
Supercar yang ditumpangi oleh Edward dan Lizbeth melaju kencang menuju sebuah hotel berbintang. Misi mereka kali ini adalah mencari keberadaan Robinson, dan menurut informasi yang Edward dapatkan, di ballroom hotel berbintang yang sedang mereka tuju tersebut berlangsung pesta pernikahan salah satu anak dari pengusaha terkenal Mexico dengan sepupu Robinson. Sudah bisa di pastikan bahwa akan ada Robinson di sana meski Edward dan Lizbeth yakin bahwa Robinson tidak akan gegabah dalam menunjukkan identitas aslinya.
“Kau pernah melihat wajahnya?”
“Ya, sekali saat aku hendak melancarkan misiku dan gagal karena dia menyerangku.” Edward mengangguk.
“Good..itu akan lebih mudah.” Edward mengambil sebuah chip kecil dan memberikannya kepada Lizbeth.
“Pakai ini!”
“Apa aku berpotensi menghilang dan tidak bisa kembali?” Lizbeth meraih chip kecil berwarna hitam itu.
“Hanya berjaga jaga karena kau masih berhutang padaku,”jawab Edward setelah mematikan mesin mobilnya karena mereka sudah sampai.
Lizbeth sendiri langsung menyisipkan chip kecil yang merupakan alat pelacak juga alat sadap itu pada bagian atas perut rampingnya dan dengan pergerakan santai Lizbeth tak segan menyingkap gaun yang ia kenakan hingga membuat Edward menghela nafas karena bisa melihat bagian tubuh Lizbeth yang terbuka dengan jelas.
“Ku rasa kau sudah terbiasa melihat yang seperti ini,” ucap Lizbeth yang masih mencoba memasangkan alat itu.
Terbiasa katanya? Hell, bahkan Edward tidak pernah menyentuh wanita manapun. Melihat Lizbeth yang kesusahan memasang benda kecil itu membuat Edward mengeram kesal karena membuang waktu yang cukup lama dan Edward bukan tipe orang yang akan sabar menunggu.
“What the hell! what are you doing, dude?” pekik Lizbeth ketika Edward menarik tubuhnya untuk mendekat dan tanpa permisi jari jari besar itu memasangkan chip pada bagian dada Lizbeth yang masih tertutup gaun.
“Shit! are you kidding me?” Edward tersenyum miring melihat Lizbeth yang memerah entah karena apa.
“Ku rasa kau sudah terbiasa dengan hal seperti ini.”
“Damn! Aku akan membunuhmu setelah ini!” Lizbeth mengerang marah melihat Edward yang menyeringai.
Gila, ini benar benar gila! Lizbeth tidak mengerti mengapa jantungnya berdetak cepat saat Edward menyentuhnya dan hal seperti ini membuat Lizbeth benci. Ya, sangat benci.
“turun!” perintah Edward yang sudah kembali memasang tampang datarnya.
Sebelum turun, Lizbeth menyelipkan pisau lipat kesayangannya di balik gaun merah yang ia kenakan. Melangkah dengan anggun bersama sosok Edward di sampingnya, bahkan kini mereka nampak seperti seorang kekasih yang serasi karena Edward tak segan melingkarkan lengannya pada pinggang Lizbeth. Tampilan mereka saat ini benar benar memukau banyak pasang mata, dan tidak menyadari betapa berbahayanya dua sosok yang sedang mereka kagumi.
“Setelah ini apa?” bisik Lizbeth.
“Dansa.” jawab Edward. “Dan kau terlalu banyak mengumpat, baby,” lanjut Edward ketika melihat pergerakan bibir sexy Lizbeth yang kembali mengumpat tanpa suara.
__ADS_1
Lizbeth sendiri langsung memberikan tatapan membunuhnya pada Edward yang hanya dibalas tatapan dingin. Jika orang orang melihat mereka sekarang nampak serasi dan mesra karena Edward yang sedang menunduk mengamati wajah Lizbeth dengan kedua lengan yang merengkuh pinggang gadis itu sedangkan Lizbeth sendiri meletakkan kedua tangannya pada pundak Edward, mereka salah, pemandangan manis itu hanyalah kamuflase dari keadaan yang sebenarnya, aura saling membunuh antara dua insan itu hanya bisa di rasakan oleh Edward dan Lizbeth.
Dengan gerakan cepat Edward meraih tengkuk Lizbeth hingga hidung mereka bersentuhan.
“Diam! Ada yang mencurigai kita,” Desis Edward.
Lizbeth mengalungkan kedua tangannya pada leher Edward dan melirik sekitar. “Arah jam berapa?”
“Tiga. Kau membawa senjatamu?” tanya Edward. “Hanya pisau lipat.”
“Aku tidak akan membuang peluruku untuk menyelamatkanmu, ingat itu!” Edward melepaskan rengkuhannya dan merapikan tuxedo mahalnya sebelum membawa Lizbeth menuju dancefloor karena acara dansa sudah dimulai. Semua orang membaur dengan suka cita. Namun tidak bagi Edward dan Lizbeth yang terus memperhatikan sekitar, dan sesekali menujukan pandangannya pada sepasang pengantin yang juga sedang berdansa. Edward dan Lizbeth masih bergerak mengikuti irama tanpa menurunkan tingkat kewaspadaan. “Arah jam dua, kau mengenal mereka?” tanya Edward.
Lizbeth melirik dua orang laki laki yang sedang menatap beberapa pasangan yang sedang berdansa. “Itu anak buah Robinson. Oh no, mereka kemari, sepertinya mereka curiga.”
Edward yang menyadari itu langsung menyembunyikan wajah Lizbeth pada dada bidangnya dan memiringkan wajahnya sendiri ke kiri dengan gestur tubuh yang masih tenang.
“Kita pergi dari sini.”
Edward melepaskan pelukannya setelah melihat dua orang tadi sudah pergi, Lizbeth sendiri berusaha menenangkan jantungnya yang kembali menggila hanya karena pelukan hangat dan aroma maskulin yang menguar memasuki indra penciumannya. Lizbeth menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah lebar Edward untuk meninggalkan dancefloor.
Mereka memasuki lift dan kembali membuat jarak di antara mereka, bahkan kini Edward memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap lurus ke depan seolah hanya ada dirinya sendiri disana. Lizbeth yang memperhatikan itu tak habis fikir, pria macam apa Edward ini.
Tak lama terdengar suara tembakan dari dua orang yang berhasil dihindari dengan baik oleh Edward maupun Lizbeth . Mereka berguling ke samping hingga peluru itu mengenai kaca salah satu mobil yang ada di dekat Lizbeth hingga pecah. Edward langsung mengarahkan desert eaglenya kepada satu orang berkepala plontos.
Satu tembakan melesat sempurna, dalam jarak yang cukup jauh Edward masih mampu melumpuhkan musuh dengan
menembak kaki kirinya.
Sementara itu satu orang yang belum terluka kembali menembakkan pelurunya ke arah Edward dan Lizbeth yang lagi lagi berhasil dihindari dengan baik.
Dengan gerakan cepat Lizbeth melemparkan pisaunya pada orang itu tepat sasaran yang langsung menembus dada kiri laki-laki itu hingga tersungkur dan menjatuhkan senjatanya.
Edward kembali menembak kaki kanan laki-laki yang sudah Edward lukai kaki kirinya tadi ketika laki-laki itu berusaha meraih senjatanya untuk kembali menyerang Edward. Edward berjalan mendekati laki laki itu dengan seringai di wajahnya.
“Dimana boss mu?”
__ADS_1
Laki-laki itu hanya diam dan menatap Edward dingin membuat Edward terkekeh pelan, Edward menginjak dengan kuat bagian yang terluka pada kaki kanan laki laki itu dan menutup mulutnya untuk meredam teriakan yang membuat Edward muak. “Dimana Robinson?”
Laki laki itu memejamkan matanya menahan sakit akibat injakan Edward yang semakin kuat. Lizbeth yang sudah mencabut kembali pisau miliknya yang menancap pada dada orang tadi, kini mendekati Edward dengan senyum miring ketika menatap anak buah Robinson yang masih bisa bernafas.
“Kau ingin aku memotong lidahmu agar kau benar-benar tidak bisa berbicara?” ucap Lizbeth seraya mengelapkan bekas darah yang menempel pada pisaunya pada kerah kemeja laki-laki yang kesakitan di depannya. Edward yang mulai jengah pun menendang perut laki laki itu hingga tersungkur dan terbatuk.
“Aku tidak akan memberitahu kalian, sialan!”
Edward yang geram dan tak bisa lagi untuk bersabar akhirnya menarik pelatuknya dan satu peluru yang keluar dari desert eagle menembus kepala laki laki itu yang langsung mengantarkan nyawanya menuju neraka. Lizbeth yang melihat itu hanya menghela nafasnya.
“Kita bahkan belum mendapatkan informasi apapun dan kau membunuhnya?”
“Ada yang lebih berguna untuk bisa memberikan informasi pada kita selain lidahnya.”
Edward melemparkan ponsel laki laki itu pada Lizbeth yang langsung di tangkap dengan sempurna. “Aku lupa jika kau seorang hacker.”
“Kau harus mengingatnya.”
Mereka kembali memasuki mobil Edward menuju apartemen untuk menjalankan misi selanjutnya. Menemukan informasi melalui ponsel anak buah Robinson.
“Apa aku boleh menciummu?”
Edward meginjak remnya dengan cepat mendengar pertanyaan Lizbeth, sedangkan Lizbeth kembali mengumpat karena ulah Edward yang mengerem mendadak membuat tubuhnya terdorong kedepan.
“Damn! Bisakah kau mengemudi dengan benar?”
Edward menatap tajam gadis di sebelahnya. “Sekali lagi kau mengatakan hal itu maka aku akan—“
Lizbeth langsung membungkam bibir Edward dengan ciumannya dan tidak memberikan kesempatan bagi Edward untuk bisa menghindar.
Edward mendorong kuat tubuh Lizbeth setelah mendengar rintihan kesakitan hingga ciuman mereka terlepas dan langsung menatap paha gadis itu yang ternyata terluka cukup dalam.
“Maaf aku harus melakukan ini untuk mencabut pecahan kaca sialan itu,”lirih Lizbeth dengan nafas tersengal. Tangan kanannya masih memegang pecahan kaca yang berhasil ia cabut dari pahanya. Lizbeth menyandarkan tubuhnya dan mengatur nafasnya. Edward sendiri langsung merobek bagian bawah gaun Lizbeth hingga menjadi benar benar pendek kemudian melilitkan kain robekan itu untuk menutupi luka pada paha Lizbeth. Edward tak menyangka bahwa Lizbeth sempat terluka akibat pecahan kaca mobil yang terkena tembakan dua anak buah Robinson tadi.
“Apa kau selalu mencium orang sembarangan saat terluka?” “Aku selalu sendiri saat bekerja.”
__ADS_1
Edward tersenyum miring dan kembali menjalankan mobilnya. “Good. Setidaknya aku tidak mendapatkan bekas bibir orang lain.”