The Devil Charming

The Devil Charming
Part 45


__ADS_3

Aku takut kilasan cerita kelam masa lalu akan terulang.



Sisakan sedikit kebahagiaan,Tuhan...



****



Perasaan cemas dan takut menghantui pikiran Edward saat ini, bagaimana tidak jika beberapa jam yang lalu Alexa mengabarinya bahwa Lizbeth hendak melahirkan. Perlahan lintasan bayangan akan masalalu ibunya yang melahirkan di dalam ruang bawah tanah membuat hati Edward semakin tidak tenang. Kondisi dan situasi yang mirip membuatnya takut akan kejadian yang dialami ibunya terulang pada istri dan anaknya. Tidak! Edward tidak mau itu terjadi bahkan membayangkannya saja ia tak sanggup. Edward tak henti berharap agar istri dan anaknya bisa selamat meski Alexa sudah mengatakan semua akan baik-baik saja dan Lizbeth sudah berada di rumah sakit.



Saat ini Edward sudah berada di dalam mobil yang melaju meninggalkan bandara New York langsung menuju rumah sakit dimana istrinya berada. Kepergian Edward ke Mexico sebenarnya bukan hanya untuk urusan bisnis, lebih tepatnya pria itu menyelesaikan penghianatan yang di lakukan oleh sekretarisnya juga rekan bisnisnya itu yang sempat melukai Edward. Tapi siapa sangka jika mereka merencanakan penyerangan secara brutal ke mansion Edward dengan agen bayaran. Meski bos mereka tertangkap, mereka tidak membatalkan misi penyerangan tersebut.



Berkali kali Edward mencoba menenangkan dirinya, meyakinkan hatinya bahwa Lizbeth pasti akan baik-baik saja. Mengingat jadwal kelahiran masih sekitar satu minggu lagi dan tiba-tiba saja mendapatkan kabar Lizbeth akan melahirkan lebih cepat tepat pada saat penyerangan berhasil membuat pikiran Edward runyam.





Bangunan tinggi yang sudah terlihat di depan mata menandakan Edward sudah sampai di kawasan rumah sakit dan dengan cepat pria itu turun dari mobil mengabaikan tatapan sekitar yang melihat tampilan berantakan Edward. Kemeja hitam yang di gulung hingga siku, dua kancing atas yang terbuka serta rambut berantakan di dukung ekspresi khawatir yang terlihat jelas, terlebih dua orang berbadan besar yang mengikuti di belakangnya juga tak luput dari tatapan banyak orang disana.



“Mom.” Edward menghentikan langkahnya setelah Alena langsung memeluknya, terlihat disana keluarga Miller sudah berkumpul dan bisa dipastikan Alexa lah yang menghubungi mereka.



“Bagaimana Lizbeth?” Tanya Edward melepaskan pelukannya lalu menatap semua orang yang enggan mengangkat wajahnya.



“Mom, kenapa diam?”



“Anakmu sudah lahir dengan selamat, dia laki-laki,” jawab Alena keluar dari apa yang Edward tanyakan.



“Aku menanyakan istriku,mom. Apa dia baik-baik saja?”


__ADS_1


Xander yang melihat itu mendekati Edward kemudian menepuk pundak anaknya disertai senyum lembut. “Tenangkan dirimu, son. Semua akan baik-baik saja.”



“Demi Tuhan! bisakah kalian menjawab bagaimana kondisi istriku?” Geram Edward penuh rasa khawatir dan takut.



Edward bisa membaca situasi ini tapi hatinya berusaha menyangkal bahwa semuanya memang akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di takutkan, istrinya pasti baik-baik saja.



“Lizbeth kehilangan banyak darah dan dokter masih berusaha,” lirih Xander tak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan Edward. Seketika saja wajah Edward berubah pias, jantungnya terasa berhenti berdetak dan perasaan sesak memenuhi dadanya.



“Tenanglah, semua pasti baik-baik saja.” Xander kembali mencoba menenangkan Edward sementara yang lain hanya bisa diam.





Ketakutan akan cerita masa lalu mengenai ibu kandung Edward perlahan menggerogoti ketenangannya. Bagaimana bisa ia menganggap semua akan baik-baik saja di saat ia tahu dokter di dalam sana sedang berusaha menyelamatkan nyawa istrinya? Jika ini adalah hukuman atas segala dosa Edward maka Edward berharap Tuhan masih menyisakan rasa kasih padanya, bahkan jika masih pantas berdoa dan meminta, Edward berharap agar semua karma tidak berimbas pada orang lain, cukup dirinya saja, cukup berikan hukuman pada Edward jangan kepada istri, anak dan keluarganya.




Semua orang hanya bisa terdiam dalam keheningan, tidak ada yang berani membuka suara apalagi melihat betapa hancurnya Edward saat ini, bahkan Alexa tak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi begitupun Nathalie, Louis dan Dmitry apalagi Victor.



Punggung lebar Edward yang biasanya terlihat kokoh dan kuat kini terlihat rapuh juga lelah. Apakah kebahagiaan itu hanya menjadi mimpi bagi Edward? Apakah tak ada kesempatan baginya untuk merasa bahagia?



“Ini bukan akhir dari segalanya. Apa kau ingat aku juga pernah mengalami hal seperti ini saat Ellena melahirkan si kembar?”



Edward menoleh mendapati Rafael sudah berdiri di dekatnya dengan senyum tulus. Di belakang Rafael ada Ellena yang juga memberikan senyumnya. Mereka baru saja sampai karena si kembar yang sedang demam membuat Ellena serta Rafael tak bisa langsung menyusul ke rumah sakit.



“Sudah melihat anakmu?” Pertanyaan Rafael yang dulu pernah Edward lontarkan saat persalinan Ellena kini terasa seperti sebuah pembalasan.



__ADS_1



“Jangan bilang kau akan bertindak bodoh sepertiku dulu yang enggan melihat anakmu karena kondisi Lizbeth yang belum sadar,” lanjut Rafael menyipitkan matanya.



Edward masih diam. Jika dulu ia bisa dengan mudah memberikan semangat untuk Rafael di saat seperti ini kini sebaliknya, sekarang Edward tahu bagaimana dulu terpuruknya Rafael hingga tak mau melihat bayinya karena kondisi Ellena.



“Kau perlu teman untuk melihat anakmu?” Tanya Ellena menyadari bahwa semua perempuan yang ada disana sudah tak mampu untuk tersenyum memberikan kekuatan pada Edward.



“Aku tidak sekuat dirimu, Rafael,” ujar Edward lirih dengan senyum paksa yang malah terlihat menyakitkan.



“Tapi istrimu lebih kuat dari aku, Edward. Lizbeth bukan wanita lemah yang akan mudah menyerah. Harusnya kau tahu itu,” sahut Ellena masih menunjukkan raut tenangnya. “Apa yang kau khawatirkan? Kau hanya takut dengan dirimu sendiri yang tak bisa tenang. Pergilah, anakmu perlu melihat orang tuanya untuk pertama kali.”



Semua orang menghela nafas lega melihat Edward beranjak di temani Rafael untuk melihat kondisi anaknya. Mereka tahu bahwa Ellena dan Rafael pasti bisa membuat Edward tenang.



“Terima kasih sudah menyempatkan kemari, sayang.” Alena memeluk Ellena sekilas lalu mengajak nyonya Franklyn Itu untuk duduk.



“Apa si kembar baik-baik saja? Kau meninggalkan mereka di saat mereka demam?” Lanjut Alena.



“Tidak masalah aunty, demamnya sudah turun. Mereka hanya kelelahan karena perjalanan kami dari Indonesia. Kami meminta mama Bella untuk menjaga mereka sebentar, dan akan gantian untuk kemari,” jelas Ellena yang di beri anggukan oleh Alena.



“Oh ya, bagaimana dengan rencana pernikahanmu Alexa?”





Alexa menoleh menatap Ellena yang melontarkan pertanyaan . “Sebenarnya dua hari lagi kami akan melangsungkan pernikahan, tapi mengingat kondisi kakak ipar yang seperti ini mungkin aku dan Louis akan mengundur acaranya.”



Louis menggenggam lembut tangan Alexa dan menatap penuh cinta, meyakinkan calon istrinya bahwa semua pasti akan baik-baik saja. Mereka memang sudah membicarakan ini setelah melihat kondisi Lizbeth yang ternyata mengalami pendarahan. Baik Alexa maupun Louis tidak ingin egois dengan hanya mementingkan kebahagiaan mereka di saat kakak mereka sedang bersedih.

__ADS_1


__ADS_2