
“Do you have to go?” Tanya Lizbeth pelan yang masih enggan melepaskan pelukannya pada Edward.
Edward yang tengah berdiri dan melingkarkan tangannya untuk memeluk istrinya pun menghela nafas, sebenarnya ia tidak ingin pergi meninggalkan Lizbeth sendirian dengan kondisinya yang seperti ini.
“Ya. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat,” ucap Edward datar tanpa ingin menunjukkan ekspresi sedihnya saat ini.
“Aku bahkan belum bisa mengingatmu dan kau malah pergi, aku... aku tidak tahu apapun dan tidak kenal siapapun kecuali dirimu. Apa yang harus aku lakukan?”
Edward melepaskan pelukannya, menangkupkan wajah Lizbeth kemudian tersenyum tipis. “Kau bisa melakukan apapun disini, apapun yang kau inginkan asalkan kau tidak keluar dari zona aman.”
Lizbeth menghela nafasnya dan mengangguk. Kini wanita kuat yang selalu terlihat berani itu berubah menjadi wanita yang selalu merasa lemah, takut dan tidak dapat mengingat apapun. Seandainya kondisi Lizbeth tak seperti ini, sudah pasti wanita itu tak akan merengek meminta Edward agar tidak pergi, namun di sisi lain Edward bersyukur karena dengan kondisi yang seperti ini, Lizbeth tidak akan pernah berniat untuk mengikutinya dan menyimpan pisau lipat di balik bajunya seperti yang dulu menjadi kebiasaannya.
“Pergilah!”
Edward mendekatkan wajahnya, mencium bibir Lizbeth lembut, melumatnya cukup lama dan dalam seolah tak ada lagi waktu esok. Mereka berciuman cukup lama hingga masing-masing merasa memerlukan pasokan oksigen yang mulai menipis.
Edward menunduk mengelus perut rata istrinya lembut sebelum berlutut kemudian mencium perut Lizbeth. Lizbeth hanya bisa membiarkan tingkah Edward yang membuatnya semakin percaya bahwa Edward memang benar suaminya. “Apapun yang terjadi nanti—”
“Aku akan tetap percaya padamu,” ucap Lizbeth memotong perkataan Edward yang hanya mengangguk.
Sekali lagi Edward mencium bibir Lizbeth, naik pada kening dan berakhir dengan pelukan yang cukup lama sebelum Edward benar benar pergi dan menghilang di balik pintu kamar luas yang berada di markas khusus miliknya.
****
“Mom...”
Wanita cantik yang sedang membaca majalah di sofa ruang tengah mansion besar Miller tersebut mendongak dan terkejut melihat kedatangan Edward yang tiba tiba setelah sekian lama semenjak menikah anaknya itu belum mengunjunginya lagi sekalipun. ‘‘Edward, Oh Tuhan! mommy sangat merindukanmu,sayang” Alena memeluk erat Edward melepaskan kerinduannya selama ini. “Dimana Lizbeth?” Tanya Alena setelah melepaskan pelukannya dan mencari cari keberadaan Lizbeth dari balik punggung Edward yang nyatanya tidak menemukan siapapun.
Edward tersenyum lembut mengajak Alena duduk sebelum berdehem pelan.
“Lizbeth...maaf mom, sebenarnya kami ingin memberi kejutan untuk kalian tapi sepertinya kondisi memaksaku untuk mengatakannya sekarang.”
“Ada apa? Apa yang terjadi? Lizbeth baik-baik saja bukan?” Tanya Alena yang mulai berfirasat tidak enak, sementara Edward
__ADS_1
masih setia memberikan senyum lembut seolah meyakinkan bahwa semua baik baik saja.
“Mereka baik-baik saja,mom. Lizbeth Dan calon cucu pertama Miller.”
“Oh My! apa menantu mommy sedang hamil? Terima kasih Tuhan, kebahagian seperti inilah yang mommy tunggu. Apa dia ngidam macam macam? Dia mengalami morning sickness?”
Alena tak dapat menyembunyikan raut bahagia serta perhatian tulusnya setelah mendengar Lizbeth mengandung.
Mendengar penuturan Alena, Edward merasa tercubit. Pasalnya semua tak seindah dan sebahagia seperti anggapan Alena..
Morning sickness?
Ya, mungkin Lizbeth akan melewati itu sendiri dengan susah payah tanpa ada Edward di sampingnya jika laki-laki itu tidak bisa menyelesaikan semua dengan cepat.
“Lizbeth hanya sering merengek dan lebih manja dari sebelumnya,” jawab Edward di sertai kekehan kecil yang nyatanya itu semua hanya palsu, kekehan kecil yang bertujuan untuk menutupi sesak dalam dadanya.
“Kenapa harus sekarang,nak? Apa kau sudah memastikan bahwa kondisi kandungan Lizbeth akan baik-baik saja untuk melakukan perjalanan? Mommy tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka.” “Sudah terjadi sesuatu pada mereka,” batin Edward.
“Tenang saja, mom, aku sudah memastikannya. Maaf, Lizbeth tak bisa ikut kesini, aku menyuruhnya beristirahat karena malam ini kami berangkat.”
Alena mengelus bahu Edward dan mengangguk. “Tak masalah, aku harap kau menjaga mereka dengan baik.” - “Ah—sebenarnya mom merindukan Lizbeth.”
Edward hanya bisa menatap Alena penuh sesal, ia tidak mungkin mempertemukan Lizbeth dengan siapapun di saat Lizbeth kehilangan ingatannya, memangnya apa yang akan Edward katakan nanti? Mengatakan bahwa itu akibat kecelakaan? Yang benar saja!
****
Suara dentuman musik serta suasana temaram menjadi ciri khas gemerlapnya dunia malam di dalam sebuah club berkelas yang memiliki tiga lantai dengan lantai paling atas sebagai tempat judi terbesar di Amerika. Edward yang sudah merubah tampilan, wajah serta suaranya melangkah memasuki ruangan besar di lantai tiga tersebut.
“Apa saya boleh bergabung?” Tanya Edward setelah ia melihat seorang wanita cantik bergaun sexy memenangkan permainan.
Wanita itu menghisap rokoknya dalam dan meniupkan asapnya tepat di depan wajah Edward dengan angkuh.
__ADS_1
“Apa yang bisa kau berikan?”
Edward meletakkan koper yang ia bawa ke atas meja lalu membukanya dan menampilkan tumpukan dolar asli yang sudah pasti menunjukkan bahwa Edward tidak main-main.
Wanita itu menatap datar tumpukan dolar yang Edward perlihatkan. “Apa yang kau inginkan?”
“Pekerjaan,” jawab Edward dengan senyum miring yang langsung membuat wanita itu paham maksud dari kata “pekerjaan” yang Edward ucapkan.
Wanita itu berdiri, merapatkan tubuhnya pada tubuh Edward dan mengalungkan kedua tangannya pada leher kokoh laki laki itu. “Aku tak pernah melihatmu sebelumnya, siapa kau?” Tanya wanita itu dengan suara lembut yang keluar dari bibir sexynya.
“Zoro.”
Edward melepaskan dengan lembut kedua tangan wanita itu dari lehernya, kemudian membawa punggung tangan kanan nan lembut itu kedepan bibirnya sebelum menciumnya sekilas.
Wanita itu nampak senang dengan perlakuan Edward padanya. Terbukti dengan senyum manis serta tatapan memuja yang ia tunjukkan .
“Let’s start the game. Jika kau menang kau akan mendapatkan pekerjaan itu, tapi jika kau kalah, kau akan menjadi budakku. Bagaimana?”
Edward menyeringai dingin dan mengangguk, menerima semua keputusan itu tanpa syarat.
Semua orang di dalam dunia mafia mengenal wanita cantik dengan panggilan Lady itu sebagai pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan segala imbalan mutlak yang tak bisa di tawar. Namun tak ada satupun yang tahu bahwa Lady adalah tangan kanan ketua clan Golden Rose, organisasi besar nan berbahaya yang di anggap sudah lenyap bersama seluruh keturunannya.
Sepertinya umpan Edward mulai di makan dengan mudah.
Edward berhasil mengetahui identitas Lady melalui data di dalam chip meski tak semua kode di dalam chip itu bisa Edward pecah. Setidaknya Edward berhasil mengetahui struktur organisasi clan itu dengan baik.
“I’ll get you, Zoro!” bisik Lady di sertai sentuhan lembut pada dada bidang Edward yang membuat Edward ingin sekali mengeluarkan Deagle miliknya untuk menembak kepala itu sekarang juga jika tak mengingat tujuan utamanya.
Jangan harap!—ucap Edward dalam hati.
Edward hanya diam dan duduk dengan tenang di kursinya memulai permainan itu dengan keyakinan penuh di dalam hatinya.
__ADS_1