak Lizbeth seolah mengerti bahwa pertanyaan itu sulit untuk Dmitry jawab.

__ADS_1



“Simpan pertanyaan itu untuk nanti, baby. Sekarang kita masuk mobil.” Edward mendorong pelan tubuh Lizbeth untuk masuk ke dalam mobil yang terpisah dengan Dmitry karena Dmitry berada satu mobil dengan Alexa dan Louis.



Perjalanan menuju GR Group untuk bertemu seseorang yang di janjikan Makarov tidak membutuhkan waktu lama. Namun tetap saja itu membuat Lizbeth mendadak gelisah, tiba-tiba saja rasa takut menyusup ke dalam hatinya, rasa takut tanpa alasan itu membuatnya meremas tangan Edward seolah mencari kekuatan disana.



Edward yang tahu akan kondisi istrinya mengelus lembut punggung tangan Lizbeth, lalu memberikan kecupan ringan pada pucuk kepala istrinya.



“Apa yang kau takutkan?”



Lizbeth mengerjapkan matanya. “Aku tidak tahu, aku hanya merasa takut dan...gelisah.”



Edward tersenyum lembut tanpa ingin mengatakan apapun. Edward berfikir mungkin hormon kehamilan mempengaruhi emosi istrinya yang mendadak sensitif seperti ini. Edward hanya menenangkan Lizbeth melalui senyum dan pelukannya yang nyatanya berhasil membuat istrinya merasa sedikit lebih baik.



Mobil mereka berhenti di depan gedung yang sudah pernah mereka kunjungi sebelumnya dan ini adalah kali kedua mereka kembali menapakkan kaki mereka disana. Tanpa mereka duga, kedatangan mereka sudah di sambut oleh beberapa orang dengan stelan jas yang langsung membawa mereka menuju lantai paling atas gedung itu.



Lima orang yang menyambut kedatangan Edward beserta yang lain tak mengatakan sepatah katapun selain mempersilahkan tamunya untuk mengikuti mereka. Lantai paling atas gedung GR Group yang ternyata hanya memiliki satu ruangan itu langsung menjadi pusat perhatian mereka ketika pintu itu di buka memperlihatkan Makarov yang menyambut mereka dengan senyuman.



“Selamat datang.” Makarov membungkuk sejenak lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.



“Sebentar lagi beliau akan datang karena harus mempersiapkan beberapa berkas terlebih dahulu. Sepertinya hari ini juga beliau akan mundur dan menyerahkan semuanya kepada pewaris asli, keturunan Kostov.” Makarov menatap Lizbeth Dan Dmitry bergantian.





Semua orang tak dapat menyembunyikan keterkejutannya mendengar penuturan Makarov.



“Mengapa mendadak? Kami kesini bukan untuk mengambil harta. Bahkan kami tidak pernah memikirkan untuk mengambilnya. Kami hanya ingin sebuah jawaban dan kebenaran,” ujar Lizbeth sedikit emosi karena merasa bahwa orang-orang itu menganggapnya sebagai menuntut hak waris.



Makarov yang sedikit terkejut dengan ucapan Lizbeth kini kembali tersenyum melihat Edward yang berusaha menenangkan istrinya dengan cara mengelus punggung tangan wanita itu.



“MaaThan kami, nyonya. Kami tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan anda dan yang lain. Kami hanya menjalankan perintah sesuai dengan amanat tuan Kostov. Dan sepertinya tugas kami sudah selesai mengingat bahwa anda serta tuan Dmitry sudah kembali.” Lizbeth menghela nafasnya, mencoba mengontrol emosinya yang mudah sekali tersulut di dukung dengan perasaannya yang berubah sensitif.



Beberapa saat kemudian perhatian mereka tersita pada seseorang yang sudah masuk dan tengah berjalan mendekati mereka. Tanpa sadar semua orang berdiri dengan kaku menyadari siapa seseorang itu.



“Beliau adalah orangnya.” Suara Makarov menambah ketegangan semua orang bahkan Lizbeth menggeleng tidak percaya.



“Ini...ini tidak mungkin. Ka...Kau?”



Sosok itu terus mendekat hingga suara gemetar Lizbeth menghentikan langkahnya.



“Stop! Jangan mendekat!”



Lizbeth mundur perlahan sebelum tiba-tiba tubuhnya jatuh tak sadarkan diri.



“Lizbeth!”



Dengan sigap Edward menangkap tubuh istrinya sebelum terbentur dengan kerasnya lantai marmer.



“Panggil dokter!” Perintah Makarov pada anak buahnya yang langsung sigap melaksanakan tugas dari tuannya.



Sementara raut khawatir terlihat jelas di mata Edward dan semua orang termasuk seseorang yang tadi menyebabkan Lizbeth kehilangan kesadarannya.



“MaaThan aku,” ucap seseorang itu meraih tangan dingin Lizbeth yang di baringkan di atas sofa oleh Edward.



Edward yang tidak tahu harus bersikap bagaimana pada orang itu membiarkan saja saat tangan Lizbeth di genggamnya, terlihat jelas raut bersalah dan penyesalan di dalam bola mata yang sedang menangis itu.



Seseorang itu mendongak, menatap Dmitry yang juga menatapnya dengan tangan mengepal gemetar. Laki-laki itu menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya saat ini.



“MaaThan aku,” ujar seseorang itu kembali mengulang kalimatnya. Ketegangan di ruangan itu sedikit teralihkan saat seseorang berjas putih datang tergopoh-gopoh dan segera memeriksa keadaan Lizbeth.



“Apa istriku baik-baik saja?” Tanya Edward penuh khawatir. “Sepertinya nyonya mengalami syok hebat. Lebih baik kita membawanya kerumah sakit untuk memeriksanya lebih lanjut.” Tanpa mengatakan apapun Edward langsung membopong tubuh istrinya, membawanya keluar dari ruangan itu. Terlihat jelas kilatan amarah pada mata biru Edward menandakan betapa emosinya dirinya saat ini, beruntung pengendalian dirinya masih baik dan bisa berfikir rasional untuk tidak meledakkan kepala orang itu setelah berhasil membuat kondisi istrinya buruk.



“Aku akan melupakan siapa dirimu jika terjadi sesuatu pada adikku,” desis Dmitry di sebelah seseorang itu sebelum berjalan menyusul Edward di ikuti yang lain.




__ADS_1


Seseorang itu hanya bisa menunduk dengan bahu bergetar, ia sudah menyangka jika kondisinya akan seperti ini jika menunjukkan dirinya di depan mereka, tapi tak menyangka jika akan sesakit ini dan seburuk ini mengingat bagaimana kondisi Lizbeth setelah melihatnya serta tatapan benci Dmitry padanya. “MaaThan, mommy,” ujar wanita itu di sertai isakan pilu penuh penyesalan.


__ADS_2